7. TTAS

2096 Kata
Sikap Syfa pada Genta pun sudah mulai membaik, sikap yang tadinya cuek dan bersikap ketus pun pelan-pelan memudar.  Namun hari dimana Syfa memberikan kesempatan pada Genta di hari itu juga dia  izin kalau dirinya tak bisa lagi menginap di rumah Syfa, karena dirinya harus menyelesaikan beberapa kasus. Syfa pun tak mempermasalahkan hal tersebut. Genta pun memberitahukan hal tersebut pada papa Syfa. Untungnya orang tua Syfa memahami keadaan Genta. Tapi tetap saja Genta pun meminta bantuan kepada pegawai papa Syfa untuk selalu melaporkan apa saja yang terjadi di rumah Syfa dan apa saja hal yang Syfa lakukan. “ Mba Minah.” Panggil Syfa. “ Iya non.” “ Apa bibi sudah bilang ke pak Bani kalau hari ini Syfa ada jadwal kontrol ke rumah sakit.” Tanya Syfa. “ Sudah non.” Jawab Minah. “ Biar aku aja yang nganterin kamu ke rumah sakit.” Ucap Genta yang tiba-tiba masuk kedalam rumah Syfa. Dan Syfa pun terkejut karena mendengar suara Genta. “ Kapan kamu datang.” Tanya Syfa. “ Baru aja kok.” “ Kok main nyelonong aja sih, ngga kasih salam atau ketuk pintu.” Ucap Syfa. “ Ya Allah aku dari tadi udah kasih salam, kalau ngga percaya tanya aja sama pak Bani.” Jawab Genta. “ Terus kamu mau ngapain pagi-pagi kesini. Emangnya kamu ngga kerja.” Tanya Syfa. “ Kerja kok, tapi setelah nganterin kamu kontrol.” Jawab Syfa. “ Tahu darimana kamu kalau hari ini aku mau kontrol.” Tanya Syfa. “ Apa sih yang ngga bisa Genta cari tahu kalau urusan kamu Syf.” Jawabnya. “ Pasti kamu stalking aku kan, mba Minah jangan bilang kalau kamu yang ngasih tahu ke dia.” Teak Syfa. “ Bukan no, bukan Minah yang ngasih tahu mas Genta.” “ Aduh udah deh fa kamu ngga perlu tahu aku tahu darimana, yang penting hari ini aku bisa nganterin kamu.” “ Ngga perlu, aku bisa dianterin pak Bani. Aku ngga mau ngrepotin kamu. Kamu kan mesti berangkat kerja.” Balas Syfa. “ Tenang fa, aku udah izin kok sama sekertarisku. Hari ini pun aku ngga terlalu banyak kerjaan karena udah aku selesaikan kemarin. Jadi hari ini waktuku untuk bersama kamu.” Jawab Genta. “ Aku tahu kamu itu bos, tapi mau bagaimanapun kamu ngga boleh seenaknya gitu.” Balas Syfa. “ Iya deh fa, aku janji ngga akan sembarangan. Tapi hari ini aku memang benar-benar udah izin buat nganterin calon isteriku buat kontrol.” Ucap Genta. Dan Syfa pun langsung melemparkan sapu tangan kearah Syfa. “ Jangan ngaco deh kalau bicara. Ingat ya walaupun aku sudah memberimu kesempatan bukan berarti kamu bisa bicara sembarangan seperti itu. Aku ngga bilang kalau aku menerima kamu  dalam artian lain. Aku hanya memberimu kesempatan karena aku lelah bertengkar terus.” Balas Syfa. “ Iya deh terserah kamu, tapi kali ini izinin aku buat nganterin kamu ya.” Pinta Syfa. “ Terserah kamu deh, aku pun percuma kan kalau ngelarang kamu. Bisa-bisa kamu nanti ngadu ke papa.” Balas Syfa yang langsung beranjak untuk bersiap berangkat ke rumah sakit. Sedangkan Genta tersenyum puas mengetahui Syfa tak menolak ajakannya. *** Setiap bulan Syfa memang masih rutin untuk memeriksakan dirinya ke dokter. Hal itu bukan hanya karena matanya yang buta tetapi karena luka dalam yang pernah ia alami dulu waktu kecelakaan. Sampai ia koma dan mendapatkkan luka bakar, dan beberapa bulan yang lalu Syfa pun baru melakukan operasi untuk menghilangkan bekas luka bakarnya di bagian kaki. Sebab itulah walaupun keadaannya sudah membaik, tetap saja dia masih rutin untuk kontrol. Sebenarnya Syfa kurang nyaman karena Genta mengikutinya sampai ruang periksa. Genta berlasan kalau dia harus tahu keadaan Syfa saat ini, agar dia bisa menjaga Syfa dengan benar. Dan selama di ruangan dokter bukan Syfa yang banyak bertanya melainkan Genta. “ Berarti luka di kaki Syfa udah benar-benar sembuh dong dok.” Tanya Genta. “ Iya mas.” “ Apa Syfa masih ada larangan atau sesuatu yang harus di hindari untuk masalah makanan dok.” Tanya Genta lagi. Dan dokter pun menggeleng. “ Udah dok jangan dijawab lagi pertanyaannya. Lama-lama dokter nanti pusing sendiri kalau terus-terusan dengerin dia.” Cegah Syfa. Dan dokter pun tersenyum mendengar hal terebut. “ Kok kamu bilangnya gitu sih fa, aku tanya seperti ini kan khawatir sama keadaan kamu.” Balas Genta. “ Apa yang perlu dikhawatirkan ta, aku udah sembuh dan aku baik-baik aja.” Jawab Syfa. “ Itu biasa terjadi Syf, dokter maklum kok kalau pacar kamu ini khawatir sama kamu.” Ledek dokter. “ Apaan sih dok, dia ini bukan pacar saya. Dokter sembarangan deh.” Ucap Syfa yang ngga terima. “ Saya memang bukan pacarnya Syfa dok, tapi saya calon suaminya.” Balas Genta. Dan Syfa pun langsung mencubit lengan Genta. “ Awww sakit fa.” “ Udah deh sebaiknya kita pulang sekarang, kalau kelamaan disini bisa-bisa aku tambah gila. Kalau gitu saya pamit dulu ya dok. Assalamualaikum” Pamit Syfa yang langsung beranjak dari duduknya. Dengan sigap Genta bangun untuk menuntun Syfa keluar dari ruangan “ Saya juga pamit ya dok, Assalamualaikum.” “ Waalaikumsalam.” Selama jalan di lorong rumah sakit Syfa terus menggandeng lengan Genta. Dia tak biasa berada di tempat seperti ini. Rasanya ingin sekali dia kembali kerumah. Genta pun merasakan bahwa saat ini Syfa sedang ketakutan, terlihat sekali dari gandengan tangannya yang begitu kuat dan tangannya yang gemetar. “ Apa kamu baik-baik aja fa.” Tanya Genta “ Aku baik-baik aja, tapi aku ingin cepat sampai rumah.” Jawabnya. “ Ok, aku akan anterin kamu sampai rumah.” Selama perjalanan Syfa lebih banyak diam, Genta yang dari tadi mengajaknya mengobrol pun selalu mendapatkan jawaban yang singkat. Membuatnya menjadi bingung dengan situasi sekarang. Tiba-tiba ponsel Genta pun berdering. “ Halo, Assalamualaikum ada apa rif.” Tanya Genta pada asistennya. “ Waalaikumsalam.………………………………” “ APA. Kok jadi mendadak begini sih. Kenapa mereka ngga ngabarin dari kemarin.” Jawab Genta yang begitu terkejut. “ …………………………” “ Ok… ok. Kalau gitu sekarang kamu share lokasi ke aku aja. Aku bakalan langsung kesana. Assalamualaikum.” Jawab Genta. “ Waalaikumsalam.” Genta langsung menutup telfonya. Syfa yang tak tahu apa yang sedang terjadi pada Genta pun berniat tanya pada Genta. “ Ada apa ta.” Tanya Syfa. “ Mmmm, Syf apa aku bisa minta tolong ke kamu.” Tanya Genta. “ Minta tolong apa, kalau memang aku bisa bantu Insyaallah aku akan bantu.” Jawab Syfa. “ Kamu ikut aku sebentar ya.” “ Kemana, kenapa kita ngga langsung pulang. Kalau memang kamu ada urusan sebaiknya kamu antar aku pulang dulu aja. Tapi kalau memang kamu ngga bisa kamu turunin aku aja biar aku cari taksi sendiri.” Jawab Syfa yang sudah langsung sensitive. “ Ngga mungkin dong aku biarin kamu buat naik taksi sendirian, aku khawatir kalau kamu kenapa-napa. Begini tiba-tiba tadi asisten aku telfon dan dia ngabarin kalau ternyata pertemuanku dengan klien di majukan sekarang padahal seharusnya besok. Dan saat ini klien aku udah nungguin aku, jadi aku ngga mungkin bisa nganterin kamu pulang dulu karena jarak ke rumah dari tempat pertemuanku lumayan jauh fa. Kalau sekarang kita kesana ngga akan lama. Jadi kamu mau ya ikut aku. Aku janji deh ngga akan lama, Cuma sebentar kok fa. Dan aku janji aku ngga akan ninggalin kamu, aku bakalan pegang tangan kamu terus.” Jawab Genta. “ Ngga … aku ngga mau. Kalau memang kamu ngga bisa anterin aku pulang ya udah kamu cariin aku taksi. Aku bisa kok pulang sendiri, aku ngga masalah ta. Dan pasti aku bakalan hati-hati kok. Aku ngga mau ganggu kamu kerja.” “ Aku pun ngga mau membahayakan kamu fa. Tapi aku juga ngga bisa maksa kamu sih. Ya udah deh kalau kamu ngga mau ikut aku, sekarang juga aku anterin kamu pulang. Untuk urusan klien aku akan coba bicarakan lain waktu.” Jawab Genta dengan suara yang terdengar kecewa. Tapi tak lama kemudian tangan Syfa, memegang tangan Genta. “ ta.” “ Ada apa fa.”   “ Aku ngga mau gara-gara keegoisanku in merusak karier kamu. Kalau memang kamu harus ketemu klien sekarang ya aku ngga akan melarang kamu. Kali ini aku ngalah, aku mau ikut kamu.” Ucap Syfa. Dan jawaban Syfa pun membuat mata Genta terbelalak tak percaya kalau Syfa mau ikut bersamanya. “ Kamu serius fa, apa kamu ngga masalah berada di tempat keramaian.” Tanya Genta. Syfa terlihat berfikir dan menghela nafas sambil menaikkan bahunya. “ Ngga tau juga sih, tapi pokoknya nanti disana kamu ngga boleh melepas tanganku ini.” Jawab Syfa. “ Siap bu bos. Akan aku pastiin, tanganku ini ngga akan melepas tangan kamu.” Balas Genta dengan senang. Rasa bersalah dalam hati Syfa pun menghilang saat mendengar suara Genta yang terlihat lebih bersemangat. *** Sesampainya di restoran, dengan penuh kehati-hatian dia menuntun Syfa disampingnya. Syfa yang mengenakkan kaca mata hitam pun terus menunduk dan menggenggam tangan Genta dengan erat. “ Jangan takut fa, aku janji kalau aku ngga akan melepaskan tanganku darimu. Aku akan selalu jaga kamu.” Ucap Genta yang sedang membuat hati Syfa sedikit tenang. Syfa pun mengangguk mencoba percaya pada Genta. Pengunjung restoran pun terlihat memerhatikan Syfa dan Genta. Tapi tetap dengan kepercayaan dirinya Genta menuntun langkah Syfa. “ Assalamualaikum.” Salam Genta. “ Waalaikumsalam.” Balas Arif dan kliennya. “ Maaf sekali atas keterlambatan saya pak Faizal. Pasti bapak sudah menunggu lama.” Ucap Genta sambil mendudukkan Syfa di sampingnya. “ Tidak masalah pak Genta, justru saya yang minta maaf karena merubah jadwal pertemuan kita sebelumnya. Karena besok saya tidak bisa karena saya harus berangkat ke Singapura.” Ucap pak Faizal. Tatapan pak Faizal dan Arif pun kali ini tertuju pada Syfa yang dari tadi terus menggenggam tangan Genta. Genta yang menyadari itu pun langsung memperkenalkan Syfa. “ Oh iya perkenalkan pak Faizal ini…” “ Ini bukannya Syfa si pelukis yang sangat fenomenal dulu.” Ucap pak Faizal yang ternyata mengenali sosok Syfa. Tangan Syfa pun lebih erat dalam memegang tangan Genta karena ketakutan. Dan dia pun tak suka ada orang yang membahas dirinya yang dulu. Senyum terpaksa pun langsung Genta perlihatkan pada pak Faizal. “ Itu memang benar pak, dia Syfa si pelukis seperti yang bapak kenal. Dan Syfa ini adalah calon isteri saya.” Ucap Genta agar perhatian pak Faizal teralihkan pada status mereka. “ Owh jadi pak Genta ini sudah punya calon, saya ngga menyangka. Karena selama ini saya ngga pernah dengar pak Genta dekat dengan seorang wanita. Ini tiba-tiba memperkenalkan calonnya. Kalu begitu saya ucapkan selamat.” Ucap pak Faizal. Dan ternyata bukan hanya pak Faizal yang terkejut, Arif pun terkejut ternyata bosnya sudah memiliki calon. Padahal dirinya hampir setiap hari bersama tapi justru ia baru mengetahuinya. “ Kabar ini memang sengaja tak saya post di publik. Ya biasalah pak namanya wartawan. Pasti akan ada saja yang mereka beritakan. Kalau begitu kita lanjutkan ke meeting kita sekarang.” Ucap Genta. Tapi sebelum itu tangan Genta di tarik oleh Syfa, sehingga membuat tubuhnya menempel pada Syfa. “ Kamu selalu aja ya, buat berita yang ngga benar tentang kita.” Bisik Syfa. “ Aku ngga pernah buat berita yang ngga benar fa, hal baik harus diaminkan dong. Aku melakukan ini supaya pak Faizal tak membahas tentang kamu, aku tahu kamu ngga suka kalau orang lain mengungkit tentang masa lalumu.” Bisik Genta. Dan ternyata jawaban Genta membuat Syfa tersipu, karena Genta melindunginya dari apa yang ia takutkan. Kemudian Genta pun memulai meetingnyadengan pak Faizal. Syfa hanya mendengarkan perbincangan itu, karena dirinya pun tak faham tentang hukum. Dan ternyata dari tadi Syfa terkagum-kagum saat mendengar suara Genta, karena Genta terlihat sangat luar biasa dalam berbicara. Baginya Genta terdengar sangat cerdas. “ Pantas saja di usianya yang masih muda dia sudah memiliki firma hukum sendiri, walaupun aku tak faham dengan apa yang ia bicarakan, tapi aku tahu kalau dia benar-benar laki-laki yang hebat.” Batin Syfa yang tersenyu simpul. Skarang hanya tinggal Genta dan Syfa, karena pak Faizal dan Arif sudah langsung pergi ketika meeting sudah selesai. “ Ayo.” Ajak Syfa. “ Tunggu dulu dong fa, aku laper banget.” Rengek Genta. “ Ya udah kita pulang sekarang, nanati biar mba Minah masakin buat kamu.” Ucapnya. “ Kenapa mesti nunggu nanti, sekarang kan kita udah direstoran. Tadi waktu meeting kita kan Cuma pesan makanan ringan. Dan sekarang udah jam makan siang. Jadi kita sekalian makan disini aja ya sebelum pulang.” Balas Genta. “ Ngga aku ngga mau.” Tolak Syfa. “ Emangnya kamu ngga kasihan apa fa sama perut aku yang udah bunyi terus dari tadi.” Jawabnya. “ Ihhhhhhh, kamu kebanyakan alasan ya.” Ucap Syfa dengan kesal. Tapi dia pun kembali mengalah. Genta kembali tersenyum menang, karena berhasil membuat Syfa mengalah padanya. *** Selesai makan mereka pun langsung menuju mobil untuk pulang. Syfa kembali menggandeng tangan Genta saat ia berjalan. Tapi tanpa sengaja, seseorang  menabrak seseorang sehingga membuat dirinya hampir saja terjatuh kalau Genta tak memeganginya dengan kuat. “ Kamu ngga papa fa.” Tanya Genta. Dan Syfa langsung menggeleng. Genta pun emosi dan memerahi laki-laki tersebut.” Gimana sih mas, kalau jalan itu yang bener dong. Emangnya ngga bisa ngliat apa kalau ada orang didepannya.”Omel Genta. Namun ternyata, laki-laki yang menabrak Syfa tadi tak mengiraukan omelan Genta, tapi dia justru memandangi Syfa dari atas sampai bawah. Genta pun tambah kesal dengan tatapan laki-laki tersebut pada Syfa. Dia langsung berdiri didepan Syfa, sehingga laki-laki tadi tak memandangi Syfa terus. “ Ngapain kamu ngliat-liat.” Tanya Genta denga keras. Laki-laki tadi pun menatap Genta dengan pandangan aneh. Kemudian laki-laki tadi menyebut nama Syfa. “ Syfa.” Ucap laki-laki itu. Genta dapat meraskan kalau genggaman tangan Syfa pun lebih erat. Dirinya bingung apa yang membuat Syfa terlihat ketakutan. Dan pandangan Genta langsung tertuju pada laki-laki yang memanggil Syfa. “ Siapa kamu.” Tanya Genta dengan tegas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN