bc

BREAKING THE BRUTE

book_age18+
7
IKUTI
1K
BACA
dark
HE
arrogant
badboy
kickass heroine
single mother
gangster
bxg
serious
office/work place
villain
like
intro-logo
Uraian

Aku harus pergi dari North District. Tapi aku tidak punya tempat lain.Elena Hart, 24 tahun, kehilangan segalanya. Satu-satunya toko buku murah yang bisa ia sewa ada di jantung North District - wilayah milik Damon Vance.Semua orang bilang dia monster. Pemimpin geng yang berdarah dingin. Pria yang tidak pernah tersenyum. Tatapannya bisa membunuh.Tapi di malam pertama Elena diganggu preman, Damon yang datang. Brutal. Menakutkan. Dia menghancurkan mereka hanya dengan satu tatapan.Sejak itu, Damon mengklaimnya.Dia memasang anak buahnya di depan toko Elena. Dia memaksanya makan malam bersamanya. Dia melarang pria lain mendekatinya."Kau terlalu polos untuk dunia sekejam ini, Little Bookworm. Biarkan aku yang mengotorimu."Elena tahu harus lari. Damon adalah bahaya. Dia keras, suka memaksa, dan bermulut tajam.Tapi di balik sikap dingin dan arogannya, Elena melihat luka. Luka yang dalam. Luka yang hanya bisa disembuhkan oleh kelembutan.Mampukah gadis polos dan murni seperti Elena mematahkan hati brute paling dingin di North District?Atau dia justru akan hancur di tangannya?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1: TOKO DI UJUNG NERAKA
North District tidak pernah tidur. Bahkan jam dua dini hari, distrik ini masih terjaga dengan cara yang tidak sehat. Lampu neon toko gadai berkedip setengah mati dengan dengung pelan, seperti mata sakit yang menolak terpejam. Motor tanpa knalpot meraung di aspal retak, meninggalkan bau bensin dan karet terbakar yang menggantung di udara lembap. Ada bau lain yang tidak bisa Elena definisikan, sampah basah, rokok murah, dan putus asa yang sudah mengendap lama di beton. Elena Hart berdiri dengan dua koper kain lusuh yang resletingnya hampir jebol. Tangannya memeluk erat pegangan koper sampai jarinya memutih. Di depannya ada papan kayu catnya mengelupas "HART'S BOOKS & COFFEE" akan buka segera. Kata segera itu terasa seperti lelucon kejam. Ia menatap papan itu lama, mencoba meyakinkan diri ini adalah awal. Tiga bulan lalu ia masih punya apartemen kecil di South District dengan jendela menghadap taman, masih punya pekerjaan yang ia cintai di perpustakaan kota lantai dua, tempat ia bisa seharian menyusun katalog Dewey dan merekomendasikan Jane Austen. Ia masih bisa mendengar tawa ibunya di dapur. Sekarang semua hilang. Toko itu lebih mirip kubus beton yang dilupakan. Satu jendela besar retak diagonal seperti luka tidak dijahit. Lantai kayu melengkung karena lembap bertahun tahun, setiap injakan berderit menyedihkan. Bau jamur dan debu menusuk hidung ketika Elena mendorong pintu yang berdecit. Hanya satu bola lampu kuning redup menggantung dengan kabel terbuka, berayun pelan. Sarang laba laba tebal di sudut. Satu satunya alasan ia bisa menyewa adalah harganya. Tiga ratus dolar untuk tiga bulan. Di South, uang itu bahkan tidak cukup sewa gudang motor. Di sini, di jantung wilayah Damon Vance, tidak ada orang waras yang mau menyewa. Iklan koran menulis jujur: murah, pemilik tidak banyak tanya. Karena tidak ada yang berani bertanya di sini. Elena memang sudah tidak punya pilihan. Ia putus asa dalam arti paling telanjang. Dua minggu lalu perpustakaan memecatnya. Surat resmi bilang pengurangan anggaran. Semua orang tahu bohong. Alasan sebenarnya terjadi di ruang arsip lantai tiga yang sempit, ketika Mark, manajer yang sudah beristri dan punya dua anak, menarik tangannya terlalu lama dan berbisik, "Elena, makan malam saja sekali, nanti aku usahakan kontrakmu diperpanjang." Elena menolak dengan suara profesional meski tangan gemetar. Keesokan harinya namanya hilang dari jadwal piket. Ibunya meninggal enam bulan lalu karena kanker ovarium stadium empat yang terlambat terdeteksi karena tidak punya uang check up. Elena masih ingat malam terakhir ibunya, bagaimana ibunya yang wangi vanila mengelus rambutnya dan berbisik, "Jangan berhenti baca ya. Buku akan jaga kamu kalau Ibu sudah tidak ada." Ayahnya dosen sastra yang dulu membacakan The Velvet teen Rabbit dengan suara lucu menghilang dua bulan setelah pemakaman, meninggalkan surat singkat " Maaf, Ayah tidak kuat, dan utang kartu kredit dua puluh ribu dolar hasil judi online." Apartemen mereka disita bank minggu lalu. Petugas bahkan tidak menatapnya. Yang tersisa hanya dua koper berisi buku bekas yang ia kumpulkan sejak SMP, "Jane Austen" sampulnya sobek, dan "Brontë" halamannya menguning penuh catatan kecil, beberapa baju pudar, dan mimpi bodoh sejak umur dua belas yang ia tulis di diary bergambar kucing dan punya toko buku sendiri, di mana orang bisa minum kopi dan merasa aman. Mimpi itu yang membuatnya naik bus terakhir ke North dengan sisa dua dolar setelah melihat iklan baris di koran lusuh yang dipungut dari halte basah. "Kau yakin, Nona?" Wanita tua penjaga kontrakan menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan kasihan seperti melihat anak kucing tersesat di tol. Rambut pirang Elena diikat asal dengan karet gelang hampir putus, kemeja putih kebesaran bekas ayahnya yang menguning di kerah, rok panjang pudar yang ia jahit sendiri. "Gadis sepertimu tidak bertahan di sini. Ini wilayah Vance. Anak anaknya tidak suka orang baru, apalagi gadis cantik sendirian. Mereka akan memakan mu hidup hidup." Elena mengangguk pelan. Tenggorokannya kering. Ia ingin bilang sudah di blacklist di South karena Mark menyebar rumor, sudah tidur tiga malam di bangku halte dengan koper sebagai bantal. Tapi yang keluar hanya gumaman. "Aku harus coba di sini. Tidak punya tempat lain." Wanita itu menghela napas, menyerahkan kunci besi berkarat, dan pergi cepat seolah takut kegelapan North menelannya juga. Malam pertama adalah neraka yang dirancang untuk menghancurkan sisa harapan Elena. Ia mencoba tidur di loteng, bukan lantai dua, hanya loteng dengan tangga kayu hampir patah. Kasurnya hanya busa tipis dua jari dengan noda yang tidak ingin ia identifikasi. Angin masuk dari celah jendela yang tidak bisa ditutup rapat, membawa dingin menusuk dan suara orang mabuk dari kejauhan. Elena memeluk koper bukunya yang paling berharga, edisi Pride and Prejudice warisan ibunya, mencoba membaca dengan senter HP baterai tinggal 15%, tapi hurufnya buram karena air mata yang mengalir tanpa suara. Ia menangis tanpa isak, air mata yang ia tahan sejak pemakaman ibunya. Elena ingat betul bagaimana ibunya dulu selalu bilang buku adalah rumah paling aman di dunia. "Kalau kita tidak punya rumah besar, kita bisa tinggal di dalam cerita," kata ibunya sambil tertawa. Elena percaya itu sampai ibunya pergi. Setelah ibunya meninggal, rumah itu tidak lagi terasa seperti rumah. Itulah kenapa ia keras kepala mempertahankan toko bobrok ini. Ini bukan soal bisnis. Ini soal janji pada ibunya. North District sendiri punya cerita yang tidak pernah ditulis di koran resmi. Orang bilang distrik ini dulu kawasan industri yang mati setelah pabrik tekstil tutup dua puluh tahun lalu. Sejak itu hukum tidak benar benar berlaku. Polisi hanya patroli siang. Yang berlaku adalah hukum rimba. Dan nama yang paling ditakuti sepuluh tahun terakhir adalah Damon Vance. Supir bus yang mengantarnya berbisik, "Nona, kalau lihat Maybach hitam tanpa plat, jangan menatap langsung. Itu mobilnya Vance." Elena kira itu legenda urban. Sampai malam ini. Ketika tangan preman itu meremas lengannya, Elena merasakan bukan hanya takut, tapi marah. Marah karena buku ibunya dirobek. Buku itu satu satunya benda dengan tulisan tangan ibunya, satu satunya bukti ibunya pernah ada. Melihat halaman itu robek membuat sesuatu di dalam Elena yang selama ini pasrah, tiba tiba ingin melawan. Sekitar jam sebelas lewat sepuluh, ketika hampir tertidur karena lelah, pintu depan di bawah digedor keras. Bukan ketukan. Gedoran. Brutal, seperti ingin merobohkan pintu triplek tipis itu. Elena membeku. Jantungnya berdegup keras sampai terdengar di telinga. Ia turun perlahan dengan kaki telanjang, lantai dingin menusuk telapak kakinya. Tiga pria masuk tanpa permisi, mendorong pintu. Bertato di leher dan lengan, bau alkohol murah dan keringat asam memenuhi ruangan. Mereka tertawa keras melihat tumpukan buku Jane Austen dan Brontë yang baru saja Elena tata dengan hati hati di lantai seperti altar kecil. "Wah, toko buku? Di sini? Di kandang kami?" Yang paling besar dengan gigi depan ompong mengambil novel Pride and Prejudice edisi lama milik ibunya, satu satunya buku dengan coretan tangan ibunya "Untuk Elena, gadis kecilku yang percaya cinta itu sabar. Jangan pernah berhenti percaya, ya." Ibu. dan merobek halamannya di depan mata Elena. Suara kertas robek itu lebih menyakitkan daripada tamparan. "Manis sekali. Gadis manis jualan buku di kandang serigala. Kau tahu ini wilayah siapa, Sayang? Ini wilayah Vance. Kau harus bayar pajak. Pajak keamanan. Atau pajak tubuh, kalau kau mau lebih murah." Tangannya yang kasar berkuku hitam meraih lengan Elena dan meremas kuat. Kulit Elena merinding karena takut, jijik, dan tidak berdaya sampai lutut lemas. Ia mencoba berteriak, tapi tenggorokannya tercekat. Ia hanya gadis perpustakaan yang terlalu banyak membaca dan tidak pernah berkelahi. Dan tepat ketika pria itu menariknya lebih dekat sampai Elena mencium bau rokok dari napasnya, sebuah suara datang dari pintu belakang yang terbuka karena angin. "Lepaskan." Suaranya tidak keluar dari mulut Elena. Suara itu datang dari ambang pintu, tempat angin malam dan cahaya lampu jalan redup masuk. Dalam, tenang, rendah, dan mematikan. Tidak keras, tapi semua orang di ruangan kecil itu mendengarnya jelas, seolah memotong udara. Ketiga preman itu membeku. Tangan yang memegang Elena langsung melepas. Di ambang pintu berdiri seorang pria tinggi dengan mantel hitam panjang wol tebal yang ujungnya bergerak tertiup angin. Rambut hitamnya sedikit berantakan, basah di ujung karena gerimis. Wajahnya tidak bisa disebut tampan dengan cara biasa, rahangnya terlalu keras, ada bekas luka tipis memotong alis kirinya, dan bibirnya tidak pernah terlihat tersenyum. Tapi matanya berwarna abu abu terang, seperti badai musim dingin, yang bahkan dalam gelap terasa bisa membunuh hanya dengan menatap. Dingin, kosong, menilai. Damon Vance. Semua orang di North District tahu wajah itu, bahkan Elena yang baru tiga hari di sini sudah mendengar bisik bisik di warung: pemimpin geng North District yang tidak pernah tersenyum. Monster yang katanya pernah mematahkan rahang orang hanya karena menatapnya terlalu lama. Pria yang menguasai empat blok jalan ini hanya dengan reputasinya. Ia tidak membawa senjata terlihat. Ia tidak perlu. Tatapannya saja sudah cukup membuat udara di toko pengap itu membeku menjadi es. Dan untuk pertama kalinya malam itu, di antara rasa takut yang melumpuhkan dan rasa jijik yang masih menempel di kulitnya, Elena tidak tahu apakah ia harus merasa takut akan pria baru ini, atau lega karena akhirnya seseorang datang. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena takut, tapi karena sesuatu yang berbahaya, panas, dan terlarang mulai tumbuh di dadanya. Malam itu, di toko bobrok di ujung neraka North District yang bau jamur dan debu, hidup Elena Hart yang tadinya lurus dan sederhana berubah selamanya tanpa ia sadari, tanpa ia minta, dan tanpa bisa ia hentikan lagi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

GADIS SEKSI MILIK MAFIA HYPER

read
48.0K
bc

HASRAT MEMBARA KAKAK SEPUPU

read
100.6K
bc

Cinta Terlarang Suami Sahabat

read
1.7K
bc

The Antagonis; Akan Aku Hancurkan Pernikahanmu

read
4.5K
bc

Sweet Sinner 21+

read
936.7K
bc

Gadis Daddy Yang Nakal

read
45.9K
bc

Dicintai Ugal-Ugalan Ayah Mantan

read
5.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook