Langit malam Aldenia Selatan menjadi saksi atas sesuatu yang tak pernah berani aku bayangkan akan terjadi secepat ini... dan seutuh ini. Aku masih duduk diam di ruang tamu kecilku setelah ijab kabul itu selesai. Suara "sah" tadi masih menggema di telingaku, seperti gema panjang yang belum juga hilang. Tanganku masih dingin, meski jari manisku kini sudah terikat oleh cincin sederhana yang terasa begitu berat... bukan karena bentuknya, tapi karena maknanya. Aku... sudah menikah lagi. Bukan dengan pria asing. Tapi dengan pria yang selama ini... tidak pernah benar-benar pergi dari hatiku. Dan itu justru yang membuat semuanya terasa jauh lebih menyesakkan... sekaligus menenangkan dalam waktu yang bersamaan. Air mataku kembali jatuh. Bukan karena aku menyesal. Tapi karena... perjalanan ini ter

