Melihat Persiapan

1029 Kata
Safira tengah berkutat dengan laptopnya, dia ingin menonton film yang sekiranya dapat membuat moodnya bagus. Mengingat bila dua hari lagi dia akan menikah, itu justru membuat Safira tampak serba salah. Bila bisa, Safira ingin menghentikan itu, tapi dia tak punya uang untuk membayar denda. Juga, Safira tampak sebal saat mengingat betapa pintarnya Nathan, ataukah harus Safira bilang licik. Tentu saja, Nathan seolah tau dan dengan cepat membuat sebuah ancaman agar dia tak berkutik. Safira seakan menjadi kelinci dan Nathan adalah binatang buas yang bersiap-siap ingin memakannya. Safira seketika berpikir, haruskah dia menjadi penyihir dan bersekolah di Hogwarts agar dia bisa menyihir Nathan. Safira tertawa terbahak-bahak saat berimajinasi bila dia bisa mengubah Nathan menjadi seekor kodok. Tawa Safira terhenti saat suara ketukan pintu terdengar, lalu pintu terbuka memperlihatkan kehadiran bundanya. "Sayang," panggil Ayana. "Iya Bunda," ucap Safira. "Kamu sedang senangnya, sampai suara tawa kamu terdengar ke bawah," ucap Ayana. Safira hanya membalas dengan senyuman, yah, dia sangat senang dengan imajinasinya. "Kamu bakalan lebih senang lagi saat Bunda beritahu bila seseorang tengah menunggu dibawah," ucap Ayana. "Seseorang, siapa Bunda?" tanya Safira. "Tentu saja Nathan, calon suami kamu sayang," jawab Ayana. Safira tertawa kecil, dia bukan senang, tapi tak percaya bila Nathan akan datang ke rumahnya. Padahal sudah Safira katakan, selama empat hari ke depan, dia tak mau mereka bertemu. "Kok diem aja, ayo Nathan sudah menunggu," ucap Ayana. "Iya Bunda," ucap Safira. Mau tak mau, Safira lantas pergi keruang tengah bersama Ayana. Bisa Safira lihat, ayahnya Simon tengah berbincang dengan Nathan. Menyadari kehadiran Safira, Nathan menatap ke arah Safira sambil tersenyum kecil. Sedangkan Safira membalas tatapan Nathan dengan ekspresi datar. Safira duduk di samping Nathan, sungguh dia sangat malas. "Sayang, Nathan katanya mau ngajak kamu pergi untuk melihat persiapan pernikahan kalian," ucap Simon. "Kayanya gak usah, aku akan setuju saja apa yang Nathan pilih," ucap Safira. "Setidaknya kamu harus melihat persiapan secara langsung. Ini juga kode, Nathan ingin berduaan dengan kamu sebelum hari pernikahan tiba. Bukan begitu Nak Nathan?" tanya Simon. Nathan tersenyum kaku, meski dia tampak tak percaya dengan apa yang Simon katakan. Dia tak ada maksud seperti itu, dia hanya menghargai Safira sebagai calon pengantinnya. Setidaknya Safira tau bagaimana persiapan mereka dan bila ada yang ingin ditambahkan atau dikurangi, asistennya bisa menghandle sebelum acara pernikahan dimulai. Safira yang memang merasa malas, lantas mengatakan dia akan bersiap-siap untuk pergi. Walaupun dia mengulur waktu, tetap saja dia akan dipaksa untuk pergi dengan Nathan. Begitu siap, Safira mengajak Nathan untuk segera pergi. Mereka berdua lantas berpamitan kepada Simon dan Ayana. Mereka keluar dari rumah di sambut oleh Omar, Omar membuka pintu belakang untuk Nathan dan Safira. Lalu tak lama, Omar menjalankan mobilnya menuju tempat yang Nathan perintahkan. Selama di perjalanan tak ada pembicaraan sama sekali, sampai Nathan berusaha mencairkan suasana. "Kamu mau melihat persiapan yang mana dulu, gedung atau mungkin gaun pernikahan?" tanya Nathan. Safira menatap Nathan sebal, "Kan sudah aku bilang aku setuju apapun yang sudah kamu siapkan. Dan juga, kamu kenapa gak ngerti sih, aku gak mau kita ketemu," ucap Safira. "Kita bahas itu nanti," ucap Nathan. Disini ada Omar, meski Omar tau bila hubungan mereka memang tak baik, Nathan tak ingin memperlihatkan hubungan tak baik mereka dihadapan orang lain. Mobil berhenti di depan butik yang menyediakan berbagai dress dan kemeja untuk pernikahan. Nathan dan Safira turun dari mobil, lalu berjalan menuju pintu masuk, para pelayan dan pemilik butik menyambut kedatangan mereka. Nathan saling berbincang dengan pemilik butik, tentunya Nathan kenal dengan pemiliknya dan itu sebabnya juga dia memilih mempersiapkan pakaian pernikahannya di sini. "Perkenalkan, ini Safira," ucap Nathan. "Halo Nona Safira," ucapnya. "Halo," ucap Safira. "Calon istri anda cantik sekali," ucapnya. Safira hanya membalas dengan senyum kecil, itu pujian yang seharusnya membuat dia senang. Tapi Safira justru merasa tak nyaman, mungkin karena suasana hatinya yang sedang tidak baik. Beberapa pelayan mendatangi mereka dan memberikan pakaian yang sudah Nathan pilihkan untuk mereka berdua. Nathan pergi mengganti pakaian, begitupun dengan Safira yang dibantu oleh para pelayan. Nathan sudah lebih dulu selesai. Nathan lantas duduk di sofa untuk menunggu Safira selesai berpakaian. Tak lama, gorden yang ada dihadapan Nathan di buka, Nathan menatap ke arah depan. Melihat penampilan Safira, Nathan terdiam dengan ekspresi terkejut. Gaun pilihannya juga rambut Safira yang tergerai berhasil membuat dirinya bungkam. Safira memang cantik, sangat cantik, Nathan sadar akan itu. Nathan bangkit dari tempat duduknya, Safira mendekat ke arah Nathan begitupun dengan Safira. Mereka berdua saling berhadapan, Safira yang melihat ekspresi Nathan tentu bertanya, sampai Safira mengangkat kedua alisnya. "Bukankah mereka sangat serasi," ucap pemilik butik. Para pelayan yang ada di sekitar mereka tentu setuju, hanya melihat mereka berdampingan saja sudah tampak serasi seperti itu. Mood Safira rasanya makin buruk, dia tak suka dengan itu. Safira yang makin kesal terkejut saat Nathan dengan berani memeluk pinggangnya. "Cantik," ucap Nathan. Safira tertawa meski terlihat sekali dipaksakan, Safira yakin Nathan tengah mengerjainya dan kini Nathan tengah berakting dan berpura-pura memujinya dengan mengatakan dia cantik. Safira lantas memegang salah satu bahu Nathan, lalu Safira berkata, "Calon suamiku juga tampan." Sambil tersenyum manis. Para pelayan dan pemilik butik tentu terbawa suasana melihat kedua pasangan ini, meski bagi Nathan itu lain. Nathan tak sangka bila Safira akan membalas pujiannya, yah, Nathan memuji dengan tulus, bukan seperti apa yang Safira duga bila Nathan hanya berpura-pura. Dan seharian ini, mereka mengunjungi berbagai tempat, entah untuk mencoba gaun dan kemeja, melihat gedung, ataupun melihat persiapan lain. Meski awalnya Safira tampak tak minat juga terpaksa, sedikitnya Safira merasa senang. Dia berhari-hari merasa suntuk di rumah, juga Safira bisa merasakan bagaimana sepasang calon pengantin mempersiapkan pernikahannya. Ini pengalaman menarik, dia jadi tau bagaimana cara menyiapkan acara pernikahan. Meski, nyatanya dia akan menikah dengan Nathan, seseorang yang tak pernah Safira sangka. Padahal, dia ingin sekali bisa mempersiapkan juga menikah dengan pria yang dia cintai. Sayangnya, nasib tak memberikan izin, Safira harus melakukan ini, meski Safira sedikitnya bisa tenang. Kalaupun menikah dengan Nathan, itu hanya kontrak dan tiga bulan kemudian dia bisa bebas. Juga setelah, Safira bisa mencari bahkan bertemu dengan pria yang akan dia cintai dan mencintainya. Begitu saling mencintai, mereka akan menikah dan hidup bahagia sampai maut memisahkan. Bukankah itu sangat sederhana dan membahagiakan, itulah mimpi yang Safira kecil inginkan. Menikah dan hidup bersama orang yang dia cintai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN