PENGENDALIAN DIRI

1343 Kata
Di lokasi pertarungan, sinar hijau yang sebelumnya meluas perlahan menghilang. Murdock berdiri di tengah lahan pertarungan yang sekelilingnya telah hancur, meninggalkan tanah yang berubah hitam karena api pertarungan tadi. Wajahnya dingin, tak bisa ditebak apa yang tengah dia pikirkan. Sesaat ia menatap jauh kea rah selatan, ke arah Gunung Pukane. “Aku akan memberikan kalian waktu untuk beristirahat.” Senyum bengis menghias wajahnya. Kemudian dalam sekejap menghilang dari sana. Jenderal Murdock kembali menuju kerajaan untuk melaporkan kejadian tadi pada pimpinannya, Raja Iblis Melchoir. “Yang Mulia, hamba ingin melaporkan sesuatu.” Murdoc berlutut pada Melchoir yang tengah memunggunginya. “Hmm.” “Vargas telah mengkhianati kaum kita,” Diam sesaat, kemudian Raja Iblis Melchoir memutar badan menatap pada Jendral kepercayaannya itu. Ia menatap tajam tapi tak membuat Jenderal Murdock bergerak sedikitpun dari posisi awal. Aura iblis terbesar dan terkuat perlahan memenuhi ruangan yang luas ini. Jendral Murdoc tak berani mengangkat kepalanya, hanya menunduk, menunggu titah yang akan keluar dari mulut rajanya. “Lantas, apa yang pantas diterima oleh penghkhianat seperti adikmu, Murdock?” Raja Iblis Melchoir berjalan perlahan menuju Murdock yang sama sekali tak berani mengangkat kepalanya. “K-kematian, Yang Mulia,” jawab Murdock gugup. Ia benar-benar terintimidasi hanya dengan aura kegelapan yang dipancarkan oleh Melchoir. Si Raja Iblis terkuat, bahkan kematianpun tak berani berurusan dengannya. “Apa kau sudah menghukumnya?” tanya Melchoir dingin, tapi aura kegelapannya perlahan berkurang. Membuat Murdoc sedikit menghirup udara segar. “Sudah, Yang Mulia,” jawabnya lantang. Tak ada jawaban, Murdoc bisa merasakan Raja Melchoir telah memunggunginya kembali lalu berjalan menjauh. Ia sedikit mengangkat kepala, mencari punggung Raja Melchoir, sontak kembali menunduk saat Melchoir menghetikan langkah kakinya dan tiba-tiba Jendral Murdoc terpental hingga menghempas dinding dengan bunyi yang sangat keras. Ia baru saja dihantam dengan bola api oleh Raja Melchoir. Dinding di belakangnya hancur, sementara Murdoc memegangi dadanya menahan sakit dari serangan Rajanya sendiri. Mulutnya mengeluarkan darah segar menandakan betapa besar hantaman bola api yang baru saja ia terima, padahal Murdoc adalah Jendral nomor satu dari sepuluh Jendral yang menandakan ia memiliki kekuatan yang besar, walau tak seimbang dengan Raja Melchoir. “Ukh! Ma- maafkan hamba, Yang Mulia.” Murdock meringis di sela ucapannya. Ia sangat menyadari kesalahan yang diperbuat hingga membuat Raja Melchoir marah. “Apa kau ingin benasib sama seperti adikmu yang lemah itu!?” ucap Raja Melchoir dengan lantang. Suaranya menggelegar seiring aura kegelapan semakin kuat dari sebelumnya. Murdoc melawan rasa sakitnya dan berusaha bangkit, dan berlutut di hadapan Raja Melchoir. Ia sangat tahu penyegelan Vargas akan membuat sang Raja marah. Awalnya ia berencana menyembunyikan penyegelan itu dari raja, tapi semua percuma karena tak ada satu semut kecilpun yang akan lolos tanpa sepengetahuan Sang Raja Iblis. “Berikan padaku!” seru Raja Melchoir lantang. Murdock yang tak dapat mengelak, menyodorkan telapak tangan kanannya pada Raja Melchoir, matanya menatap tajam, berusaha mengeluarkan sesuatu dari telapak tangannya. Sementara Raja Melchoir menatap Murdock dengan senyum sinis, matanya membesar menantikan pemberian Jendral kepercayaannya itu. Perlahan, sekumpulan udara disekitar tangan Murdock seolah berkumpul, secara bertahap berubah menjadi sekumpulan asap hitam dan memadat di atas telapak tangan Sang Jendral. Tak sepenuhnya menjejak di atas tangan itu, seolah melayang, tapi tak mau menjauh. Sebuah bola kaca berisikan asap hijau tua berputar-putar di dalam bola kaca. “Hm.” Senyum mengerikan Raja Melchoir semakin nyata, menatap bola di tangan Murdock Ia mulai melangkah dan berdiri di hadapan Murdock, tanpa basa basi mengambilnya. Mendekatkan bola itu kewajahnya, menatap ke dalam sejenak lalu tertawa. Gelegar tawanya diiringi dentuman guruh di langit luar istana. Beberapa kali Jendral Murdock bisa melihat melalui jendela di depannya, petir menyambar beberapa kali di tempat yang sama. Murdock tahu atas kesalahan yang ia buat. Seharusnya ia membunuh Vargas, juga pemuda yang menerima kekuatan Vargas itu, bukan menyegelnya. “Kau! Bunuh pemuda itu secepatnya!” titah Raja Melchoir. Tangannya meremas bola tadi hingga hancur berkeping-keping. “Baik, Yang Mulia.” Jenderal Murdock lekas undur diri. tubuhnya sudah tak merasakan sakit lagi karena pemulihan tubuhnya yang termasuk cepat. Semakin tinggi tingkatan level Iblis, semakin besar kekuatan yang mereka miliki, begitupun dengan kemampuan mereka dalam memulihkan diri. Di Gunung Pukane. Keadaan di sini terlihat porak poranda. Raph sengaja memilih lokasi jauh dari tempat persembunyian, ia tahu akibat yang akan terjadi dalam proses ini. Lucky tengah berdiri, tercengang melihat keadaan yang ia sebabkan saat menerima Core dari Raph. Ia ingat betul bagaimana dalam hitungan detik langsung kehilangan pengendalian diri, sama sekali tak seperti yang ia bayangkan. Meremehkan seolah bisa menguasainya dengan gampang. Segel yang dibuat penjaga di keempat penjuru mata angin sama sekali tak bersisa, meninggalkan penjaga yang terluka karena amukan Lucky. Pria muda itu mengedarkan pandangan kesekelilingnya, hingga berhenti saat melihat tatapan Raph dan Valrey yang sangat wapada. Tangan Val bersiap dengan pedangnya, sementara Raph dalam posisi siap bertarung. “Raph,” seru Lucky. Nada bersalah terdengar dari panggilannya. Valrey dan Raph saling pandang dan mengangguk. Mereka melunak, serentak menghembuskannapas lega. Lucky sudah selesai menerima ke sepuluh Core dan sudah mendapatkan kendali atas dirinya kembali. “Bagaimana perasaanmu?” tanya Raph, masih sedikit waspada. “Badanku terasa sangat ringan, hingga sepertinya akan terbang jika tertiup angin. Tapi… “ Ia menatap kedua tangannya yang sekarang berwarna hitam dan bersisik. Persis dengan tangan Iblis. “Tak apa. Akan hilang dalam beberapa jam,” ucap Raph menenangkan. Valrey dibantu beberapa orang yang baru datang mengangkut para pembuat segel yang terluka dan tak sadarkan diri. “Apa—apa mereka tewas?” Lucky merasa cemas. Raph bergegas memegang pundak Lucky, menenangkannya. “Mereka hanya pingsan karena menerima amukanmu tadi,” Ucapnya. Raph tahu Lucky harus menjaga emosinya agar tak lepas kendali hingga ia bisa mengendalikan kekuatan iblis di dalam sana sepenuhnya. Raph tahu betul kejadian tadi hanya secuil hasil dari amukan Luck. “Kau harus berusaha mengatur emosimu mulai dari saat ini,” ucap Raph. Ia tak berniat menyembunyikannya. Lucky mengangguk dengan mata bersungguh-sungguh. Ia tak ingin semua terjadi sebaliknya. Mereka memutuskan kembali ke lokasi persembunyian. Lucky mendadak merasa sangat lelah, seolah baru saja menggulingkan beberapa batu besar dan mendorongnya mendaki bukit. Di lokasi persembunyian. “Kalian baik-baik saja?” Vio menatap cemas saat Raph dan Lucky sampai di sana. Tak ada jawaban dari keduanya. Raph mendadak berjalan dan masuk ke dalam tenda penyembuhan. Ia pasti ingin memastikan keadaan empat penjaga tadi. “Lucky,” panggil Vio. Tanpa suara Lucky menatap lekat mata Vio sebagai jawaban. Vio mulai membuka suara, “Aku tahu kau pasti bisa menerima kekuatan Vargas dengan baik.” Lucky masih tak menjawab, ia bisa merasakan sesuatu menjalar dari lengan menuju ujung jemarinya. Ia sontak mengangkat dan melihat jika tangannya perlahan kembali ke bentuk semula. “Kau sudah mulai mengendalikannya,” Suara Raph yang tiba-tiba muncul di belakangnya mengalihkan perhatian Lucky. “Bagaimana kau tahu?” Pertama kalinya Lucky mengeluarkan suara sejak sampai di sini. “Tanganmu,” jawab Raph singkat. Lucky menatap tangannya sesaat lalu beralih memandang lagit mendung di atas mereka. sebuah janji di dalam hatinya terucap, ia akan mengalahkan pasukan iblis secepatnya hingga dunia manusia bisa kembali pada mereka. “Aku telah membagi separuh diriku padamu,” bisik sebuah suara yang ta asing didalam kepala Lucky. Ia menatap Raph yang berjalan menjauh, berarti bukan suaranya. “Ini aku, Lucky.” Suara itu muncul kembali. Vargas? Batin Lucky. Suara Vargas di dalam kepalanya terkekeh. Ia senang tak salah memilih pemuda ini sebagai penerima kekuatannya, walau hanya sebagian. Vargas berpikir bahwa Lucky bisa mengendalikan Coredengan cepat, maka dalam waktu singkat ia juga akan bisa menemukan cara untuk menggunakan kekuatan iblis di dalam tubuhnya. Tak ada yang perlu ia khawatirkan lagi. Ia hanya berharap dunia manusia akan kembali kepada mereka. Lucky berusaha berkonsentrasi dan memanggil Vargas berulang kali di dalam pikirannya. Namun taka da jawaban. Baru beberapa langkah, Lucky merasakan sesuatu menerpa tubuhnya, terasa berat tapi tak berwujud, dan sesuatu itu bukanlah angin. Terasa panas juga dingin di saat bersamaan. Lucky tahu sesuatu yang buruk sedang mendekat kea rah mereka. Pembicaraan serius Raph dan Valrey mendadak berhenti, mereka juga meraasakan aura yang sama dengan yang Lucky rasakan. Lima Iblis dengan aura kuat seperti sebelumnya kembali mendekat. “Sial! Mereka menemukan kita!” umpat Raph.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN