Kembali ke Desa

989 Kata
Lucky yang melihat Desa Bunga walaupun hanya di depan gerbang merasa marah tangannya mengepal mata memerah. "Aku akan membalaskan dendam kalian kepada mereka. Dengan kekuatan yakin bisa menghancurkan mereka." Lucky berbicara sendiri. Keadaan Desa Bunga tidak bisa dibilang baik, jasad orang-orang desa bergelimpangan di mana-mana banyak bekas cakaran di tubuh warga desa membuat siapapun yang melihat akan merasa mual dan jijik. "Sebaiknya kamu cepat mencari pedang yang kamu maksud aku takut masih banyak para Core di sini, walaupun kita bisa melawan tapi dengan wilayah sebesar ini mereka pasti menurunkan banyak Core untuk menyerang." Valrey menjelaskan. "Aku akan di sini sebentar mungkin di kerjaan masih banyak orang yang bertahan, kita harus memberitahu mereka cara bertahan dan menyerang kepada mereka." Lucky berucap. "Apa yang akan kau lakukan disini? Bukannya kamu sudah lihat apa yang terjadi disini tidak mungkin ada yang selamat," Raph menimpali. "Aku hanya ingin menguburkan jasad mereka dengan layak, walaupun sikap mereka padaku tidak begitu baik akan tetapi mereka semua adalah manusia. Kalau ada dari mereka yang masih hidup pasti mereka akan bilang aku adalah pembawa sial bagi mereka hingga menyebabkan kekacauan ini," "Bila kau tetap disini apa kau yakin mereka tidak akan menyerang lagi?" Raph bertanya. “Mungkin," jawab Lucky dengan mudah "Arrgghh ... kau ini mengapa begitu bodoh? Apa karena kekuatanmu ini kau makin bodoh," Raph kesal dengan kelakuan Lucky. "Aku hanya ingin melakukan yang menurutku baik, tidak lebih." Lucky masih menjawab dengan enteng. "Baiklah kalau begitu aku akan menemanimu, bagi yang ingin lanjut silahkan. Aku akan menjaga temanku yang bodoh ini," walaupun kesal tetapi Raph tidak mau temannya ini ada dalam masalah. "Daripada terpisah lebih baik bersama jadi kami akan membantu." Valrey yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka berdua angkat suara. Mereka yang tidak ikut menjawab setuju dengan usulan Valrey, mereka ikut membantu Lucky untuk menguburkan jasad para warga. "Sebelumnya terima kasih." Lucky menundukan kepala tanda hormat. Mereka semua membagi tugas mulai dari menggali dan mengumpulkan jasad tersebut, walaupun mereka akan menguburkan secara massal itu lebih baik daripada membiarkan jasad tergeletak begitu saja. Jasad-jasad tersebut takutnya akan memunculkan wabah penyakit. Raph dan Lucky bertugas mengumpulkan jasad, Raph yang sering muntah karena bau yang tak sedap tetap melakukan pekerjaannya. Karena dia malu dengan kedua adik kakak di kelompok mereka. Setelah beberapa jam berkutat dengan pekerjaan masing-masing tugas mereka akhirnya selesai. Waktu yang sudah menunjukan siang hari membuat mereka lapar dan lelah. "Terima kasih atas bantuan kalian semua dan sebaiknya kita mencari makanan untuk memulihkan tenaga kita semua. Mungkin di rumahku masih tersisa bahan makanan, aku akan membuatkan kalian mie terenak," "Ya, kau benar sebaiknya kita cepat mencari makanan, cacing di dalam perutku sudah meronta ingin keluar,“ dalam soal makanan Valrey selalu antusias. "Kalau begitu ayo kita ke sana," Lucky mengajak mereka semua. "Tunggu!!” "Apa?" "Jangan bilang setelah makan kita harus membayarnya," "Hahaha ... dalam keadaan darurat seperti ini mana mungkin aku meminta bayaran," "Baiklah aku akan makan sebanyak-banyaknya," "Dalam soal makanan kau memang nomer satu, tuan." Gumam Lucky. Berjalan sambil berbicara membuat mereka tidak sadar bahwa mereka sudah sampai. Mereka sampai di depan rumah Lucky, mereka terkejut rumah tersebut masih utuh. Mungkin karena jauh dari rumah penduduk yang lain jadi mereka enggan kesini. "Baguslah setidaknya aku mempunyai harapan bahwa pedang itu masih ada disini," gumam Lucky. "Kalau begitu ayo cepat kita masuk aku sudah tidak kuat menahan lapar," Valrey berkomentar. Brugghh ... Raph menendang pintu rumah Lucky sekuat tenaga. "Aish ... kau ini!! Aku memiliki kuncinya mengapa kau menghancurkan pintu rumahku!!" Lucky mendengus kesal. "Memangnya kita akan menetap disini? Bukannya kita akan pergi ke kerajaan setelah ini," Raph menjawab polos. "Tapi setidaknya aku tidak perlu mengganti pintu saat semua ini selesai," Vio dan yang lainnya mulai terbiasa dengan kelakuan mereka berdua, jadi mereka tidak merasa perlu melerai mereka berdua, toh mereka akan berbaikan tanpa disuruh. "Kalau kalian berdua belum selesai berdebat aku akan membuat makanan sendiri, kasian yang lain kelaparan," Vio memotong. "Hehehe," mereka berdua tersenyum malu. "Kau duluan yang memulai, minta maaf lah," Lucky berseru. "Kau duluan yang mempermasalahkannya." Raph menjawab. Tidak ada yang mengalah diantara mereka berdua, hingga salah satu anak kecil di rombongan mereka buka suara. "Paman, paman mengapa kalian berdua selalu bertengkar padahal aku dan kakakku tidak pernah bertengkar seperti kalian." Lisa bertanya dengan polos, membuat mereka berdua malu. "Hahaha." suara tertawa menggema di seluruh ruangan, mereka semua tertawa lepas melihat adegan orang dewasa dipermalukan anak kecil. Karena malu akhirnya mereka berdua terdiam dan memisahkan diri, Lucky langsung membantu Vio menyiapkan makanan. Selepas mereka makan dengan kenyang, Sean langsung menghampiri Lucky dan bertanya. "Bukannya kau akan mengambil sebuah pedang? Aku merasakan aura yang tidak biasa di rumah ini, mungkin kah aura dari pedang yang kau akan ambil," Valrey bertanya setengah berbisik. "Ya memang pedang itu mengeluarkan aura yang tidak biasa, aku pernah membicarakannya dengan Tuan Vargas," Lucky menjawab. "Mungkin pedang itu adalah pedang pusaka atau bisa lebih dari itu, karena hanya benda pusaka atau pedang legendaris lah yang bisa memancarkan aura sebesar ini," "Ya mungkin salah satunya, kalau begitu akan aku ambil." Lucky pun bergegas pergi mengambil pedang tersebut. Setelah beberapa menit Lucky kembali membawa sebuah pedang yang lebih mirip samurai di tangannya. Walaupun pedang itu semua bagiannya berwarna putih tetapi tidak ada yang menyangka kalau pedang itu adalah salah satu pedang Legendaris yang banyak diperebutkan para Demon. "Ciri-ciri pedang itu seperti Pedang seribu wujud, bisa kau tarik pedang itu dari selongsongnya?" Dan saat pedang itu ditarik suasana menjadi lebih mencekam aura kematian makin pekat di rasakan mereka. Mereka yang tidak kuat menahan aura tersebut jatuh pingsan. Valrey yang terkejut masih berusaha memulihkan kesadarannya yang hampir hilang. "Sebaiknya kau masukan kembali pedang itu." Lucky langsung menyarungkan pedang tersebut hingga aura yang mencekam itu berkurang. Mereka yang kuat masih bisa bertahan setelahnya, berbeda dengan yang lemah mereka jatuh pingsan. "Apakah pedang ini adalah pedang pusaka?" Lucky bertanya kepada Valrey. "Menurutku itu bukan pedang pusaka melainkan lebih dari itu, itu adalah pedang legendaris," "Pedang yang kau pegang itu adalah Pedang Seribu Wujud." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN