Pindah ke Rumah Baru

878 Kata
Part 8 ( pindah ke rumah baru) "Mas! Bangun dong udah siang ni, emang mau tidur aja kamu Sayang gak mau bangun," bisikku pada Mas Arka sambil mengelus punggungnya dan mengecup bibirnya. "Sayang, kamu masih belum puas dengan permainan kita semalam," Mas Arka langsung bangkit dan menarikku ke atas tempat tidur, permainan pun dimulai lagi. "Udah Mas, Aku capek Mas," rengekku sambil tidur diatas dadanya yang bidang saat kami sudah menuntaskan permainan. "Mas! Nanti kita akan tinggal dimana Setelah ini? Apa kita akan serumah dengan Maura Mas?" Tanyaku dengan manja karena aku ingin Mas Arka selalu berada disisiku. "Kamu maunya gimana?" "Aku mau kita tinggal dirumah baru kita di Jakarta saja Mas, Aku nggak mau tinggal serumah sama Maura biar bagaimanapun kitakan punya privasi sendiri Mas! Walaupun aku tahu jika istri kamu itu baik tapi tetap saja rumah tangga kita Aku yang urus. "Terserah kamu saja, yang penting kamu bahagia itu yang terpenting dan Mas mau kamu cepet hamil, karena Mas sudah ingin sekali punya anak." "Baru satu hari kita menikah Mas! Sabar kenapa! Buat kamu apa sih yang enggak, emang kita nanti mau punya anak berapa Mas?" "Semampu kamu saja mau kasih berapa sama Mas?" "Baiklah Mas," Aku kembali memeluknya dengan erat sambil menenggelamkan kepalaku di bawah ketiaknya dan kami tertidur karena kelelahan. Sungguh hari yang menyenangkan meski Aku merasa nyeri di area sensitif ku. Mungkin inilah rasanya malam pertama saat gadis perawan menikah. Sejak permainan itu aku sakit karena merasa nyeri namun Mas Arka sangat perhatian padaku, ia merawatku begitu juga dengan Maura dia datang untuk membesuk dan ikut merawatku. Setelah beberapa hari Aku merasa lebih baik dan kami akan kembali ke Jakarta untuk mengurus Ibu dan Mas Arka juga melanjutkan pekerjaannya yang sudah beberapa hari ia tinggalkan. Meski Maura memaksaku untuk tetap tinggal bersamanya untung Aku bisa beralasan jika Ibu membutuhkanku, akhirnya Aku bisa ikut Mas Arka kembali ke Jakarta. Aku senang bisa berduaan lagi dengannya kali ini hanya kami dirumah baru. "Mas! kita langsung ke rumah baru kan Mas?" Tanyaku saat di perjalanan. "Iya dong, rumah baru kita dan hanya kita berdua, kita kan mau …" Mas Arka kembali menggoda sambil mencubit pipiku. Rasanya dunia ini hanya milik kami berdua, sungguh indah, benar-benar kebahagian yang tak terhingga bagiku saat ini. Aku tak peduli jika orang-orang akan bergosip tentangku karena aku menjadi istri kedua yang penting bagiku istri pertama Mas Arka merestui kami dan tak ada yang terluka. Walau aku harus melahirkan anak untuk mereka meski sebenarnya Aku belum siap untuk menjadi Ibu tapi demi cinta aku rela melakukannya. **** Kami tiba di jakarta dan langsung ke rumah baru, rumah impian setiap wanita. Tampak terpancar kebahagiaan di wajah lelaki halalku. Ia memang suami idaman. Kami sampai sudah malam dan langsung beristirahat karena besok Mas Arka akan langsung bekerja. Dirumah baru, Aku tidur dengan pulas dan nyenyak sekali rasanya seperti mimpi bisa memiliki rumah sebagus ini karena rumah Ibu sangat sederhana. Hari ini Aku akan berkunjung kerumah Ibu untuk membawa semua barang pribadi ke rumah baru kami. Aku juga akan membawa Ibu ke rumah sakit untuk dirawat karena tidak mungkin Ibu harus seperti itu terus-terusan. Ibu harus kembali seperti dulu karena aku ingin ibu melihat kebahagian putri tunggalnya. "Assalamualaikum," Aku memberikan salam pada Ibu dan mencium punggung tangannya yang sudah keriput. "Kamu baru pulang Cil?" Tanya Ibu pelan nyaris tanpa suara. "Iya Bu, Arsila sudah pulang dan sudah menikah dengan Mas Arka." Aku menunjukkan cincin pernikahanku pada Ibu. Ibu hanya tersenyum menatapku. "Semoga kamu bahagia Cil," ucap Ibu memberikan doa restunya. Sebenarnya secara fisik ibu baik-baik saja namun secara mental terkadang Ibu suka linglung. Makanya aku putuskan untuk membawa ibu ke rumah sakit J*w", aku ingin Ibu kembali seperti dulu. "Bu, nanti kita pergi kerumah sakit ya? Cila ingin Ibu cepat sembuh dan ikut Cila pindah dari rumah ini." "Tidak Cil, Ibu tidak mau meninggalkan rumah ini, karena disini penuh kenangan Ibu sama Bapak Nak!" "Ibu baik-baik saja, kamu hiduplah bahagia bersama suamimu dan biarkan Ibu hidup bersama kenangan Bapakmu disini. "Ibu tidak sakit Nak! Hanya Ibu belum bisa menerima kenyataan jika saat ini Bapakmu sudah tiada." "Kau tidak perlu khawatir pada Ibu, Ibu akan baik-baik saja, mulai besok Ibu akan hidup seperti biasa karena Ibu sadar jika Bapak sudah tenang di Sana. "Beneran Ibu baik-baik saja! Cila tidak bisa tenang jika Ibu begini terus," ucapku sambil memeluk Ibu. "Iya Nak, pergilah dan urus rumah tanggamu, Ibu bisa jaga diri disini." Aku mengemas semua barang pribadiku untuk dibawa ke rumah baru, sebelum pergi Ibu sudah ku berikan sejumlah uang untuk biaya hidupnya sehari-hari. "Setiap Bulan Cila akan mengirimkan uang pada Ibu." Ibu hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Cila pamit ya Bu! Ibu jaga diri baik-baik, jika ada apa-apa Ibu segera kabari Cila." "Ia Nak, pergilah jaga rumah tanggamu baik-baik dan segera berikan Ibu cucu." Aku pergi meninggalkan rumah Ibu, sengaja menunggu hari sedikit gelap karena tak ingin jika para tetangga melihatku maka mereka akan nyinyir padaku. Biarlah mereka tahu dengan sendirinya nanti. Tugasku saat ini hanya menjadi seorang Istri yang baik dan perhatian pada suamiku, karena Aku ingin memiliki Mas Arka sepenuhnya tanpa ada yang mengganggu rumah tangga kami. Sampai dirumah Mas Arka belum pulang ia juga belum memberi kabar padaku hari ini, apa mungkin ia lembur. Aku mencoba menghubungi ponselnya namun ponselnya tidak aktif membuatku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN