Setiap rindu yang aku rasakan pada Putri, jatuh tercecer di depan pintu kamar, lalu di tempat tidur menempel pada permukaan sprei, bantal dan guling, lalu ikut jatuh di depan cermin, kemudian terbuang bersama arus air yang mengalir dari Shower dan ikut tergerus masuk ke dalam pembuangan air, begitu setiap harinya, entah sampai kapan aku bisa lupa padanya.
Sekarang aku sedang menyapu semua rindu yang jatuh berceceran ini. Mengganti semua dekorasi kamar dengan segala sesuatu yang baru. Memasukkan semua barang pemberian Putri ke dalam kardus bekas mie dan menumpuknya di atas lemari. Entah apakah aku kurang kerjaan atau bagaimana, tapi aku terlalu kesulitan melupakan wanita itu karena setiap titik mengingatkanku tentang dia.
“Ji?” Aku terkesiap dan segera menengok ke belakang. Mama tengah berdiri di depan pintu, dia mengedarkan pandangan ke penjuru kamarku. “Ada tamu,” imbuhnya.
“Siapa?” tanyaku seraya bangkit dan menepuk-nepuk celana jeans yang sedikit berdebu.
“Cewek sama kedua orang tuanya, tapi mama baru lihat, dia siapa, Ji?”
Kedua mataku membulat menatap Mama, sedangkan jantungku mencelus kala mengingat kalau itu pasti ... “Ansara?” tanyaku memastikan apa yang ada dibenakku, tidak mungkin yang datang Putri dengan kedua orang tuanya, karena Mama pasti tahu.
“Iya, itu namanya. Kenapa dia datang sama kedua orang tuanya, Ji?”
Jantungku semakin mencelus. Aku tahu apa maksud dari kedatangan mereka, setelah kemarin bertemu di mall, kini Om Andi benar-benar datang, semoga dia tidak mengatakan yang tidak-tidak pada kedua orang tuaku.
“Ji?” Mama mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahku.
Aku mengerjap. “Sudah lama?” tanyaku.
“Baru sampai, lagi ngobrol sama Papa.” Aku ternganga, lalu segera berlari ke bawah dan berdiri mematung di belakang Papa.
“Ji?” Papa bangkit dan menarik tanganku. “Sebentar,” ucapnya pada Ansara dan kedua orang tuanya. Pikiranku mulai kacau, apalagi saat Papa mengajakku bicara di ruang keluarga. “Siapa, Ji?” bisiknya.
Aku tercenung. “Mantanku, Pa.” Tiba-tiba kalimat itu yang keluar dari mulut bodoh ini.
Papa mengangguk. “Mau apa?” bisiknya lagi.
Susah payah aku menenggak liur yang mendadak seperti kerikil tajam, sulit rasanya ku jelaskan semua yang terjadi, terlalu rumit dan terlalu absurd. “Ya sudah, temui mereka,” pinta Papa.
Aku mengangguk, kemudian berjalan lebih dulu dari Papa. Aku tersenyum pada Om Andi dan Tante Maya, lalu aku meraih tangan mereka dan mengecup punggung tangannya bergantian.
“Om, Tante, saya mau bicara sama Ansara sebentar, boleh ya?”
Mereka mengangguk bersamaan. Ansara tersenyum pada Mama yang kebetulan baru saja duduk di sebelah Papa. Aku menarik tangan Ansara menuju halaman belakang, dia menatapku disertai desisan kata maaf, dan aku menatapnya, kemudian aku menarik napas dan bertanya, “Kok kamu nggak bilang kalau kamu mau ke sini?”
“Aku udah coba hubungi Kak Oji, telepon, SMS, WA, Telegram, Messenger, nggak ada satupun yang dibalas.”
“Kalian nggak akan bilang kalau kamu hamil dan minta pertanggung jawabanku, ‘kan?”
Ansara menggeleng. “Aku udah minta sama Ayah sama Bunda, kalau kita ke sini, tidak untuk membahas itu.”
“Jadi?”
Ansara mengedikkan bahu. Dia lalu menarik tanganku. “Tunggu!” Aku menghentikan langkahnya saat hendak kembali menuju ruang tamu.
“Aku bilang sama Papa, kalau kamu itu mantanku,” ucapku dan dia menoleh sambil mengernyit.
“Kenapa?” tanyanya.
“Ya … biar mereka nggak mikir yang aneh-aneh, nggak mikir kalau aku selingkuh dari Putri.”
“Selingkuh?”
“Ya, mereka tahunya pacarku bukan kamu.”
Ansara tertunduk.
“Putri putusin aku.” Seketika wajahnya terangkat dan menatapku. “Bukan salah kamu. Ini hanya kebetulan, ternyata sebulan yang lalu dia punya pacar baru.” Aku tidak ingin menyebut kalau Putri selingkuh dariku. Tidak, aku tidak ingin seperti itu, meski kenyataannya memang begitu, aku hanya sedang menyangkalnya.
“Aku akan bilang, kalau kita sempat pacaran sebelum aku sama Putri dan kita memutuskan untuk kembali.”
Ansara menatapku, entah kenapa begitu teduh dari yang kukira sebelumnya. Dia kemudian mengangguk. Aku kemudian menarik tangannya dan kembali ke ruang tamu. Kini kami berdiri di depan mereka.
“Sudah?” tanya Mama. Dia kemudian berdiri, “Saya juga sepertinya harus bicara sama anak saya, maaf karena ini terlalu mendadak,” ucap Mama pada kedua orang tua Ansara.
Dia menarikku ke dapur. Inilah mungkin kesan pertama keluargaku, aneh dan membingungkan.
“Siapa dia? Kamu nggak selingkuh dari Putri, kan, hm? Jangan-jangan Putri putusin kamu, gara-gara kamu ketahuan selingkuh, iya?” cecar Mama tanpa memberikan sedikit celah untukku membela diri. “Jawab, Ji, ditanya malah diam aja.”
“Ma, aku nggak selingkuh dari Putri, kita memang udah nggak sejalan aja, selama setahun aku sama dia, orang tuanya nggak restui kita, dan sebulan yang lalu ayahnya Putri mengenalkan Putri ke anak temannya yang ternyata itu adalah bosnya Putri di kantor. dan mereka langsung merestui, karena apa? Karena dia kaya, sedangkan aku, cuma wartawan, mereka takut aku nggak bisa menghidupi anaknya, Ma,” tuturku panjang lebar.
Mama tercenung mendengar penjelasanku. “Terus dia siapa?”
“Mantan aku, Ma, sebelum aku sama Putri, aku sama Ansara dulu, kita putus, tapi dua minggu yang lalu kita dekat lagi dan kemarin kita memutuskan untuk balikan.”
“Secepat itu?”
Aku mengangguk. “Aku mau nikah sama dia, Ma, aku nggak mau nunggu lama lagi, takutnya malah kejadiannya sama kayak Putri.”
“Mama juga dengar orang tuanya juga pengen cepat-cepat nikahin kalian, tapi apa ini nggak terlalu buru-buru, dia masih muda loh, Ji?”
“Dua tiga, mungkin target orang tuanya segitu.”
“Tapi kamu emang udah tua, Ji. Aksa udah nikah, Gibran udah punya anak, cuma kamu yang masih jomblo.”
“Nggak usah dibahas,” dengkusku kesal.
“Dua bulan lagi kamu tiga dua, Ji.”
“Iya, nggak usah diperjelas, Ma.” Sejak geng Trio Daging menyisakan satu jomblo dan itu aku, aku malas melihat angka di kue ulang tahunku. Miris!
“Kamu emang nggak usah nunggu. Kalau nikah lebih dulu, Putri akan nyesel putusin kamu.”
Aku tersenyum kecut mendengar kalimat terakhir Mama.
“Udah ayo. Kamu harus buktikan kalau cewek nggak cuma dia,” imbuh Mama, entah kenapa Mama seperti sedang menghibur dirinya sendiri, aku juga tahu kalau Mama ikut menyesal dengan kandasnya hubunganku dengan Putri.
Aku mengikuti Mama untuk kembali ke ruang tamu. Papa sama Om Andi sedang mengobrol serius. Sementara kulihat Ansara menatapku dari jauh. Kini tak ada yang mengajakku mengobrol di belakang dan kami siap untuk mendengar apa yang hendak disampaikan Om Andi.
“Kami tidak ingin menunggu lebih lama, saya harap, Nak Oji tidak mengulur waktu dan secepatnya menikahi Ansara.”
“Maaf sebelumnya, apa ini tidak terburu-buru?” tanya Mama, berbanding terbalik dengan yang dia sampaikan di belakang. Perempuan memang aneh, bahkan setua Mama masih saja labil dengan kalimat yang diucapkan sebelumnya. Kalau Mama tahu aku menyebutnya seperti itu, Mama akan bilang, “perempuan penuh pertimbangan, Ji”, ya begitulah.
“Saya cuma nggak mau hubungan mereka menimbulkan fitnah, apalagi mereka sering pergi berdua kayak dua minggu yang lalu mereka pergi ke Semarang bareng, anak saya sudah--”
“Siap,” tukasku sebelum Om Andi bilang kalau anak saya sudah hamidun, tidak! Tidak. Sorry Om, kedua orang tuaku tidak boleh menganggapku bajingaann.
“Iya, Iya. aku udah siap,” sahut Ansara, dia sepertinya mengerti kenapa aku menyunat kalimat ayahnya.
Mama dan Papa bersitatap, begitupun dengan Om Andi dan Tante Maya dan saat kulihat Ansara sedang menatapku lekat, jantungku tiba-tiba berdenyut.
Sudahlah, aku ini sungai, berkali-kali akan kubilang aku ini sungai, aku akan membiarkan arus membawaku. Mungkin sudah jalannya seperti ini, serba kebetulan atau tak ada yang kebetulan, selain takdir yang memang sudah ditetapkan.
“Jadi, kalian beneran siap?” tanya Papa sekali lagi. Kami mengangguk bersamaan. Kudengar Om Andi dan Tante Maya menyahut mengumandangkan hamdallah.
“Assalamualaikum, Nara pulang.” Seketika si Cerewet mematung di depan kami. “Ini ada apa?” tanyanya tiba-tiba dan dia menatap Ansara cukup lama. “Sara?”
Ansara bangkit dan menatap si Cerewet. “Nara?”
“Kak Oji,” ucap kedua wanita itu bersamaan. Keningku seketika mengernyit, jangan-jangan mereka satu sekolah.
Mama bangkit dan segera menarik Dinara untuk duduk di sebelahku, kulihat dia memegang kedua bahunya. “Ini anak bungsu saya, namanya Dinara.”
“Oh ….” Om Andi mengangguk dan Ansara kembali duduk. Namun, ada keanehan yang nampak dari Ansara maupun Dinara, jika mereka teman sekolah, seharusnya mereka saling sapa dan ribut menanyakan kabar masing-masing seperti perempuan kebanyakan, tapi sekarang mereka malah bersikap dingin.
“Jadi, kapan?” tanya Om Andi lagi. “Nggak perlu lamaran, langsung akad sama resepsi juga nggak apa-apa.”
“Loh ini?” Dinara mengedarkan pandangan dan berakhir padaku. “Kak Oji mau--”
Aku lekas megangguk. Seketika kedua bahunya turun. “Kenapa harus sama dia? Emang Kak Oji nggak jadi sama Kak Put--” Aku segera meremas tangannya kuat-kuat, dia tampak meringis menahan sakit, mungkin aku terlalu kejam padanya sampai-sampai Mama memukulku agar aku melepaskan genggaman tanganku pada Dinara.
“Maaf, Pak mereka memang begitu,” ucap Papa.
“Jarak Nak Oji sama Dinara jauh, ya?” tanya Tante Maya.
“Sebenarnya anak saya ada tiga, setelah Oji itu Derris, kebetulan belum pulang, sibuk kuliah sama bisnis barunya,” ungkap Mama. “Dan ini Dinara anak terakhir kami.” Mama memang tidak pernah menyebut Dinara anak tirinya, selalu anak bungsu yang dia ucapkan, padahal Dinara juga punya adik dari ibu kandungnya dan ayah barunya, tapi aku salut sama Mama, mungkin itu juga yang membuat Dinara lebih betah dan memilih pulang ke sini setelah empat tahun di London. Sungguh Papa dan Dinara beruntung punya Mama, mereka juga beruntung karena aku dan Derris tidak keberatan berbagi ibu dengan anak secerewet Dinara.
Dinara mencubit lenganku dengan keras, kalau tidak kutahan mungkin aku sudah berteriak dengan keras dan memukul kepalanya.
“Hei, hei, hei, malah ribut,” kata Papa. “Kakak kamu sedang ada tamu, mending sekarang kamu ke kamar gih, mandi terus ganti baju, nanti kita makan bareng.”
Dinara mendengkus dan mengentakkan kaki, dia kemudian pergi ke kamarnya. “Maaf,” kata Mama pada keluarga Ansara.
“Nggak apa-apa, saya ngerti mungkin Dinara dekat banget sama Kakaknya.”
Mama tersenyum seraya mengangguk. Aku juga tidak mengerti sejak kedatangan Dinara ke rumah ini dia sangat dekat dan terlalu dekat denganku. Tidak masalah dia mungkin memang butuh sosok kakak sepertiku. Dengan bangganya kukatakan begitu.
“Soal tadi, mau tanggal dan bulan apa?” tanya Om Andi. Dia sepertinya benar-benar tidak sabar menikahkan anaknya denganku, andai dia tahu kalau anak yang dikandung Ansara bukan anakku entah apa yang terjadi.
“Tiga bulan lagi,” kataku enteng.
“Hah?” Om Andi mulai terlihat panik, aku juga tidak tahu berapa usia kandungan Ansara sekarang, aku lupa bertanya soal itu. “Satu bulan lagi,” kata Om Andi. “Gimana?”
“Maaf, Pak, apa itu tidak terlalu cepat? Soalnya persiapan pernikahan itu, ‘kan tidak bisa mendadak, semua butuh waktu.”
“Tidak perlu repot, kita adakan sederhana saja.”
“Kenapa harus terburu-buru?” tanya Papa.
“Ya karena anak Anda sudah--”
“Berumur,” tukasku. Gawat kalau Om Andi bilang ‘anak Anda sudah menghamili anak saya’, hilang sudah kehormatan keluargaku dengan apa yang tidak pernah kulakukan terhadap Ansara.
Tiba-tiba suasana menjadi hening, mungkin mereka sibuk menerka. “Kasih saya waktu satu bulan dua minggu,” ucapku. “Saya perlu mengumpulkan uang untuk mahar.”
Om Andi menatapku lekat, dia kemudian menatap istrinya yang mengangguk, lalu menatap Ansara yang juga mengangguk. “Baik.”
Aku tersenyum kikuk, semoga obrolan ini segera berakhir. “Ji, ayah tunggu besok di rumah.”
Jantungku mencelus, dia pasti ingin menghajarku lagi. Tuhan, please, buat aku pingsan di depannya besok sesaat setelah dia menghantamkan tinju.