Menemukan Suku Pedalaman

1108 Kata
Tiga hari perjalanan dengan cuaca yang sangat bersahabat tak jua membuat Valrey nyaman. Jujur, sekarang ia perlahan didatangi rasa bersalah. Seahun lebih pertemanan dengan Sargon sudah membuatnya secara tak sadar memiliki rasa ketergantungan. Sargon memiliki tingkat kepekaan yang sangat tinggi pada ancaman yang akan bertemu dengan mereka selama ini. “Valrey, sudahlah.” Ia bergumam sendiri. Langit yang penuh bintang justru membuatnya semakin kesepian. Malam ini sepi, sama seperti dua malam sebelumnya. Terbiasa melakukan perjalanan dalam sebuah kelompok memang membuatnya canggung. “Aku benar-benar tak memiliki tujuan sekarang,” gumamya kembali. Matanya berkeliling menatap sekiar, ia menangkap kesepian yang berlautan. Ia merasa aneh, seakan anginpun rak bernai disea hutan ini. Tiba-tiba! BRUAAGH!! Beberapa tanah dan bebatuan kecil berhamburan diiringi tubuh Valrey yang dengan cepat sudah berpindah bebberapa meter ke titik ain. Acak. Matanya sekarang sedang lincah mencari keberadaan sosok misterius yang baru saja memberinya serangan. Keadaan di sana yang sangat gelap, memang membuat Valrey kesulitan, tapi ia berusaha berkonsentrasi dan sekelebat bayangan yang bergerak cepat lalu berhenti pada sisi sebelah kanannya. “Siapa kau?!” geramnya kesal. Sosok itu tak bergerak. Valreya heran sekarang, semakin lama seolah setia[ perncahayaan yang ada bahkan tak luput menghilang. Semakin gelap, bahkanketika mendongak keatas pun, ia tak lagi menemukan langit yang berbintang atau apapu itu. “Apa aku kembali tersedot ke dimensi tepatTrichtran?” Ia iangat saat bertemu pertaakalinya jauh di dalam alam bawah sadarnya, Valrey juga berdiri di lokasi seperti ini. Sekelebat bayangan di depannya merayap berkeliling, tapi acak. Sekaran satu-satunya cara ia hanya bisa mengandalkan pendengarannya. Maya dan yang lainnya sedan berjalan menuruni sisi bukit. Mereka berencana akan mencari Thoi kea rah barat. Maya yakin dengan instingnya jika rombongansuku pedalaman yang berhasill melarikan diri itu berada di sekitar sana. “Kita istirahat lima belas menit!” Lugos yang sekarang berjalan paling depan, menghentikan langkah dan berbalik menatap rekan-rekan seperjalanannya. Mereka semua mengangguk setuju dan segera mencari posisi istirahat masing-masing. Mereka harus sampai di bawah segera, sebelum malam terlalu larut. Sargon yang dibopong bergantian sekarang tengah berada di punggung Yoshi. Ia menurunkan Sargon dengan hati-hati dan mengatur posisi yang nyaman untuk Sargon. “Bagaimana keadaannya?” Lucy mendekat. “Ada kemajuan,” jawab Maya yang baru memeriksa luka di tubuh Sargon. Memang perkembangan baik mulai terlihat. Wajahnya sudah mulai terlihat hidup, sudah ada darah yang kembali mengaliri tubuh itu. “Aku tak menyangka efek racun moster itu akan separah ini,” ucap Palito pelan, seakan takut membangunkan Sargon. Maya yang sudah selesai memeriksa mendekati Lugos dan menyodorkan botol air. Lugos menerima dan minum dalam tiga tegukkan kecil. Mereka memang sengaja menghemat air minum karena akan mengambil jalurberbeda dari sebelumnya yang berarti sama seali tak melewati sungai. Usai lima belas menit beristirahat, Lugos bangkit dan memberi kode pada yang lainnya untuk kembali melanjutkan perjalanan. Ia beberapa kali menghela napas berat dan memejamkan mata. Seolah sedan menyesali sesuatu. “Kenapa?” Maya sekarang berjalan sejajar dengannya. Lugos menggeleng dan tersenyum lemah. Ia tentu takkan mengungkapkan pada Maya jika ia memikirkan Valrey sejak tadi. “Ini semua demi Sargon. Dia saja yang egois,” celetuk Maya yang sukses membuat Lugos berhenti dan menatap tak percaya. Bahkan mulutnya sedikit menganga. Maya sengaja memberikan tekanan pada kata terakhirnya. “Aku mulai takut dengamu sekarang,” ucap Lugos yang sudah kembai melangkah. Maya diam. Belum saatnya ia berbagi sebuah berita yang sudah beberapa hari ini terjadi. Tebakkan Lugos memang benar, Maya bisa mendengar sayup isi pikiran orang lain sejak beberapa hari ini. Mereka sampai di bawah bukit menjelang tengah malam. Menurut Yoshi, tak jauh dari sana ada sebuah desa dan tujuan mereka adalah ke desa itu. “Sekitar tiga puluh menit lagi, aku rasa.” Yoshi terlihat sangat lelah dan beberapa kali memperbaiki posisi Sargonyang ada di punggungnya. “Kau pasti lelah, sekarang giliranku.” Lugos mendekat dan bergantian membopong Sargon di punggungnya. Suara erangan menahan sakit terdengar dari mulut Sargon. Lugos kaget dan cemas jika gerakannya membuat luka Sargon kembali terbuka. “Tak apa, ini pertanda baik. Mungkin dalam waktu dekar Sargon akan siuman,” jelas Maya yang kembali menjawab pertanyaan Lugos yang tadi hanya berada di dalam kepalanya. Lugos melempar tatapan aneh pada Maya. Sudah sejak kemarn Lugos merasa ada sesuatu yang aneh pada Maya. Sudah belasan kali Maya berucap sebagai jawaban pertanyaan darinya yang hanya di dalam pikiran. “Kau sekarang cenayang?” gumamya. Tiga puluh menit berlalu, merekasudah sampai di desa kosong yang sudah lama ditingalkan penduduk. Sama seperti desa-desa lainynya yang kerap mereka singgahi. Satu-satunya kelompok manusia yang berani adalah kelompok Clark yang sudah bertahun-tahun memilih untuk nomaden. Sudah puluhan desa mereka temukan selama perjalanan, semua dalam keadaan yang tak jauh beda. “Aku akan mencari makanan,” ucap Palito yang segera bangkit dan menghilang dibalik pepohonan. Di belakangnya Yoshi menyusul, ia mempercayakan Sargon pada Lucy. Selama ini mencari makanan selama perjalanan adalah tugas Sargon. Ia senang sekali menangkap ikan di sungai atau danau yang mereka temui. Hal itu sangat mudah baginya dan takkan memakan waktu lama. Untung saja sekarang di dalam kelompok mreka ada Palito yang juga terbiasa dengan keadaan ini dan kemampuan bertahan hidupnya di alam liar patut diacungi jempol. Maya sengaja menyendiri, mencari ketenangan dan hendak menggunakan kemampuan barunya untu melacak Tahoi. Lugos hanya memerhatikan dari jauh saat teman masa kecilnya itu trlihat duduk bersandar pada sebuah pohon dalam posisi bersila. Kedua tangannya di silangkan di d**a, tak lama Maya memjamkan mata dan terlihat sangat damai. “Aku akan membantu hanya dengan imbalan yang sesuai,” sebuah suara menggema di dalam kepala Maya. Ia kaget dan reflek membuka mata. Namun sekarang ia sudah tak berada di tempatnya memjamkan mata tadi. Ia tengah berdiri didepan sebuah goa yang baru pertama kalinya ia lihat. Tahoi dengan wajah datar berdiri tak jauh di depannya. Perlahan, pria itu mangambil langkah dan berhenti di hadapan Maya. “Bagaimana?” tanyanya dengan tatapan yang sangat dingin. Tak ada emosi yang terpancar di sana. “Apa imbalan yang kau inginkan?” Maya berlagak berani. “Sesuatu darimu.” Jawaban Tahoi yang rancu membuat Maya menelengkan kepala dan mengerutkan dahi. Tahoi menyunggingkan senyum miring yang membuatnya terlihat angkuh. “Berikan aku setengah kekuatanmu untuk meyempurnakan sesuatu yang kubutuhkan. Keselatan temanmu bisa kujamin.” Nada tegas mengiringi setia kata dari mulut Tahoi. Jika hanya itu, tak akan menjadi masalah, Maya membatin. Jika beristirahat beberapa hari, ia akan bisa memulihkan kekautannya kembali. Tahoi menangkap raut wajah setuju dari Maya dan meberikan petunjuk arah keberadaan mereka. “Teruslah berjalana ke arah barat, sampai kau menemukan danau biru.” Maya tersentak dan kali ini ia benar-benar membuka matanya. Ia sudah kembali sadar dan kembali bergabung dengan yang lainnya yang sekrang dudukmenitari api unggun. “Aku sudah temukan ‘mereka’.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN