Berbeda Jalur

1183 Kata
“Ada yang ingin kusampaikan,” ucap Maya dengan raut wajah cemas. Semua langkah terhenti dan menaruh perhatian padanya. “Apa itu?” Valrey sedii memiringkan kepalanya. “Soal Sargon. Aku tak yakin diriku bisa menanganinya sendiri,” jelasnya singkat dengan raut khawatir yang semakin menjadi. Valrey memejamkan mata sejenak dan meminta Maya untuk langsung berbicara ke intinya saja. “Aku tak bisa memberikan penyembuhan yang berari padanya, Val. Lukanya memang sudah menutup, tapi kau lihat wajahnya, tubuhnya, ia kehilangan banyak darah. Belum lagi organ dalamnya yang sudah pasti mengalami luka berat. Racun Kracchent memperlambat proses regenerasi tubuhnya, Val.” Maya mencerocos hingga napasnya tersengal setelah selesai menjelaskan. “Aku sudah memikirkan itu, May. Kita akan kembali ke Banjarian esok pagi. Tak mungkin melanjutkan perjalanan sekarang. Lucy bahkan sudah hampir pingsan,” ucap Valrey sambil meninggalkan mereka. “Maksudku, kita harus meminta bantuan Tahoi!” seru Maya, semua mata di sana mengarah padanya dengan raut tak percaya. Semua timnya pasti berkata dalam hati jika Maya sudah gila. “Kau gila?” Akhirnya ada yang mengungkapkan kegilaan Maya. Itu Lugos. Ya, Maya setuju dengan Lugos. Dia mengakuinya. “Pindahkan Sargon ke dalam, sebentar lagi air akan pasang.” Valrey berbalik dan menghilang di balik dinding rumah, seolah ak mendengar apapun. Malamnya, mereka hanyabisa berdiam dan membuat api di ruangan kecil itu. “Mereka semua menghilang tanpa jejak, kemungkinan mereka sudah meninggalkan tempat ini sejak beberapa hari lalu,” Yoshi mengambil tempat di antara Valrey dan Lugos. Ia baru saja kembali dari luar bersama Palito, memeriksa beberapa rumah. Nihil. “Kami memang tak pernah tinggal di satu tempat dalam waktu lama,” jelas Palito. Ia tahu Clark bertahan di sini selama hampir setahun karea dirinya dan Ibu. Palito tersenyum miris. Kelompoknya pasti berpikir bahwa Clark dan semua orang-orang yang dibawanya takkan bisa kembali, meski betul Clark tak kembali. Palito meremas bajunya, menahan rasa sengatan listrik yang rasanya menyesak mencari jalan keluar lewat matanya. “Kau baik-baik saja?” Yoshi memperhatikan perubahan Palito. “Aku keluar sebentar,” ucapnya dan lekas keluar, disusul Yoshi. “Apa itu benih cinta?” goda Lugos yang tak ditanggapi oleh Yoshi. Maya menatapnya datar, begitu juga dengan Valrey. Lucy sudah mendengkur halus sedari tadi, tenaganya benar-benar terkuras. Namun setidaknya tubuhnya lebih kuat dari Valrey. “Kalian tidurlah, aku akan berjaga pertama.” Valrey membawa tubuhnya pindah ke dekat pintu. Ia melihat ombak yang tak lelah saling kejar dan lenyap setelah sampai di tepi pantai, lalu datang ombak berikutnya yang melakukan hal yang sama. Suasana malam ini cukup tenang, sesekali ia menoleh ke anggota timnya yang sudah mulai tidur, kemudian matanya berhenti pada Sargon yang masih belum sadar. Apa dia bisa mempercayai Tahoi? Sejak awal mereka memang tak pernah akrab, hanya saling memberi anggukan kecil ketika berselisih di jalan. Namun hati kecilnya jujur saja, sempat berpikiran sama dengan Maya, hanya saja Maya sudah terlebih dulu menyampaikannya. Jikapun Tahoi mau membantu kami, tentu akan ada harga sesuai untuk itu. Bagaimana jika Tahoi meminta mereka melakukan semacam pertukaran yang tak bisa ia penuhi? Ia menghembuskan napas lelah, kembali menatap kesibukkan ombak. Di pinggiran hutan, Palito tengah duduk di sebuah dahan besar yang sudah lama tergolek di sana. Ia menatap langit yang sangat bersih mala mini, tanpa awan, jutaan bintang berserakkan di sana. “Kau baik-baik saja?” Yoshi ikut duduk di sampingnya. Palito yang masih menengadah, memejamkan mata dan memberi anggukan kecil. Sekarang Yoshi sadar, kenapa ia mengikuti Palito ke sini? Ia mulai salah tingkah. Mereka duduk dalam keheningan cukup lama, keculi seuara deburan ombak tentunya. “Aku berbohong pada Clark soal Ibu, tapi tak menyangka jika ia tahu.” Rasa sesal sangat kentara dalam setiap perkataannya. “Bohong soal apa?” “Ibu meninggal tiga bulan setelah kami sampai di sana, ia mencoba membawaku kembali ke sini,” jelasnya. Yoshi hanya bisa diam, ia tak tahu harus berkata apa. Ia tak tahu perasaan apa yang menghampiri ketika ada yang menyinggung soal kematian. Mungkin rasa empatinya sudah memudar. “Sebaiknya kita bergegas bergerak. Aku berencana mengambil jalur berbeda agar waktu perjalanan semakin singkat.” Valrey menatap matahari yang sebentar lagi muncul. “Val, kau tak akan mengubah keputusanmu?” Maya kembali membujuk. Membawa Sargon kembali ke kerajaan Banjarian sama saja percuma, belum tentu keadaan di sana sudah pulih. Valrey diam, terdengar ia membuang napas kasar. ini sungguh pilihan yang sulit baginya. Namun, ia memilih mengorbankan misi ini untuk menyembuhkan Sargon. Mickey pasti akan mengerti. “Val.” Kali ini Lucy yang angkat bicara. BRUGGH! Valrey memukul pintu hingga kepalan tangannya membaut luban besar di papan kayu yang cukup tebal itu. “Kalian pikir aku ingin kembali ke Banjarian untuk menyiapkan pemakamannya?!” Valrey hilang kesabaran. Ia tahu semua anggota timnya membuat kesepakatan malam tadi. Namun mereka masih belum mendapat kata ‘setuju’ dari Valrey. “Tak ada yang bisa dilakukan di sana, Val!” Maya maju dan brdiri tegak di hadapan Valrey. Matanya memerah menahan air mata karena emosinya yang memuncak. “Aku ketua Tim Demon Hunter! Setiap langkah yang kita ambil, semuanya berdasarkan keputusanku!” Valrey keluar dengan emosi menggebu. Ia bahkan hampir bertubrukkan dengan Yoshi yang hendak masuk ke dalam. Maya yang sudah kesal berteriak dari depan pintu, “Aku akan memabwanya sendiri! Karena dia temanku!” Pertengkaran yang kekanak-kanakkan ini membuat Lugos dan yang lainnya serba salah. Maya menatap Lugos dengan penuh ancaman. Iasangat tahu Lugos takkan bisa membiarannya sendirian. “Baiklah,” jawabnya lemah, mau tak mau ia tetap aka mengikuti kemanapun Maya pergi. Lucy juga menganggu, bagaimanapun ia sudah cukup dekat dengan Sargon disbanding yang lainnya. Yoshi tentu saja akan memberikan yang terbaik untuk Sargon. Palito… Dia berdiri di ujung ranjang Sargon dengan wajah bingung. Ia tak tahu keputusan apayang harus diambil. Namun, Sargon terluka saat akan menjemputnya ke pulau bersama Clark. “Baiklah. Aku berhutang padanya. Tapi apa kau yakin jika menemui orang yang kau sebut itu sudah sebuah langkah yang benar?” tanya Palito memastikan. Maya menggangguk pasti. Pendirian sudah teguh sekarang akrena semua anggota tim setuju untuk mengikuti usulnya. Siapa lagi ahli penyembuhan yang paling hebat selain Tahoi yang memang hadir di dunia untuk hal itu? “Bagaimana dengan Valrey?” Lucy berbicara dengan rasa tak yakin. “Biar aku yang bicara padanya,” usul Yoshi. Ia lalu bergegas keluar, menyusul Valrey yang sedan berdiri menatap perairan luas yang hanya berbatas dengan langit di ujung sana. “Val, sebaiknya kita mengikuti saran Maya. Soal ini tentu dia yang paling paham. Ini demi Sargon.” Yoshi berusaha membujuk agar Valrey melunak. Di luar dugaan, ternyata rasa gengsi Valrey sebagai ketua tim lebih tinggi. Ia menomor duakan hubungan persahabatan dengan Sargon karenanya. “Baiklah jika itu keputusanmu. Tim ini bukan kau yang membentuk, jadi kami juga tak btuh persetujuanmu untuk membubarkannya.” Yoshi berbalik dengan langkah kecewa. Sedetik kemudian Valrey sempat merasa penyesalan menerpa, tapi rasa gengsinya ternyata lebih tinggi. Tanpa memperdulikan semua orang yang sudah cukup dekat dengannya selama beberapa bulan ini, Valrey memutuskan untuk kembali melangkah. Tidak untukmealnjutkan misi dari Raja Banjarian, tapi ia akan kembali ketujuan awalnya. Menjelajah setiap jengkal daratan yang bisa ia pijak untuk menemukan ketenangan yang taka da peperangan di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN