Aura Kuat yang Mendekat

1143 Kata
Sejak bangun tadi hingga sekarang sedang melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan, Valrey tak henti mencoba untuk memanggil iblis didalam dirinya. Berbagai cara dia lakukan, tapi sama sekali tak ada tanda-tanda. Kehadirannya di dalam sana. “Kau kenapa?” Sargon sekarang berjalan bersisian dengannya. Sargon dari tadi melihat kelakuan dan ekpresi Valrey yang sangat aneh dan mengherankan. Biasnaya Valrey akan bbanyak bcara selama perjalan, atau memohon pada Sargon untuk dicarikan makanan. “Aku sedang mencoba memanggilnya. Tadi malam dia berbicara padaku,” jawab Valrey. Dahinya berkerut kemabali sat berusaha mengumpulkan konsentrasi dan kembali memanggil-manggil didalam sana. “Maksudmu, iblis di dalam dirimu?” Sargon menaikkan sebelah alisnya. Valrrey mengangguk, lalu menatap Sargon dengan wajah penasaran. “Apa kau sering berkomunikasi dengannya?” tanya Valrey. Sargon merenung beberapa saat, lalu menjawab, “Terakhir kali saat kita bermeditasi bersama. “Sepertinya itu takkan berhasil denganku. Aku selalu membakar semuanya jika melakukan itu.” Valrey mengerucutan bibir. “Semua kekuatan kita sesuai dengan watak pemiliknya.” Lucy ikut bergabung. Ia memang termasuk pendiam dan hanya berbicara seperlunya. Lucy telah mengajarkan kedua teman barunya dengan cara bagaimana ia selama ini berkomunikasi dengan iblis di dalam tubuhnya. Sejak awal, ia tak pernah membuat badai atau sesuatu yang menghancurkan sekitarnya. Sedangkan Sargon, pada awalnya memang esulitan untuk mengontrolkekuatannya, tapi sekarang ia sudah jauh lebih ‘bersih’ ketika melakukannya. Valrey? Ya, sama sekali taka da perubahan sejak pertama diajarkan Lucy. Valrey menatap penasaran pada satu-satunya perempuan di kelompok mereka. “Vio? Apa kau juga memiliki iblis di dalam dirimu?” Valrey berlari kecil untuk mengimbangi Vio, lalu berjalan sejajar dengannya. “Aku hanya sebuah mahakarya yang berhasil selamat dari percobaan seorang raja gila,” jawab Vio santai. Ia mengleuarkan sebilah celurit dan menebas rerumputan tinggi untuk mempermudah menempuh jalan di depannya. Mereka memng sengaja memilih jalur baru yang sama sekali belum pernah dilwati siapapun selama ini. Satu-satunya petunjuk arah adalah kompas dari Vio. Jika iblis tak membuat mereka takut dan mundur, makan hewan liar dan buas di hutan inijuga tak menghalangi perjalanan mereka. malahan, selama perjalanan hari ini, merekasudah dua kali berpapasan dengan sing hutan. Seolah tahu kekuatan dari sekelompok manusia yang berhadapan dnegannya, singa itu memilih mundur teratur. Jangan sampai ia menjadi singa panggang dan di santap habis oleh Valrey yang selalu kelaparan. “Kau merasakannya?” Vio berhenti diikuti semuanya yang berdiri mematung, berusaha menangkap sinyal kedatangan dari belankang. “Iblis tingkat tiga,” ucap Sargon lelah. “Bagaimana mereka masih bisa menemukan kita?” timpat Valrey sama lelahnya dengan Sargon. Mau tak mau mereka mengambil posisi siaga saat pancaran aura itu semakin mendekat, bahkan ini sangat kencang dari biasanya. Arahnya, juga tak salah, benar-benar jelas menuju langsung pada merka. Vio menatap kelompoknya bergantian, memastikan mereka siap. Namun dua orang yang tak ia sadari entah kemana, mendadak muncul di depan mereka. “Untung saja aku dalam posisi santai. Huh!” dengus Valrey. Tenrnyata aura yang mereka rasakan adalah Raph dan Lucky. Setelah memastikan berdiri dalam posisi stabil, dua orang manusia masing-masing turun dari punggung Raph dan Lucky. “Siapa mereka?” Vio heran. “Mereka dari kelompok suku pedalaman. Kami tadi menemukan mereka dalam keadaan ptak sadarkan diri di tepi sungai.” Lucky menjelaskan. “Lalu kenapa kalian tidak memanggil kami?” tanya Vio kembali, matanya waspada menatap kedua orang asing itu. Dia sekolas melihat ekpresi dingin Sargon yang jelas sekali ditujukan pada dua orang itu. “Apa peduli kita pada mereka. “ Sargon berucap dengan nada ketus yang sengaja ia keluarkan, lalu membuang muka seperti anak kecil yang merajuk. “Hei, sudahlah.” Lucy menepuk pundak Sargon untuk menenangkan emosinya. “Jadi? Perasaanku benar, ya.” Vio yang duduk bersila dengan posisi sedikit membungkuk, sekarang menyandarkan punggungnya ke pohon yang sepertinya sudah berumur seratus tahun lebih. “Tahoi sebenarnya menyetujui ajakan Yelvan karena hendak mengambil akar dari pohon Dagor yang satu-satunya ada di dalam kerajaan.” Jelas Yuvop, salah satu pria dari suku pedalaman yang dibawa oleh Lucky. “Pohon Dagor? Aku baru dengar jenis itu,” Lucky menerawan dengan kening yang berkerut. “Dagor? Itu adalah pohon yang sering kupanjat waktu kecil dulu,” seru Valrey. Semua mata terkecuali dua orang suku pedalaman menatap denan pandangan tak percaya, seakan Valrey mengada-ada. “Tapi pohon itu sudah habis puluhan tahun lalu. Pohon terakhir ditemukan Tahoi saat menjelajah hutan di pulau Senka. Mirisnya, pohon itu juga sudah mati.” “Kalian pikir aku mengada-ada?” Valrey sekarang menatap semua orang di sekelilingnya bergantian. Vio mengibaskan tangan sekilas, lalu bertanya lagi pada Yuvop, “Memangnya Tahoi memutuhkan daun itu untuk apa?” Yuvop dan temannya tak menjawab dan saling melempar pandang aneh. Mereka berdua hanya menggeleng tanpa berani menatap Vio. “Satu hal lagi. Kami butuh bantuan kalian untuk membawa semua orang keluar darikerajaan Yelvan.” Kali ini Yuvop menatap Valrey dengan pandangan memohon. “Bukankan kalian yang ingin tetap disana? Kalian lupa?” ujar Sargon tajam. Tak ada dari merka yang berani menyanggah karena itulah keinginan Tahoi pada awalnya. Namun semua berubah saat Tahoi tahu bahwa Yelvan akan menjadikan mereka sebagai bahan penelitian. “Kami akan menjadi budakmu seumur hidup,” ucap Yuvop yang disambut pandangan tak percaya oleh temannya yang tak berbicara dari tadi. Ia pasti tak menyetujui keputusan temannya itu yang diambil sebelah pihak. Sargon membuang muka dan tersenyum sinis. Ia merasa mereka hanya sedang mempermainkan dirinya dan teman-teman kelompoknya. Ia seharusnya memarahi Lucky dan Raph yang menjadi sok pahlawan dan membawa dua orang ‘rimba’ ini ke hadapannya. “Sudahlah. Kami rasa kepala sukumu itu lebih pintar untuk mencari cara menyelamatkan kalian.” Sargon berdiri dan menepuk beberapa kali celananya yang kotor karena tanah. Ia sedikit menghentakkan kaki ketika mengambil langkah pertama. Membuat Vio menjadikannya bahan cemoohan. “Kau benar-benar bekas prajurit sejati, Sargon!” seru Vio yang langsung membuat Sargon berhenti dan berbalik menuntut penjelasan dari perkataannya tadi. “Sudah, sudah…” Lucy berusaha menenangkan. “Aku rasa…” suara Raph yang mendadak muncul membuat semua mata beralih padanya, kemudian ia melanjutkan. “Ini ada hubungannya dengan telapati mimpi yang kau alami semalam.” Raph mengarahkan mata pada Valrey yang membalasnya dengan pandangan tak mengerti. Lalu tiba-tiba tersentak dan berdiri. Membuat Lucy sedikit memiringkan tubuh agar tak terkena kibasan tas Valrey yang bergelayut di samping. “Kalu benar, Rhap! Aku mengerti sekarang. Semua kejadian di mimpiku semalam, mengarah pada keadaan yang dialami Sargon dan yang lainnya. Pasti begitu!” “Apa maksudmu?” tanya Vio tak mengerti. “Kau ingat tentang telepati mimpi yang dijelaskan Raph tadi malam. Kau membangukanku tepat saat pasukan manusia iblis Raja Yelvan menyerang kerajaan Pukane.” Mata Valrey ersinar karena paham maksud dari mimpinya, lalu juga mengingatkan kedua teman iblisnya tentang mimpi yang sama setelah mereka makan. “Memang aku merasa mimpi itu bukan sebuah kebetulan,” ucap Lucy ragu. Semua mata sekarang menatap Sargon yang mulai menegerutkan keningnya. Ia hanya enggan mengakui jika memiliki pendapat yang sama dan memilih diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN