Sejak mengenal Samudra dan teman-temannya, Danisha dan Shafa kerap kali janjian dengan mereka utk menghabiskan waktu di kantin usai jam kuliah. Bukannya Ara tak pernah menolak, tapi selalu saja ada ancaman dari Danisha ataupun Shafa yang membuat Ara akhirnya mengalah dan berakhir di kursi meja kantin bersama mereka.
Teman-teman kampus Ara yang perempuan banyak yang penasaran, bagaimana bisa sampai berteman akrab dengan —yang kata mereka— cogan-cogan idola fakultas tetangga itu, tak jarang mereka merayu untuk minta di kenalkan. Tentu saja ditolak Danisha si judes. 'Gue bukan makelar, kalau mau kenalan, sana, usaha sendiri!' Tuh ..., galak, kan?
Temen-temen cowok beda lagi, belakangan ini mereka sering menyindir gengnya Samudra, mungkin karena merasa tersaingi atau apalah. Tapi tak pernah ditanggapi, mereka toh sudah senior dan lagi pula Samudra dan temannya, berteman baik dengan tim basket Fakultas Sastra yang kebanyakan seangkatan juga dengan mereka. Tak jarang mereka berkumpul bersama menghabiskan waktu di kantin ini juga.
"Besok pasti datang, kan?" untuk yang kesekian kali Samudra bertanya pada Ara.
Ara memutar matanya malas.
"Kak! Lo udah nanya ini berkali- kali, ih! Ya, kalau Danisha ama Shafa juga pergi. Kalau sendiri gue ogah!"
"Kalau mereka gak pergi, lo gue jemput!"
"Gak mau!"
"Ra ...."
"Jangan ngeselin deh!" Ara memelototkan matanya pada Samudra.
Haris terkekeh diseberang meja, menyaksikan interaksi dua makhluk di didepannya.
Jangan heran, semenjak mengenal Samudra dan teman-temannya yang merupakan kakak tingkat, Ara dan kedua sahabatnya memang memangggil geng Samudra dengan "Kakak".
Setelah dua bulan berteman, Ara memang sudah santai saja dengan modus dan gombalan Samudra, namun juteknya tetap gak berkurang, nomor WA masih tersembunyi dan alamat rumah masih tersimpan rapat. Ara masih sekeras kepala itu menghadapi Samudra, untung Samudra sayang. Eh ..., sabar maksudnya.
Mereka dalam formasi lengkap kali ini, geng Samudra berlima, dan Ara bertiga, menikmati makan siang yang di sponsori oleh Dimas karena dia kemarin berulang tahun. Ditambah hari ini adalah hari bersantai, setelah dua minggu belakangan ini jorjoran konsen untuk pertandingan. Hari rileks sebelum menghadapi pertandingan final besok dimana tim basket Samudra akan mewakili kampus mereka untuk bertanding melawan tim basket Kampus X dalam laga final pertandingan persahabatan antar Kampus.
"Ara bakal datang Kak, bareng kami, tenang aja!" ujar Shafa. dia memaklumi kekhawatiran Samudra, karena sudah dua pertandingan yang dihadiri Shafa dan Danisha tapi Ara tidak ikut serta.
"Datang ya Ra, biar tim kami menang!" Bujuk Arya yang duduk berseberangan di meja sambil memasang wajah pura-pura memelasnya.
Seketika kulit kacang beterbangan ke wajahnya, disusul ejekan dan tawa dari teman-temannya yang menyaksikan kelakuannya.
"Geli! Tau gak?" cetus Danisha.
Ara terkekeh melihat Danisha mendorong wajah Arya menjauh dari Ara, karena saat membujuk tadi, Arya juga memajukan badannya.
Arya ikut tertawa, geli sendiri dengan kelakuannya.
"Kemarin-kemarin juga menang, gak ada gue!" Ucap Ara santai sambil memainkan ponselnya.
Samudra sontak menghentikan tawanya. Menatap Ara tajam. Ara yang menyadari diamnya Samudra, menatap balik. Menatap netra coklat Samudra yang baru Ara sadari warnanya. Sekian detik berlalu belum ada yang memutus tatapan. Ara merasa hatinya berdesir, jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan. Mengalah setelah sekian detik, kembali menatap ponselnya, menenangkan jantungnya.
Ara tau, Samudra masih kesal dengan kata-katanya tadi. Biasanya Ara tak perduli. Namun kali ini, ia merasa ingin meralat kata-katanya. Ia ingin Samudra tau kalau dia hanya bercanda. Tapi gengsi.
Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk bubar tepat sebelum azan Ashar. Ara dan teman-teman memutuskan untuk sholat Ashar di rumah saja. Sedangkan para cowok akan sholat dulu di musholla sebelum pulang.
Sebelum berpisah di teras kantin, Ara menyejajarkan langkahnya dengan Samudra, dia tau Samudra lagi mode ngambek padanya saat ini. Sekali lagi, biasanya Ara tak perduli, karena selama ini apapun kekesalan yang Ara timbulkan pada Samudra, laki-laki itu akan tetap menyapanya di-DM i********:.
Menarik kemeja Samudra dan menghentikan langkahnya. Ara mengikis habis gengsinya. Melangkah merapat sedikit kepada Samudra, agar suara pelannya bisa didengar Samudra dengan jelas. "Jangan ambekan, gue besok datang kok!" Ara langsung melesat pergi menyusul Shafa dan Danisha begitu selesai mengucapkan kalimat tadi. Meninggalkan Samudra yang masih terpaku. Perlahan senyumnya mengembang sambil menggelengkan kepalanya mengingat rona merah wajah Ara saat mengatakannya.
---
Ara tak menyangka, menonton secara langsung suatu pertandingan bisa seseru ini. Teriakan menyemangati dan teriakan sumpah serapah dari kedua kubu yang berlaga benar-benar memeriahkan suasana. Ara dan Shafa sampai terpingkal-pingkal bila Danisha sudah mulai mencerca wasit yang dirasanya bertindak tidak adil. Belum lagi teriakan membabi butanya bila tim Samudra mencetak point.
Ara mengakui permainan kedua tim yang berlaga, hampir imbang. Hanya saja Samudra dan Dovan sepertinya kali ini sedang beruntung, berkali-kali usaha mereka mencetak triple point berakhir sempurna.
Ara dan kedua temannya duduk disisi selatan gedung olah raga, yang entah kebetulan atau memang sudah diatur oleh panitia, isinya kebanyakan pendukung dari kampus mereka sendiri.
Sudah seperti tim cheerleaders, mereka dan puluhan cewek-cewek yang duduk berdekatan meneriakkan yel-yel lucu untuk menyemangati tim perwakilan kampus. Tak jarang mereka bahkan meneriakkan nama-nama idolanya yang baru saja mencetak angka atau sekedar kebetulan sedang men-drible bola .
Ara merasa geli, bila ada pendukung cewek yang mulai kasak kusuk, berteriak heboh dan memuji-muji bila Samudra mulai beraksi, mencetak angka, apalagi melakukan slam dunk. Bahkan tak sungkan mereka membanggakannya dengan mengatakan "pacar gue tuh!", "laki gue tuh!" dan semacamnya.
Parahnya, Samudra dan Arya —yang belakangan lagi pedekate dengan Danisha— beberapa kali melakukan selebrasi dengan menunjuk atau dengan jahil memberi kiss jauh ke arah Ara dan Danisha, tapi yang kegirangan malah cewek-cewek di depan kursi mereka. Kalau sudah begitu, mereka bertiga hanya bisa terkekeh geli.
---
Setelah acara penyerahan trophy dan penutupan selesai. Masing masing tim berkumpul dipinggir lapangan. Menerima ucapan selamat dan permintaan foto bersama. Ara dan kedua temannya menunggu dipinggiran sambil duduk dibangku yang sekarang sudah kosong. Memperhatikan bagaimana interaksi Samudra dan teman-temannya menghadapi permintaan foto dari penggemarnya masing-masing yang semakin menjadi-jadi karena timnya menang lagi.
Ara tersenyum tiap kali Samudra menatapnya dan memberi senyum dari jauh. Ada rasa bangga atas pencapaian Samudra dan timnya. Dan rasa bangga yang lain, yang lebih egois.
Yup! Rasa bangga sebagai perempuan yang sedang diperjuangkan oleh seorang Samudra. Disaat cewek-cewek disana mengantri minta foto bareng, nomor ponsel dan sebagainya, mungkin kalau Ara bilang capek dan minta diantar pulang sekarang juga, Samudra akan langsung menyanggupi.
Ara terkikik sendiri memikirkan idenya itu.
Lelah meladeni permintaan foto dan sebagainya, Samudra undur diri dari keramaian dan bergegas menuju kursi tempat Ara dan kedua temannya duduk menanti. Duduk di kursi sebelah Ara yang kosong, meraih botol air mineral yang di genggam Ara dan meminumnya.
"I-itu udah gue minum!" ujar Ara pelan.
Samudra hanya mengedikkan bahunya tak perduli. Menenggak habis isi botol. Ara masih terpana dengan kelakuan Samudra, pipinya bersemu merah.
"Nanti sebelum pulang, ikut ngumpul dulu, ya? Ngerayain ini." pinta Samudra. Dia duduk bersandar santai di kursi meluruskan kakinya ke depan. Masih menggunakan setelan jersey seragam tim nya yang tampak lembab.
"Gak ganti kaos yang kering?" Ara agak risih dengan penampilan Samudra dengan jersey kutungnya. Terlalu mengekspos otot lengannya yang kekepable itu.
"Lagi minta ambilin sama Bayu."
Bayu itu asisten manager tim yang ngurusin segala keperluan remeh temeh anggota tim. Tak lama, orang yang dibicarakan pun tiba, dengan kaos putih polos dan sebuah handuk kecil di tangannya.
Masih sambil duduk dikursi disamping Ara tadi, menegakkan badannya, dengan santai Samudra melepas jersey kutungnya dan memberikannya kepada Bayu.
Ara membelalak kaget.
'Ya Tuhan, mata gue ternodai!' pekik Ara dalam hati. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya dari tubuh polos Samudra. Masih sempat tertatapnya d**a bidang dan perut rata yang mulai membentuk garis six pack itu.
Samudra tau Ara salah tingkah. Segera dipakainya kaos putih dari Bayu tadi tanpa berhandukan terlebih dahulu.
"Udah!" bisiknya dekat di telinga Ara, kemudian terkekeh pelan.
Ara terkesiap kaget, kemudian memukuli lengan Samudra dengan botol kosong air mineral tadi. Samudra menahankan saja pukulan Ara yang memang tak kuat itu, sambil tertawa-tawa.
"Pamer, ya? Mentang-mentang banyak cewek yang lihatin tuh!" Ara memonyongkan bibirnya menunjuk pada sekumpulan cewek-cewek yang kini sedang kasak kusuk sambil cekikikan dan menatap Samudra dengan genitnya.
---
Sepakat untuk berkumpul di sebuah cofee shop yang bernama WarKop Santai, sebuah kafe yang selalu dijadikan tempat berkumpul tim basket Samudra. Memesan segala macam makanan karena perut mereka sepertinya keroncongan, sehabis menguras tenaga dalam pertandingan tadi.
Begitu sampai, Ara langsung menuju toilet. Sudah hampir satu jam dia menahan pipis, karena toilet di GOR tadi agak jorok, mungkin karena terlalu ramai yang pakai.
Sekembalinya dari toilet, kursi yang kosong hanya berada diantara Shafa dan Samudra. Sementara Danisha sudah pewe sekali disamping Arya.
Cofee shop ini sudah di-booking seluruhnya untuk perayaan mereka. Terlihat meja yang sudah diatur sambung menyambung sedemikian rupa. Karena total mereka yang hadir dalam perayaan ini berjumlah dua puluh orang, sudah termasuk Ara dan kedua temannya.
Teman-teman tim Samudra selain geng yang lima orang, sudah cukup kenal Danisha dan Shafa, karena sudah dua kali ikut perayaan kemenangan tim. Namun dengan kehadiran perdana Ara kali ini, si gadis incaran sang kapten tim, mereka jadi gencar sekali menggoda Samudra.
Samudra sih, awalnya santai saja, tapi tentu tidak dengan Ara, berkali-kali dia harus menahan malu dan minta pulang, sampai akhirnya Samudra memberi ultimatum kepada teman-temannya untuk menghentikan keisengan mereka.
Ponsel Samudra yang diletakkan diatas meja berdering. Sekilas Ara melirik ke arah layar ponsel yang menyala, tertera nama Bunda.
"Aku angkat telpon dulu!" Samudra setengah berbisik, kemudian bangkit dari kursinya dan menjauh.
Shafa yang melihat pergerakan Samudra, bertanya pada Ara. Arapun menjelaskan kalau Bundanya Samudra yang menelpon, sesuai yang dia lihat tadi.
"Assalamualaikum, Nda!" Samudra menjawab telponnya.
Bunda
[Waalaikumsalam. Aa dimana?]
"Di Santai, Nda."
Bunda
[Waah, menang, 'kan? Selamat ya! Bunda bilang juga apa. Bunda ke sana ya, mau anter makaroni panggang kamu nih!]
"Alhamdulillah, menang dong, Nda! Bunda tau aja kita lagi kelaparan. Udah sampai mana ini?"
Bunda
[Udah dekat Santai, tinggal masuk parkir.]
"Oke, udah kelihatan. Assalamualaikum!" Tanpa menunggu jawaban Bundanya, Samudra memutus panggilan dan keluar dari kafe. Langsung menuju Honda HR-V merah yang baru saja berhenti di parkiran.
Samudra membuka pintu penumpang yang bagian belakang, tempat dimana posisi Bundanya selalu duduk. Senyum sumringah Bunda menyambut Samudra, begitu pintu mobil terbuka. Bunda menarik bahu Samudra agar menunduk dan mengecup keningnya sebagai ucapan selamat. Samudra terkekeh pelan.
"Feeling, Bunda emang best ya. langsung kemari aja! Turun dulu yuk!" Ajak Samudra sambil tangannya menerima sepinggan makaroni panggang yang diserahkan Verisha.
"Pastilah kalian menang, sudah bunda doain tiap malam, hehe ...! Tumben ajak turun?" Verisha menurut saja.
"Ada yang mau A' kenalin!"
"Yeay ... calon mantu Bunda?" Verisha bersorak pelan meledek Samudra
"Kalau Bunda setuju!"
"Kalau enggak?"
"Pasti setuju deh!" Samudra tertawa, tau Bundanya bercanda. Lalu merangkul wanita kesayangannya itu, membawanya masuk ke dalam kafe.
Didalam kafe cukup berisik. Masing-masing menceritakan keseruan pertandingan tadi. Suara tawa dan candaan silih berganti.
"Eh ... Tante!" Sapa Haris yang pertama kali sadar akan kehadiran Verisha diantara mereka. Teman-teman Samudra beranjak berdiri dari kursi berniat menyalami Verisha. Namun dihentikan oleh Verisha.
"Udah, gak usah repot-repot salam. Lanjut aja makannya. Santaai....!" ucap Verisha sambil tersenyum senang, melihat niat sopan santun teman-teman anaknya.
"Tante Ve?"