Tamu tak Diundang

1299 Kata
“Semua perbaikan sudah melebihi lima puluh persen, Yang Mulia.” Mario yang sekarang bertugas merangkap mengurus segala urusan di dalam kerajaan, tampak mengekori Mickey yang tengah memantau perbaikan sisi utara kerajaan. Mario masih terus mengoceh menyampaikan semua perihal yang menurutnya penting untuk diketahui oleh Rajanya. Mickey sesekali mengangguk tanpa berhenti selama Mario berbicara. Hingga mereka sampai di gerbang utama kerajaan. Bagian ini adalah yang diutamakan karena mereka tak tahu kapan musuh akan kembali menyerang. Di luar gerbang, sebuah monumen persegi yang semakin mengerucut hingga ke puncak telah selesai dibangun. Mickey berhenti di sana sejenak dan menempelkan telapak tangan kanannya lalu memejamkan mata. Mario menganguk kecil pada Raph yan datang kemudian. Raph menunggu hingga Mickey selesai karena ia akan menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Hal ini sekarang menjadi rutinitas Mickey, setiap pagi atau sore ia akan mendatangi monumen peringatan ini untuk menegenang semua nyawa yang telah melayang selama peperangan terjadi. “Apa mereka sudah datang?” Mickey membuka pembicaraan. Raph yang selalu terlihat serius, mengangguk dan berkata jika mereka suda berada di Hutan Kelam yang berada di sisi selatan kerajaan. “Mereka takkan datang ke sini karena takut kesalahpahaman akan terjadi,” jelas Raph. Mickey mengangguk dan meminta Mario untuk menemui Zyan dan memintanya bersiap dengan lima orang terbaiknya. “Aku rasa tak perlu melakukan itu, kau tidak mempercayaiku?” Raph tak menoleh saat bertanya pada Mickey yang sudah berjalan meninggalkannya. Mickey berhenti, ia tersenyum dan berbalik. Tak ada jawaban darinya untuk Raph. Mario hanya bisa mengerutkan dahi mendengar percakapan yang sama sekali tak ia pahami ini tentang apa. Setelahnya, Mickey berbalik dan kembali menulan perintah yang sama pada Mario. “Aku akan ikut,” ucapnya sambil berlalu meinggalkan Raph yang masih berdiri di luar gerbang. Raph tak bisa berbuat banyak, sebesar apapun ia berusaha membuktikan kesetiaannya pada pihak manusia tentu percuma. Ia hanya harus bertahan demi kesetiaannya pada Vargas. Manusia takkan bisa memahami jenis ikatan yang iblis jalani jika telah melakukan perjanjian darah. Di sisi barat kerajaan. Zyan yang masih belum sembuh sepenuhnya tetap harus menjalankan perintah dari Raja Mickey. Ia tengah mempersiapkan diri sesuai dengan pesan yang disampaikan Mario. “Kau yakin? Jika masih belum sanggup, aku akan meminta keringanan pada Yang Mulia.” Mario jelas khawatir pada Zyan yang sesekali masih membungkuk menahan sakit dari luka di perutnya. “Kau mau menggantikanku?” Zyan sedang duduk dan menaikkan alisnya menggoda sahabat masa kecilnya itu. “Kau takkan sanggup mengurus setiap sudut permasalhan internal di dalam kerjaan ini, percayalah.” Mario menepuk bahu Zyan, membuatnya tergelak. “Aku yakin pada Yang Mulia. Ia pasti tak merasa ada bahaya pada pertemuan kali ini. Jika tidak, pasti Yang Mulia akan menyuruhku menyiapkan bala tentara sebanyak mungkin,” jelas Zyan. Jika Zarek sangat mengerti dengan cara berpikir Yelvan, begitu juga dengan Zyan yang mulai mengerti dengan cara berpikir Mickey. Meski Raja muda itu dikurun selama bertahun-tahun tapi Zyan yakin jika Mickey memiliki banyak kelebihan disbanding orang lain. Terkurung di sebuah gua gelap tak membuatnya buta akan keadaan di luar sini. “Baikah, aku berangkat.” Zyan meninggalkan kamarnya dengan Mario yang memandangi punggungnya hingga pintu ditutup. Mickey sengaja meminta disiapkan kuda karena medan yang akan mereka tempuh takkan bisa dilewati oleh kendaraan roda empat, meskipun mereka punya sekarang. Jika berjalan kaki akan memakan waktu lama untuk sampai ke sana. Raph memimpin perjalanan menuju hutan Kelam. Tak ada yang tahu keberangkatan ini kecuali Mario yang baru saja diberitahu beberapa saat menjelang Zyan pergi. Perjalanan selama satu setengah jam mereka tempuh tanpas isitrahat, hingga sampai di titik pertemuan. “Hoya!” sorak Raph sesaat setelah turun dari tunggangannya. Tak lama, dua sosok iblis yang ternyata sudah berdiri di depan mereka menampakkan diri. Kemampuan dua iblis ini seperti bunglon yang bisa menyesuaikan diri dengan kondisi sekitarnya. “Raph!” balas Hoya dan mendekat. Taka da salaman khas manusia saat tiga sosok dariklan yang sama itu berhadapan. Mickey turun di susul Zyan dan kelima bawahannya. Mickey melangkah mendekati raph dan berdiri di sampingnya, sedangkan Zyan dan yang lainnya berdiri di belakang Mickey. “Ini sungguh sebuah kejutan untukku,” Ucap Mickey lantang setelah memandang mereka bergantian. Wujud Hoya dan Hoyi sangatlah serupa. Mereka seperti anak kembar siam yang baru saja dipisahkan lewat proses bedah. Jika diperhatikan dengan seksama, pola sisik di tubuh mereka seperti saling berlawanan dan membentuk pola yang berbeda. Namun takkan ada yang memperdulikan itu. Postur badan iblis kembar itu tak jauh beda dengan Raph. “Mereka ada Hoya dan Hoyi yang selama ini membantuku mencari informasi setelah kematian Vargas,” ucap Raph. “Apa mereka bisa dipercaya?” bisik salah seorang bawahan Zyan dengan nada tak percaya bahwa Raja mereka semakin mau bekerja sama dengan iblis sekarang. Zyan memberi tatapan tajam pada mereka agar segera menutup mulut. Ia tahu Raja Banjarian ini takkan sembarangan mangambil langkah yang akan merugikan manusia. Hoya memberi seringai yang memperlihatkan barisan gigi tajam di mulutnya pada lima bawahan Zyan yang bergidik ngeri membayangkan leher mereka dikoyak oleh benda tajam itu. “Aku memiliki perasaan yang bagus tentang hal ini. Aku tak ingin terlibat lebih jauh karena bisa saja membuat semua ini bocor dan malah menjadi bumerang bagi ‘kami’,” ucap Mickey memberi tekanan pada kata terakhir. Antony, salah satu bawahan yang paling sering dibawa Zyan bepergian kini diminta untuk maju mendekat ke sisi Mickey. Meski ragu dan bingung kenapa diperintahkan untuk maju, ia tak punya alasan untuk menolak. Dengan posisi tangan mendekap senjata laras panjang yang selalu dibawa kemana-mana, bahkan ketika tidur, Antony sekarang sudah berdiri berhadapan dengan Sang Raja dan tak berani menatapnya lansung. “Berikan tanganmu,” pinta Mickey dengan tangan yang sudah terlebih dahulu terulur. Antony mengikuti saja tanpa berpikir apapun. Mickey sekarang memegang erat lengan Antony dan menekan pergelangan tangan itu dengan kukunya, tepat di nadi Antony. “Y-Yang Mulia,” mohon Antony hendak menarik tangannya. Namun taka da respon dari Mickey, Antony sekarang melihat bola mata Mickey dalam keadaan memutih dan tatapn itu tertuju jelas padanya. Antony menelan saliva melihat tatapan mengerikan itu. Lalu ia tersentak dan mengernyit saat merasa sesuatu yang panas dan perih mengalir perlahan dari pergelangan tangannya dan perlahan naik hingga sensasi itu terasa nyata di dadanya. “Akh!” Antony jatuh berlutut dan sejurus kemudian Mickey melepaskan genggamannya dan matanya kembali normal. Zyan tak bergeming melihat bawahannya mengalami kejadian itu di depan matanya. Antony sekarang sudah bertumpu pada sebelah tangannya dan tangan lainnya meremas baju karena merasa perih yang tak bisa ia toleransi. Napasnya memburu karena seluruh tubuhnya sekarang sudah di d******i oleh rasa sakit dari ‘sesuatu’ yang Mickey berikan padanya tadi. Zyan menangkap gerakan dari ke empat bawahannya yang lain. Dia segera memberi aba-aba pada mereka untuk diam atau akan menerima hal yang sama. Mereka serentak menelan saliva dan bisa merasakan aliran keringat yang turun di pelipis mata mereka. “Seharusnya kau senang karena sekarang kau sudah memiliki darahku di dalam tubuh kotormu itu.” Ucapan yang keluar dari mulut Mickey begitu lembut tapi mereka semua yang di sana tahu bahwa Mickey sedang memberikan hukuman bagi Antony yang berani meragukan pilihan rajanya. Perlahan tubuh Antony yang sudah menggeliat di tanah itu semakin kering hingga dalam sekejap tak ubahnya kulit yang membalut tulang. Raph memilih untuk tak melihat proses keamtian yang diakami manusia itu. Mata Antony melotot menahan sakit sekaligus meminta pertolongan. Namun ia tahu semua itu tak bisa ditarik dan ia hanya bisa menerima nasib yang tadi telah ia tentukan sendiri. Ke empat bawahan Zyan lainnya menahan napas melihat tubuh Antony yang sekarang sudah tak bergerak, bahkan bola matanya ikut menyusut, seolah semua cairan yan ada di dalam tubuh rekannya itu disedot hingga ke tetesan terakhir. Sekarang Antony sudah menjadi mayat dengan posisi meringkuk seperti posisi bayi di dalam kandungan ibunya. “Masih ada yang meragukan pilihanku?” Wajah bak malaikat itu tak hentinya tersenyum memandang satu persatu anggota yang tersisa di belakang Zyan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN