KIRIMAN MISTERIUS

1332 Kata
Bella menyadari jika selama ini dia sudah diikuti Victor. Lelaki yang berdiri menyambutnya pasti kaki tangan Victor. “Jadi kamu selama ini mengamati aku, ya?” desis Bella galak. Victor terkekeh dan meraih tubuh gadis itu ke pelukannya. Bella melepaskan diri. Tadi dia mau dipeluk karena dia gugup naik helikopter untuk pertama kali. Kalau sekarang, dia tidak butuh pelukan Victor lagi. Bahkan jangan sampai terlihat berdekatan dengan lelaki itu. “Di mana pintu ke bawahnya?” tanya Bella setelah berjalan tak tentu arah. “Di sini!” tunjuk Leon padanya. Bella langsung berlari kecil ke pintu itu dan terburu-buru menuruni tangga. “Awasi dia untukku, Leon. Sepertinya dia tidak mau terlihat denganku di keramaian.” “Anda ... apa Anda tidak apa-apa?” Leon memandang Victor khawatir. Dia tahu apa yang akan terjadi jika Bella menjauh dari tuannya. “Aku akan baik-baik saja. Dia lebih penting. Hari ini jadwalku padat, kan?” tanyanya lagi. Leon memberi tanda pada seseorang yang juga mengikuti mereka. Lelaki itu langsung menyebutkan jadwal Victor. “Pastikan dia mendapatkan apa yang dia butuhkan, Leon. Aku harus bekerja hari ini.” Leon mengangguk dan menekan tombol lift supaya berhenti di lantai tuannya bekerja. Setelah pintu lift menutup dia segera berpindah ke lift di sebelahnya dan menekah tombol menuju lantai dasar. Dia yakin Bella sudah ada di bawah sekarang dan dia terlambat mengikuti pergerakan gadis itu. Leon memutuskan akan mengamati dari jauh aktivitas Bella dan melaporkannya pada Victor. *-* Bella tiba tepat waktu untuk membuka minimarket tempatnya bekerja. Rekan kerjanya sudah datang lebih dulu. “Kok tumben lu datang dari arah gedung Alanzo? Ketemu sama Anton lagi? Udah baikan kalian?” tanya Bagus, temannya, menyelidiki ingin tahu. “Kepo aja, lu, Gus!” “Bukan kepo. Cuma gue nggak mau lu dilecehin lagi sama ceweknya Anton. Sejak semula, kan gue udah ngasih tau, pacaran sama orang kaya itu nggak cocok buat orang kayak kita. Levelnya beda.” Bella tersenyum getir, memilih tidak menjawab omongan Bagus. Ada benarnya juga yang dikatakan temannya itu. Hubungan dengan derajat sosial yang berbeda memang kerap menimbulkan masalah. Yang berjalan lancar banyak tapi yang tersandung-sandung juga tidak sedikit. Segala sesuatu ada resikonya. Permasalahannya, apa sekarang kita siap menjalani segala resiko yang bakal terjadi? Terbukti pada Anton, dia tidak siap dengan resiko yang bakal terjadi dari hubungan mereka. Bella bisa menghadapi pandangan orang-orang seandainya Anton berada di sisinya. Membela dan mendukungnya. Sayangnya Anton memilih pergi dan menyerah. Bella pun harus menerima kegetiran ditinggalkan dan dihina. “Gue udah ngelupain Anton, kok. Dia ama gue udah end.” “Baguslah. Terus ngapain lu ke gedung Alanzo?” Bella malas jika rekan kerjanya ingin tahu terlalu banyak. Dia enggan menjawab dan memilih bungkam. Tidak semua permasalahan pribadi kita harus dibagi dengan orang yang kita kenal. Sekali pun kita percaya orang tersebut tidak akan menyebarkannya ke mana-mana. “Ya udah kalau lu nggak mau cerita. Nih, bantu gue susun barang!” Bagus mendorong kontainer berisi makanan ringan hingga menyentuh kaki Bella. Dengan gesit Bella mengangkat kontainer itu dan mulai meletakkan makanan ringan yang berada di dalamnya ke rak-rak pajangan. “O, iya. Lu dapet kiriman tadi,” kata Bagus. Membuat Bella menghentikan kegiatannya. “Kiriman apa?” Bagus berjalan ke belakang toko dan kembali dengan sebuah hampers di tangannya. “Ini. Dianter kurir.” Bella menerima hampers dari tangan Bagus dengan wajah bingung. “Dari siapa? Nggak ada nama pengirimnya.” Bagus mengangkat bahu. Dia sudah membolak balik kiriman itu dan tidak ditemukan nama pengirim. Namun melihat kemasannya, hampers tersebut bukan barang murahan. “Coba dibuka,” usul Bagus pura-pura tidak peduli, tapi diam-diam dia mengamati kelakuan Bella yang membuka hampers berisi perlengkapan mandi dari merek ternama. “Ini sabun mandi mahal,” desis Bella ketika mengamati merk yang tertulis di botol sabun cair. Matanya bersinar melihat aroma terapi, lotion, dan cologne dengan harum dan merek sama. “Gila! Ini beneran buat gue?” “Kayaknya lu punya penggemar baru. Om-om tajir,” ujar Bagus sinis. “Dari mana lu tau yang ngirim om-om?” “Ya dari caranya nggak mau nyantumin namalah! Pasti karena takut ketauan pacar atau istrinya. Dan yang berbuat gitu pasti om-om. Sugar dedilah kalau kata cewek zaman now.” “Wait! Kenapa harus sugar dedi? Bisa aja ini kiriman dari cewek atau mungkin cowok yang gue kenal?” Wajah Bella berubah muram. Lelaki yang dia kenal yang mungkin mengiriminya hampers mahal jelas sudah bukan miliknya lagi. “Anton maksud lu? Hapus nama itu. Nggk mungkin dia. Dan cewek mana temen lu yang tajir mlintir sampai mau kasih barang mahal kayak gitu? Mending dipake sendiri kata gue sih.” Iya juga. Tidak ada temannya yang tingkat ekonominya di atas rata-rata. Seandainya mereka sanggup membeli barang semahal ini, lebih baik mereka pakai sendiri daripada diberikan padanya. Ada satu lagi kandidat yang mungkin mengiriminya hampers mahal ini. Victor? Namun entah mengapa, Bella merasa bukan gaya Victor. Jika memang dia yang mengirim, pasti lelaki itu akan mencantumkan nama. Tidak perlu diam-diam seperti ini. Tapi ... ada baiknya dia mencoba menanyakan jika mereka bertemu lagi nanti. Bertemu lagi? Ah, mengapa dia merasa seolah akan ada pertemuan lanjutan dengan Victor? Padahal dia tidak punya nomor telepon lelaki itu dan lelaki itu juga tidak meminta nomor teleponnya. Namun ... bukan hal yang sulit bagi Victor untuk menemukan dia. Seperti apa yang terjadi pagi ini, tiba-tiba saja Victor berada di depan kosannya. Belum lagi orang kepercayaannya itu, dia adalah orang yang sama yang pernah menolongnya sewaktu jatuh dari bus. “Kenapa celingukan?” tanya Bagus ketika melihat Bella buru-buru keluar minimarket dan melihat ke segala arah. Siapa tahu dia akan menemukan sosok mencurigakan yang dia kenal. “Siapa tau ada orang mencurigakan yang sedang mengamati ke minimarket sini. Mungkin dia menunggu reaksi gue saat nerima kiriman ini. Tunggu!” Bella mengacak-acak hampers dan meneliti masing-masing botol lalu membolak-balik kardus kiriman. “Lu sehat, Bel?” “Gus, coba lu bantu cek, mana tau ada alat penyadap di dalam hampers ini.” Tawa menggelegak terdengar dari Bagus. “Lu kira lu siapa sampai di sadap segala? Kebanyakan nonton drakor, lu, Bel!” “Eh, bisa aja, Gus. Ada yang memata matai gue terus berniat menculik gue buat dijual ke luar negeri.” “Udah, ah! Balik kerja! Jangan kebanyakan mimpi. Nggak ada untungnya nyulik elu kecuali buat dijadiin obyek seksual. Tapi lu nggak ada seksi-seksinya, jadi gue rasa rugi juga nyulik elu.” Bagus memandangi Bella dari atas sampai bawah. “Sial, lu, Gus!” katanya sambil melemparkan sebungkus snack kacang ke arah rekan kerjanya. Bagus menghindar dan tertawa melihat wajah kesal Bella. Sejujurnya Bella gadis yang manis dan sangat menarik. Tidak heran jika lelaki seperti Anton terpikat padanya. Sayangnya, Anton bukan lelaki yang cukup kuat untuk mempertahankan Bella. Untungnya, Anton tidak m*****i gadis teman kerjanya ini. Jika sampai itu terjadi, mungkin Bagus akan membuat perhitungan. Karena diam-diam dia tertarik juga pada Bella. Bagus bersyukur Anton memutuskan hubungan dengan Bella. Sehingga dia tidak perlu bersusah payah menghasut Bella dengan gosip murahan atau menakut-nakutinya dengan kisah hubungan beda kasta. Bagus merasa, jalannya untuk memikat hati Bella akan selancar jalan tol, seandainya saja tidak ada hampers yang datang. Bagus tahu jika kini muncul saingan baru. Tadinya dia akan menyembunyikan hampers itu atau malah membuangnya, mengingat tidak ada nama pengirim di dalamnya. Toh, Bella juga tidak tahu dari siapa dan jika ada seseoran yang di kemudian hari menanyakan tentang hampers itu, dia akan menjawab dengan polos jika dia tidak tahu keberadaannya. Namun dia merasa jika tindakan itu sama sekali tidak gentle dan dia tidak mau bersaing tidak sehat. Jadi dia memutuskan memberikan hampers itu pada Bella dan diam-diam ingin tahu siapa pengirimnya. Melihat mewahnya isi hampers, dia tahu jika saingannya kini juga dari kalangan orang berduit. Namun Bagus tidak gentar. Lelaki itu bisa saja memikat Bella dengan uangnya, tapi Bagus ... dia memiliki waktu lebih banyak bersama Bella dan akan dia manfaatkan sebaik-baiknya. Bagus akan selalu ada kapan pun Bella membutuhkan, sedangkan lelaki yang tidak diketahui siapa orangnya itu, dia harus diam-diam mengagumi Bella dari kejauhan. (*)    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN