Lugos tak berkutik setelah menerima serangan dari Yelvan. Tak ada seorangpun yang bernaimendekat untuk membantu Lugos, hingga Maya datang dan segera membantunya berdiri.
“Sebaiknya segera kau lacak keberadaan mereka, sebelum aku membelah setiap titik badanmu untuk penelitianku!” Suara kemarahan Yelvan menggelegar memenuhi aula yang sudah hampir hancir karena pertarungan Sargon dan Lugos.
“Lugos! Aku akan mengobatimu,” ucap Maya.
Semua mata itu sekarang menatap Lugos yang berjalan tertatih karena menahan sakit dari beberapa tulang rusuknya yang patah setelah menerima serangan dari Yelvan. Ia yang tak mengira Yelvan akan langsung menyerang dengan mode iblis sama sekali tak sempat membuat pertahanan diri.
“Jika itu bukan kau. Aku tak yakin hanya akan mengalami patah tulang rusuk.” Maya memapah Lugos untuk berbaring di ranjang darurat yang disediakan untuk mereka. Walau menyambut kedatangan tamunya dengan mewah, tapi tidak dengan fasilitas lainnya. Tak beda dengan markas darurat yang selama ini tersebar di beberapa lokasi.
“Panggil penjaga gerbang yang berjaga pagi tadi!” bentak Yelvan pada salah seorang bawahannya yang bergegas meninggalkan ruangan.
Yelvan benar-benar tak habis pikir dengan Lugos yang terpancing emosi, hingga membuat perseteruan dengan mereka.
PRANG!!!
Gelas yang tadi di genggamannya pecah menjadi serpihan kecil disusul tetesan darah yang mengalir dari luka di telapak tangannya. Namun sepertinya rasa sakit itu sama sekali tak mempengaruhi Yelvan karena tak lama kemudia luka itu tertutup dengan sendirinya.
“Aku satu-satunya raja di sini, bahkan melebihi Melchoir!” ucap Yelvan kasar. Ia berdiri dan menataphutan di kejauhan dari jendela ruangan ini. Seolah bisa melihat Valrey dan kelompoknya sedang berada di sana.
Semua rencananya harus terwujud, walaupun harus dengan paksaan.
“Yang Mulia, mereka sudah di sini.” Pria yang tadi menerima perintah Yelvan untuk memanggil semua penjaga yang bertugas pagi tadi ssegera meninggalkan ruangan.
Seketika pintu ditutup, keringat sudah membasahi wajah bahkan seluruh tubuh mereka.
“Y-Yang Mulia.” Antony sebagai ketua tim penjaga pagi tadi tak bisa menyembunyikan gugupnya saat berhadapan dengan Yelvan.
Selama ini Raja Yelvan sudah diirngi oleh desas desus kekejamannya di balik topeng ramahnya yang menghiasi wajahnya setiap saat. Antony dan bawahannya susah payah menenggak ludah yang sama sekali taka da gunanya. Kerongkongan mereka tetap kering karena ditutupi rasa cemas.
Yelvan langsung mengangkat telunjuknya sambil tetap membelakangi mereka. Matanya masih focus pada ratusan pohon di kejauhan yang sekarang pasti sedang dilewati targetnya. Mereka semua serentak menahan napas menunggu reaksi dari Yelvan.
“Baiklah,” ucap Yelvan pelan. Ia memutar tubuh dan membawanya menduduki kursi di mejanya.
Ia menatap satu persatu enam wajah yang sekarang berdiri di depannya. Tak satupun pemilik wajah itu yang berani mengangkat wajah untuk balas menatap Yelvan. Bahkan bernapaspun mereka rasanya tak berani.
“Antony, bukan?” Pertanyaan singkan Yelvan erhasil membuat semua bahu terangkat sekilas. Mereka seolah berhadapan dengan iblis paling kejam di dunia saat ini dan tengah menunggu kuku-kuku tajam itu mengoyak tubuh mereka satu persatu.
“S-siap, Yang Mulia!” jawab Antony berusaha setegas mungkin walau ia masih tergagap.
“Kau tahu bagaimana keadaan di ruang uji delapan sekarang?” tanya Yelvan tak acuh.
Antony sangat heran mendengar pertanyaan dari Yelvan. Ini sama sekali taka da hubungannya dengan kesalahan yang ia lakukan tadi. Lambatnya jawaban yang ingin didengar Yelvan, membuatnya mengetuk meja untuk mendapatkan focus Antony. Sebelah alis Yelvan naik masih menunggu jawaban dari petugasnya itu.
“Saya belum mendengar kabar terbaru tentang kondisi ruang uji delapan, Yang Mulia,” jawab Antony.
Walau masih dengan kepala menunduk, tapi beberapa di antara mereka saling melempar pandangan heran. Walaupun sama sekali tak menginginkan hukuman, tapi pertanyaan saat ini berhasil membuat mereka heran.
“Baiklah. Kau dan timmu segera periksa keadaan di sana.” Yelvan sekali lagi berhasil membuat mereka terperangah sekaligus lega.
“Sekarang, Yang Mulia?” Antony menyesali pertanyaan bodohnya yang bisa saja membuat Yelvan berubah pikiran.
Tatapan dingin Yelvan dari sudut matanya memberi jawaban yang sangat jelas bagi Antobny dan bawahannya.
Di koridor menuju ruang penelitian.
“Aku berpikir kita akan kehilangan kepala karena seudah membiarkan manusia iblis itu pergi dari sini,” ucap salah seorang abawahan Antony yang berjalan dibelakangnya.
Antony bukanlah tipe prajurit kaku yang gila hormat dari bawahannya. Dia tak masalah dengan gaya santai bawahannya selama mereka tetap menjalankan tugas dan tidak melampaui batas.
“Tapi bukankah ruang uji delapan untuk ‘mereka’ yang gagal melalui penelitian?” ucapnya lagi.
“Berarti tak ada apa-apa di sana,” balas pria yang lebih muda di sampingnya.
Di ujung koridor mereka bisa melihat angka delapan yang bertuliskan dengan cat merah dan sangat kontras dengan warna pintu besi yang putih. Antony sejenak menghentikan langkah yang juga diikuti oleh bawahannya. Ia ragu dan merasa tak nyaman melihat empat orang penjaga yang berdiri di depan pintu dengan masing-masing senjata berat di tangan mereka. Antonuy juga melihat beberapa buah granat yang terselip di pinggang celana mereka.
“Kenapa, Pak?” tanya salah satu bawahannya yang paling cerewet karena sepanjang perjalanan tadi hanya dia yang mengoceh.
“Bukankah isi ruang uji delapan adalah mereka yang gagal dalam penelitian?” tanya Antony meyakinkan diri.
Lima orang di belakangnya saling pandang dan seolah sama-sama menyadari sesuatu, wajahnya berubah cemas dan takut. Antony juga reflek mundur beberapa langkah dan terhenti karena menabrak Dave, si cerewet di dalam timnya.
“P-Pak?” Dave tak bisa mundur lagi karena di belakang mereka sudah berdiri dua orang penjaga lainnya dengan senjata berat, persis seperti empat orang di dekat pintu.
“Bukankah mereka yang gagal itu adalah mayat? Kita hanya akan memindahkan mayat-mayat itu, bukan?” Dave dengan gugup melirik pada pria yang masih berdiri tanpa menghiraukan ketakutannya.
“Lebih baik kalian segera masuk, agar kami bisa beristirahat.” Salah seorang penjaga di depan pintu berseru pada tim Antony.
Mau tak mau mereka maju dan masuk ke dalam pintu karena desakkan dari dua pria yang berjalan di belakang. Lebih tepatnya, mendorong mereka.
“Kami hanya akan mengantar sampai di sini. Kalian silahkan berjalan lurus dan dua orang di dalam sana akan mengantarkan kalian pada perkerjaan yang menanti,” ucap penjaga yang keluar paling akhir sebelum menutup pintu.
“Ayo! Kita selesaikan dengan cepat,” perintah Antony yang diikuti oleh lima orang anggota timnya.
Di luar pintu.
“Seandainya mereka tahu apa ‘pekerjaan’ yang menanti di dalam sana.” Penjaga yang tadi menutup pintu menatap sekilas pada tim Antony yang dengan langkah mantap berjalan semakin dalam.
Setelah mereka menghilang di balik pintu kedua, penam orang penjaga dengan senjata lengkap itu menarik turun sebuah tuas di sisi kanan yang mengaktifkan sebuah pintu baja yang menutup habis tulisan angka delapan. Lalu berjalan meninggalkan pintu, menyusurikoridor untuk kembali keluar. Mereka sudah terbiasa mendengar teriakkan dari dalam sana, hampir setiap hari teriakkan manusia-manusia ‘polos’ itu mengisi gendang telinga mereka.