Yelvan membawa tubuhnya yang terasa lelah karena sudah menempuh perjalanan berhari-hari. Deringa telpon menarik perhatiannya, sebelum deringan ke tiga Yelvan mengangkatnya tanpa berkata apapun, lalu diam mendengarkan selama beberapa detik dan mengembalikan telpon itu ke tempatnya.
Ia baru saja menerima laporan dari salah seorang tim penjaga ruang penelitian delapan bahwa ‘makan siang’ mereka sudah dikirim. Yelvan tersenyum sinis dan memutar kursinya menghadap jendela. Matanya kembali memadang pepohonan yang tumbuh dalam kelompok besar di depa sana. Ia memikiran hukuman bagi para bawahannya yang tak becus bekerja. Dikirim ke ruang penelitian delapan adalah yang paling cocok.
Ruangan itu adalah tempat kurungan bagi manusia-manusia yang gagal beradaptasi dengan sel iblis. kegagalan di sana bukanlah kemaian, tapi dalam bentuk lain. Sifat agresif yang muncul dan haus akan darah manusia, itulah sifat alami iblis yang lebih dominan muncul di tubuh mereka. sekali seminggu Yelvan akan memerintahkan tim penanggug jawab ruag peelitian delapan untuk mencarikan ‘makan siang’ mereka. Biasanya mereka akan mengirim dua sampai lima orang pemberontak yang berada di ruang tahanan bawah tanah. Namu kali ini Yelva sengaja memberi Atony dan timnya peritah bunuh diri. Semua karena Atony membiarkan Valrey dan orang-orang yang Yelva butuhkan untuk penelitiannya dilepaskan secara mudah.
Di kerajaan iblis.
“Jendral Zarek, kali ini aku akan mengirimmu dan pasukan barumu untuk menyerang Yelvan dan kerajaannya. Aku ingin melihat kecerdikanmu dalam perangseperti yang selama ini kau gunakan untuk melawanku dan kerajaanku.” Jendral Murdock berdiri dan meninggalkan Zarek usai memberikan perintah.
Eva mendekati Zarek dan berbisik di telinganya. Sekilas cahaya putih memenuhi bola mata Zarek dan ia mengangguk. Zarek segera memimpin ratusan pasukan iblis tingakt lima dan empat untuk menyerang kerajaan Yelvan.
Eva memandangi punggung Zarek yang menghilang di balik tiang kokoh di ujung sana. Tangannya tengah menggenggam sebongkah batu yang tampak biasa dengan warna hitam pekat tapi memnacarkan aura yang sangat kuat dan bisa membuat siapapun bertaruh nyawa untuk mendapatkan batu itu. Ia berlalu dan menyusul Melchoir yang sedang duduk di singgasananya.
“Sebentar lagi, Rajaku. Kau akan menjadi iblis terkuat di muka bumi,” ucap Eva dan menatap Melchoir dari sudut matanya dengan senyum tipis.
Penyerangan akan mereka lakukan sekarang. Ratusan pasukan iblis itu berteriak sebelum melompat tinggi dan berlari menuju kerajaan Yelvan.
Yelvan yang tak bisa merasakan aura iblis sma sekali tak mengira jika kerajaannya akan diserang saat ini. Pasukan iblis dengan gampang membantai penjaga yang tak siap kedatangan tamu tak diundang.
“Zyan! Persiapkan mereka semua!” teriak Yelvan seraya menyusuri koridor dan keluar untuk terjun langsung menghadapi serangan.
Ternyata Zyan sudah mengerahkan semua pasukan pemburu iblisnya dan unutk sementara mereka bisa mengimbangi serangan iblis. Yelvan berada di balkon kerajaan di lantai tiga dan melihat semua sudut kerajaannya sudah dimasuki oleh musuh.
“Cih! Sial!!” Yelvan membatalkan niatnya untuk ikut turun ke medan pertempuran dan merai telepon terdekat.
“Lepaskan mereka semua!” betaknya pada bawahannya yang menjawab dengan terbata-bata.
Semua penjaga di ruang penelitian enam, tujuh, delapan, dan sembilan bergegas menurunkan tuas pada pintu baja pertama. Lalu segera berlari untuk keluar dari sana. Semua makhluk uji coba yang gagal ada di empat ruangan itu dan mereka sama sekali tak memiliki insting manusia lagi.
“Tunggu!!” seorang penjaga yang berlari paling belakang telat beberapa langkah untuk mesuk ke dalam lift dan tak ada yang berniat menahan pintu lift untuknya
Penghuni lift itu masih sempat menyaksikan ketika tubuh teman mereka yang malang itu dalam sekejap dicabik menjadi beberapa bagian oleh makhluk yang baru saja mereka lepaskan. Cipratan darah mengenai wajah dan baju mereka hingga akhirnya pintu lift tertutup sempurna dan bergerak turun. Tak ada yang berani berbicara selama lift bergerak, mereka membayangkan jika diri merekalah yang berada di situasi tadi.
Dalam sekejap, beberapa iblis berhasil masuk ke dalam kerajaan dan mulai membantai semua manusia yang ditemuinya. Genangan darah dan bau anyir memenuhi ruangan dan koridor di sana. Raja Yelvan lagsung berubah menjadi iblis dan langsung menyerang iblis yang ada di depan matanya. beberapa luka dari serangan balik yang ia terima dalam sekejap kembali menutup. Yelvan benar-benar membantai semua iblis membabi buta.
“AARRGH!!” Yelvan berteriak murka melihat keadaan kerajaannya yang sudah kacau balau.
Saat mecari iblis berikutnya, seketika matanya terpaku pada sosok pengkhianat yang berdiri di atas kuda dengan tatapan dingin seperti mayat hidup. Zarek sang pengkhianat. Yelvan berniat utuk menyerang Zarek, tapi ia kembali diserang oleh beberapa iblis sekaligus. Teriakkan amarah Yelvan sempat menarik perhatian Zarek, lalu ia kembali focus pada pertarungan di depannya dan tak memperdulikan Yelvan.
“Zarek!” Zyan berteriak di tengah pertarungan saat ia juga menyadari kehadiran Zarek di belakang sana.
Zarek sama sekali tak merespon panggilan mnatan orang kepercayaannya itu. Zyan dengan susah payah melawan iblis yang tak pernah habis dengan pedang tulang iblis yang dulu dipakai oleh Zarek. Berutug ia mendapat celah dan mengejar Zarek yang sekarang mulai meninggalkan pertarungan denga kudanya.
“Zarek!” teriak Zyan kembali.
Zarek menghentikan kudanya dan menatap Zyan tapi taka da kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Apa yang dijanjikan Melchoir padamu, sehingga kau mengkhianati kaummu sendiri?” Zyan yag sudah kalut hendak menyerang Zarek tapi medadak mendapat serangan dari samping, hingga ia gagal menyusul Zarek yang kembali menjalankan kudanya.
“Kalian memang memiliki akhli perang yang sempurna,” ucap iblis itu pada Zyan.
Zyan mulai kelelahan karena sudah banyak melawan iblis dari tadi. Di saat-saat terakhirnya, sebuah iblis lain dengan bentuk berbeda meyerang iblis di hadapannya tanpa ampun. Kecepatanya benar-benar jauh di atas iblis tingkat empat. Zyan yang sadar akan makhluk itusegera megambil kesempatan untuk lari menyelamatkan diri. Makhluk itu adalah salah satu dari objek penelitian yang gagal, mereka pasti sengaja dilepaskan oleh Raja Yelvan untuk mengimbangi keadaan.
Zyan kembali menuju kerajaan dan melihat sudah banyak mayat ibis yang tak utuh bersamaan dengan mayat bawahannya. Beberapa makhluk itu juga ada yang tewas, darah mereka yang hitam dan sedikit busuk berceceran di mana-mana. Sebuah suara di lantai dua menarik mata Zyan, ia melihat Raja Yelvan yang diserang oleh makhluk ciptaanya sediri. Sudah terlambat untuk menyelamatkan Yelvan yang sudah terkulai di tangan makhluk buasnya. Senjataya telah merenggut nyawaya sediri.
Zyan yag menyadari jika Yelvan tak agi bernyawa, bergegas bersembuyi sebeum keberadaannya diketahui oleh makhluk itu. Kecepatan serangan mereka takkan bisa diimbangi oleh Zyan.
“Sssst!” Zyan mendekatkan telunjuknya pada dua orang prajurit yang juga bersembunyi di sampingya.
Makhluk itu sedang berusaha mencari kehadiran makhluk hidup lain yang akan menjadi mangsanya. Untung saja ia tak menyadari tiga orang yag sedang bersembunyi tak jauh darinya, lalu berlari masuk kedalam hutan dengan kecepatan tinggi.
Mereka bertiga adalah saksi kematian Raja Yelvan yang Bijaksana.