Tidak, Lucky kini lebih tidak sadarkan diri. Dirinya mengamuk dengan tidak jelas, semua orang dibuat panik. Lucky mencoba merusak dinding pembatas pelindung. Tanduk di kepalanya semakin lama membesar. Dan bisa Lucky jadikan sebagai senjata.
Terdengar beberapa kali suara dinding yang coba dirobohkan. Lucky berusaha keluar dari dinding pelindung. Amukan Lucky membuat yang panik untuk segera melakukan segel kepadanya.
Terlebih Valrey, lelaki tinggi itu percaya bahwa Lucky mampu bertahan. Namun, nihil Lucky tidak sadarkan diri dan terus mengamuk.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Valrey terdiam sejenak, dia memikirkan apa yang selanjutnya akan dia lakukan pada Lucky.
“Lakukan segel sekarang!” perintahnya. Valrey tidak dapat menahannya lagi. Lucky sudah tampak kacau, amukannya tak dapat dihindari. Dengan berat hati ia harus mensegel Lucky. Agar dirinya membaik, dan tak mengamuk seperti ini.
Semua sudah bersiap untuk melakukan segel. Raph pun juga telah kembali di sini, dia ikut serta juga dalam melakukan segel terhadap Lucky. Sedangkan Viona dan Erine hanya bisa termenung di pojok ruangan sembari memperhatikan Lucky, Valrey, Raph, dan lain lain di sana.
Mereka tak dapat membantu, hanya bisa mendoakan agar Lucky berhasil melewati ujiannya ini.
"Semoga Lucky baik-baik saja," gumam Viona dalam hati. Tangannya berhenti bergerak bersambungan dengan tangan sebelahnya. Merapalkan sepenggal kalimat yang diucapkan berulang-ulang dalam hati. Viona ingin Lucky baik-baik saja.
Hal itu dilihat oleh Erine, wanita itu yakin Viona sangat khawatir sekarang. Erine pun segera memegang bahu Viona lembut, berusaha untuk menenangkan gadis tomboy yang sedang di ambang kasih kasmaran untuk pertama kalinya ini.
Erin mengetahui jika Viona menyukai Lucky. Sedari awal sikap Viona sangat berbeda terhadap Lucky. Rasa sukanya terlihat sangat kentara dengan sikap lembut Viona pada Lucky.
Dan lihat saja sekarang, Viona yang paling mengkhawatirkan keadaan Lucky. Gadis itu sedari tadi merapalkan doa dan menggenggam tangan Erine kuat.
“Aku yakin dia tidak apa-apa, kamu jangan khawatir!” Viona menatap nanar mata binar milik Erine. Wanita yang sudah hampir setengah umur anak 3 itu memang memiliki sifat keibuan yang mampu membuat siapa saja tenang jika bersamanya.
Viona memeluk Erine. Berusaha mencari kekuatan untuknya. Hatinya teriris sakit kala melihat keadaan Lucky. Ingin rasanya membantu, tapi Viona tak bisa. Mengutuk dalam hati dirinya yang tidak berguna.
Erine membalas pelukan Viona. Dia tahu betul apa yang tengah dirasakan oleh Viona saat ini. "Jangan khawatir, Viona. Lucky bisa melewati semua ini, percayakan padanya," bisiknya lembut mampu membuat Viona sedikit melunak.
Ritual segel pun dimulai, setelah mengunci tubuh Lucky yang mengamuk. Valrey mulai membacakan mantra segel dengan dibantu oleh yang lain untuk memegang tubuh Lucky yang tidak sadarkan diri itu.
Tangan Valrey kemudian beralih memegang perut atas Lucky untuk menaruh tanda segel di sana. Perlahan tapi pasti, bentuk segel melingkar terbentuk di perut atas Lucky, begitu pun dengan Lucky yang sudah mulai mereda.
Awalnya cukup sulit, karena Lucky yang terus memberontak. Namun, dengan kerja sama yang dilakukan semua berhasil dengan sempurna. Mereka bisa menahan Lucky dan membiarkan Valrey menyegelnya.
Melihat Lucky yang semakin membaik membuat semua orang menarik napas lega. Energi yang Lucky serap pun agaknya sudah cukup di badannya, begitu pula dengan sinar energi yang lama kelamaan mulai meredup.
"Syukurlah." Kedua mata Viona berbinar bahagia. Sang pujaan hati sudah kian membaik. Tatapannya beralih menatap Erine yang menatapnya juga.
Erine tersenyum hangat pada Viona layaknya seorang ibu yang ikut senang melihat anaknya senang. Viona membuang nafas lega, rasa khawatirnya kini telah sirna.
Viona mengusap pelupuk mata kirinya yang basah, dia terlalu senang hingga membuatnya menangis bahagia.
Di lain tempat, Valrey beranjak berdiri diikuti oleh Raph yang berdiri di sebelah Valrey. “Val, apa kamu yakin dia bisa kita andalkan? Kamu tidak takut jika dia bisa menjadi seperti jenderal Zarek yang berkhianat?!”
Raph agaknya terlihat masih kurang percaya, dia cukup takut jika kekuatan energi yang di badan Lucky akan dipergunakan sama dengan kekuatan di badan jenderal Zarek yang telah di ambil alih oleh Melchoir.
Raph takut, hal yang sama terulang kembali. Dia tidak mau mengambil resiko besar, dan menaruhkan segalanya lagi. Sudah cukup kemarin Raph dan yang lain dikhianati oleh Jendral Zarek, dia tak mau Lucky mengikuti jejaknya dan membuat kerugian.
Valrey menggeleng pelan, “Aku yakin dia tidak seperti itu. Hanya saja, mungkin dalam beberapa waktu dia akan hilang ingatan sementara karena efek dari energi yang masuk ke dalam tubuhnya. Tapi itu hanya sementara, oleh sebab itu kita harus tetap di sisinya, jika tidak ini akan berakibat fatal,” tutur Valrey.
Raph mengangguk paham, jika Valrey mempercayai Lucky mengapa tidak dengan dirinya? Kepercayaan Valrey sudah cukup membuktikan jika Lucky dapat dipercaya. Raph jadi tak khawatir kembali.
Matanya melirik sejenak ke arah Lucky yang terbaring lemah di lantai. Kemudian kembali menatap Viona dan Erine di pojok ruangan. Tangan Raph terangkat memanggil kedua wanita itu untuk mendekat. “Dia sudah tidak apa-apa, kalian jangan khawatir!” ujarnya.
Viona mengangguk paham, begitu pun dengan Erine. Mereka sedari tadi menyaksikan sejak awal apa yang dilakukan oleh Lucky, Valrey, Raph dan para pasukan.
Viona dan Erine mendekati mereka. Penasaran ingin tahu bagaimana keadaan Lucky sekarang. Tak lama terdengar suara lenguhan halus di belakang mereka. Lucky tersadar, dengan mata yang masih samar-samar Lucky melihat sekelilingnya.
Wajah dari teman-temannya yang tengah menatap khawatir untuknya berhasil mengejutkan. Terlebih lagi Viona, gadis itu segera mendekatinya dan melayangkan sejumlah pertanyaan yang membuatnya bingung.
"Vio, jangan dulu bertanya pada Lucky. Biarkan dia beristirahat sejenak, bukankah kamu sudah lihat dari awal bagaimana Lucky?" ucap Valrey khas dengan kekehan gelinya diakhir, mengejek Viona.
Mendengar suara ejekan Valrey membuat Viona memelotot tajam ke arah pria itu hingga meringis. Viona tak dapat mengendalikan diri untuk tidak khawatir pada Lucky. Terlebih lagi pria itu yang sudah menarik perhatiannya selama ini. Mengajarkan apa itu cinta yang sebenarnya.
Erine menepuk pelan bahu Valrey yang malah tertawa mendapat tatapan tajam dari Viona. Berusaha menyadarkan anak itu agar mengingat situasi sekarang tidak mengharuskan adanya canda.
Valrey memajukan mulutnya kesal, mengapa dia tidak boleh bercanda sedikit saja? Suasananya sangat menegangkan, apa lagi setelah kegiatan tadi. Semakin menegangkan, Valrey hanya ingin mencairkan suasana tidak lebih.
Raph mengusap d**a pelan, bersabar memiliki teman yang seperti Valrey. Pria itu sangat serius, tetapi bisa menjadi pelawak tiba-tiba. Niat hati ingin mencairkan suasana malah membuatnya terlihat buruk.
Kedua matanya melirik ke arah Lucky yang terdiam kebingungan. "Merasa lebih baik?"