Seorang lelaki menempelkan tubuhnya begitu rapat ke tubuh Bella di dalam bus. Bella merasa sesuatu yang kerasa menekan pinggulnya dan sesuatu itu mulai bergerak gerak perlahan. Seolah lelaki di belakangnya itu sedang menggesekan tubuh bagian bawahnya ke tubuhnya. Bella merasa risih, tapi bus begitu sesak sehingga dia tidak bisa bergerak sama sekali.
Bella sering mendengar kasus pelecehan seperti ini. ada seorang lelaki m***m yang gemar berfantasi di dalam kendaraan umum. Namun dia tidka menyangka jika justru dia yang mengalami kejadian seperti ini. Sialnya, menghadapi hal-hal semacam ini, tubuhnya tidak bereaksi dengan baik. Tubuhnya menjadi kaku dan tidak bisa digerakkan meski hanya langkah kecil. Bella kini merasa sebuah tangan sedang mengusah bongkahan lemak bagian bawah tubuhnya dan sekarang tangan itu meremasnya. Mata Bella panas, dia menggigit bibir dan merasa malu dengan pelecehan yang sedang terjadi.
Dia ingin berteriak tapi dia malu jika orang-orang mengetahui apa yang sedang dia alami. Orang-orang pasti akan memandangnya hina dan menyalahkannya. Di negara ini, tak jarang seorang korban malah menjadi obyek perundungan terhadapa masalah yang mereka alami. Bukannya memperbaiki mental seseorang, malah membuatnya semakin terpuruk dan trauma.
Ketika bus berhenti di sebuah halte yang masih jauh dari halte tujuannya, Bella berteriak-teriak kalau dia akan turun. Hanya itu satu-satunya jalan yang terpikirkan olehnya untuk menghindar dari pelecehan yang baru saja dialami. Bella tidak ingin tahu siapa lelaki kurang ajar yang sudah berbuat hal tidak senonoh padanya. Yang jelas ketika dia melompat dari bus, matanya mendadak hangat. Dia sungguh lega telah lepas dari pelecehan seseorang.
Bella terdiam cukup lama di halte. Dia bingung akan pulang naik apa. Jika harus naik bus lagi, sejujurnya dia sangat takut kejadian tadi akan terulang. Tubuhnya juga masih sedikit gemetar. Sedangkan jika harus naik taksi, dia tidak sanggup membayar tarifnya. Ketika dia masih kebingungan dan belum mengambil keputusan apa-apa, sebuah sedan mewah berwarna hitam berhenti di jalur bus dan membunyikan klakson berkali-kali. Ulah pengemudi mobil sangat menarik perhatiannya.
“Victor?” desisnya ketika kaca jendela mobil diturunkan dan lelaki itu terus membunyikan klakson tanpa menoleh padanya.
Seolah mengetahui apa yang diinginkan lelaki itu, Bella berjalan mendekat ke sisi mobil.
“Masuk! Cepat!” perintah Victor dingin. Bella menurut, dia membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang. Victor menekan pedal gas dan melajukan mobilnya cepat. Dia mengarah ke jalan tol, berlawanan arah dengan kosan Bella.
Seperti kerasukan, Victor memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membuat Bella mencengkeram kursi kuat-kuat dan merasa ngeri ketika melirik speedometer. Dia ingin menegur Victor tapi demi dilihatnya lelaki itu seperti diliputi aura kemarahan, dia mengurungkan niatnya. Entah setan mana yang mampir ke kepala Victor sehingga dia seperti lelaki yang sudah bosan hidup.
“Nggg, Victor ... apa bisa kurangi kecepatan? Kamu membuat aku takut.” Akhirnya Bella memberanikan diri menegur Victor.
“Aku butuh pelampiasan untuk menghilangkan berita yang kudengar,” katanya dingin.
“Ap-apa berita yang kamu dengar itu?” tanya Bella hati-hati. Bukannya mengurangi kecepatan, Victor malah menaikkan speed. “Victor!” seru Bella cemas. Dia belum siap mati. Masih banyak hal yang ingin dilakukannya meski dia tahu garis hidupnya tidak semulus jalanan yang sedang dia lalui.
Namun Victor seolah mematikan indera pendengarannya dan tidak menggubris teriakan panik Bella. Dia tetap memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, bahkan kini menyalip liar kendaraan-kendaraan di depannya. Entah kekuatan dan ide dari mana, Bella yang panik mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Victor yang berada di tuas transmisi.
Merasakan sentuhan Bella, membuat tubuh Victor yang dibakar bara, menjadi sejuk seketika. Bella seperti sedang mengalirinya dengan air segar dan dengan cepat tekanan emosinya menurun. Napas memburu Victor tergantikan oleh napas yang lebih tenang dan teratur.
Melihat perubahan Victor, Bella memberanikan diri untuk berkata-kata. “Kalau kamu sudah tenang, tolong antarkan aku pulang, “pintanya. Victor pun menurut, dia memutar mobil ke jalur seberang dan mulai berkendara dengan tenang.
“Besok aku jemput. Jika aku tidak bisa menjemput, aku akan kirim supir. Dan aku tidak mau didebat, Bella. Cukup sudah aku mengetahui apa yang terjadi padamu hari ini.” Victor menaikkan jendela tanpa menunggu persetujuan Bella.
Perkataan Victor membuat Bella heran. Sel-sel kelabu di otaknya mulai menjalin informasi dan mengambil kesimpulan. Jika Victor mengetahui kejadian yang dia alami tadi di bus, hanya ada satu kemungkinan, seseorang mengawasi pergerakannya. Refleks Bella memutar mutar tubuh seperti mencari sosok mencurigakan suruhan Victor. Namun gang menuju kosannya sangat sepi, tidak terlihat satu orang pun padahal masih jam sibuk.
“Victor sialan. Bikin aku nggak bisa bebas bergerak. Emang dipikirnya siapa dia? Dasar cowok tukang pamer!” gerutu Bella kesal. Dia menendang sebuah kerikil yang menghalangi jalan dan berjalan cepat ke kosan.
Bella masih memikirkan kejadian tadi. Dibiarkannya Siska berceloteh menanggapi berita yang dia tonton dari youtube. Siska bilang ingin tidur di kamar Bella malam ini. Dia merasa kesepian sejak pisah kamar dengan Bella karena dia sudah terbiasa tinggal berbagi kamar dengan Bella.
“Kamu tau nggak, Bel? Gosipnya, pemilik Alanzo itu nggak cuma ganteng, tapi sadis juga. Siapa yang menghalangi jalannya pasti disingkirkan secara kejam.”
Topik pembicaraan Siska menarik perhatian Bella. “Kejam gimana, Sis? Memangnya kamu tahu dari mana?”
“Ini banyak beritanya di internet.”
“Internet kan gudangnya hoax. Kalau tidak ada sumber yang jelas aku sih nggak mau percaya.”
“Hilih, emang kamu tahu mana berita bener mana enggak? Kalau disebutin sumbernya juga kamu nggak bakal tahu apa orangnya bisa dipercaya atau enggak. Kita kan orang awam.”
Bella tidak mau menyebutkan kalau dia kenal dekat dengan pemilik Alanzo. Siska bisa kejang-kejang kalau tahu kedekatannya dengan Victor.
“Emang bukti kekejaman Victor itu apa?” tanya Bella berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
“Di internet nggak disebut dengan jelas, cuma dibilang kalau Victor bakal menyingkirkan saingannya yang mengganggu secara kejam. Udah gitu aja.”
“Mungkin semua orang kaya akan melakukan hal yang sama, seperti kata kamu, kita kan orang awam. Nggak tau kehidupan orang kaya.”
“Kamu emang paling pinter kalau soal balikin omongan Bel.”
Menanggapi omongan Siska, Bella hanya nyengir-nyengit tidak jelas. Dia tidak tahu seperti apa Victor. Sikapnya di dalam mobil membuat Bella takut dan sedikit percaya omongan Siska. Victor terlihat seperti binatang buas yang hendak menerkam mangsanya. Kenapa dia bisa semarah itu ya mengetahui kejadian yang menimpa aku? pikir Bella. Seharusnya dia yang ditenangkan karena baru saja mengalami peristiwa yang traumatis, ini kebalikannya. Dialah yang menenangkan dan berusaha meredakan amarah Victor.
“Ngomong-ngomong, malam ini kita nggak nerima kiriman, Bel?”
“Kiriman apa?” tanya Bella heran.
“Makan malam,” jawab Siska sambil nyengir. “Sudah dua malam berturut kita dapat kiriman terus.”
“Keberuntungan nggak akan datang tiap hari pada orang yang sama, Sis. Kasian nanti orang lain, nggak kebagian.”
“Sa ae kamu Bel,” kata Siska sambil terkikik.
Namun belum reda tawa mereka berdua, pintu kamar Bella diketuk seseorang. Bergegas Bella berlari ke arah pintu dan membukanya. Siska memandang pintu dengan wajah berseri-seri. Sepertinya keberuntungan masih ada di pihak mereka malam ini.
“Kamu? Ngapain kamu di sini?” tanya Bella pada seseoarang yang sedang berdiri di depan kamarnya. (*)