PELAMPIASAN

1451 Kata
Lelaki itu berdiri kikuk di depan pintu kamar Bella. Tangannya memegang bungkusan. “Gue cuma lewat dan gue pikir lu belum makan malam.” Memang benar Bella belum makan malam, dia kehilangan napsu makan setelah kejadian yang menimpanya di dalam bus. “Gue lagi diet. Jadi nggak makan malam,” jawab Bella berusaha mengurai kecanggungan. Dia sedang tidak ingin ke mana-mana dan dia merasa Bagus memberi isyarat kalau ingin mengajaknya keluar. “Oh,” kata Bagus pendek, “sayang banget, gue udah beliin lu mi goreng Jawa yang enak banget.” “E, eh, aku belum makan malam. Kalau rezeki itu nggak boleh ditolak, kata Nenek aku, pamali. Siniin!” Siska tiba-tiba saja menyeruak ke depan Bella dan mengambil bungkusan dari tangan Bagus. “Makasih,” katanyan sambil tersenyum manis pada lelaki itu. “Sis!” tegus Bella, dia kurang suka jika Siska menerima pemberian Bagus. Bella tidak ingin berhutang apapun pada teman kerjanya ini. “Nggak papa, Bel. Aku juga sudah makan, sayang saja kalau mi-nya kebuang. Makan aja,” kata Bagus sambil menoleh ke arah Siska dan melambai. “Gue pamit, ya, Bel. Sampai ketemu besok.” Bella mengangguk. Dia tidak mau basa-basi dan menawari lelaki itu masuk ke kamarnya. Tidak di saat dia tidak ingin ditemani. Namun, di kamarnya ada Siska. Bella mendesah, dia sebenarnya ingin sendirian hari ini. “Bagus kelihatannya suka sama kamu, Bel,” kata Siska tiba-tiba dengan mulut penuh. “Tau dari mana? Jangan ngarang, deh, Sis.” “Menurut kamu nggak aneh? Dia ‘cuma lewat’ ke sini? Rumah dia itu beda arah sama kosan kita!” “Ya mungkin dia sedang ada urusan di sekitar sini.” Siska menggeleng dan mengacungkan sendoknya. Mulutnya penuh mi dan dia bersusah payah menelan sebelum mendebat perkataan Bella. “Kalau emang nggak suka, meski urusannya di depan kosan kita, dia nggak akan mampir. Percaya ama aku, dia itu pasti ada hati sama kamu, Bel!” kata Siska cukup keras. Bella tidak menggubris omongan Siska dan memilih membaringkan diri di kasur. Namun baru saja tubuhnya menyentuh pembaringan, sebuah suara keras membuatnya terduduk kembali. “Apa itu, Sis? Bom?” “Ngawur. Nggak mungkin bom suaranya begitu. Kayak bunyi pintu di banting. Arahnya dari kamar sebelah,” kata Siska sambil mengacungkan telunjuknya mengarah ke kamar di sebelah Bella. Kamar penghuni kos yang sampai saat ini belum pernah ditemui Bella maupun Siska. “Mungkin lagi PMS,” bisik Bella sambil berjengit. Siska menganggukkan kepala. Mereka tetap pada asumsinya jika penghuni kamar sebelah adalah perempuan. Mereka tidak akan mengira jika sebenarnya Victorlah yang baru memasuki kamar sebelah. Tanpa sengaja dia mendengar obrolan Bella dan Siska. Dan dia sedikit kepanasan sewaktu mendengar Bagus, teman kerja Bella datang dan membawakannya makanan. Victor iri pada Bagus yang bisa memberikan perhatian pada Bella meski gadis itu tidak membalas perhatian Bagus. Sementara dia, harus sekuat hati menahan diri meski hanya ingin menemui Bella. Victor mengepalkan telapak tangannya, rasanya ingin menghancurkan sesuatu atau menyakiti seseorang seperti yang biasa dilakukannya jika sedang kesal. Namun berada dalam aura Bella membuat emosinya sedikit teredam. Bukan rasa marah yang sedang dia rasakan saat ini, tapi cemburu. Dia cemburu pada Bella. Menyenangkan sekaligus menyebalkan bisa merasakan perasaan ini. “Aku butuh pelampiasan. Leon tahu yang kuperlukan.” Victor pun menghubungi Leon dan menyebutkan apa keinginannya. “Wanita. Aku butuh wanita.” Leon mendesah, ini akan menjadi malam yang panjang. Setelah mengenal Bella, seharusnya tuannya itu bisa menghilangkan napsunya. Entah apa yang terjadi sehingga tuannya itu mulai kembali ke kegiatan lamanya. Namun perintah tetap perintah. Harus dituruti Leon. Stok wanitanya masih banyak. Dan wanita yang membutuhkan uang dengan menjual harga dirinya pun masih banyak. Dia mengatur segalanya aar keinginan tuannya bisa terpenuhi. *-* Seperti yang biasa dilakukannya sebelum bertemu Bella, Victor berusaha mencari perasaannya dalam selarik cahaya yang akan dia temui ketika dirinya berada pada tahap paling atas dalam hubungan emosi manusia. Sisi binatangnya yang sedikit terkekang selama ini dilepaskan. Victor seperti pejantan yang siap menyetubuhi betina-betina dalam satu kandang. Menyenangkan. Itu yang ada dalam pikiran perempuan-perempuan tanpa busana yang meraba tubuh Victor bergantian. Di tangannya, segelas minuman keras sudah hampir tandas. Victor membiarkan rasa mabuk menguasai pikirannya dan mengganti wajah-wajah bermake-up tebal di hadapannya dengan wajah polos Bella. Senyum Bella palsu meningkatkan gairahnya. Victor meraih pinggang perempuan yang menduduki paha kanannya dan mendekatkan tubuh mereka sehingga kulitnya bisa merasa kulit perempuan itu. Dengan sedikit kasar, Victor melumat bibir perempuan itu dan mencecap rasa mocca dari lipstik di bibirnya. “Bella,” desis Victor. Dia mulai melayang ketika satu perempuan mulai beraksi pada tubuh bagian bawahnya. Dipenuhinya pikirannya dengan segala tentang Bella. Dia berlaku pasif kali ini, membiarkan ketiga perempuan bayarannya melakukan sekehendak hati pada tubuhnya. Malam masih panjang, waktu untuknya baru dimulai. Di luar kamar, Leon menunggu dengan sabar. Dia sedikit gelisah dan menanti jeritan-jeritan dari perempuan yang mungkin diperlakukan kasar oleh tuannya. Tamu hotel yang lewat di depannya memperhatikan sosoknya yang berdiri tegak di muka pintu kamar di mana Victor berada. Mungkin mereka berpikir tamu yang menginap adalah orang penting sehingga keamanan hotel pun tidak cukup untuk menjaganya. Sebuah tawa di ujung lorong hotel membuatnya menoleh. Dari tempatnya berdiri, dia melihat sepasang kekasih sedang berpelukan dengan tubuh yang sempoyongan. Sepertinya mereka mabuk. Entah apa yang direncanakan pemilik semesta pada hari ini. Dari sekian banyak kebetulan, mengapa hotel tempat tuannya bersenang-senang harus sama dengan hotel tempat mantan kekasih Bella bersenang-senang. Leon tahu tentang kedua orang yang kini berusaha membuka kunci kamar di seberangnya. Mereka berdua bekerja di gedung Alanzo. Satu mantan kekasih Bella, Anton dan yang satunya kekasih Anton. Dulu dia selingkuhannya yang menjadi kekasih resmi setelah Anton meninggalkan Bella. “Sebaiknya laki-laki ini tidak keluar ketika Tuan Victor sudah selesai. Aku nggak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Anton bertemua Tuan yang sedang dalam kondisi puncaknya,” kata Leon pada diri sendiri sambil memandangi sejoli tersebut masuk kamar dan menghilang. Untuk mengusir jenuh, Leon mengedarkan pandang ke sekitar tempatnya berada. Keadaan di dalam kamar sepertinya mulai memanas dan tuannya bersenang-senang. Desahan perempuan terdengar bergantian. Semoga saja obat yang dia masukkan dalam minuman ketiga perempuan itu bekerja dengan baik. Sehingga mereka tidak terlalu merasakan sakit ketika tuannya sudah memasuki dengan liar. “Semoga mereka sudah kehilangan kesadaran ketika Tuan sedang meraih keinginannya,” kata Leon lagi. Masih tetap pada dirinya sendiri. “Hey, kamu! Ke sini sebentar!” Suara seseorang dari sisi kanan membuatnya menoleh. Seorang perempuan cantik sedang kesulitan membuka pintu karena kedua tangannya membawa kotak yang menumpuk. “Dasar bodoh. Kenapa nggak minta bantuan pelayan waktu di bawah tadi sih? Gimana cara dia naik lift?” “Tolong sebentar, saya sudah tiba tahan,” ujar perempuan itu sedikit memelas. Leon jatuh iba dan berlari ke arahnya. Dia mengambil tumpukan kotak yang ternyata cukup berat dari tangan perempuan itu. “Apa isinya sih? Potongan tubuh manusia, ya? Berat sekali,” gerutu Leon. “Kalau iya kenapa?” tanya perempuan itu balik, judes. Leon memundurkan tubuhnya sedikit dan kelihatan ragu-ragu ketika perempuan itu menyuruhnya masuk ke kamar. “Letakkan hati-hati di atas kasur. Jangan sampai jatuh apa lagi kotaknya sampai terbuka. Bakalan susaj nanti membersihkan bercak darahnya di atas seprai. Saya nggak mau berurusan dengan polisi. Repot!” ujarnya acuh sambil melepas ikat rambutnya dan membiarkan rambut panjangnya jatuh tergerai ke bahu. Leon membalikkan tubuh setelah selesai meletakkan kotak dan terkesima melihat pemandangan indah di hadapannya. Perempuan ini ternyata sangat menawan meski wajahnya sangat angkuh. Leon tahu jika perempuan ini hanya menggertak. Jari-jari lentik dan kulit sehalus kulitnya tidak mungkin sanggup menyakiti manusia. Dan perempuan ini juga tidak sekuat kelihatannya. Leon yakin dia tidak akan kuat melihat darah yang bercipratan ketika sedang memotong-motong tubuh. Ketika Leon berjalan mendekat, perempuan itu membuka dompetnya. “Ini. Buat kamu beli minuman. Mungkin kamu sedikit mual setelah tahu apa yang baru kamu bawa tadi.” Perempuan itu mengangsurkan selembar ratusan ribu. “Tidak. Terima kasih. Saya ikhlas membantu,” kata Leon sambil tersenyum dan hendak berjalan melewati perempuan itu. “Tunggu!” teriak perempuan itu ketika Leon sudah melewati pintu. Sial baginya, kemejanya tersangkut handle pintu sehingga dia terhuyung ke depan dan kakinya kehilangan keseimbangan. “Hati-hati,” kata Leon yang dengan sigap menahan tubuh perempuan itu sehingga tidak terjatuh dan cedera cukup serius. “Apa mungkin kamu kelelahan setelah memotong-motong tubuh manusia?” godanya sambil tersenyum jahil. Leon menegakkan tubuh perempuan itu dan melepas bajunya yang tersangkut di handle. “Ini tidak seperti yang kamu lihat,” ujarnya angkuh sambil merapikan pakaiannya. Leon mendekatkan wajahnya ke wajah perempuan itu. Membuat perempuan itu terkesiap karena tidak menyangka akan didekati Leon seperti itu. “Aku melihat seorang perempuan cantik yang sedang menyembunyikan kemarahannya. Apa aku benar?” goda Leon lagi sambil menyentil ujung hidung perempuan itu. Membuat tubuh perempuan itu seketika menjadi kaku. (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN