MAMD-08

1983 Kata
"Temennya cakep juga, Ra!" bisik Shafa pada Ara yang masih tak mau mengangkat kepalanya, sengaja melambatkan makannya. "Ini bukan yang tadi di musholla kan?" Giliran Danisha berbisik pada Shafa. Shafa kemudian menggeleng. "Hai, sorry, kita tadi belom kenalan. Gue Samudra, ini Arya, temen gue," to the point Samudra begitu sampai di meja mereka. Mengulurkan tangannya kepada Danisha dan Shafa, saling berkenalan, menyebutkan nama mereka masing-masing. Arya pun melakukan hal yang sama. Kemudian Arya menarik satu tambahan kursi kosong dari meja sebelah yang ditempati cewek-cewek berisik tadi. Tentu saja mereka dengan senang hati memberikan kursi kosong mereka, karena Arya yang meminta. Di meja Ara ada empat kursi, tiga sudah mereka duduki, kebetulan kursi yang kosong berada disisi Ara. Ara benar-benar merasa apes. Sementara Samudra, benar-benar merasa lucky. "Ra, kenalin nih, temen gue, Arya." Ara masih saja tak mau melihat ke arah Samudra. Tapi piring makannya sudah kosong. Tak mungkin berpura-pura lagi, 'kan? Menghela nafas kalah, Ara akhirnya memandang wajah Samudra sebentar kemudian beralih ke arah Arya yang sudah tersenyum sambil mengulurkan tangannya. "Gak usah pake salam-salam. Bukan mahram!" tangan Arya yang menggantung dipukul Samudra pelan. "Galak amat, Pak! Yang tadi-tadi gakpapa?" gerutu Arya "Iya lah, gue aja kagak boleh, tadi!" Samudra mencibir. Danisha dan Shafa terkekeh pelan sambil melirik Ara. Ara memutar matanya malas. Masih berdiam diri sambil mengaduk-aduk minumannya yang masih tersisa setengah gelas. "Jadi, yang lo lagi incer nomor hape nya yang mana?" tanya Arya berlagak polos sambil nyengir. Serentak Danisha, Shafa dan Samudra menunjuk ke arah Ara. Bisa-bisanya mereka bergerak samaan. 'Menyebalkan!' Dumel Ara dalam hati. Keempat orang itu malah tertawa berbarengan. Arya paham sekarang mengapa Samudra kali ini begitu penasaran dengan perempuan bernama Ara ini. Ara tidak seperti cewek kebanyakan yang selalu mencari-cari perhatian Samudra, malahan Ara terkesan jutek dan risih didekati Samudra. Tipe-tipe yang playing hard to get begini yang memang Samudra suka. Setahu Arya, mantan pacar Samudra tak banyak, selama kenal dari semester satu hingga sekarang semester tujuh, cuma ada satu perempuan yang dipacarinya. Anak Fakultas Hukum, yang bertahan hampir tiga semester. Waktu itu juga seperti ini, Samudra harus berjuang dulu sebelum mendapatkan hati cewek itu. Walau akhirnya putus setahunan yang lalu. Ara melirik jam di tangannya, sudah pukul 14.14 , beberapa menit lagi kelas mereka akan di mulai. Belom ada tanda-tanda Danisha dan Shafa akan beranjak ke kelas. Mereka masih asyik bercanda berempat, Ara hanya sesekali menimpali ketika dia ditanya saja. Samudra berkali-kali mengajaknya ngobrol, tapi Ara hanya menanggapi seperlunya. Nomor w******p Ara yang Samudra incar juga belum didapat. Namun Danisha dan Shafa dengan senang hati bertukar nomor ponsel dengan Samudra dan Arya. Shafa berpesan bisa menghubungi dia atau Danisha saja kalau ingin menghubungi Ara. Karena kalau lagi mode keras kepala begini, Ara benar-benar takkan bermurah hati. Dan sebagai sahabat yang baik, apapun yang terjadi, mereka tak akan memberikan nomor ponsel Ara tanpa seizin yang punya. Sampai akhirnya lima menit sebelum jadwal kelas dimulai, mereka --kecuali Ara tentunya-- pamit pada Samudra dan Arya. Awalnya mereka berlima berjalan beriringan, namun Ara memilih jalan sendirian di belakang, yang akhirnya diikuti oleh Samudra yang pantang menyerah mendekati Ara. "Gue serius mau temenan sama lo! Tolong jangan ngehindar kalau kapan-kapan kita ketemu lagi." Samudra menarik lengan baju Ara pelan sebelum mereka berpisah di teras kantin. Ara hanya menatap Samudra datar. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju kelas bersama Danisha dan Shafa. "Weeiiss ..., yang pulang kencan!" sambut Haris saat Samudra dan Arya telah kembali ke meja teman-temannya. "Dapat, Cong?" Dijawab Samudra dengan cengiran masam. "Cantik sih cantik, tapi ratu tegaaa ... Hahaha! Gombalan Samudra gak kena ke dia. Dikit banget keluar suaranya!" Arya mengacak rambut Samudra yang sudah duduk melahap nasi sotonya yang jelas sudah dingin. "Tapi cantik, Ar?" Dovan penasaran "Cantik! Bertiga dia ama temennya, cantik-cantik semua, ya kan, Dim?" Dimas mengacungkan jempolnya. --- Sekarang sudah pukul 16.37. Kelas Ara sudah berakhir lima menit yang lalu. Sebelum pulang ketiganya memutuskan untuk sholat ashar lebih dahulu di musholla kampus. Sambil berjalan menuju ke parkiran, Danisha teringat akan percakapannya dengan Damar di i********: tadi dan menyampaikannya kepada kedua sahabatnya. "Berarti udah dekat lagi dong hubungan mereka. Sampai-sampai Kak Sheila bisa buka akun Kak Damar dan nge-posting segala?" Shafa yang duduk di jok penumpang belakang, memajukan badannya ke tengah-tengah. "Nah, waktu gue tanya apa mereka pacaran lagi? Kak Damar cuma kasih emot main mata. Nyebelin, 'kan?" "Logikanya aja, pertama ya, ngapain Kak Sheila liburan ke Australia sendirian kalau gak untuk nyamperin Kak Damar. Kedua, Ngapain buang uang, buang waktu nyamperin Kak Damar kalau gak karena cinta. Sudah lah, tunggu aja, bentar lagi mereka bakal jadian, terus tunangan, terus nikah. Pesta deh kita!" ucap Ara sarkas sambil terus fokus menyetir mobilnya. "Lu serius, udah gak 'papa, Ra?" Shafa menepuk bahu Ara dari samping. "Kan, gue udah bilang, gue udah tobat naksir Kak Damar. Gak ada hati dia, ama gue." Danisha memandang Ara dengan wajah berpura-pura sedih. "Gue bingung harus sedih atau senang ya, lu batal jadi kakak ipar gue?" Shafa dan Ara mencubit Danisha gemas sambil ketiganya tertawa. --- Damar sedang bersantai di teras apartemennya. Sheila baru saja kembali ke hotel tempat dia menginap selama di Australia, karena malam ini dia diundang dinner oleh salah satu teman lamanya yang memang sudah menetap di sana. Sheila mengajak Damar tentu saja, tapi dengan berbagai alasan ditolak oleh Damar. Membuka aplikasi i********: yang tadi di ributkan Danisha. Damar terkekeh sendiri. Dia memang jarang sekali mengunggah apapun di akunnya, namun begitu, hampir setiap ada kesempatan dia kerap memantau unggahan teman, keluarga ataupun kerabat melalui timeline-nya. Damar memang mengizinkan Sheila untuk mengunggah foto di akun IG-nya tadi. Karena Sheila mengejek akunnya yang katanya 'sepi kayak ditinggal mati yang punya.' Damar juga membebaskannya memilih foto yang mana saja. Tak disangka Damar bahwa foto selfie mereka berdua lah yang diunggah Sheila. Damar tak keberatan, hanya saja ternyata foto itu diributkan oleh banyak temannya dan terutama oleh Danisha, yang sama seperti yang lainnya juga, menuduhnya balikan dengan Sheila. Damar tak perduli dengan spekulasi Danisha dan teman-temannya, malahan merasa lucu dengan komentar-komentarnya. Memang tidak ada apa-apa antara dia dengan Sheila. Damar menekan tanda home. Kemudian menelusuri unggahan-unggahan terbaru yang muncul, hingga sampai pada postingan terbaru Danisha. Ada dua foto dalam postingan tersebut. Yang pertama, tampak Danisha berfoto dengan Ara, Shafa dan dua orang laki-laki seumuran mereka yang Damar tidak kenal. Kelima-nya berpose duduk santai sambil tersenyum. Damar kemudian menggeser ke kiri. Muncul foto ke dua. Tampak salah seorang anak laki-laki yang tadi duduk di samping Ara, sedang tersenyum memandang Ara dari samping. Sementara posisi Ara tampak sedang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dengan siku yang bertumpu di meja. Damar membaca caption yang tertera diunggahan Danisha itu. 'Ciee ... Ada yang lagi PeDeKaTe!' Seketika ada yang nyeri di sudut hati Damar. --- Ara memperhatikan postingan Danisha yang menandainya di akun Instagramnya. Foto mereka di kantin tadi. Ara tersenyum melihatnya, Ara tau saat foto itu diambil, walau dengan senyum terpaksa, namun dia tetap tampak manis disitu. Tapi postingan kedua Danisha benar-benar bikin wajah Ara merah padam. Dia sudah menolak untuk difoto berdua dengan Samudra tadi, makanya Ara menutup wajahnya, namun ternyata Si jahil Danisha tetap melancarkan aksinya dan bahkan mengunggahnya. Belum lagi caption-nya yang benar-benar menyulut emosi. 'Benar-benar minta dianiaya tu anak besok!' gerutu Ara dalam hati. Danisha me-non aktif-kan kolom komentar, jadi Ara tak bisa membantahnya disitu. Ting ... Ada bunyi notifikasi di ponsel Ara, dari aplikasi i********:. Ada yang mengiriminya pesan langsung. Ara membuka kolom chat. Ada pesan baru, yang masuk dari pemilik akun bernama "sam_ahsan_" yang Ara tidak kenal. Akun IG Ara memang tidak dikunci, jadi siapapun bisa melihat isi akunnya dan menjadikannya teman. [sam_ahsan_] Assalamualaikum, Ara. Ara tidak langsung membalasnya, dia ingin tahu terlebih dahulu siapa pemilik akun sam_ahsan_ ini. Ara membulatkan matanya begitu tau siapa pemiliknya. Siapa lagi kalau bukan Samudra. 'Ck...! Pinter banget nih si Danisha!' Danisha sengaja menandai Ara di postingannya, maka Samudra bisa dengan mudah melacak akun Ara. Akun Samudra tak dikunci, jadi Ara bebas menelusuri semua unggahan dari yang terlama hingga yang terkini. Isinya banyak foto-foto saat tim basket Samudra bertanding, yang diakui Ara cukup keren. Kemudian foto-foto panorama pemandangan yang indah-indah, menunjukkan hobinya tentang photography. Diantara puluhan foto itu, terdapat dua saja foto selfie Samudra, foto itu berlatarkan sebuah cafe yang berdesain minimalis. Syukurlah, Ara tak menyukai laki-laki yang terlalu narsis. 'Eh..!' Ting... Notifikasi pesan dari IG Ara kembali muncul. [sam_ahsan_] Dibaca doang. Dosa lho, gak jawab salam. Berdecak kesal, Ara membalas. [just.haura] Waalaikumsalam [sam_ahsan_] Alhamdulillaah dibalas. Lagi apa? [just.haura] Lagi ngerjain tugas. [sam_ahsan_] Ganggu gak? [just.haura] Ganggu. [sam_ahsan_] Set, dah! Jujur banget. [just.haura] Lebih suka dibohongin? [sam_ahsan_] Ya nggak lah, Neng. Boleh minta nomor ponsel aja gak? Capek ngetik. [just.haura] Boleh. Tapi kapan-kapan. Gak sekarang. Ara tersenyum geli membayangkan wajah Samudra saat membacanya. 'Ngelunjak, mentang-mentang diladenin.' Ara mengedikkan bahunya, kemudian mematikan suara ponselnya. --- Ara tak bisa menahan kesalnya saat tau alasan Danisha sengaja menolak untuk langsung pulang dan malah mengajaknya ke kantin. Ternyata sudah ada Samudra dan dua orang temannya menunggu di sana. Shafa terkekeh melihat perubahan wajah Ara yang memerah. Ara menurut saja saat lengannya ditarik sedikit memaksa oleh Danisha. Drama banget, kan, kalau sampai harus tarik-tarikan, jadi tontonan massa. Ini adalah pertemuan mereka ke dua setelah berkenalan di kantin, tiga hari yang lalu. Ara sangat paham, bahwa kedua sahabatnya ini sengaja ingin mendekatkannya pada Samudra, entah itu karena permintaan Samudra atau inisiatif mereka sendiri. Tapi Ara takkan menuruti kemauan mereka begitu saja, berteman oke lah, tapi untuk dekat ..., nanti dulu! Fisik bukan segalanya, kan. Harus juga ada rasa yang klik di hati. Terkadang, cara makan seseorang saja bisa bikin kita hilang rasa. Maka dari itu, bagi Ara tak cukup sekali dua kali bertemu untuk menilai perasaan. Jika ada orang yang bilang jatuh cinta pada pandangan pertama, jelas itu bukan Ara sekali. Sekedar naksir, mungkin! Cinta? No way! Samudra kali ini ditemani Arya dan Dimas, mereka bertiga sangat kocak, menjadikan apa saja sebagai bahan bercanda yang untungnya tidak garing. Sehingga wajah Ara yang awalnya merah karena kesal, sekarang merah karena banyak tertawa. Samudra tentu saja senang melihat perubahan itu, setidaknya Ara jadi lebih terbuka dan nyaman diajak ngobrol. Dengan harapan, 'kali aja khilaf mau memberikan nomor ponselnya.' "Azan dzuhur tuh! Pada sholat gak? tanya Dimas kepada ketiga perempuan di depannya. "Sholat! Yuk!" Ara segera bangkit, namun memandang heran kedua sahabatnya yang hanya menyengir tak bangkit dari kursi. "Kalian enggak?" Keduanya menggeleng. "Kapan?" "Tadi pagi." "Kemarin malam" Jawab Danisha dan Shafa berbarengan dengan wajah pura-pura sedih. Sungguh, Ara tak percaya. Tapi berdebat juga gak mungkin. Ditatapnya kedua sahabatnya itu dengan mata memicing. Mencebik, kemudian meninggalkan keduanya menuju musholla. Samudra sudah berdiri menunggu Ara. Arya dan Dimas sudah jalan lebih dulu. Ara merasa kikuk berjalan berdua dengan Samudra, sapaan para mahasiswi kepada Samudra membuatnya risih, belum lagi pandangan mata penasaran para pengunjung kantin kepada mereka berdua. Berbeda dengan Ara, Samudra sangat menikmati saat-saat perjalanan mereka ke musholla yang hanya berdua. Seperti anak SMA yang baru jatuh cinta, jantungnya berdebar kencang. Merasa geli sendiri akhirnya Samudra terkekeh pelan. "Kenapa ketawa?" Walaupun pelan tawa Samudra masih bisa didengar Ara. "Gakpapa, cuma ngerasa aneh aja." "Aneh kenapa?" "Aneh! Karena gue deg-deg an jalan sama lo!" Samudra tersenyum grogi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ara memandang sekilas wajah Samudra, tak mau memberikan reaksi apapun. Ara tak mau baper. Cowok famous macam Samudra begini gak bisa dipercaya. Mungkin Ara cewek kesekian yang dia gombali dengan kata-kata itu. "Ra ...." "Hmm ...." "Kenapa chat gue gak dibaca-baca?" "Gue jarang buka IG." "Ra ...." "Hmm ...." "Min_ " "Sholat dulu, dah nyampe!" potong Ara sambil langsung menuju kamar wudhu wanita. "Gue tunggu di sini nanti!" Samudra mengencangkan sedikit suaranya agar didengar Ara yang sudah hampir mencapai pintu kamar wudhu. Ara tak menoleh, ia hanya mengangkat jempolnya saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN