Par 7 ( pernikahan Arka dan Arsila)
"Mas! Aku gak mimpikan Mas?" Tanyaku sambil menggenggam tangan Mas Arka saat kami sudah sampai di depan rumahnya.
Tanpa menjawab pertanyaanku Mas Arka langsung menyeret tanganku untuk segera Masuk dan bertemu Maura istrinya.
"Maura … Maura," teriak Mas Arka.
"Iya tuan," jawaban seorang wanita paruh baya dengan menggunakan seragam.
"Ibu Mana Bik?" Tanya Mas Arka pada wanita paruh baya itu.
"Ibu ada di halaman belakang Tuan."
"Baiklah, terimakasih."
Kami berjalan menuju halaman belakang, mataku mengedarkan pandangan ke isi rumah Mas Arka yang megah bak istana, betapa nyamannya tinggal disini batinku.
"Maura," sapa Mas Arka saat kami sudah sampai di halaman belakang.
"Iya Mas! Kamu sudah datang," jawab Maura dengan suara pelan. Lembut sekali suaranya.
"Ini wanita yang Mas ceritakan itu, ucap Mas Arka memperkenalkanku pada istrinya, Aku hanya bisa diam tertunduk di hadapannya.
"Arsila! Perkenalkan saya Maura istrinya Mas Arka," ucap Maura sambil mengulurkan tangannya padaku.
"Iya Mbak, saya Arsila,Jawabku dengan gugup sambil menyambut uluran tangannya untuk berjabat tangan.
"Saya ingin bicara empat mata dengan mu, Mas silahkan tinggalkan kami berdua sebentar bisa kan!"
Mas Arka berlalu pergi meninggalkan kami di halaman belakang, Aku mendadak berkeringat dingin rasanya mau pingsan.
"Saya dengar dari Mas Arka jika kamu mantan pacarnya dahulu, kalian sudah lama pacaran waktu itu?"
"Iya Mbak, itu benar."
"Kenapa kalian berpisah?"
"Karena Ibu Mas Arka tidak setuju dengan saya dan lebih memilih menjodohkan Mbak Maura, saya bisa apa Mbak selain pasrah dengan takdir," ucapku dengan pelan.
"Hem … baiklah saya setuju jika kita berbagi suami, saya hanya ingin melihat Mas Arka bahagia di sisa hidup saya."
"Maksud Mbak apa bilang seperti itu!"
"Sebenarnya saya tahu jika Mas Arka tidak pernah mencintai saya sama sekali dan saya juga tahu jika selama sepuluh tahun ini rasa cintanya padamu masih tetap sama."
"Saya sudah berusaha menjadi istri yang baik tapi tetap saja rasa cinta Mas Arka padamu tak pernah berkurang Cil."
"Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat tapi cintanya padamu tetap ada dalam hatinya meski ia sudah menjadi suamiku."
"Sikapnya terhadapku memang baik, ia lelaki yang bertanggung jawab dan perhatian tapi akhir-akhir ini Aku merasa sangat bersalah karena hingga saat ini Aku tak bisa memberikannya keturunan."
"Sebab itulah Aku memberikannya izin untuk menikahimu Cil, Aku ingin Mas Arka memiliki keturunan meski itu bukan dari rahimku. Semoga kelak kau bisa memberikannya keturunan," ucap Mbak Maura penuh harapan padaku.
"Saat kalian sudah menikah nanti,Aku harap masih memiliki hak sebagai istri pertama dan kita bisa hidup rukun sebagai madu."
"Kamu mau kan Cil?"
"Iya Mbak, Aku mau, terimakasih Mbak sudah mengizinkan kami untuk menikah," ucapku berurai air mata. Sungguh aku tidak menyangka jika sikap Maura padaku begitu baik.
"Sekarang kau bisa siap-siap karena nanti siang acara ijab kabul kalian akan segera dilangsungkan."
"Maksud Mbak, siang ini juga kami akan menikah?" Tanyaku penuh selidik dengan mata membulat.
"Iya, kamu lihat kan dekor di luar tadi, semua itu sudah aku persiapkan untuk kalian berdua, meski acaranya tertutup."
"Aku tidak mengundang banyak tamu, hanya tetangga dekat saja, Aku tidak ingin statusmu di sembunyikan karena kita akan memiliki hak yang sama," tutur Mbak Maura membuatku semakin bangga menjadi madunya.
Sungguh kebahagian luar biasa yang aku miliki saat ini, aku akan menjadi nyonya di rumah semegah ini dan memiliki segalanya.
"Aku dengar kau masih bekerja"
"Iya Mbak, aku bekerja di sebuah perusahan."
"Mulai besok kau harus mengundurkan diri dari semua itu, paham."
Aku hanya manut saja mendengarkan apa yang dikatakan Maduku, sungguh semua ini tak pernah ku bayangkan sebelumnya.
****
Aku didandani sedemikian cantik bak ratu sehari, meski pernikahan ini tak mewah namun aku sudah bahagia walaupun ada sedikit luka di hati karena Ibu tak ada di saat aku menikah.
Aku tak bisa membawa Ibu untuk datang menghadiri pernikahanku karena memang kondisi Ibu sangat tidak memungkinkan sejak ditinggalkan Bapak Ibu menjadi depresi berat.
Rencananya saat semua acara pernikahan selesai kami akan membawa Ibu ke rumah sakit jiwa agar bisa dirawat secara baik disana.
Waktu yang dinantikan telah tiba saatnya aku keluar kamar untuk melangsungkan ijab kabul. Kulihat disana ada beberapa orang yang datang.
Ada juga Ibu-ibu yang nyinyir bilang kalau Maura mau saja menjadikan ku sebagai istri kedua suaminya.
"Beruntung sekali ya dia bisa diterima menjadi istri kedua," ucap Ibu-ibu dengan berbisik. Jelas terdengar di telingaku.
Acara ijab kabul selesai dengan begitu khidmat meski tak banyak tamu yang datang. Tapi aku bahagia karena sekarang sudah menjadi istri Mas Arka yang sah walau hanya sebagai istri kedua tapi bisa kupastikan aku lah yang utama.
Selesai acara semua tamu sudah pulang dan kami berdua langsung pergi ke sebuah Hotel bintang lima yang sudah dipersiapkan oleh Mbak Maura sebagai kado pernikahan kami.
"Mas capek banget Sayang," ucap Mas Arka saat kami sudah sampai di hotel. Ia langsung merebahkan diri ke tempat tidur.
"Sama Mas, Aku juga capek! Sebaiknya kita istirahat saja Mas," ujarku sambil mengganti pakaian karena saat kami datang ke hotel aku masih mengenakan kebaya putih pernikahan.
"Kok Istirahat sih Sayang, Mas kan mau berduaan sama kamu, ini moment yang sudah Mas tunggu-tunggu dari kemarin," ucap Mas Arka di telingaku dengan jarinya yang mulai bergerilya dengan nakal membuatku membalas dengan kecupan di bibir hitamnya.
Kami berdua pun larut dalam lautan asmara layaknya pasangan suami istri, tugasku sebagai istri telah ku tunaikan malam ini begitupun dengan Mas Arka sebagai suami. Mas Arka memang pandai membuat Ku hanyut dalam dekapannya, permainan liarnya membuat kami sama-sama merasakan nikmat yang luar biasa, hingga tertidur pulas sampai matahari telah bersinar.
Aku membersihkan diri namun Mas Arka masih tertidur pulas karena permainan kami semalam, tampak jika ia kelelahan.
Aku tersenyum melihat wajah suamiku yang begitu tampan rupawan, lelaki yang telah memberikan kebahagiaan padaku.
"Mas!" Bisikku di telinganya.