bc

Terikat Kontrak

book_age18+
1.5K
IKUTI
11.9K
BACA
contract marriage
family
HE
boss
drama
sweet
bxg
brilliant
polygamy
like
intro-logo
Uraian

Kisah tentang Safira, wanita yang harus memilih untuk menyetujui sebuah kontrak karena hutang. Nathan membantu keluarganya, Safira tentu akan membayar kebaikan yang Nathan lakukan. Sampai, Safira ternyata tak bisa membayar kebaikan itu dan tanpa Safira duga, Nathan justru meminta agar Safira membayarnya dengan sebuah kontrak.

Kontrak pernikahan, hal itu tentu membuat Safira bingung, jika setuju, maka Safira harus mengorbankan hidupnya dan menikah dengan Nathan, yang notabennya pria yang baru Safira kenal. Namun, jika Safira menolak, tak ada cara lain untuk membayar kebaikan Nathan. Satu hal yang menjadi penguat keputusan yang Safira ambil, Zafia, seorang anak yang ternyata adalah anak dari Nathan. Itu tentu membuat Safira terkejut, tetapi karena sudah bulat dengan pilihannya, Safira memutuskan untuk menerima dan mengatakan jika kontrak itu demi Zafia.

Safira pikir hubungan kontrak mereka tak akan sulit. Namun kenyataannya, ada saja hal yang menjadi penghambat, juga masalah diantara mereka yang tiba-tiba datang secara bergantian. Padahal, Safira ingin dalam sekejap mata, kehidupannya kembali seperti semula, dimana dia tak mengenali Nathan, tetapi itu sangatlah mustahil.

chap-preview
Pratinjau gratis
Takdir
Begitu pagi menyapa, seorang wanita yang kini sudah berusia dua puluh lima tahun itu tengah sibuk bersiap-siap. Seperti biasa, setiap hari dia akan pergi bekerja, keuangan keluarganya sedang tidak baik sekarang. Oleh sebab itu, mau atau tidak mau, dia harus bisa mencari uang sendiri. Wanita ini bernama Safira Trisha atau yang lebih dikenal dengan panggilan Safira. Safira adalah anak tunggal dari pasangan suami istri bernama Simon dan Ayana. Kehidupan keluarganya dulu begitu sangat berkecukupan, namun setelah Ayahnya sudah tidak bekerja, mereka akhirnya hidup sederhana. Safira tidak pernah mengeluh kepada kedua orangtuanya, karena Safira sadar bahwa sekarang adalah waktunya dia untuk membalas budi. "Selamat pagi Ayah, Bunda," sapa Safira kepada kedua orangtuanya. "Pagi sayang, ayo cepat duduk." Ayana menepuk kursi di sampingnya, Safira lantas segera duduk di samping bundanya. Mereka bertiga menikmati makanan masing-masing. Begitu selesai sarapan, Safira lantas bangkit dari tempat duduknya. "Sayang, biar Ayah yang antar," saran Simon. "Tidak usah Ayah." Safira tidak mau merepotkan Ayahnya. "Ayah juga akan pergi keluar." Simon mengambil kunci mobilnya. "Ayah mau pergi kemana memangnya?" tanya Safira. "Hanya keluar," jawab Simon. "Jangan bilang Ayah ingin mencari kerja." Safira tau Ayahnya ini pasti akan pergi mencari pekerjaan, padahal sudah Safira katakan untuk istirahat saja dan biarkan Safira yang bekerja. "Ayah harus bekerja, supaya keuangan keluarga kita membaik." Simon adalah kepala rumah tangga, mau bagaimanapun dialah yang harus mencukupi kebutuhan istri dan anaknya. "Ayah, biar Safira saja yang bekerja. Yah meskipun gajih Safira tidak sebanding dengan gajih Ayah di kantoran, tapi itu cukup untuk kita bertiga." Safira berjanji akan bekerja lebih baik lagi demi kedua orangtuanya. Simon tersenyum mendengar penuturan Safira, "Sayang, tapi gajih kamu lebih baik di pakai untuk kebutuhan kamu sendiri," ucap Simon. "Apa yang Ayah sampaikan itu benar sayang," ucap Ayana membenarkan perkataan suaminya. "Tapi, Safira bekerja itu untuk kita bertiga. Sudah cukup Safira selalu menjadi beban untuk Ayah dan juga Bunda. Safira mohon, biarkan Safira yang bekerja sekarang." Safira menggenggam kedua tangan orangtuanya. Simon dan Ayana saling bertatapan, mereka tersenyum, lalu menatap Safira dengan sayang. "Kalau begitu aku pergi, bye Ayah, Bunda." Safira melepas genggamannya lalu mengecup kedua pipi orangtuanya secara bergantian. "Hati-hati di jalan sayang." Safira tersenyum membalas ucapan orangtuanya, lalu Safira segera bergegas dan pergi dari rumah menuju tempatnya bekerja. Safira akan pergi menggunakan bus, kenapa bukan taksi? itu karena Safira harus berhemat. Halte bus penuh dengan orang-orang yang juga akan berpergian, entah pergi bekerja atau pergi untuk sekolah. Beberapa menit kemudian, bus tujuan Safira tiba, Safira segera naik bersama dengan yang lain. Di sepanjang perjalanan, Safira menatap ke arah luar jendela sambil termenung, Safira memikirkan bagaimana caranya dia mengubah keuangan keluarganya agar kembali seperti dulu. "Apa yang harus aku lakukan?" monolog Safira. Tak terasa, Safira sudah sampai di tujuan, Safira segera menghentikan bus. Begitu bus berhenti, Safira keluar dari dalam bus lalu Safira berjalan menuju cafe dimana tempatnya bekerja. Saat sedang berjalan, seorang anak perempuan berlari ke arah Safira, Safira terkejut begitu anak itu memeluknya dan bersembunyi di belakang tubuhnya. "Nona Muda." Seorang pria menghampiri mereka berdua, lebih tepatnya, menghampiri anak perempuan di belakangnya. "Tidak mau," jawabnya. "Nona, kita harus segera pergi." Pria itu berusaha membujuk anak perempuan yang bersembunyi di belakang tubuh Safira. "Aku tidak mau." Anak perempuan itu semakin memeluk Safira dengan erat. Saat pria itu ingin menggapai tangan anak perempuan di belakangnya, tangan Safira lebih dulu terangkat, "Tunggu sebentar," cegah Safira. "Kamu siapa, dan ada apa ini?" tanya Safira kemudian. "Saya supir pribadi yang bertugas untuk menjaga Nona Muda, tetapi Nona Muda sedang tidak ingin pergi sekolah." Tunjuknya kepada anak perempuan di belakang Safira. Perlahan Safira mengubah posisi, Safira berjongkok lalu menyamakan posisinya dengan anak perempuan di belakangnya. Dengan pelan, Safira mengusap kepala anak perempuan itu dengan sayang. "Nama kamu siapa?" tanya Safira. "Zafia," jawabnya. "Fia, kenapa kamu tidak mau sekolah?" Safira berusaha membujuk, namun Zafia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat?" Safira tau betul jika Zafia pasti mempunyai alasan kenapa dia tidak mau pergi ke sekolahnya. "Itu." Zafia menunjuk kedai ice cream yang ada di seberang sana. "Kamu ingin ice cream?" tanya Safira. "Iya, aku ingin ice cream." Zafia menatap Safira dengan tatapan memelas. Safira tersenyum lalu berkata, "Kita akan membelinya. Tapi setelah itu, kamu harus berjanji akan pergi ke sekolah," ucap Safira. "Fia janji," jawab Zafia dengan penuh semangat. "Tunggu Nona. Nona Muda tidak boleh makan apapun tanpa sepengetahuan Tuan," cegah Pria itu. Pria itu menggenggam tangan Zafia dengan paksa, Zafia tentu saja berontak. "Kalau begitu kamu tinggal pilih. Ikuti kami atau, aku akan meneriaki mu sebagai penculik?" Begitu tangannya di lepas, Zafia memeluk Safira erat. "Fia ayo." Safira dan Zafia saling berpegangan, mereka berdua pergi menuju kedai ice cream, pria tadi mengikuti mereka dari belakang. Begitu sudah berada di dalam kedai, Safira menyuruh Zafia untuk duduk bersamanya. "Fia, kamu ingin ice cream rasa apa?" tanya Safira. "Strawberry," jawab Zafia. "Tunggu sebentar yah." Safira lantas berdiri untuk memesan ice cream. Beberapa saat kemudian, begitu Safira sudah mendapatkan pesanannya, Safira kembali duduk bersama Zafia. Sedangkan pria tadi mengawasi mereka dari jauh. "Ini dia." Safira menyodorkan ice cream cone kepada Zafia. "Mommy." Zafia menatap Safira dengan tatapan lekat. "Iya." Safira balas menatap Zafia yang sedang menatap kearahnya. "Mommy terima kasih," ucap Zafia. "Sama-sama sayang," ucap Safira. Safira mengelus pelan kepala Zafia, Zafia tersenyum manis lalu memakan ice cream pemberian dari Safira. Mereka berdua saling berbincang lalu tersenyum satu sama lain, jika orang lain melihatnya, pasti mereka akan beranggapan jika Safira dan Zafia adalah sepasang ibu dan anak. Bagaimana tidak, Safira begitu perhatian kepada Zafia, dan Zafia sendiri begitu senang dan bahagia berada di dekat Safira. Begitu selesai, Safira mengajak Zafia untuk pergi dari kedai karena waktu sudah siang. Pria tadi membuka pintu mobil untuk Zafia, karena Zafia harus segera pergi ke sekolah. "Mommy, aku ingin tetap bersama dengan Mommy." Zafia memeluk Safira. "Fia, kita pasti akan bertemu lagi. Jadi sekarang, kamu harus pergi ke sekolah," ucap Safira. "Benarkah Mommy, kita akan bertemu lagi?" tanya Zafia. "Tentu saja," jawab Safira. Namun dalam hati, Safira berkata kalau itu mustahil. Safira tidak akan bisa menemui Zafia lagi, kecuali memang takdir kembali mempertemukan mereka. Namun setidaknya Safira harus bersikap lebih baik bukan, karena bisa jadi ini adalah pertemuan pertama dan juga pertemuan terakhir untuk mereka berdua. "Fia, belajarlah yang rajin, jangan sampai kamu bolos sekolah oke," ucap Safira. "Oke Mommy. Setelah Fia pulang sekolah, Fia akan menemui Mommy lagi. Fia berangkat sekolah dulu yah Mommy, sampai jumpa." Zafia melambaikan tangannya. "Sampai Jumpa Fia." Safira membalas lambaian tangan Zafia. Zafia akhirnya mau pergi ke sekolah begitu Safira berhasil membujuknya, begitu Zafia masuk ke dalam mobil, pria tadi menunduk ke arah Safira dan perlahan mobil pun pergi. Zafia menatap Safira dari dalam mobil, Safira tersenyum sambil melambaikan tangan. Setelah mobil sudah tidak terlihat, Safira menatap jam tangan, matanya melotot melihat jarum jam yang sudah menunjukan pukul delapan kurang, "Gawat, aku harus segera pergi bekerja." Safira dengan tergesah-gesah segera pergi dari depan kedai ice cream, Safira berjalan cepat menuju cafe dimana tempatnya bekerja. Beruntung, jaraknya tidak terlalu jauh dengan kedai ice cream ini dan cafe tempat Safira berkerja itu bernama dinasty.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook