“Kita pulang bareng.”
Tiba-tiba saja Victor sudah berada di depan minimarket Bella. Jam kerja Bella memang hanya sampai jam empat sore, selanjutnya Bagus akan bertuas sendirian sampai jam delapan malam. Saatnya gedung benar-benar ditutup dan hanya beberapa orang yang sudah izin saja yang bisa keluar masuk gedung dengan bebas. Biasanya mereka yang memang akan lembur atau menginap di kantor.
“Kita?” tanya Bella memastikan. Dia tidak tahu di mana rumah Victor, yang jelas tujuan mereka pasti berbeda. Pulang bareng tentu saja alasan yang mengada-ada.
“Iya. Pulang ke kosanmu.”
“Nggak usah aneh-aneh, deh. Aku nggak mau jadi pusat perhatian karena diantar pake mobil bagus dan sama cowok seganteng kamu.” Bella sadar, jam segini gang menuju rumahnya cukup ramai. Dan keberadaan Victor bakal menarik perhatian. Lelaki semenarik Victor pasti akan membuat perempuan mana saja menoleh ketika dia melintas.
“Mmm, jadi menurut kamu aku ini ganteng?” Victor terlihat berseri-seri mendengar pujian Bella. Rasanya dadanya membesar seperti balon dan dia seolah terbang.
“Please, deh. Bukan waktunya untuk ge-er,” kata Bella sambil berlalu meninggalkan Victor yang keheranan mengapa tingkah Bella berubah menjadi dingin.
“Bella! Tunggu!”
Namun Bella benar-benar sedang tidak ingin diikuti Victor. Dia sedikit berlari menuju halte bus. Keberuntungan berpihak padanya. Bus tujuannya datang dan Bella pun segera masuk lalu membaur. Dia masih sempat melihat keluar jendela bus dan memperhatikan Victor yang terengah-engah mengejarnya. Sosok lelaki itu semakin mengecil ketika bus berjalan meninggalkan halte. Bella memperhatikan jika Victor kesal dan mungkin mengumpat. Dia tersenyum tipis. Tidak selamanya apa yang kita inginkan harus didapatkan, bukan?
*-*
“Ikuti bus itu!” perintah Victor pada supirnya.
Dia pun mengempaskan tubuh di kursi penumpang. Susah payah dia berusaha melepaskan diri dari pekerjaan yang selalu menumpuk dan menyempatkan diri menemui Bella untuk mengantarnya pulang. Namun yang mau diantar malah meninggalkannya. Apa yang sebenarnya terjadi selama Bella tidak berada di sisinya? Apa perempuan selalu seperti itu? Mudah berubah perasaan?
Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Victor. Pikirannya yang dingin setelah kepergian Bella membuatnya semakin tidak memahami apa maunya gadis satu itu. Dia memang tidak memahami perempuan dan mungkin tidak akan pernah bisa. Namun setidaknya bersama Bella dia mempelajari secara nyata satu per satu perasaan manusia.
Ketukan di pintu membuat supir yang bersiap melajukan mobil menurunkan kaca.
“Buka pintunya,” perintah Leon pada supir. Segera setelah kunci mobil membuka, Leon pun masuk dan duduk di kursi depan.
“Kamu kenapa ada di sini?” tanya Victor tanpa menyembunyikan rasa tidak sukanya. Keberadaan Leon bisa mengacaukan rencananya.
“Untuk mencegah Tuan mengikuti Nona Bella,” jawabnya sambil memberikan perintah baru pada supir.
Benar saja. Leon memang kurang suka jika Victor mengejar Bella sendirian. Menurut Leon, apa yang dilakukan Victor itu terlalu cepat dan berlebihan. Seperti mengajak Bella naik helikopter tadi.
“Kamu tidak berhak melarang aku, Leon,” kata Victor tegas. Di sini dialah bosnya, Leon tidak bisa seenaknya saja mengatur Victor.
“Maafkan saya, Tuan. Namun jika Tuan ingin mendapatkan hati Nona Bella, Tuan tidak boleh terlalu mendesak dia. Nona Bella baru saja putus dengan Pak Anton dan itu akan mengubah persepsinya tentang lelaki dari kalangan atas.”
“Aku tidak seperti Anton. Aku tidak akan menyakiti Bella!”
“Saya yakin. Tapi Nona Bella belum tentu. Dia tidak mengenal Tuan sebaik saya. Dia hanya melihat Tuan sebagai seorang lelaki yang sedang berusaha mendekatinya dan dalam hatinya mungkin sedang dibangun tembok untuk berjaga-jaga agar peristiwa dengan Pak Anton tidak dirasakannya lagi.”
“Hhh. Aku tidak bisa disamakan dengan Anton. Lelaki buaya.”
“Maaf. Saya tidka menyamakan Tuan dengan Pak Anton. Saya hanya berusaha menjaga perasaan Nona Bella.”
“Yang sedang aku lakukan ini menjaga perasaannya agar tidak disakiti lelaki lain. Kamu pikir aku sedang apa? Aku sedang berusaha meyakinkan Bella kalau aku tuh tidak seperti mantannya!”
“Saya tahu maksud Tuan baik. Coba pikir kenapa sekarang Nona Bella menghindari Tuan? Jika dia perempuan tanpa masalah atau trauma, untuk apa menolak Tuan? Apa lagi sekarang dia sudah tahu kalau Tuan adalah pemilik gedung Alanzo dan juga pemilik Alanzo Corp.”
Victor terdiam. Sedari tadi dia memang berusaha mencari alasan Bella menghindarinya. Sayangnya dengan pengalamannya yang minim soal perempuan, dia tidak menemukan jawabannya.
“Menurut kamu kenapa?” tanyan melemah. Tidak sekeras sebelumnya.
“Nona Bella masih ragu dengan maksud, Tuan. Bisa jadi dia juga tidak ingin terlibat dengan Tuan.”
“Apa? Maksudmu Bella tidak ingin berhubungan denganku?”
Leon mengangguk. Diam-diam dia memperhatikan tingkah Bella sewaktu didatangi Victor. Gadis itu sedang membangun pertahanan dirinya. Leon hampir yakin kalau Bella sebenarnya masih trauma karena hubungannya dengan Anton. Leon merasa jika Victor mendesak Bella, maka gadis itu justru akan menghindar dan menjauh. Bisa jadi menghilang meninggalkan Victor.
“Tuan tidak ingin kehilangan Nona Bella, bukan?”
Sekarang gantian Victor mengangguk. Leon memperhatikannya dari kaca tengah. Mobil masih melaju dengan tenang di tengah keramaian jalan ibukota.
“Maka Tuan harus mendekatinya perlahan. Jangan langsung menjadikannya target sebagai kekasih. Bertemanlah dahulu dengannya. Itu lebih baik. Membuat Bella percaya bahwa Tuan tidak bermaksud buruk padanya.”
Victor mencerna perkataan Leon. Semua yang dikatakan orang kepercayaannya benar. Dia harus bersikap lebih tenang. Bella memang obat baginya dan seperti pesakit, dia memang butuh segera mendapatkan obatnya agar cepat sembuh. Namun obat yang dia butuhkan tidak bisa didapatkan secara paksa. Victor juga ingin Bella membutuhkan dirinya sebesar dia membutuhkan gadis itu.
“Jadi aku tidak bisa bertemu Bella hari ini?”
“Beri ruang untuk Nona Bella. Biarkan dia dulu. Lagi pula Tuan juga akan tidur di sebelah kamar Nona Bella malam ini, kan? Pengaruh Nona Bella masih bisa Tuan rasakan meski tidak besar.”
Itu benar. Meski dibatasi dinding, Victor masih bisa merasakan pengaruh Bella pada dirinya. Jika dia menempelkan tubuhnya pada dinding, perasaannya akan semakin padat. Apa lagi jika Bella sedang berada di atas kasurnya yang bersebelahan persis dengan dinding di mana Victor berada, rasanya d**a Victor hampir penuh. Itu sudah cukup untuk membuat Victor merasa sebagai manusia.
“Apa Tuan tidak memerlukan gadis lain sekarang?” tanya Leon lambat.
Setelah kehadiaran Bella dan dia merasakan pengaruh gadis itu pada perasaannya, Victor tidak lagi menginginkan mengejar cahaya yang hanya akan di dapatnya saat dia meraih puncak hubungan seksual. Kini dia merasa jika perasaan itu semu. Hampir bohong. Mengingat apa yang ada di tangannya kini adalah perasaan yang sejak dulu dia cari.
“Aku tidak ingin gadis lain. Aku cuma mau Bella,” jawabnya. “Antar aku ke rumah Mama. Aku mau pulang sebentar sebelum ke kosan Bella.”
Leon mengangguk, dia memberi tahu supir tujuan baru.
*-*
Baru sehari dia meninggalkan rumah, Mama sudah menyambutnya seperti anak lelaki yang baru pulang dari medan perang. Mama meminta koki menyiapkan beraneka hidangan dan mengajak Victor berbincang di ruang keluarga. Papa, lelaki senja yang sudah sering kumat sakit jantungnya, duduk lemah di kursi malas dengan selembar koran di pangkuannya. Meski teknologi sudah canggih, Papa tetap memilih menikmati berita secara tradisional. Membaca koran atau menonton televisi. Dia enggan merusak matanya dengan radiasi ponsel jika harus membaca berita dari benda segiempat yang hampir tidak pernah dia sentuh.
Mama tidak pernah meninggalkan Papa terlalu lama. Sampai saat ini, Papa selalu mengira jika Mama seorang istri setia yang penuh perhatian sehingga tidak pernah meninggalkan dirinya. Padahal Mamalah yang sebenarnya tidak bisa jauh dari Papa. Bahkan ketika Papa dirawat di rumah sakit karena jantungnya hampir berhenti berdetak, Mama tidak mau beranjak dari sisi tempat tidur Papa. Mama menyadari, berjauhan dari Papa akan membuatnya kehilangan perasaan manusia.
“Apa kabarmu, Nak?” tanya Papa ketika Victor duduk di samping Papa.
“Selalu sehat. Sama seperti Papa,” jawab Victor sambil berusaha tersenyum. Papa mengangguk-angguk beberapa kali sebelum akhirnya menyandarkan kepala dan menutup matanya.
Papa menghela napas panjang. Entah mengapa setiap melihat Victor, dia selalu merasa lelah. Terbayang di ingatannya bagaimana hari-hari yang dilaluinya ketika mencari pengobatan untuk anaknya dulu.
Victor kecil tumbuh tanpa emosi. Ayah Victor tidak ingin anaknya dianggap seperti orang cacat dan dijauhi masyarakat. Dengan uang yang dimilikinya, dia mencari dokter dan pengobatan terbaik untuk anaknya. Sayang, setiap dokter yang ditemuinya angkat tangan. Mereka tidak tahu bagaimana menyembuhkan kelainan Victor tersebut. Mereka bilang, jika ada trauma, bisa disembuhkan setelah traumanya diatasi. Sayangnya Victor terlahir dengan kondisi tanpa perasaan. Pengobatan seperti apa yang bisa dilakukan untuk kondisi yang dibawa sejak lahir?
Kadang, Papa Victor merasa melihat istrinya ketika melihat kondisi Victor. Dia teringat masa pertama kali bertemu istrinya itu. Kadang dia merasa jika kondisi Victor diturunkan dari istrinya. Namun sejauh ini, istrinya tidak terlihat dingin. Baginya, Loraine adalah perempuan paling hangat dan penuh kasih yang pernah dia kenal.
“Maafkan Papa,” bisik Papa Victor. Bisikan yang ditujukan pada dirinya sendiri.
“Papa ngomong sesuatu?” tanya Victor yang merasa mendengar papanya mengatakan sesuatu.
Papa Victor membuka mata, “Papa minta maaf karena membuatmu mengurus perusahaan sendirian,” katanya sambil menoleh ke arah anak satu-satunya itu.
“Sudah kewajiban saya sebagai anak Papa.”
“Seharusnya dulu Papa tidak terlalu sibuk bekerja dan menghabiskan lebih banyak waktu denganmu. Sekarang rasanya Papa seperti kehilangan banyak hal.”
Victor menggeser duduknya semakin mendekat ke arah Papa. Dia menggenggam jemari Papa yang semakin kurus. “Apa yang Papa khawatirkan?”
“Apa kamu akan pindah dari rumah ini?”
“Ah, itu. Saya tidak akan lama. Ada pekerjaan yang mengharuskan saya berada di lokasi langsung. Tapi saya janji akan sering-sering pulang.”
“Seandainya dulu Papa lebih memperhatikan kamu.” Mata Papa memandang lurus pada mata Victor. Di balik senyuman Victor, Papa merasakan tatapan yang dingin dan tanpa kasih.
“Mama sering memberi tahu kalau Papa bekerja keras untuk saya. Untuk kesembuhan saya. Dan sekarang ... Papa lihat, saya baik-baik saja.” Victor tersenyum lebar dan menepuk-nepuk dadanya dengan sebelah tangan.
Papa membalas senyuman anak lelakinya dengan hangat, meski dia tahu senyuman milik Victor adalah senyuman hasil latihan bertahun-tahun.
“Sudah, sudah, Papa ini membuat suasana jadi melow saja. Yuk kita makan. Koki sudah memasak banyak makanan enak untuk menyambut kedatangan putra kita.” Mama membantu Papa berdiri dan berjalan menggandengnya menuju ruang makan.
“O, iya, Vic, nanti Mama titip makanan untuk Bella, ya?” kata Mama ketika mereka sudah duduk di meja makan.
“Lagi?”
“Mama nggak tahan untuk nggak ngasih dia sesuatu. Tadi saja Mama mengirimi dia hampers perlengkapan mandi. Rasanya Mama pengen ngasih dia banyak hal.”
“Apa? Mama mengirimi dia apa?”
“Hampers. Kenapa? Mama nggak nyantumin nama, kok. Biar saja dia menebak nebak dari mana kiriman itu berasal.” Mama terkikik senang. Dia menyodorkan piring berisi nasi ke hadapan Papa.
“Bella itu siapa?”
“Itu ... calon mantu Papa,” kata Mama sambil terkikik lagi.
“O, ya? Anak siapa dia? Apa sederajat sama kita? Kalau bisa dia anak salah satu relasi Papa. Jadi perusahaan kita semakin besar dan berkembang. Nah, apa Papa kenal sama orang tuanya?”
Rasa ingin tahu Papa seperti menyedot habis persediaan oksigen di meja makan. Suasana hangat yang tadi tercipta berubah jadi dingin. Victor tidak bisa menjawab. Dia takut jika Papa tahu siapa Bella sebenarnya, Papa akan menyuruhnya menjauhi gadis itu. (*)