Ansara : Bukan Dia, Tak Seharusnya Dia

1673 Kata
Kami menerima jamuan makan malam dari keluarga Kak Oji. Aku, Dinara dan Kak Oji makan dalam hening, tapi, Ayah dan Papanya Kak Oji mengobrol banyak hal terkait pekerjaan, begitupun dengan Bunda dan mamanya Kak Oji. Sesekali aku melirik Dinara yang tampak sinis menatapku, sedangkan Kak Oji malah terlihat acuh tak acuh dengan kehadiranku, setelah tadi beberapa kali hampir saja ketahuan, tapi dia dengan cepat mengatasinya.  “Ansara sibuk apa?” tanya Tante Marissa. “Kerja di butiknya Ayah.” “Oh … tadi kamu,” kata Tante Marissa pada Dinara. “Kenal sama Ansara?” Aku tersenyum menatap Dinara. Namun, bibirnya malah mencebik. “Cuma kenal aja,” jawabnya sinis.  “Kenal di mana?” tanya Tante Marissa lagi.  “Dia desainer, Ma, ya aku pernah dibikinin baju.” “Kapan?” “Nggak tahu ah, lupa.” “Jadi, kamu desainer? Pantes Pak Andi punya Butik, pasti kamu sendiri yang desain, ya, ‘kan?”  Aku tersenyum seraya mengangguk.  “Kapan-kapan dong Tante bikinin.” “Siap, Tan, kalau bisa Tante main aja ke butik Ayah.” “Udah ah, aku kenyang,” ucap Dinara seraya bangkit. Dia kemudian mundur dan pergi, bahkan tak menghiraukan saat orang-orang memanggilnya, termasuk Kak Oji.  “Nara, habisin dulu, mubazir, wei.” “Kak Oji aja.” “Enak aja, di kasih sisa,” dengkus Kak Oji seraya berpaling dari Dinara dan tak sengaja pandangan mata kami bertemu. Jantungku mencelus saat Kak Oji langsung tertunduk dan tak menganggapku.  Usai makan kami berpamitan karena Ayah beralasan kalau dia sudah lelah dari butik langsung meluangkan waktu untuk ke sini. Tak ada hal manis dari Kak Oji, aku tahu kalau dia terpaksa melakukan ini, tapi tak seharusnya dia menutup diri dariku, harusnya kita meluangkan waktu untuk saling mengenal satu sama lain, agar tidak terkesan asing. Namun, mungkin Kak Oji belum siap mengenalku lebih jauh, lagi pula mungkin aku terlalu memaksakan hubungan ini, jelas-jelas begitu.  Mobil yang kami tumpangi melaju di kemudikan oleh Alwi, sopir Ayah sekaligus orang yang bertugas di butik, kerjaan Agung di butik tidak main-main dia bagian mengambil dan mengantar barang, juga mengantar Ayah atau aku kemanapun asal itu masih ada sangkut pautnya dengan butik.   Ayah dan Bunda mengobrol banyak tentang pertemuan malam ini dengan keluarga Kak Oji, aku hanya mendengarkan saja, sesekali menanggapi jika diperlukan, aku memang sedang tidak ingin banyak bicara, pikiranku mengawang soal Dinara, masih saja dia marah padaku untuk kejadian sekitar lima tahun ke belakang.  Dinara adalah temanku sewaktu SMA dan aku baru tahu kalau dia adalah adiknya Kak Oji. Awalnya kami adalah sahabat, menjauh karena sebuah kesalahpahaman dan dia memilih untuk kuliah di luar Negri. Kami menyukai laki-laki yang sama, Dinara membiarkan hatinya memimpin sedangkan aku tidak. Aku lebih memilih untuk memendamnya saja, tak semua laki-laki mau diajak Backstreet.  Dinara mengungkapkan perasaannya pada laki-laki itu, tapi dia mendapat penolakan, meski secara halus, aku tahu dia merasa sakit hati, apalagi saat hari kelulusan dia melihat laki-laki itu menyatakan perasaannya padaku. Dinara tidak tahu kalau sampai detik ini aku tidak pernah menerimanya.  Aku tidak mengira kalau Dinara masih marah. Padahal aku ingin sekali menyampaikan permintaan maafku yang tertunda karena kepergiannya itu memutus semua akses informasi termasuk teman-teman sekolah kami, aku juga ingin sekali kembali bersahabat dengannya.  Tak terasa mobil sampai di depan rumah, Ayah dan Bunda sudah turun, sedangkan aku paling terakhir, namun, tiba-tiba saja aku tersentak saat Ayah menoleh padaku seraya berkata, “Ayah nggak ngerti, kenapa Oji harus minta waktu sampai tiga bulan, apa dia nggak mikir nanti perut kamu semakin gede?” Jantungku mencelus, aku merasa kalau sedari tadi Ayah berusaha menahan kalimatnya, sehingga saat kami masuk akhirnya Ayah mengungkapkan semuanya. “Kalau alasan dia cuma buat mengumpulkan mahar, kenapa nggak dari dulu, apa dia nggak niat buat nikahi kamu? Kalau nggak niat kenapa dia dan kamu harus melakukan hal keji itu?” Aku hanya bisa tertunduk. sejak tadi hampir saja Ayah membocorkan tentang kehamilanku pada keluarga Kak Oji. Bukan cuma aku yang malu, tapi Ayah juga akan menanggung malu karena bisa saja kak Oji bilang kalau anak ini bukan anaknya.  “Kamu--” telunjuk Ayah tertahan di udara sama halnya seperti kalimat yang hendak Ayah ucapkan yang juga tertahan di kerongkongannya. Tangannya tiba-tiba mengepal kuat, lalu mengempasnya dan pergi ke kamar. Ada kecewa yang kulihat dari raut wajahnya. Aku memang tak bermoral, sudah melakukan dosa besar dan malah menimpakan dosaku pada orang yang tidak bersalah seperti Kak Oji.  Bunda berdiri di depanku. Dia menatapku lekat, namun, tak berkata apa-apa, sedetik kemudian dia berlalu dan memilih pergi meninggalkanku seorang diri di ruang tamu yang gelap karena baru saja Bunda mematikan lampunya.  Kepalaku berdenyut dan aku memilih mengempas bokongku di sofa. Kepada siapa aku harus ungkapkan perasaanku sekarang, perasaanku campur aduk, menghadapi pernikahan bukan dengan orang yang seharusnya aku nikahi, bagaimana caraku mengakui semuanya? *** Ayah memintaku untuk menelepon Kak Oji sore ini, tapi sejak tadi aku hanya terdiam menatap layar ponselku, aku tidak enak jika tiba-tiba harus berkata kalau Ayah memintanya ke rumah.  “Sudah belum?” tanya Ayah seraya membuka kemejanya. Ayah meminta untuk pulang cepat dan aku yang membawa mobil tadi. Kuakui kalau dia terlalu bersemangat untuk bertemu dengan Kak Oji. Namun, aku juga penasaran apa yang hendak Ayah katakan padanya. Apa jangan-jangan Ayah hendak menentukan mahar atau meminta pernikahan mewah, tidak, semoga tidak begitu, aku kenal Ayahku. tapi aku tidak tahu apa yang Ayah inginkan terkait acara pesta pernikahanku. “Kamu itu malah melamun, Ayah suruh kamu buat telepon dia, minta dia untuk datang cepat.” “Mungkin dia masih kerja, Yah.” “Kamu belum coba, ‘kan? Cepat tanyain mau datang jam berapa, biar Ayah nggak nunggu lama.” “Memang Ayah mau pergi lagi?” “Iya, ada badminton sama Pak Hartanto.” Aku menghela napas. “Kalau Ayah ada janji sama yang lain, seharusnya Ayah nggak minta Kak Oji untuk ke sini.” “Kamu itu, masa belum jadi menantu aja, dia udah berani menentang Ayah?” “Sini hape kamu, biar Ayah aja yang telepon.” “Iya, iya, aku aja.” Aku bangkit dan pergi ke teras depan. Namun, sesampainya di teras aku tak melakukan panggilan, ataupun mengirimkan pesan singkat pada Kak Oji, aku malah sibuk mondar-mandir menghilangkan resah di hatiku.  Ya, entah kenapa resah itu datang lagi, sejak semalam aku tak bisa tidur, pikiranku berputar antara soal aku, Dinara dan Kak Oji, bagaimana kalau Dinara tahu aku dan Kak Oji tak ada hubungan apapun, aku hanya memanfaatkan kebaikan kakaknya itu, apa dia akan terima, atau jangan-jangan kemarahannya akan semakin besar dari sebelumnya. Aku tak sanggup membayangkannya lagi.  Sebuah motor berhenti di depan rumah, saat sang pemilik motor itu turun dan membuka helm, resah yang kurasakan bertambah dua kali lipat, Kak Oji melambaikan tangan ke arahku.  Aku segera masuk ke rumah dan hendak pergi ke kamar. “Mau ke mana kamu?” “Mandi dulu, Yah.” “Oji, gimana?”  “Assalamualaikum.” Suara salam dan ketukan di daun pintu membuatku berhenti melangkah dan menoleh sesegera mungkin sembari menjawab salamnya di dalam hati, Kak Oji tersenyum ramah pada Ayah. “Maaf telat,” katanya.  “Waalaikumsalam, masuk, Ji.” Aku masih mematung saat Kak Oji melewatiku. “Kamu bikinin teh hangat,” pinta Ayah. Perlahan aku berlalu dan pergi ke dapur untuk membuatkan teh sesuai pesanan Ayah. Jantungku rasanya tak tenang, rasa bersalahku pada Kak Oji semakin besar, apalagi saat kutahu kalau adik Kak Oji adalah Dinara. Apa sebaiknya sekarang aku batalkan saja rencana pernikahan ini dan katakan semua kebenarannya. Apa dengan bigitu aku -- “Ansara, airnya tumpah.” “Aww ….” Aku termangu menatap air panas mengeluarkan kepulan asap tipis dari teko yang ku panaskan barusan.  “Matiin dulu kompornya,” kata Mbak Kirani sembari memutar tombol kompor. “Akhir-akhir ini kamu banyak melamun, kenapa?” Aku menarik napas dan mengeluarkannya perlahan sembari mengaduk-aduk air teh yang baru saja ku campurkan gula ke dalamnya.  “Permisi, Mbak.” Mbak Kirani segera bergeser saat aku hendak meletakkan gula di tempatnya.  “Ada Oji?” Aku mengangguk, lalu berlalu dan tak begitu menanggapi pertanyaan Mbak Kirani. Aku hanya merasa kalau dia mencurigai sesuatu terkait hubunganku dengan Kak Oji, atau itu hanya ketakutanku saja? Aku meletakkan gelas dengan perlahan di atas meja tepat di depan Ayah, namun, saat hendak mengambilkan punya Kak Oji, dia sudah mengambil gelas berisi teh hangat untuknya di atas nampan dan memindahkannya ke meja.  Aku tercenung, namun, beberapa detik kemudian aku berdiri dan hendak kembali ke dapur, tapi Ayah memanggilku dan akupun segera menoleh. “Duduk di sini Ayah mau bicara,” katanya.  Aku duduk di sebelah Kak Oji, tapi berjarak sekitar lima puluh sentian. Ayah menatapku dan Kak Oji bergantian. “Kalian serius, ‘kan?” Tak ada jawaban verbal, hanya anggukan dari Kak Oji, begitupun aku.  “Kenapa Ayah merasa kalau kalian seperti tidak serius. Memangnya kamu mau anak kamu lahir tanpa Ayah?” tanya Ayah padaku.  Aku menggeleng. Sialnya hatiku menolak apa yang baru saja aku jawab. Hatiku terus menggaungkan kalau Ayah anak ini bukan Kak Oji.  “Kamu, Ji?” “Serius, Om.” Ayah menatap Kak Oji lekat-lekat, aku sampai ikut tertunduk mendapati Ayah menatap Kak Oji seperti itu. Aku takut kejadian di rumah sakit terulang. “Panggil Ayah, kenapa masih manggil Om?” Tiba-tiba kalimat itu yang kudengar. Aku segera mengangkat wajah dan mendapati kalau Ayah tersenyum pada Kak Oji. Aku sedikit lega karena tidak akan ada lagi baku hantam setelah ini.  “Kalian mau pernikahan seperti apa?” Aku menoleh pada Kak Oji, tapi pria itu terdiam dan kulihat dia sedikit bingung menjawab pertanyaan Ayah.  “Ji, Ayah tahu kamu mungkin belum ada biaya, tapi kamu tidak perlu memikirkan itu.” “Sederhana aja,” ucap Kak Oji pada akhirnya sembari menoleh ke arahku.  “Iya, Yah, nggak perlu nyewa gedung, kita buat pesta sederhana aja di halaman belakang,” ucapku diiringi embusan napas yang penuh kegugupan. Bukan karena pernikahan yang akan aku hadapi, tapi karena pria yang seharusnya tak kunikahi. Apa seumur hidup aku akan merasakan rasa bersalah seperti ini? Rasa bersalah karena bukan dia, dan tak seharusnya dia. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN