Raph melirik ke arah Lucky yang tampak kebingungan. Mungkin efek dari pengambilan kekuatan tadi yang tak terduga membuatnya seperti ini. "Merasa lebih baik?" tanyanya membuat Lucky menatapnya.
Lucky terdiam sesaat, tubuhnya terasa lebih segar. Namun, ada rasa lelah karena suatu hal ntah itu apa. Energinya seperti bertambah, ada kekuatan di dalam tubuhnya yang Lucky rasakan.
"Aku ... baik-baik saja," balas Lucky singkat. "Apa yang terjadi padaku? Aku tidak bisa mengingat apa pun," imbuhnya khawatir.
Raph dan Valrey saling menatap, apa yang dikatakan oleh Valrey sebelumnya benar-benar terjadi. Lucky tak dapat mengingat kejadian sebelumnya.
"Tidak terjadi apa pun. Kau perlu istirahat sekarang, setelah pulih kita akan berlatih kembali." Raph menatap Lucky diangguki oleh Valrey, setuju dengan ucapan Raph.
Viona menatap Valrey dan Raph bergantian. Tatapannya penuh dengan tanda tanya, memaksa Valrey ataupun Raph menjelaskan yang sebenarnya padanya dengan jujur.
Namun, yang ditatap malah bersikap biasa saja. Seperti tak ada keresahan apa pun. Tak peduli dengan tatapan Viona yang perlahan berubah menjadi kesal.
Terlihat jelas jika Viona akan mengamuk kesal karena Raph dan Valrey tak memberitahu apa yang terjadi. Ketika Viona akan melayangkan seribu pertanyaan, suara Lucky berhasil membuatnya diam.
"Kepalaku terasa sakit, apa yang terjadi sebelumnya?" tanya Lucky menatap Raph dan Valrey yang saling menatap bergantian.
Terdiam cukup lama, hanya keheningan selanjutnya di antara mereka. Terdengar helaan napas dari Valrey, membuat semua orang menatapnya.
"Begini, sebelumnya kau sudah melakukan penyerapan tenaga roh demi menyempurnakan kekuatan yang ada di dalam tubuhmu. Namun, tenaga roh itu memberontak dan melakukan semuanya dengan menggunakan tubuhmu. Jadi, kami ...." Valrey menatap Rhap sejenak.
Rhap yang ditatap seperti itu langsung mengangguk. Seolah mengerti apa yang Valrey tanya dalam tatapan mata.
Valrey mengangguk mengerti, tatapannya beralih menatap pada Lucky yang tengah berkerut dahi. "Aku menyegelmu, tetapi itu tidak mempan untuk kekuatanmu. Artinya, kekuatanmu aman, hanya perlu dilatih saja agar bisa dikendalikan. Sama halnya dengan meminum obat, ada efek samping tersendiri untukmu, Lucky. Memori ingatanmu akan sedikit hilang, tetapi itu hanya bersifat sementara. Kau tak perlu memikirkannya panjang," tutur Valrey.
Lucky terdiam bergeming. Dia tengah mencerma apa yang dikatakan oleh Valrey sebelumnya. Namun, terdengar suara pekikan dari samping hingga membuatnya terperanjat.
Lucky menatap seorang gadis yang tengah menatapnya serius. Gadis itu mendekat, "Apakah kau mengingatku?" tanyanya khawatir.
Bukannya menjawab, Lucky malah diam tapi kepalanya langsung tertunduk lesu. Seolah menyerah dan tidak mengenal gadis di depannya. Hal itu membuat gadis itu meringis.
Gadis itu berdiri, kemudian menatap Valrey dan Rhap bergantian seperti ingin menangis. "Teman-teman, Lucky bahkan tidak mengingatku," rengeknya menahan isak tangis.
Rhap menatap datar Viona, dia terlihat begitu mengkhawatirkan karena candaan yang Lucky buat. Sekilas matanya melihat ke arah belakang, menatap Lucky yang tersenyum menahan tawa.
Rhap tersenyum sinis, "Vio, kau sudah dibohongi oleh Lucky. Tidak mungkin orang lupa ingatan ketawa setelah mengatakan tidak mengingat orang-orang?"
Viona berbalik ke arah belakang, dan menemukan Lucky yang tertawa begitu kencang. Puas berhasil menjahili Viona.
Viona tak dapat membendungnya lagi, dia menangis terisak dan memukul-mukul tangan Lucky gemas. Membuat sang pria meringis walaupun tenaga pukulannya kecil juga.
Semua orang tertawa dibuatnya. Erine pun ikut tertawa. Dia hanya bisa mengelus d**a bersabar melihat sikap Viona yang terlihat kekanak-kanakan saat di dekat Lucky. Jelas terlihat ada ketertarikan pada pria itu yang ditunjukan oleh Viona.
Viona merenggut, "Kau ingin bercanda denganku? Ck. Itu tidak lucu, kau tahu, kan aku begitu mengkhawatirkanmu. Kenapa harus berkata seperti itu?" rengek Viona kesal.
Lucky terkekeh geli, dia menggaruk lehernya yang tidak gatal. Ditatapnya Viona dalam, "Aku tidak akan melupakanmu. Terlebih lagi, kau gadis yang telah merawatku. Mana mungkin aku melupakanmu, Vio," balasnya tersenyum ramah.
Viona tertegun. Sepenggal kalimat yang diucapkan oleh Lucky membuat hatinya hangat. Rasa senang menjalar ke seluruh tubuh, kedua pipinya merona merah hingga membuat seluruh wajah merona dan hampir berubah berwarna kepiting rebus.
Viona menjadi salah tingkah. Dia bahkan sampai lupa apa yang akan dilakukannya. Viona hanya berdiri kemudian berbalik pergi, berjalan menjauh tanpa membalas perkataan Lucky.
Berbeda sekali dengan Lucky yang tertawa melihat Viona yang malu-malu. Menurutnya, Viona terlihat sangat manis sekarang. Namun, lain halnya dengan Valrey dan Rhap. Kedua pemuda itu menatap jengah acara drama di depannya.
Mereka benci akan adegan romantis Lucky dan Viona. Benar-benar memuakkan karena menjadi penonton kisah cinta mereka. Sedangkan Erine, dia tertawa melihat sikap semua orang. Mungkin hanya dirinya saja yang sehat akal di sini.
Valrey kini kembali ke istana, Raka Yelvanlah yang memanggilnya. Valrey menatap jengah Mikey yang berada di dekat Raja Yelvan. Entah kenapa mereka berdua tidak pernah akur jika sudah bertemu. “Ada apa yang mulia memanggil saya?” tanya Valrey sopan. Raja Yelvan pun angkat bicara, “Saya memerintah kamu untuk pergi ke area Utara bersama dengan Mikey beserta para anggota Demon Hunter, guna mencari di mana jenderal Zarek sekarang berada.” Valrey memutar bola matanya malas, kenapa harus pergi jauh-jauh ke Utara? Namun, karena itu adalah perintah Raja Yelvan tidak mungkin Valrey menolaknya. “Siap yang mulia,” Mikey terkekeh sinis, lalu meninggalkan tempat itu, entah dendam kusumat apa yang membuat mereka tidak pernah akur.
Di luar, Lucy sedari tadi terus menunggu Mikey untuk keluar. “Eit, Mikey!” panggil Lucy dengan suara rendah seakan berbisik. Mikey mengernyitkan dahinya heran, tumben sekali gadis ini memanggilnya. “Ada apa?” Lucy menarik tangan Mikey untuk bersembunyi di balik pion kerajaan saat melihat Valrey keluar dari ruangan. Mikey mengerti apa tujuan Lucy memanggilnya tadi. “Apa yang kalian lakukan tadi?” tanya Lucy penasaran, Mikey tertawa pelan lalu berubah menjadi sangat datar. “Ini urusan kami, kamu tidak perlu tau!” Mikey beranjak pergi meninggalkan Lucy yang sudah di penuhi aura kesal, sia-sia tadi dia memanggil bocah itu. “Apa kita ada misi lagi yah?” gumam Lucy kemudian memutuskan untuk pergi menyusul Valrey.
Sesampainya di markas, Valrey memerintahkan Viona untuk memanggil para anggota pasukan Elite Demon Hunter untuk kembali ke markas. Ini di lakukan setiap misi datang, banyak anggota yang terlalu menunggu misi datang hingga sangat bersemangat saat Valrey, ketua Demon Hunter menyuruh wakilnya itu untuk berkumpul. “Semua sudah berkumpul?” tanya Valrey memastikan. “SUDAH,” jawab anggota Demon Hunter, suaranya yang cukup keras membuat Valrey tersenyum sekilas melihat betapa semangatnya para anggota mendapatkan misi seperti ini. Karena sejak beberapa Minggu yang lalu, Club ini tidak mendapat misi. “Yang mulia Raja Valrey memerintahkan kita untuk pergi ke Utara besok sore, guna mencari jenderal Zarek yang sampai sekarang tidak tahu di mana, dan yang pastinya di sana kita akan berburu iblis.” Terlihat para anggota bersorak pora, berburu iblis adalah hobi mereka. Tujuan di bentuknya kelompok ini adalah untuk mencari dan berburu iblis jahat. Peperangan yang telah terjadi sejak beberapa tahun lalu, membuat manusia juga harus turut andil dalam urusan dewa dan iblis ini.