Sejak pertemuanku dengan Oji tiga hari yang lalu, aku merasa duniaku sunyi, sepi, kalimat yang disampaikan Oji terasa menusuk ke relung hati, apa yang Oji harapkan sama dengan apa yang aku harapkan, entah apakah aku bisa menikah dan hidup berumah tangga tanpa restu Papa sama Mama. “Dari kemarin kamu melamun terus?” tanya Sam yang kini duduk di depanku sedang menikmati makan siangnya. Aku tak menjawab dan hanya memperhatikan bagaimana dia menciduk satu suap nasi dan melahapnya. “Kenapa? Aku nggak enak diliatin terus,” keluhnya sembari mengalihkan tatapannya dariku. Aku segera tertunduk sembari menatap nasi yang menumpuk di piringku. Mendadak selera makanku hilang, aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya menikmati makananku, meski sudah lapar sekali pun, rasanya aku tetap tak inginka

