Mario tampak sedang membahas sesuatu dengan seorang pria yang lebih tua darinya, usianya sekitar akhir empat puluhan tapi yakinlah taka da sehelaipun rambut yang masih hitam di kepalanya. Sudah lebih satujam mereka berada di sebuah ruangan kecil yang berada satu lantai dengan ruangan Mickey. Hanya saja ruangan yang mereka duduki sekarang lebih kecil dan dimiliki oleh Mario sekarang.
“Kau tahu aku sudah bersama kerajaan ini saat kau masih belajar berjalan dengan Ibumu!” geram pria tua itu. Dia benar-benar tak berniat meyembunyikan kekesalannya sekarang.
“Avian, dengarkan aku! Tidakkah kau memiliki sedikit rasa empati pada keadaan kerajaan sekarang?” Mario ikut terpancing, tapi ia masih bisa memendam kemarahannya dengan memleankan nada bicaranya.
“Empati? Kau bercanda?” Alvian tergelak dan melipat kedua tangannya di d**a, ia terlihat melunak dan bersandar dengan keras pada tempat duduknya.
Mario tak menjawab, ia menatap dingin pria tua itu. Ia memang tak pernah menyukai Alvian sejak dulu. Pria yang menurutnya penjilat pada Raja Yelvan dan akan melakukan segala cara untuk mendapatkan dana tambahan untuk penelitiannya yang tak pernah berhasil. Mario heran kenapa Raja Yelvan selalu bersedia memberikan bantuan pada orang sepertinya, Yelvan tentunya bukan orang yang bodoh.
“Jika tak ada kepentingan lagi, aku akan melanjutkan pekerjaan.” Mario bangkit dan berjalan keluar ruangannya tanpa menunggu jawaban dari Alvian.
Mario sempat mendegar u*****n pelan dari mulut Alvian, tapi ia tak mengacuhkan dan tetap berjalan menelusuri koridor hingga menuruni tangga menuju lantai satu. Tangannya menggenggam kertas yang cukup tebal dan terbagi dalam beberapa map dengan warna berbeda.
Setelah mengetuk pelan dan mendengar izin masuk dari seseorang di dalam, Mario masuk dan meletakkan laporan itu di atas meja Mickey. Ia menangkap raut kesaldari Mickey.
“Aku akan membacakan ringkasannya untuk Anda, Yang Mulia.” Mario berinisiatif mengambil mappaling atas dan mulai membacakan ringkasan laporan itu, hingga map terkahir.
“Kau tak mendapat kabar dari Demon Hunter?” tanya Mickey seolah semua penjelasan Mario tadi hanya air yang sekarang sudah terjun bebas dari kepalanya dan berserakan di lantai. Hilang.
“Belum,Yang Mulia.”
Mickey memejamkan mata dan menyangga dagu dengan kedua tangannya yang saling bertaut. Sudah hampir sebulan dan sama sekali belum ada kabar. Mickey memperkirakan dengan memberikn catatan pribadi Yelvan pada Valrey, Demon Hunter akan kembali paling tidak dalam waktu dua minggu. Membawa satu orang saja sudah cukup.
“Apa Anda mengkhawatirkan mereka, Yang Mulia?” tanya Mario melihat raut Tuannya yang terlihat tak senang.
“Aku tak mengkhawatirkan mereka. Justru mengkhawatirkan kita, di sini.” Mickey membuka mata dan bersandar pada bangku kebesarannya dan berputar menghadap jendela.
“Saya tidak paham, Yang Mulia.” Mario mengkerutkan kening.
“Kita takkan bisa menghadapi serangan iblis lagi jika mereka tak di sini.” Nadanya datar, tapi menyiratkan kekhawatiran yang sangat kentara.
Mario mengangguk, ia mengerti dan sependapat dengan Mickey. Namun apa yang bisa mereka lakukan sekarang. Tak mungkin ia akan mengirim tim lain untuk menyusul Demon Hunter.
“Panggil Zyan kesini secepatnya.”
Mario kaget karena perubahan tiba-tiba Sang Raja. Sekarang ia berdiri dan menatap Mario serius, matanya tajam, sangat bertolak belakan dengan permukaan wajahnya yang putih.Tatapan mata Raja Mickey bisa langsung membua nyalimu ciut dalam keadaan seperti ini.
Saat hendak menuju ke ruangan Zyan, Mario berselisih dengan Alvian yang memasang wajah masam pada setiap orang di sana. Penampilannya jauh lebih tua dari umurnya karena selama ini selalu berkutat dengan penelitian. Semua isi kerajaan tahu jika selama ini penelitiannya langsung di bawah pengawasan Yelvan, tapi bukanlah penelitian manusia iblis yang selama ini sudah dilakukan Yelvan.
“Dasar sialan!” Alvian masih mengeluarkan sumpah serapah dari mulutnya hingga ia keluar dari gerbang timur kerajaan.
Setiap mata yang menatap heran dan sinis setelah mendengar kata-k********r dari Alvian tak diacuhkan, dia tetap memacu langkah untuk segera keluar dari tempat ini. Ia tak sadar jika da sepasag mata yang menatp kepergiannya, jelas ia sedang menuju Hutan Kelam.
Dua puluh menit berjalan kaki, Alvian sampai di sebuah pohon besar yang menjulang berkali lipat di atasnya. Puluhan untaian akar yang kasar dan tebal tapi lentur seperti tali itu menjadi ciri khas dari pohon ini. Alvian menyingkirkan sebuah papan yang di atasnya sudah di tempeli dengan rerumputan dan batu, tak lupa tanah agar terkesan natural. Papan itu menyembunyikan sebuah pintu rahasia tepat di bawah pohon besar itu.
Amarahnya benar-benar membuatnya lupa keadaan. Ia tak sadar sepasang kaki yang tadi melihat arahnya berjalan sekarang sedang mengikutinya dan bersembunyi di sebuah pohon yang tak jauh dari sana. Senyum orang itu mengguratkan kepuasan.
“Jadi apa yang kau teliti selama hidupmu, pria tua?”
“Zyan, aku ingin kau segera menyiapkan sebuah tim khusus, temukan Valrey dan yang lainnya segera!” Pertama kalinya Mickey terlihat kesal.
“Aku akan memimpin langsung, Yang Mulia.”
“Tidak! Aku tak tahu kapan pasukan iblis kembali menyerang. Aku membutuhkanmu di sini. Utus lima orang yang kau percaya dan jangan sapai mengecewakan.” Mickey tak sabar dan melambaikan tangan agar Zyan meninggalkan ruangannya.
Sebelum membentuk tim kecil, Zyan terlebih dahulu menemui Raph. Ia harus memastikan apa yang membuat Mickey cemas dan tak sabar agar Tim Demon Hunter segera kembali. Mungkin saja Raph mendapat info jika akan ada serangan lagi.
“Aku sedang memberikan misi lain pada Hoya.” Raph seperti biasa dengan wajah iblisnya yang seolah tanpa ekspresi menjawab ketidaktahuannya dengan persoalan ini.
“Aku akan membentuk tim segera. Aku rasa akan mengambil dari mantan penjaga ruang penelitian delapan.” Zyan meinggalkanlan Raph dengan wajah malas.
Ia tak suka mendapat perintah dengan alasan yang tak jelas seperti ini. Jangan sampai ia mengantarkan lima orang pilihannya ke jurang maut. Ia juga terbayang wajah Mickey yang tak seperti bisanya. Seperti terdesak sesuatu dan sangat tak sabar.
Sepuluh menit kemudian, Zyan sudah memilih lima orang terhebat dan memiliki kemampuan yang menurutnya sesuai untuk menjalankan misi ini. Febiola, Zahar, Ken, Lucas, dan Klaus. Lima orang terbaik dari sekumpulan penjaga ruang penelitian delapan.
“Kami hanya perlu menyusul mereka, Jendral?” Ken, pria botak berbadan tegap dan jauh tinggi dari Zyan terlihat paling bahagia saat ia dan rekannya akan dikirim menjalankan misi.
“Kalian akan dibekali beberapa hal sebelum berangkat. Sebaiknya kalian membawa senjata yang berguna,” usul Zyan melihat pada softgun yang sedang dibersihkan oleh Zahar.
Senjata api seperti itu memang tak banyak berguna untuk melawan iblis. Mereka belum sampai ke tahap penelitian untuk menciptakan amunisi dari tulang iblis. Saat Zyan hendak pergi, dia urung dan berbalik.
“Zahar, sebaiknya kau tinggal di sini, aku membutuhkanmu.”
Siapa yang berani menantang perintah Jendral? Meski Zyan tak sedingin dan seserius Alden, tetap saja semua bawahannya akan patuh dan tak berani menolak kata-kata Zyan.
Zyan sengaja mengeluarkan Zahar karena baru ingat jika pria berusia tiga puluh tahun itu tak ahli menggunakan pedang atau senjata sejenis lainnya. Zahar unggul dalam menembak jarakjauh dengan senjata api. Takkan berguna banyak dalam misi mereka.
“Selamat berjuang!” seru Zahar meninggalkan kelompok kecilnya dan segera menyusul Zyan.
“Aku akan makan banyak sore ini,” keluh Febiola.