Ansara : Beban

1921 Kata

  “Kenapa nggak makan? Pengen muntah?” tanya Kak Oji, dia kemudian mengedarkan pandangan menelisik setiap pengunjung yang datang ke resto ini. “Bukan warung makan sederhana, sesuai keinginanmu, resto mahal, harusnya kamu bisa makan dengan enak.” Ada cibiran dalam kalimat yang Kak Oji sampaikan, tapi aku tak ambil pusing, toh waktu makan di warung sederhana pun aku muntah bukan karena apa yang aku makan, tapi karena perutku memang sedang tidak nyaman.  “Kenapa Kak Oji mau bantuin aku?”  Dia berhenti makan, bahkan berhenti mengunyah dan hanya fokus menatapku, aku merasa tidak ada yang salah dengan pertanyaan yang kuajukan.  “Yang jelas bukan cinta,” tukasnya. Seketika jantungku mencelus mendengar jawabannya. Aku memang tidak mengharapkan cinta darinya, aku sadar diri, aku ini siapa, aku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN