Sandaran Ternyaman

2183 Kata

Malam semakin larut, tapi percakapan itu belum benar-benar selesai. Haris masih duduk di sofa, tubuhnya sedikit merosot, seolah energi dalam dirinya benar-benar terkuras habis. Sedangkan ibunya tetap di sampingnya, tegak, tenang... seperti biasa. Wanita itu tidak pernah terlihat goyah, bahkan ketika melihat anaknya dalam kondisi seperti ini. Keheningan sempat menggantung cukup lama. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar samar. Haris mengusap wajahnya pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa. Matanya menatap langit-langit, tapi pikirannya jelas tidak berada di ruangan itu. Masih di rumah tadi. Masih di kamar itu. Masih pada suara kecil yang memanggilnya "Papa". "Ma..." suaranya kembali terdengar pelan. "Iya, Nak?" "Kalau Haris pergi... apa itu berarti Haris lari?" tanya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN