“Dia gadis baik-baik, kok. Lagi pula mereka masih kenalan saja. Belum tentu juga bakal menikah. Itu tadi cuma khayalan Mama saja karena terlalu senang Victor punya kekasih.”
Mama membelalakkan matanya ke arah Victor yang sudah membeku karena tidak tahu ahrus menjawab apa.
“Ayo makan dulu. Mama mau ke dapur dulu, ngasih tahu koki.” Mama meninggalkan Victor dan Papa berdua saja di meja makan.
“Kamu tahu sendiri, kan bagaimana Papa membangun keluarga ini? Jadi kalau kamu berniat menikahi seseorang, pastikan dia berasal dari keluarga baik-baik dan terpandang. Gadis biasa belum tentu paham pergaulan keluarga kita, Nak. Belum tentu dia bisa menyesuaikan diri. Jadi sebelum dia mencoreng nama baik keluarga kita, sebaiknya jangan bermain-main dengan gadis dari kalangan biasa.”
Perkataan Papa seolah menghapus paksa nama Bella dalam daftar perempuan yang akan dinikahi Victor. Namun jika bukan Bella, Victor tidak tahu lagi harus dengan siapa dia menghabiskan hidup. Belum tentu ada gadis seperti Bella yang memenuhi persyaratan papanya.
Victor mengangguk. Papa tidak perlu tahu bagaimana hubungannya dengan Bella. Toh, memang belum terjadi hubungan apa-apa di antara mereka.
“Mama sudah menyiapkan sesuatu untuk pacarmu.”
Perkataan Mama membuat Victor tersedak. “Dia belum jadi pacar saya, Ma.”
“Maksudmu, kamu belum menyatakan perasaanmu sama dia?”
Victor menggeleng, membuat Mama mendesah gemas. Mama menyadari jika Victor tidak tahu apa-apa tentang perempuan. Anak lelakinya ini tidak punya pengalaman dan perasaannya juga tidak terasah.
“Kamu harus segera mengungkapkan perasaanmu itu. Jangan sampai keduluan sama yang lain.”
“Apa menurut Mama ada orang lain yang mendekati dia?”
“Victor sayang, apa kamu pikir lelaki akan membiarkan perempuan secantik Bella jalan sendirian setiap hari? Kamu harus bergegas, Sayang. Waktu tidak bisa ditunda terlalu lama.”
Papa memilih menikmati makanannya dari pada terlibat dalam diskusi yang tidak dia pahami. Victor menghentikan kegiatannya menyuap dan mulai berpikir. Mama benar, dia harus mencari cara agar Bella segera bisa dimiliki.
“Victor pamit, Ma,” katanya tiba-tiba sambil meletakkan sendok garpu di atas piring.
“Makanmu belum habis.”
“Sudah cukup,” katanya lagi. Dia ingin bergegas kembali ke kosan dan merasakan aura Bella merasukinya. Victor memerlukan perasaan manusianya agar dapat bertindak selayaknya manusia.
*-*
Setibanya di kosan, Victor segera berbaring dan berselancar di dunia maya untuk mencari informasi tentang menaklukan perempuan. Sebelumnya dia sudah meminta supir mengantarkan makanan yang dititipkan Mama ke kosan Bella dan Siska.
“Cara menaklukan perempuan dalam tiga puluh hari.” Victor membaca sebuah judul artikel. Dia membuka tautan dan mulai mempelajari isinya.
“Hmm, rumit juga ternyata perempuan. Pikirannya random. Yang jelas, menurut artikel ini, perempuan itu suka diperhatikan dan suka hal-hal yang manis. Seharusnya aku langsung saja menyatakan perasaan dan keinginanku untuk memilikinya. Ah, tapi kata Leon aku tidak boleh gegabah. Aku harus bisa mendapatkan kepercayaannya dulu. Sial, harus bagaimana coba?”
Victor menutup tautan dan mulai mencari-cari lagi artikel lainnya.
“Barang yang disukai perempuan. Tempat yang tepat untuk menyatakan cinta. Hal-hal romantis yang disukai wanita. Ahh, kenapa semuanya hal yang tidak aku suka? Serumit inikah?”
Jari Victor terus bergerak, dia menyerap sebanyak-banyaknya informasi tentang perempuan dan bagaimana cara menaklukan hati mereka. Bahkan Victor menonton video youtube tentang bagaimana cara menaklukan hati wanita.
“Jangan terlalu mengejar? Oke, artinya aku nggak boleh memaksakan perasaan sama Bella. Next ... selalu ada buat dia ketika dia membutuhkan. It’s mean, aku harus menjaga dia dari jauh tapi harus ada ketika dia butuh sesuatu. Gitu?” Victor mengusap dagunya. Kini dia mulai memahami bagaimana harus mendapatkan hati Bella.
“Yang ketiga, jadilah pendengar yang baik. Oke, ini bisa terjadi kalau aku sudah menjadi temannya, minimal Bella sudah merasa nyaman sama aku jadi dia bisa cerita hal-hal yang rahasia dan penting untuknya. Great! Aku ngerti sekarang. Jadi emang harus pelan-pelan nggak boleh terburu-buru.”
Victor menutup ponselnya. Kepalanya sudah dipenuhi rencana-rencana. Dia memutuskan untuk mengamati Bella dari jauh. Tidak selalu dia yang berada di sekitar Bella, tapi dia bisa menyuruh orang-orangnya selalu menjaga Bella dan melaporkan setiap gerak gerik gadis itu padanya.
“Dimulai besok pagi. Aku nggak boleh melakukan kesalahan seperti hari ini dengan memaksa Bella.”
Victor pun memenuhi janjinya. Dia pergi dari kosan setelah memastikan Bella sudah pergi. Walau hatinya ingin mengantar gadis itu, tapi dia memutuskan untuk memberi kelonggaran pada Bella dan tidak selalu membayangi aktivitas gadis itu.
*-*
Berulang kali mata bening Bella menoleh ke belakang. Dia merasa ada seseorang yang mengamatinya, tapi setiap dia menoleh tidak ada sosok yang diharapkan ditemuinya. Ah, tentu saja, tidka mungkin pria sesibuk Victor punya waktu luang untuk mengejar-ngejar dia. Bella menghentikan langkahnya lalu memukuli kepalanya berkali-kali.
“Aku mikirin apa sih? Masa Victor ngejar-ngejar aku? Nggak mungkin banget. Aku benar-benar ge-er. Inget Bella kamu itu cuma kasir sedangkan Victor itu setingkat sultan,” kata Bella berbicara sendiri. Dia berdiri di halte dan menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerja.
Namun dia tidak bisa membohongi diri sendiri kalau dia mengamati setiap sedan hitam yang melintas di depannya. Dia berharap kalau sedan itu memperlambat lajunya dan berhenti beberapa meter di depan halte. Dalam bayangannya, pintu sedan akan emmbuka dan soosk Victor keluar lalu berjalan ke arah halte untuk menemuinya.
“Bodoh, bodoh, bodoh,” katanya pada diri sendiri sambil memukuli pelan kepalanya. Ulah Bella mengundang perahtian beberapa orang di halte dan mereka memandang sinis padanya.
Bella menarik napas dalam. Dia harus menenangkan diri. Setelah dia menolak dan menghindari Victor kemarin sore, perasaannya menjadi menyesal. Dia tidak bermaksud menolak Victor seperti itu. Semua gara-gara dia termakan omongan Bagus soal perbedaan derajat. Bagus selalu mengungkit soal Anton dan membangkitkan emosinya. Sekarang Bella menyesal, karena sejak itu Victor tidak terlihat lagi menampakkan diri.
Selama di dalam bus Bella merenungi semua kejadian bersama Victor. Jika apa yang telah dilakukan Victor padanya hanya sebatas pamer untuk membuatnya terkesan, usaha Victor berhasil. Dia memang terkesan dan merasa istimewa. Seharusnya Victor menghubunginya atau setidaknya menanyakan nomor ponselnya. Jadi dia masih memiliki harapan akan ada pertemuan selanjutnya.
“Lagian, siapa aku berani menolak Victor. Dia pasti bisa mencari gantinya dengan cepat, kan?” kata Bella dalam hati.
“Lesu amat, Bel,” sapa Bagus ketika melihat kedatangan Bella. Wajah Bella ditekuk dan dia melangkah gontai. “Lu abis dicampakkan, ya?”
“Sinting, lu, Gus. Pacar aja kagak ada sapa yang mau mencampakkan?”
“Kali aja ada cowok yang lu suka trus dia tiba-tiba nolak elu.”
Bella menopang dagunya di meja kasir. “Kenapa dia musti ga suka sama gue Gus? Dia aja yang sok pamer dan bikin gue keki. Jadi wajar kalau gue merasa bingung kan? Seharusnya dia itu jangan nyerah, tetep kasih gue perhatian gitu. Gue pasti luluh kok kalo diperhatiin terus.” Tanpa sadar Bella meluapkan uneg-unegnya pada Bagus yang sedang mengepel lantai.
“Pagi-pagi ngigau. Ngomong apaan sih Bel?”
Menyadari kesalahannya, Bella menggelengkan kepala. Dia harus fokus dan tidak memikirkan Victor terus. Lelaki itu pasti sedang menikmati hari-harinya yang mewah dan mungkin dengan ditemani perempuan cantik yang berkelas.
“Pagi, di sini ada yang namanya Bella?” tanya seorang pria yang masuk ke minimarket. Dari penampilannya, dia seperti kurir ekspedisi.
“Ya, saya!” seru Bella sambil mengacungkan tangan dari balik meja kasir. Lelaki itu berjalan mendekat. Dia meletakkan sebuah kotak di hadapan Bella dan memintanya menandatangai sebuah kertas.
“Lagi?” tanya Bagus yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan Bella. “Sekarang apaan?” selidik Bagus sambil memperhatikan hampers berisi wewangian berukuran kecil-kecil.
“Udah kayak hantaran nikah aja, Bel. Gue tebak, paket terakhir itu buku nikah yang minta ditandangani dan mas kawin,” ujarnya sinis sambil meninggalkan Bella yang masih bengong memandang hampers yang baru saja dia dapatkan. Lagi-lagi kiriman tanpa nama.
“Aku harus ketemu Victor dan nanya soal kiriman-kiriman ini. Cuma dia lelaki yang mungkin ngirimin aku hal-hal seperti ini,” kata Bella dalam hati. Tapi bagaimana caranya? Tidak mungkin dia pergi ke gedung Alanzo dan meminta bertemu Victor. Memang siapa dia?
Namun keinginannya seperti terdengar oleh Victor karena sore harinya, lelaki itu mengunjunginya di minimarket.
“Aku cuma mau menyapa dan melihat kamu. Sepertinya kamu baik-baik saja,” kata Victor sambil tersenyum ramah. Dia hendak berbalik setelah mengatakan itu.
“Tunggu!” Bella berjalan memutari meja kasir dan melangkah cepat mendekati Victor. Susah payanh dia mengharapkan momen seperti ini dan sekarang lelaki ini mau meninggalkannya begitu saja?
Victor memutar tubuhnya dan kini mereka berdiri berhadapan. “Ada yang perlu dikatakan?” tanya Victor.
“Kamu menghindariku? Kenapa pergi cepat-cepat sebelum aku sempat menyapa?”
“Kamu sendiri yang bilang tidak mau terlihat bersamaku karena tidak ingin menjadi pusat perhatian.”
“Iya sih tapi bukan berarti kamu harus pergi cepat.”
“Kamu merindukanku?”
“Eh, apa?” tanya Bella balik karena terkejut dengan pertanyaan Victor. “Kenapa kamu suka sekali mengeluarkan pertanyaan yang mengagetkan sih?”
“Apa aku salah? Kamu tidak ingin aku pergi cepat. Kenapa? Pasti kamu rindu kan?”
Oh, Tuhan, Bella kehilangan kata-kata. Lelaki di hadapannya pandai sekali memainkan perasaan. Dia memang memikirkan Victor tapi bukan berarti dia merindukan lelaki itu. Sama sekali bukan.
“Bukan seperti itu. Aku tidak ingin kamu pergi karena ada yang ingin aku tanyakan.”
Victor menegakkan tubuhnya seolah pertanyaan Bella akan menghantamnya dan dia harus menyiapkan diri sebaik-baiknya.
“Aku menunggu.”
“Nggg, itu. Mmmm, apa ... apa ... apa kamu yang mengirim hampers hampers padaku?” Bella meraih hampers yang dia simpan di meja kasir. Sengaja.
Victor hanya memandang sekilas pada hampers itu. Dia tahu siapa pengirimnya dan itu tidak membuatnya khawatir. Namun dia ingin bersikap misterius di hadapan Bella.
“Sepertinya kamu punya penggemar lain selain aku, Bella. Sayang sekali, karena ternyata aku bukan satu-satunya.” Victor seolah terlihat sedih. Dia berjalan selangkah mendekati Bella. Disentuhnya dagu gadis itu.
“Tapi aku nggak takut meski harus menghadapi seratus saingan sekalipun. Karena aku bisa memastikan, kamu akan jatuh ke pelukanku Bella.” Victor mengusap lembut bibir Bella. Membuat sekujur tubuh Bella seperti dialiri arus listrik ribuan volt. Bulu-bulu halus di tubuhnya berdiri semua.
Selesai memberikan tanda di bibir Bella, Victor berlalu begitu saja seperti angin. Meninggalkan Bella yang mendadak lemas dan jatuh terduduk di lantai. Tangannya mengusap bibirnya yang tadi disentuh Victor. Masih terasa hangat kulit lelaki itu di bibirnya.
‘Apa yang sudah dilakukan Victor padaku?’ (*)