DI UDARA

1448 Kata
“What? Tempat apa ini?” tanya Victor ketika Bella meminta berhenti di depan sebuah kedai makan sederhana di tepi jalan. Orang-orang ramai berkerumun hingga rela mengantre untuk membeli seporsi hidangan dari warung tenda itu. “Kenapa? Jauh dari ekspektasi kamu, ya?” tanya Bella tersenyum sinis. Tentu saja, tuan besar seperti Victor mana pernah pergi ke warung tenda di pinggir jalan seperti ini. Mungkin bagi mereka tempat seperti ini bukan kelasnya. Mereka terbiasa sarapan di kafe mahal atau hotel berbintang. “Aku belum pernah makan di hotel bintang lima. Tapi kata orang-orang, makanan di sini nggak kalah rasanya sama makanan hotel.” Bella berusaha menjelaskan dan turun dari mobil. Membayangkan hidangan dari warung tenda itu membuat perutnya ingin segera diisi dan mengantre di barisan paling belakang. “Bella, tunggu dulu!” Victor ke luar dari mobil dan menarik tangan gadis itu keluar dari antrean. “Kamu bikin aku harus mengantre ulang, tau nggak? Udah, sih tunggu di mobil aja. Biar aku yang antre.” Bella menepis tangan Victor dan mencoba berjalan lagi ke antrean. “Tunggu dulu.” Victor menarik tangannya lagi. “Kamu yakin makanan ini sehat? Di sini banyak debu. Apa higienis?” bisik Victor ke telinga Bella. Menyadari siapa Victor sebenarnya, Bella mengangkat kepala dan memandang ke wajah Victor yang menjulang di hadapannya. Jika dihitung, perbedaan tinggi keduanya lumayan jauh. Mungkin ada 30 sentimeter. Jarak yang lumayan. “Sejauh ini belum pernah ada kasus keracunan makanan setelah pulang dari sini, apa lagi sampai mati. Aku beberapa kali makan di sini dan kamu lihat sendiri, aku masih cukup bertenaga untuk menyeret kamu masuk ke dalam mobil dan menyuruhmu diam di sana.” Refleks, tangan Victor terangkat ke atas. Bella yang dia hadapi saat ini sungguh galak. Membuat dia penasaran apa istimewanya makanan kesukaan Bella hingga dia memperlakukan Victor sedikit kasar. Namun setelah Victor duduk diam di dalam mobil sambil menatap gadis itu dari balik kaca, dia menyadari jika Bella belum pernah bersikap manis padanya. Ah, ironis. Ketika begitu banyak perempuan mendamba perhatiannya, gadis ini malah menolaknya. “Ini ... gado-gado?” tanya Victor ketika Bella mengangsurkan sepiring hidangan ke hadapannya. “Kupat tahu. Dan ini enak banget kataku. Favorit banget pokoknya. Kalau aku lagi kesel, bete, sedih, makan ini aja bisa bikin moodku balik lagi. Dan aku butuh moodku balik setelah ketemu sama kamu.” “Apa kamu bilang?” tanya Victor, berusaha menajamkan pendengarannya dan memastikan jika dia tidak salah dengar. “Sudah makan saja. Siapa tahu setelah makan, kesadaran kamu kembali.” Victor memandang Bella yang sudah mulai menyuapkan sendok pertamanya. Semakin lama perkataan Bella semakin tidak masuk akal baginya. Namun dia penasaran, seperti apa makanan favorit Bella yang katanya bisa mengubah mood. Sudah jelas moodnya bakal berubah karena Bella, bukan karena makanan atau hal lain. Sayang ..., Bella tidak bisa mengerti. “Mmm, lumayan,” kata Victor setelah menyuapkan sesendok kupat tahu. Rasanya memang enak, tetapi tidak istimewa baginya. Dia jadi ingin membawa Bella makan di restoran dengan chef favoritnya. Pasti kupat tahu dari tangan chef itu bisa membuat Bella mengawang ke udara. “Lumayan? Ini enak banget, tau! Harganya aja di atas rata-rata.” “Ok, ok. Ini emang enak.” Victor enggan berdebat. Dia mengakui kalau perutnya juga lapar. Asalkan bersama Bella, makanan seperti apa pun akan terasa enak walau bukan standarnya. “Sekali-kali aku akan ajak kamu makan sate kambing favorit aku. Itu rasanya ... mmmm mencair di lidah pokoknya!” Mata Bella memejam ketika menggambarkan betapa nikmatnya sate yang sedang dia bayangkan. “Sudah, cepat habiskan makanannya. Aku nggak mau telat. Kuharap kamu punya kemampuan menyetir kayak pembalap formula satu. Waktu kita nggak banyak soalnya.” Bella mengambil piring di tangan Victor lalu keluar mobil untuk membayar makanan mereka. Victor melirik arlojinya. Jika jalanan lancar pun, mereka tidak akan tiba tepat waktu di tempat kerja Bella. Gadis ini pasti terlambat. Victor melirik ke sekitar, dia melihat ada beberapa gedung pencakar langit di sekitar mereka. Sebuah ide terlintas di kepalanya dan dia menghubungi sebuah nomor untuk memberikan beberapa instruksi. “Aku tidak akan membuat kamu terlambat, Bella. Tenang saja,” kata Victor sambil mengedipkan matanya ketika Bella sudah masuk lagi ke mobil. “Pasang sabuk pengamanmu!” Bella merasa kupat tahu di perutnya akan diaduk-aduk membayangkan mereka akan melaju dengan kecepatan tinggi. Bella berharap Victor memiliki keahlian yang sangat baik dalam mengemudi sehingga dia tidak akan merasa mual. “Kenapa malah masuk ke sini, sih?” tanya Bella ketika mobil mereka berbelok ke sebuah gedung dengan banyak lantai. Victor tidak menjawab pertanyaan Bella dan memberi isyarat agar gadis itu turun. Bella menurutinya. Dia berjalan tergesa mengikuti Victor. Melihat jalan Bella yang lambat, tangan Victor meraih pergelangan gadis itu dan menuntunnya. “Katamu nggak mau terlambat, kan?” tanyanya lembut. Merasakan jemari Victor yang hangat, membuat dadanya berdebar. Sial, kenapa aku jadi deg-degan begini? Bella merutuk dalam hati. “Helikopter!” seru Bella ketika menyadari arah tujuan mereka. Victor membawanya ke landasan helikopter di atap gedung dan di sana telah menunggu heli yang ramping dengan logo perusahaan Alanzo Corp. “Wow! HELIKOPTER!” seru Bella lagi berusaha mengalahkan deru heli yang mulai memutarkan baling-balingnya. “Ini jalan tercepat supaya kamu nggak terlambat,” kata Victor sambil tersenyum penuh arti. “AKU BELUM PERNAH NAIK HELIKOPTER!” seru Bella ketika Victor menariknya mendekati heli. Wajahnya sedikit khawatir. Kata orang, pengalaman pertama itu biasanya memalukan. “AKU TIDAK AKAN MENINGGALKAN KAMU, BELLA! TENANG SAJA!” Victor meremas jemari gadis di sampingnya dan mengangguk meminta Bella segera masuk. “AYO, ATAU KAMU AKAN TERLAMBAT!” Terlambat dan beresiko kena sanksi bakalan di-PHK? Bella tidak mau mengambil resiko itu. Dia masih butuh pekerjaannya. Bella pun masuk ke dalam heli dan duduk bersebelahan dengan Victor. Dia membiarkan lelaki di sampingnya ini merangkulnya. Ini pengalaman pertama Bella dan dia sedikit nervous. Bella butuh ditenangkan. “SEBENTAR LAGI KAMU BAKAL MENIKMATI KOTA JAKARTA DARI UDARA!” seru Victor di telinganya. Dengan takut-takut Bella melirik ke sampingnya, heli mulai mengudara dan dia merasa gamang melihat kota yang mengecil di bawahnya. “Semua kecil,” bisik Bella. Di bawah, semua tampak samar. Gedung yang kokoh dan gagah terlihat atapnya saja dan seperti kotak korek api. Kendaraan seperti semut yang berjalan beriringan. Orang-orang jelas tidak terlihat. Sesaat Bella merasa menjadi penguasa besar dengan segala kerumitan kota berada di bawah kakinya. Perlahan, senyum terkembang di bibirnya dan dia mulai terbiasa dengan ketinggian. “Kamu suka?” suara Victor begitu dekat di telinganya. Dia masih membiarkan lelaki itu merangkulnya walau tubuhnya kini sudah tidak gemetar lagi. Bella mengangguk. Dia memang menikmati pemandangan ini. “Tidak lama lagi kita akan sampai di gedungku?” “Secepat itu?” Victor mengangguk. “Kita memotong banyak jalan. Kamu bahkan masih punya waktu untuk ganti baju.” Bella melihat ke tubuhnya. Ternyata dia belum memakai seragam kerjanya. Victor benar, dia butuh waktu untuk berganti pakaian. “Kita ke gedungmu?” Victor mengangguk. “Gedungmu tidak punya helipad. Jadi kita ke gedungku lalu menyeberang ke gedungmu.” “Apa?” Mata Bella membelalak membayangkan dia akan mendarat di gedung Victor. Dengan cepat dia mengeluarkan sweater dari tas jinjingnya dan mengenakannya untuk menutupi kepala. “Kamu kenapa?” Victor berusaha menurunkan sweater yang menutupi sebagian wajah Bella. “Aku nggak mau kepergok orang gedung kamu. Bisa jadi omongan lagi nanti. Aku juga nggak mau dihina untuk ke sekian kalinya.” “Tidak akan ada yang bisa menghina kamu kalau ada aku, Bella,” ujar Victor lembut sembari berusaha menurunkan sweater yang dinaikkan lagi oleh Bella. “Mereka nggak akan ngomongin di depan kamu, tapi di belakang? Mereka pasti ngegosip sampai gendang telinga mau pecah!” Bella menarik lagi sweaternya. Heli mulai menurunkan ketinggian. “Kalau begitu, aku akan ada di sisi kamu 24 jam sehingga tidak ada yang berani mengganggu kamu nantinya.” Bella mendelik. Victor bukan siapa-siapanya. Bagaimana bisa berada di dekatnya 24 jam? Lagi pula kalau sampai itu terjadi, penderitaan Bella akan semakin bertambah. Dia tidak akan bisa membayangkan gunjingan yang akan di terimanya. “Nggak perlu seperti itu juga kali. Cukup jaga jarak selama kita di keramaian, oke? Itu kalau kamu memang khawatir sama aku.” Bella berusaha menenangkan lelaki yang sepertinya akan melakukan apa saja untuknya. Dan dia yakin Victor memang sanggup untuk melakukan itu mengingat kekuasaan dan juga kekayaannya. Helikopter mendarat mulus di landasan dan tetap menyalakan mesin ketika Bella dan Victor keluar. Tak lama setelah mereka berdua keluar, heli pun kembali mengudara. Bella melihat ke landasan, ternyata sudah ada beberapa orang yang menyambut kedatangan mereka. Dia mengenali salah satu di antara para penyambutnya. “Kamu ....” Bella tidak jadi melanjutkan perkataannya ketika lelaki yang dia kenal itu membungkuk dan menyapanya. “Selamat pagi Nona Bella, semoga penerbangan Anda menyenangkan.” (*) 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN