Hoya dan Hoyi

1101 Kata
“Berusahalah!” geram Hoya. Ia tahu Hoyi masih setengah hati mengikutinya mengambil pilihan untuk mebelot dari Melchoir. Namun, Hoyi takkan bisa bergerak sendiri jika tak bersama Hoya. Tenaganya takubah seperti manusia biasa hanya saja berwujud iblis. Hoyi tak menjawab. Ia sadar diri keangkuhannya takkan bisa menyelamatkannya. Hidup Hoyi berada dibawah tangan Hoya. Dia memilih diam, jika tidak mau kehilangan nyawa. Ia tak ubahnya hanya bayangan bagi Hoya. “Raph,” sapa Hoya dalam suara berat. Mereka bertiga sedang melakukan pertemuan di lokasi lain di Hutan Kelam. Raph sedang menunggu informasi dari mereka, agar bisa segera menyusul perlawanan jika iblis kembali menyerang. “Belum ada rencana p*********n. Aku sempat bertemu dengan Gavrog yang kembali sendiri.” Hoya menjelaskan. Raph meyunggingkan senyum miring. “Aku ingin meminta bantuan pad kalian,” ucapnya kembali serius. Hoya mendegarkan dengan seksama. “Bangkitkan Vargas.” Hoya tertawa sinis. “Rulph sudah dikuasi Melchoir,” ucapya tegas. Raph pasti gila jika menyuruhnya merebut itu, misi bunuh diri. Wajah Raph melunak. “Ada sumber kekuatan lain melebihi Rulph.” Hoya dan Hoyi saling berpandangan, mereka sama sekali tak mengetahui hal itu. “Katakan dimana, aku akan ‘mengusahakannya’,” Hoyi lebih banyak diam. “Terakhir kali, Vargas berkata jika benda itu berada di sekitar Bukit Marawa,” jelas Raph. “Terkhir kali?” Hoyi buka suara. Ia tertarik dengan ini sekarang. Raph mengangguk. “Benda itu makhluk hidup?” Hoya berkata dengan nada keraguan di dalamnya. “Aku akan megabarimu nanti.” Tiba-tiba Raph mengakhirinya, meninggalkan tada tanya besar pada Hoya dan Hoyi. Mereka lekas membubarkan diri. Terlalu beresiko jika mengadakan pertemuan terlalu lama. Setiba di Kerajaan Banjarian, Raph langsung menemui Mickey yang sedang memantau para pekerja secara langsung. Ia tersenyum senang, pembangunan kerajaannya bisa berjalan secepat ini. “Mickey, aku membutuhkan bantuanmu.” Raph menemuinya dengan wajah sangat serius. Di ujung sana, Mario ikut mendekat dan bergabung dengan mereka. Meski Mickey tak pernah menunjuk Mario sebagai tangan kanannya, tapi ia memang selalu membawa Mario kemana-mana, dalam segala urusan kerajaan. “Apa itu?” Mickey penasaran. Tangannya masih saling bertaut di punggung. “Antarkan aku ke ruang arsipmu.” Maya sekarang memimpin perjalanan. Mereka selalu berjalan dalam satu barisan. Jika biasanya Lugos di depan, memimpin langkah. Kali ini Maya di depan karena memang ia yang tahu kemana tujuan mereka. “Maya.” Lugos menyusul dan berjalan bersisisan dengannya. Maya menoleh tanpa mengeluarkan suara. “Kau masih belum memberi tahu kami―aku,” ralatnya. Maya masih diam, ia mengerutkan dahi. Langkahnya melambat, lalu berhenti. Ia menatap Lugos dengan raut wajah yang bercampur aduk. “Kau percaya padaku?” Seyum lemah terukir di wajahnya. Lugos tak menjawab. Meski orang lain akan berpikiran jika kedekatan mereka adalah karena cinta antara lawan jenis, tapi ia dan Maya lah yang tahu kebenarannya. Tumbuh bersama hingga orang tua Lugos tewas dalam p*********n, membuatnya protektif pada Maya sebagai satu-satunya orang terdekatnya. Lugos tak pernah memandang Maya sebagai seorang perempuan, begitupun sebaliknya. Melihat Lugos dan Maya berhenti, sisa pasangan kaki d belakang mereka menyusul berhenti. Megambil posisi istirahat yang tak saing berdekatan. Lucy yang bertugas membawa Sargon, menurunkannya hati-hati. Ia sudah sadar sejak dua jam lalu. Namun masih belum bisa untuk bergerak sendiri. Palito duduk bersisian dengan Yoshi, paling belkang. Mereka berempat saling lempar pandang pada sepasang manusia yang sedang berdebat di depan sana. Akhirnya Lucy memberi kode pada Yoshi untuk menengahi mereka. Jika biasanya Lucy yang selalu menjadi penengah dalam perdebatan di dalam kelompok, kali ini ia sangat lelah dan tak berniat maju. “Jika kau berubah pikiran, aku―” Ucapan maya dipotong oleh Yoshi yang sudah tak sabar. “Bisakah kita melanjutkan perjalanannya? Atau kita aan istirahat di sini saja?” seru Yoshi kesal. Sesuai kehendak Lucy, mereka berdua diam. Lugos membuang muka dan sedikit maju lalu duduk bersandar di pohon yang agak jauh dari Maya berdiri sekarang. “Sebaiknya kita lanjutkan. Kita bermalam di desa terdekat.” Lucy bersorak dari jauh. “Perjalanan ini benar-benar sudah membuatku lelah. Sebaiknya kalian jangan memperkeruh keadaan. Jangan buat Sargon merasa bersalah.” Ucapan tajam itu meluncur begitu saja. Tepat menghujam Lugos dan Maya. Tak ada dari mereka yang menjawab. Lucy meminta bantuan Palito untuk membantu memapah Sargon, agar bisa kembali naik ke punggung Lucy. Yoshi membuang napas kasar, ia terpancing dengen kejadian kecil ini karena rasa lelah. Medan perjalanan yang mereka tempuh benar-benar menguras tenaga. Atmosfer dingin kembali mendera Maya dan Lugos, seperti terakhir kali saat Maya marah akrena Lugos menyembunyikan identitas dirinya. Valrey sedang mengikuti aliran sungai. Semalam hujan deras menerjang, untung saja ia menemukan rongga yang cukup besar di bawah tebing dangkal. Rongga itu di apit dua batu besar dan diteduhi oleh akar pohon. Ia berlindung di sana semalaman. Ia mengikuti petunjuk Trichtran yang sesekali muncul memberi arahan. Trichtran berkata jika salah satu iblis kepercayaannya yang bernama Cloatk bersemayam di tubuh manusia yng sudah lama hidup di abgian timur pulau ini. Di antara semua manusia iblis, entah kenapa Cloatk bisa membuat Trichtran merasakan keberadaannya. Setelah mengikuti aliran sungai selama setengah hari, Valrey merasa lapar dan mencari-cari sesuatu untuk dimakan. Ia benar-benar harus kembali berusaha sendiri, seperti dulu, sebelum dirinya bertemu Sargon. Sejak mereka kenal, Sargon seolah mengambil peran sebagai ‘panitia konsumsi’, membuat Valrey manja. Buktinya ia kesulitan mencari makanan sekrang. “Maafkan aku Sargon,” gumamnya lemah. Sempat terbesit keinginan untuk kembali menyusul teman-temannya. Namun ego masih saja berpihak lebih pada otaknya. “Kalian manusia beanr-benar aneh,” ucap Trichtran dari dalam sana. Valrey kali ini memjamkan mata, seolah tak mendengar apapun. Bisanya ia akan sangat antusias untuk mengobrol dengan Trichtran. “Kesampingkan egomu. Kau juga takkan bisa menghadapi Cloatk sendirian.” Perkataan Trichtran tadi langsung berhasil memancing emosi Valrey. “Sebaiknya kau diam saja!” bentaknya. Valrey kembali melanjutkan perjalanan. Menjelang malam, ia hendak mencaritempt untuk istirahat dan sampailah di sebuah goa. Tunggu. Ia bisa merasakan atmosfer yang aneh di goa ini. Ia yakin dirinya tak sendiri di sini. Namun selama melakukan perjalanan seorang sendiri ia selalu memilih untuk mencari tempat beristirahat malanm harinya. Ia tak ingin mendapat resiko jika bertemu iblis dalamjulah banyak. Ia tak ingin sombong, lebih baik menghindari mereka karena selama beberapa kali p*********n terakhir, iblis itu selalu menyerang dalam julah berkelompok yang tak kurang dari sepuluh iblis. “Bukan orang yang kutunggu, ternyata. Tapi taka da ruginya bertemu dengamu di sini, Val.” Suara berat yang dingin itu menggema dan kembali memantul berulang kali hingga menyebabkan gema di sana. Valrey beridiri dalam posisi waspada. Salah satu tangannya sudah menggenggam pegangan pedang yang masih terpasag di pinggang. “Kita berada di pihak yang sama, Val.” Pria itu menampakkan diri, memang firasat Valrey tak pernah salah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN