Sama seperti sebelumnya, Gavrog berhasil lolos dan melarikan diri dengan loncatan supernya. Lekas, Valrey mencari keberadaan yang lainnya, tanp ia ketahui bahwa Maya, sedang kesulitan melawan iblis yang berusaha mencari celah untuk menyentuh Sargon.
“Tetap di sini,” ujar Maya yang mulai kelelahan menghadapi iblis satu ini. Dia mencari keberadaan Palito, tapi tak terlihat.
Tenaganya sudah terkuras sejak menyelamatkan Palito tadi, ditambah harus melakuka perlawaan segit dengan iblis ini. Maya pesimis karena dirinya memang bukanlah tipe petarung seperti yang lain. Di belakangnya, Yoshi beberapakali mendecih karena bisa mereasakan darag Sargon yang sudah merembers keluar dari perban daruratnya.
“Bertahanlah, Sargon! Kau tega meninggalkanku di sini sendiri?” keluhnya.
Satu-satunya yang bisa mengobati Sargon hanyalah Maya, sedangkan Maya sekarang ikut bertaruh nyawa di depannya. Yoshi kesal karena senjatanya justru tertinggal jauh di belakang. Ia juga tak bisa bergerak banyak dan harus sangat hati-hati karena ini saja sudah membuat Sargon kembali kehilangan darah.
“Pergilah kembali ke belakang, aku akan menahannya di sini. Salah satu dari mereka pasti akan datang membantu.” Maya sebenarnya meragukan ucapannya sendiri. Namun apa ada kalimat lainyang lebih baik dari itu?
Yoshi merasa serba salah, bagaimana bisa ia membiarkan Maya bertarung sendirian. Sedikit banyak Yoshi sudah bisa menilai kemampuan bertarung Maya. Walau ia sendiri tak memiliki kekuatan apapun, tapi tetaplah ia telah bertahun-tahun dilatih untuk menhadapi iblis.
“Kau yakin?” Yoshi memastikan, sepertinya tak ada pilihan lain.
Maya sedikit lambat merespon, tapi tetap mengangguk dan memasang ancang-ancang pertahanan. Dia berusaha mengatur napas dan bisa merasakan Yoshi yang berbalik dari balik punggung. Semoga Lugos atau yang lainnya bisa datang sesuai ucapannya tadi.
Yoshi tak berlari, ia hanya membuka langkah sebesar yang ia bisa. Entah ia cemas atau kenapa, Yoshi merasa suhu tubuh yang digendongnya menurun. Tanpa sadar ia selalu berkata, “Bertahanlah,” pada Sargon yang ia sendiri tak tahu apa masih bernapas atau tidak. Tentu saja! Ia menepis pikiran buruk. Sebuah hal yang lucu jika Sargon, salah seorang pemilik kekuatan iblis yang murni harus tewas lebih dulu dari pada dirinya yang manusia biasa.
Ia berhenti mendadak saat melihat sosok iblis lainnya di depan, tempat Lucy bertarung dengan lebih dari sepuluh iblis tingkat lima dan empat.
Jantungnya memacu semakin cepat, berpuluh-puluh kali lipat. Iblis itu berdiri di tengah mayat-mayat klannya sendiri yang tak utuh lagi. Bau amis dari darah di depan sana bahkan tak lagi tercium oleh Yoshi karena untuk pertama kalinya ia tak bisa berpikir. Ia membatin, apa ini akhir kita, Sargon?
Yoshi mengambil langkah mundur perlahan, ia akan mengendap untuk bersembunyi ke dalam hutan. Hanya itu jalan satu-satunya. Tak sadar ia justru menginjak benang yang akan memancing jebakan di sana.
“Sial!”
Yoshi masih sempat menghindari serangan pertama, ia sangat hapal urutan serangan ini karena ia sendiri yang memperbaikinya dengan beberapa pria dari desa kecil itu. Ayunan batang pohon besar yang terikat tali masih sempat ia hindari, sayangnya itu membuat Sargon jatuh.
Fokusnya beralih pada tubuh Sargon yang tergolek di tanah. Penampilan kawannya itu beanr-beanr mengerikan. Seruh tubuhnya sudah berlumuran darah, sangat kontras dengan wajahnya yang sudah pucat. Yoshi tahu serangan berikutnya adalah hujaman puluhan anak panah dari sebelh kanannya, parahnya serangan itu persis akan mendarat di sekitar Sargon.
Tanpa pikir panjang lagi, Yoshi berlari dan melindungi tubuh Sargon. Sepertinya persahabatannya, Sargon, dan Vio memang abadi. Ia menutup mata bersiap menerima belasan rasa akit yang akan menghujam tubuhnya dari belakang.
“Kalian meremehkanku,” ucap Lugos yang ternyata sudah membuat semacam tameng dari kumpulan tanah yang dipadatkan.
Yoshi mendongak, Lugos sedang bertumpu pada satu lututnya, di belakang Yoshi. Lewat gerakan sigap, Lugos membuat beberapa tameng lainnya karena masih ada beberapa serangan lainnya.
Mereka semua mengelilingi tubuh Sargon yang bisa sudah terlihat seperti mayat. Benar-benar pucat, tak ada gerakkan di sana, kecuali dadanya yang halus dan lambat masih bergerak naik turun menandakan ia masih bernapas.
Maya berlutut di sisinya, berusaha membagi energi penyembuh yang masih tersisa. Setidaknya sekarang luka luar Sargon sudah menutup. Mereka bisa bernapas lega karena tak ada darah yang mengalir lagi.
“Tak ada yang selamat!” dengus Palito yang muncul dari arah pantai, berlari kecil untuk bergabung.
Sebelah tangannya menggenggam asal sebuah tas dari kain yang berisi obat-obatan yang ia bawa dari pulau. Yoshi lekas merebut tas itu dari tangan Palito dan memeriksa dengan kasar mencari, paling tidak ada sebotol obat yang masih utuh.
Tetap saja tak ada yang berubah dari omongan Palito.
“Meski lukanya sudah menutup, tetap saja luka di bagian dalam masih parah. Aku rasa ada organ tubuhnya yang luka parah.” Maya menjelaskan pada setiap psag mata yan menatap Sargon dengan cemas.
“Kita sebaiknya kembali ke Banjarian secepatnya. Kita bisa melakuka cara seperti dulu,” ucap Valrey dan menatap Lucy penuh harap.
Namun mereka semua tahu jika Lucy sudah sangat kelelahan. Emosinya yang terpancing tadi membuat ia mengalami kenaikkan level seperti yang sebelumnya di alami Valrey. Hanya saja Lucy untuk saat ini Lucy masih bisa bertahan, tapi ia takkan sanggup menggunakan kekuatannya sedikitpun untuk beberapa hari.
Mereka diam, saling berlomba memikirkan jalan keluar terbaik. Maya menolak jika mereka harus tetap di sini karena bagaimanapun proses penyembuhan Sargon tetap membutuhkan berbagai tambahan dosis obat.
“Ia masih bisa bertahan karena masih ada sedikit kemampuan regenerasi tubuhnya.Bagaimanapun kalian yang memiliki kekuatan iblis masih memiliki kemungkinan sembuh dari pada manusia biasa. Pasti sudah tewas.” Maya bergumam pada dua kata terakhirnya. Ia pun sudah sangat lelah, sekarang bahkan tak mampu berdiri dan hanya bersimpuh di samping Sargon.
“Kita pikirkan nanti, sebaiknya kita istirahat di sini, malam ini. Pulihkan tenaga untuk bergerak besok.” Valrey yang pertama membubarkan diri dan berjalan ke sebuah rumah yang dulu digunakan Clark untuk menyambut kedatangan mereka.
Valrey berusaha tidak terlihat goyah di depan timnya. Dalam misi pertama ini, dan belum cukup satu bulan perjalanan yang mereka tempuh, Sargon sudah terluka dua kali, sangat parah.
“Val, jangan bebankan semua pada dirimu,” ucap Lugos dan memegang pundak Vlrey dari belakang.
Valrey tertegun, bagaimana ia tidak akan menyalahkan dirinya. Meski sebagian besar anggota timnya adalah pemilik kekuatan iblis, tetap saja nyawa mereka semua dibawah tanggung jawabnya. Pikirannya melayang ke Vio, meski seorang perempuan, ia sadar Vio adalah sosok pemimpin terkuat yang pernah ia kenal selama ini.
“Selama bertahun-tahun aku hidub sendiri tanpa berbaur dengan manusia lainnya,” bukanya. Ia menghela napas berat.
Lugos menepuk punggung Valrey.
“Sargon manusia pertama yang menjadi aku temui. Ia teman pertamaku,” aku Valrey.
Ia sama sekali tak menangis, tapi di dalam dadanya seperti ada nyeri dan rasa sesak melihat Sargon seperti itu.
Lugos maju selangkah dan mereka berdiri bersisian.
“Aku paham karena Maya juga berada dalam konteks yang sama denganmu dan Sargon. Pertemuan kami benar-benar tak terduga. Saat di desa, tak ada yang mau mendekatiku, jangankan anak-anak sebaya, bahkan orang tuaku sendiri seolah takut bersentuhan denganku.” Lugos sekarang memandang ke luar rumah dari jendela yang sudah tak memiliki kaca.
Diam beberapa saat hingga Valrey kembali membuka mulut.
“Kita bawa Sargon ke sini saja, aku akan mengambil ranjang di lantai bawah.” Valrey turun melalui sebuah pintu di balik sebuah lemari yang langsung mengarahkannya ke tangga menuju ruang tanah.
Palito bertemu dengan Lugos yang hendak kembali ke depan.
“Mana Valrey?” tanyanya.
“Di dalam sana. Aku akan memindahkan Sargon ke dalam,” ucap Lugos sabil berlalu. Ternyata palito urung menyusul Valrey dan kembali ke depan bersama Lugos.
Tak lama, Valrey muncul dan meminta mereka semua untuk berkumpul di rumah itu.
“Tunggu! Ada sesuatu yang ingin kusampaikan.” Maya membuat semua orang menahan langkah.