Pasukan Demon

1007 Kata
Murdoc adalah Jendral terkuat di antara 10 Jendral kemungkinan Valrey untuk bertahan adalah 1% tapi tidak ada pilihan lain bagi Valrey untuk bertahan. "Maafkan aku tuan, tebakan anda benar," Valrey menjawab. "Dan dia sampai mentransferkan kekuatannya!! Apa yang manusia itu perbuat terhadap adikku? Sampai dia rela membagi kekuatannya. Aku akan menghentikannya!!" Murdoc murka lantas dia mengeluarkan energi yang dahsyat dan aura yang mencekam. "Maaf tuan, beliau berpesan agar tidak ada yang mengganggu beliau berkonsentrasi. Ini semua mutlak keputusannya tidak ada hasutan dari Siapapun." Valrey mengeluarkan aura bertarung dan menarik pedangnya. Walaupun aura bertarung yang Valrey keluarkan tidak sebesar Murdoc. "Hahaha ...." Murdoc tertawa keras. “Apakah kau tidak bisa mengukur kekuatan kita? Kekuatan kita terlampau jauh, dan apakah kau berharap bisa menang karena jumlah?" Murdoc dapat merasakan bahwa banyak pasukan di sekitarnya. "Walaupun kekuatan kita berbeda jauh, setidaknya saya harus mencoba menahannya walaupun sebentar." Valrey menunduk hormat walaupun akan menjadi lawan bertarungnya, Valrey tetap menghormati Murdoc sebagai atasannya. "Baiklah aku tidak akan segan, kuakui keberanianmu. Kupastikan kau mati dengan terhormat." Murdoc langsung melesat ke arah Valrey, dia dihadang beberapa prajurit bawahan Valrey. Pertarungan berat sebelah ini merugikan pihak Valrey, banyak anggotanya yang kehilangan nyawa hanya dengan satu tebasan saja. Pedang merah menyala milik Murdoc masih membabat lawannya dengan ganas. Pedang ini adalah salah satu dari pedang pusaka berbentuk pedang bergerigi. Krak ... bunyi tulang patah di tebas oleh Murdoc. "Hahaha ... lumayan juga pemanasan yang kau berikan. Sekarang giliranmu!!" Murdoc menunjuk ke arah Valrey. Valrey tersenyum dan bersedih karena pasukannya hanya tersisa 10 orang. Sean menunjuk ke sepuluh orang itu untuk menyelamatkan Raph dan yang lainnya. "Kalian pergilah selamatkan mereka, bawa mereka jauh dari sini. Aku akan menahannya disini." Mereka bersepuluh pun patuh dengan perintahnya, mereka bergegas pergi. "Tak akan aku biarkan kalian berbuat seenaknya." Murdoc berteriak. Murdoc melesat dengan kecepatan tinggi di susul oleh Valrey karena dia tau Murdoc tidak akan melepaskan mereka. Trang .... Suara benturan pedang beradu. Valrey menahan serang yang Murdoc berikan. "Lawanmu adalah aku!!" Valrey berbicara pelan namun didengar jelas oleh Murdoc. "Beraninya kau menghalangiku, kalau begitu akan ku percepat kematianmu." Valrey bersusah payah menahan semua serangan yang dia terima, darah segar mengalir di sudut bibirnya. "Sial ternyata hanya sampai disini saja." Valrey berbicara dalam hati. "Sebaiknya kau menyerah!! Aku akan memaafkan kesalahanmu dan akan ku biarkan kau menjadi tangan kananku." Murdoc memberi tawaran kepada Valrey. "Maaf dengan hormat aku menolak tawaran anda tuan." Valrey bersusah payah berdiri di bantu dengan pedangnya. "Kuakui kesetiaan mu, tapi kau salah karena telah berkhianat.“ Pertempuran kembali terjadi, Valrey yang telah kehilangannya setengah kekuatannya jatuh tersungkur karena tendangan keras di perutnya. Valrey terbatuk mengeluarkan darah dari mulutnya. Murdoc tidak melepaskan kesempatan dia berlari ke arah Valrey yang tertunduk kesakitan. Sesaat sebelum ujung pedang mengenai leher Valrey, sebuah bayangan tengah berdiri di depan nya. Trang ... suara pedang beradu menahan laju pedang Murdoc. Murdoc mundur beberapa meter dari sana. "Maaf telah merepotkanmu, dari sini biar aku yang hadapi kau beristirahat lah." Valrey merasa familiar dengan suara tersebut, dengan mata yang sudah tertutup darah dia mengetahui orang yang menyelamatkannya adalah Vargas. "Tu-Tuan Vargas,” sesaat setelah berbicara Valrey pingsan. "Kau telah berjuang dengan baik," Gumam Vargas dalam hati. "Kakak," Vargas menatap tajam ke arah Murdoc. "Apa? Apakah kau akan menjelaskan semua ini? Jangan kau kira kau adik kesayanganku aku akan melepaskanmu begitu saja tanpa pertanggungjawaban yang pasti," "Aku akan menanggung semua yang ku perbuat, tapi sebelum itu apakah kau akan mengabulkan satu permintaan terakhirku sebagai adik? Sebelum aku menjadi musuhmu." Murdoc marah dengan perkataan yang dilontarkan Vargas, karena tidak menyangka bahwa adik kesayangannya ini akan mengkhianati kaumnya sendiri. "Apakah dengan berkhianat aku akan mengabulkan lagi permintaanmu!! selama ini aku menyayangimu dengan setulus hati. Karena hanya dirimu yang tidak memiliki kekuatan seperti adik-adikku yang lain, kau begitu lemah dengan hatimu yang tidak ingin melukai siapapun itu bertentangan dengan sifat alami kaum kita. Maka dari itu aku mengajarimu walaupun tak akan kau gunakan kekuatan tersebut. Tapi sekarang aku salah, kebaikan hatimu membuat kau salah jalan dari kaum kita." Murdoc bercerita karena dia sama sekali tidak percaya adik kesayangannya mengkhianati dirinya dan kaumnya. "Sebelumnya terimakasih kakak telah menyayangiku dengan baik hati, tapi aku memohon maaf bila jalan yang ku pilih berbeda dengan apa yang kau inginkan," "Baiklah kalau itu pilihanmu." Murdoc langsung menyerang tanpa ampun, Vargas yang hanya bisa bertahan tidak bergeming. Dia masih mengimbangi kecepatan Murdoc. "Tak kusangka adikku ini sekarang mempunyai kekuatan yang hebat." Murdoc memuji kecepatan Vargas. "Ini semua karena ajaranmu, kalau tidak aku tidak akan seperti ini." Sambil bertukar jurus mereka berbicara tanpa jeda. Setelah bertukar ratusan jurus Murdoc melihat celah. Sreng ... bahu sebelah kiri Vargas tertebas oleh Murdoc. Luka yang diderita Vargas cukup parah, darah yang mengalir di bahunya membasahi tubuh dan pakaiannya. “Ternyata kekuatanku belum bisa menandingi kakak tertuaku." Vargas tersenyum getir sambil menahan sakit akibat tebasan Murdoc. "Itu semua karena kau telah membagi kekuatanmu, aku harus membunuh pemuda itu." Murdoc berjalan ke arah dimana Lucky berbaring. "Hentikan!! Yang kau inginkan hanya aku, aku siap menerima hukumanmu," "Apakah kau rela kehilangan nyawamu untuk pemuda ini? Bukankah kau tau hukuman untuk pengkhianat adalah hukuman mati," "Ya aku tau, aku tidak akan menyesal mati di tangan kakak yang menyayangiku," Di satu sisi Valrey yang telah tersadar mencoba untuk bangkit. "Tu-Tuan Vargas," "Kau sudah bangun ternyata, baguslah. Aku punya satu permintaan terakhir untukmu. Bawalah pemuda itu sejauh mungkin, bantu dia menyempurnakan kekuatan yang ku berikan." Vargas berbicara melalui telepati kepada Valrey. Dengan sisa-sisa kekuatannya Valrey bergegas menghampiri Lucky dan membawanya pergi. Valrey berlari dengan cepat secepat yang dia bisa dari sisa-sisa kekuatannya. Sebelum dia terlalu jauh dia merasakan kekuatan yang tidak biasa dari arah Vargas dan Murdoc berada. Lantas Valrey berhenti dan menoleh ke arah mereka berdua. Terlihat cahaya kehijauan mengelilingi tempat tersebut. "It-Itu bukannya cahaya penyegelan, mungkinkah Tuan Murdoc tidak membunuh Tuan Vargas tapi menyegelnya." Valrey tau kalau Murdoc tidak mungkin membunuh adik kesayangannya tersebut. Ada secerca harapan untuk membangkitkan tuannya tersebut, harapan tersebut adalah melatih Lucky karena kekuatan yang diberikan tuannya bukan kekuatan biasa. Valrey bersungguh dalam hati untuk mengajarkan Lucky menyempurnakan kekuatannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN