Viona tersenyum sembari terus mengangguk, senang rasanya melihat para anggota kini bersenang hati. Hingga ia tak sadar bahwa Lucky telah berada di sebelahnya. Gadis tomboy dan judes seperti Viona ini juga memiliki perasaan, tidak semua wanita bisa luluh jika berada di samping lelaki yang telah membuatnya nyaman. “Kalian akan pergi, bagaimana denganku?” tanya Lucky. Ya, dia bukan anggota Demon Hunter, tidak mungkin dia akan ikut andil dalam peperangan seperti ini, terlebih energi besar yang telah di segel di dalam tubuhnya membuatnya jadi seseorang yang harus di lindungi. “Tidak, kau tidak bisa pergi sekarang.” Valrey tiba-tiba datang dari arah belakang mereka berdua. Mendengar perkataan Valrey, Lucky menunduk lesu. “Mengapa?”
“Karena kau harus di lindungi, ada energi besar yang tersegel di badanmu,” jawab Valrey menjelaskan. “Tapi jika aku di sini belum tentu mereka bisa melindungiku dari iblis, sedangkan semua anggota Demon Hunter akan pergi ke Utara.” Valrey seketika memikirkan apa yang Lucky katakan barusan. Benar juga, jika semua anggota Demon Hunter pergi ke Utara, siapa yang akan menjaga Raja Yelvan dari iblis? Mikey juga turut andil untuk hal ini, Lucy juga demikian, terlebih Viona dan Sargon yang memang harus terus ikut bersama Valrey. “Kami hanya akan membawa setengah dari anggota Demon Hunter, jadi kau tidak perlu khawatir.” Lucky hanya dapat menunduk mengiyakan, jika Valrey sudah dua kali menolak, maka jangan berharap dia akan menerima untuk ketiga kalinya.
Tak lama, Valrey pun membubarkan pasukannya. Hanya tersisa Raph, Sargon, Viona, Lucy, Lucky, dan Erine. Valrey berencana untuk mengatur siapa saja yang akan pergi dan siapa saja yang akan ikut dengannya. “Jadi, siapa yang akan tinggal di sini?” tanya Valrey. Tidak ada yang menjawab, mereka hanya diam sembari memalingkan pandangannya ke arah lain. Valrey mendengus kesal, inilah mengapa dia awalnya tidak ingin mengatakan ini. Karena tidak akan ada yang mau tinggal jika sudah mendapat misi seperti ini. “Raph dan Erine akan berada di sini, aku akan memberi kalian beberapa pasukan untuk berjaga-jaga jika iblis menyerang. Jika keadaan telah benar-benar genting, kalian kirim pesan sesegera mungkin, jangan sampai Raja Yelvan terluka!” Raph dan Erine mengembuskan napasnya berat, padahal mereka sangat berharap untuk ikut andil. Meraka berdua mengangguk paham, membuat Valrey tersenyum sekilas.
Di luar, saat semua sudah bubar. Valrey tengah berbincang-bincang hangat dengan jenderal Sargon di atas balkon markas mereka.
“Apa tidak apa jika kita menyimpan Raph dan Erine di sini? Kita selalu membutuhkan kekuatan medis Erine, dan kita selalu membutuhkan kekuatan Raph.” Valrey terdiam menatap langit yang penuh dengan bintang-bintang. Benar juga apa perkataan jenderal Sargon, tapi jika mereka ikut siapa yang akan memimpin pasukan di sini. “Tidak apa, lagipula Viona dan Lucy ikut, mereka juga belajar ilmu medis akhir-akhir ini.” Jawab Valrey. Sargon hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan, dia tidak bisa membantah perkataan Ketua jika ini masalah misi, karena pemikiran ketua tentunya lebih memikirkan banyak orang. Valrey terus menatap langit malam, hingga Sargon pamit untuk pergi pun dia tetap menatap langit malam yang indah itu. Ada satu yang masih berkelut di pikirannya, bagaimana jika terjadi apa-apa kepada Raja Yelvan atau pun Lucky jika mereka sangat lama di sana?.
***
Pagi menyambut, matahari bersinar dengan layaknya seperti biasanya. Valrey dan Viona telah bangun sejak subuh tadi, mereka berdua kini tengah menyiapkan senjata mereka masing-masing untuk keberangkatan sore ini. “Sarapan sudah siap,” Lucy tiba-tiba muncul dari luar pintu untuk memanggil para anggota sarapan. Ini sebenarnya bukan tugasnya, entah kenapa pagi ini dia memutuskan membuat sarapan untuk para anggota bersama dengan Erine. Tidak dengan Viona, gadis tomboy dan Judes seperti dia tidak mungkin mau melakukan pekerjaan yang bukan pekerjaan seperti itu. Hanya saat merawat Lucky saja dia mau, selain itu tidak akan pernah.
“Wah, there's a lot of food today, apa ada sesuatu yang memengaruhi suasana hatimu Lucy, sampai-sampai kau sangat bahagia hari ini?” tanya Viona penasaran.
“Tidak, aku hanya senang akhirnya setelah sekian lama kita kembali dengan misi,” jawabnya santai. Viona mengangguk paham, dia pun juga sangat senang hari ini. Tidak dengan Valrey yang terlihat masih tetap seperti biasanya. “Val, apa kau sudah mengambil ShutGun mu? Aku tidak melihatnya tadi saat bersiap-siap?” tanya Viona saat Valrey datang.
Ya, karena Viona adalah ladang penyimpanan dan persiapan senjata, jadi dia harus memastikan kemana perginya senjata. “Ya, aku sudah menyimpannya di tas dari tadi malam, apa kau membawa Bazookamu? Kita membutuhkan itu nanti,” Viona mengangguk lalu mulai menyantap hidangan yang Lucy siapkan.
Keberangkatan pun di mulai, para anggota Demon Hunter telah berada di kuda mereka masing-masing. Valrey berada di garda paling depan, di ikuti dengan Jenderal Sargon dan Viona yang berada di belakang kuda Valrey. “Saya percayakan ini kepadamu, Valrey.” Valrey memberikan senyuman kepada Raja Yelvan yang ikut serta menyaksikan perginya setengah di antara para pasukan Demon Hunter. “Viona, jangan sampai kau terluka di sana,” teriakan Lucky secara blak-blakan itu membuat Viona membulatkan matanya sempurna, selinginya dengan wajah yang merah padam menahan malu dan gugupnya. Lucky yang melihat itu hanya dapat tertawa, membuat gadis tomboy menjadi salah tingkah adalah hal langka.
Mereka pun mulai menjalankan kuda mereka masing-masing, beberapa di antara mereka berada tak jauh di belakang kuda Valrey. Posisi mereka kini adalah dengan Valrey yang berada di depan, di susul dengan jenderal Sargon dan Viona, dan di ikuti dengan Mikey dan Lucy yang berada di urutan ketiga.
***
“Salam kepada yang mulia Raja Melchoir,” seorang jenderal dengan baju zirah menghadap ke depan Raja Iblis itu seraya memberikan salam. Terlihat dia adalah seorang manusia.
“Ada apa mencariku, Zarek?” tanya Raja Melchoir dengan pandangan kebelakang tanpa melihat jenderal tersebut. Ya, dia adalah Jenderal Zarek yang di cari oleh Valrey. Entah bagaimana ceritanya, Eva bisa menghipnotis Jenderal Zarek dan menjadikannya pengawal kerajaan iblis ini.
“Saya mendapatkan informasi bahwa pasukan Demon Hunter kini berjalan menuju Utara, untuk tujuannya saya masih belum mengetahui itu. Apa yang akan anda lakukan setelah ini yang mulia?” jelas Zarek. Melchoir berbalik menghadap Zarek yang berada di belakangnya. Pikirannya mulai mencari akal untuk bisa memburu anggota Demon Hunter. Hanya saja, Melchoir sebenarnya ada rasa takut jika harus mengirim bala tentara iblisnya untuk melawan pasukan Elite Demon Hunter ini, karena telah berkali-kali dia mengirim para iblis untuk memusnahkan para manusia ini, yang terjadi malah sebaliknya. Para iblis habis di tangan para pasukan Demon Hunter, itulah mengapa Raja’ Melchoir harus berpikir dua kali untuk mengirim bala tentaranya menuju kematian.
“Sepertinya mereka sudah tau jika kita berada di daerah Utara. Zarek, aku perintahkan kau bersama para iblis lainnya untuk melawan Pasukan Demon Hunter semaksimal mungkin. Aku akan memindahkan markas ke arah barat untuk menghindar dari mereka.” Perintah raja Melchoir. Zarek menganggukkan kepalanya lalu pamit undur diri. “Apa yang mereka pikirkan?” batin Raja Melchoir.
Di pertengahan hutan, terlihat anggota Demon Hunter tengah mendirikan tenda untuk beristirahat. Valrey yang sedang memperbaiki senjatanya tiba-tiba terdiam saat merasakan ada aura yang berbeda dari hutan ini. Hutan yang terletak di antara perbatasan kerajaan raja Yelvan, dan ufuk Utara. Valrey dengan segera beranjak dari duduknya dan berlari menuju tenda para pasukannya. “BERSIAP, PARA IBLIS AKAN MENYERANG DALAM WAKTU 3 MENIT!” teriakan melengking Valrey membuat para pasukan terkejut. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja berteriak akan ada p*********n. Dengan segera pasukan Demon Hunter menyiapkan senjata mereka masing-masing, dan menaiki satu persatu kuda mereka. “Mikey dan Lucy jaga tenda senjata, aku dan Viona akan mengurus bagian depan, dan Jenderal aku harap kau bisa membantu bagian belakang.” Yang di sebutkan namanya seketika mengangguk, masing-masing dari mereka melakukan perintah yang katakan oleh Valrey barusan.
Tiga menit berlalu, terdengar suara kaki kuda yang berlari menuju ke arah mereka. Valrey telah bersiap dengan Shuriken khas miliknya, tak lupa sebuah Shotgun yang sudah terletak bergantung rapi di pinggangnya. “SERANG!” Kuda berlarian dengan cepat, membuat kepulan debu berterbangan. Suara peluru yang ditembakkan menembus telinga. Viona dengan lihainya berlarian tanpa kuda di bawah sana, dua pistol yang sedari tadi berada di tangannya dan sebuah Bazooka yang bertengger rapi di punggungnya. “Yahaha, dasar iblis bodoh.” Viona tertawa seraya terus memburu para iblis. Pasukan memburu dengan santainya, begitupun dengan Valrey yang sama sekali tidak memiliki di badannya karena pertempuran ini. Valrey berbalik, matanya seketika membulat saat melihat Jenderal Zarek yang ia cari berada tepat di belakang jenderal Sargon. Baju zirah dan pedang khas miliknya ternyata masih ia pakai dengan sangat rapi, Valrey tak habis pikir jika Jenderal yang dulu adalah kaki tangan pasukan yang ia pimpin, kini berkhianat menjadi jenderal musuh. “Jenderal!” Sargon seketika berbalik, namun nahas. Jenderal Zarek telah melayangkan pedangnya ke udara. “Dor,” tembakan Shotgun milik Valrey tepat sasaran, menembus pedang milik Jenderal Zarek hingga kini menjadi patah. Sargon secepat kilat menepis pedang yang patah itu dengan pedangnya. Sebuah api berhasil membuat hutan itu terbakar, dan para iblis yang lainnya pun kabur bersama jenderal Zarek. Sargon ingin mengejarnya, namun dengan cepat Valrey menarik tangannya. “Jangan, mereka melakukan itu karena ingin mengalihkan perhatian kita. Markas raja Melchoir berada di daerah Utara, berarti mereka sekarang telah pindah.” Sargon terkejut dengan perkataan Valrey. Benar, tidak mungkin mereka tahu dan langsung menyerang pasukan Demon Hunter hanya karena satu hal dan segera kabur. Itu berarti Raka Melchoir telah memerintah mereka untuk mengalihkan perhatian pasukan Demon Hunter dan memindahkan markas besar mereka. Valrey terdiam sejenak, dan segera memerintahkan pasukan untuk kembali ke tenda. “Kita istirahat saja malam ini, besok kita akan kembali mencari markas Raja Melchoir.” Valrey kemudian berlalu menaiki kudanya dan berjalan menuju tenda. Pikirannya kalut akan teori apa yang sekarang harus ia gunakan. Raja Melchoir telah kabur, jam pendeteksi energi negatifnya juga tidak bisa mendeteksi energi Raja Melchoir karena energinya yang begitu banyak.
Di luar, Viona yang tengah memakan camilan di kagetkan dengan seekor burung gagak yang mendatanginya. “Apa ini?” Dengan segera Viona mengambil kertas yang berada di kaki burung gagak hitam ini. Tangannya bergetar seketika melihat isi dari kertas itu, apa sebenarnya isi dari kertas itu? “Vio, ada apa?” suara Valrey yang tiba-tiba itu membuat Vio seketika menyembunyikan kertas itu di dalam sakunya. “Tidak, cuaca malam ini sangat tenang, apa tidak ada tanda-tanda p*********n malam ini?” tanya Viona. Valrey menggeleng pelan, dia tidak merasakan ada p*********n malam ini.