Selamat Datang Kembali

1132 Kata
Tak satupun suara yang terdengar hingga mereka semua menginjakkan kaki di bibir pantai. Mereka semua berduka atas pengorbanan Clark yang juga dilakukan adiknya dulu saat mengantarkan Palito ke pulau itu. Belum selesai duka mereka atas pengorbanan Clark, mereka justru disambut oleh puing dan asap yang masih mengepul dari beberapa titik di desa ini. “Sebaiknya kita jangan sampai terpisah,” bisik Valrey, ia bisa mencium sesuatu yang ganjil akan meyambut kedatangan mereka. Lucy segera mengambil posisi di samping Sargon karena ia tahu temannya itu belum pulih sepenuhnya. Valrey memimpin kelompoknya, mengendap dan mengedarkan mata ke seluruh desa kecil itu. Ia menangkap dari sudut matanya sebuah dahan besar seolah mengapung di udara. Tak ada lagi pergerakan dari dahan itu. “Kau melihatnya?” Valrey mendekat ke Yoshi yang juga sedang memperhatikan hal sama. Yoshi mengangguk sigap dan tangannya sekarang beralih ke gagang pedang. Detik-detik berikutnya, seolah sebuah bom jatuh dari langit tepat di atas kepala mereka. Untung saja mereka memiliki insting yang baik dan bisa cepat menghindar, membuat kelompok itu melompat keberbagai arah. DUARR!!! Valrey mendengus melihat serangan yang nyaris mengenai mereka. Ia kenal jenis serangan ini. “Gavrog!” dengus Valrey. Puluhan bawahan Gavrog muncul satu persatu dan siap bertarung dengan mereka. “Aku begitu tersanjung jau masih mengingatku, hm.” Iblis yang memiliki serangan berupa terjangan dari lidahnya yang memanjang secepat kilat itu tersenyum menatap Valrey dan timnya. “Aku tak bisa sepenuhnya membantumu, kau ingat efek yang akan diterima tubuhmu jika aku mengambil alih,” jelas Trichtran yang membuat Varey harus kembali berpikir cepat. Belum sempat memberi aba-aba pada timnya, Palito yang masih tersulut emosi karena pengorbanan Clark, langsung menyerang Gavrog dengan hantaman petir yang bertubi-tubi. Gavrog dengan lincah meloncat menghindari serangan itu. Terlihat seperti permainan baginya. “Dasar perempuan!” cemooh Gavrog semkain memancing emosi Palito. Mau tak mauValrey dan yang lainnya ikut menyerang. Valrey segera berubah ke mode iblis dan melancarkan serangan demi serangan. Kedua tangannya sekarang dijalari oleh api yang siap membakar setiap benda yang bersentuhan dengannya. Sementara di sebelah kiri, Palito yang juga sudah dalam mode setengah iblis terlihat dialiri oleh listrik yang tentunya akan berbahaya bagi siapapun yang berjarak terlalu denkat dengannya. Di sisi lain, Lucy, Sargon, dan Yoshi sudah disibukkan oleh pertarungan mereka. Valrey mengangguk sekilas setelah menemukan keberadaan Lugos dan Maya yang sedang berlari menuju puing-puing rumah di depan sana. Mereka harus memastikan jika penduduk yang ada selamat dan harus membawa mereka jauh dari sini. Pertarungan iblis akan memberikan dampak kehancuran yang cukup besar dan luas. “Jika kau begitu senang dengan kehadiranku, bagaimana jika kalian semua ikut denganku saja? Aku lebih senang menghindari pertarungan.” Gavrog berdiri beberapa meter dihadapan Valrey dan Palito. “Kau lebih cerewet dari iblis kebanyakan, apa kau perempuan?” Valrey yang geram kembali mengambil langkah bersamaan dengan serangan Palito. Suara ledakan yang bersahutan dengan seligan deburan ombak mengisi bibir pantai yang biasanya sepi. Valrey masih sempat memaksa Trichtran untuk membantunya ke mode iblis tingkat dua agar pertarungan ini seimbang. “Akh!” Palito terhempas dan menggeliat di pasir saat sebuah cairan lengket dari semburan Gavrog tepat mengenai wajahnya. Perhatian Valrey menjadi terpecah melihat keadaan Palito yang masih menggeliat kesakitan. Belum sempat memeriksa keadaan Palito, semburan cairan yang sama bertubi-tubi menyerang Valrey. Membuatnya semakin jauh dari Palito yang sekarang mulai tak sadarkan diri. Gavrog mengusap sisa cairan di pinggir bibirnya dan memunculkan seringaian puas. Valrey kembali mendekati Palito yang sudah tak bergerak. Valrey kaget saat sebuah dinding dari pasir yang memadat muncul di depannya. “Jangan lengah!” sorak Lugos dari belakang Gavrog. Dinding itu kembali luruh saat Lugos fokus menghadapi serangan Gavrog. Serangan yang sama membuat Lugos hanya bisa membuat dinding pertahanan. Ia sama sekali tak mendapat kesempatan untuk menyerang balik. Desisan lembut terdengar dari pasir yang tadi sempat menahan serangan. Lugos berpikir cairan dari iblis itu mengandung semacam zat beracun yang akan langsung masuk ke dalam tubuh melalaui pori-pori kulit. Lugos yakin karena sekarang pasir-pasit di sekitarnya perlahan menghitam. Bertahanlah, Pal! Clark sudah berkorban untuk kita sejauh ini!” Valrey tengah membopong tubuh Palito dan membawanya menuju Maya yang sudah memberi kode untuk kedatangan mereka. “Kau menemukan yang lain?” Maya menggeleng singkat, wajahnya terfokus pada Palito yang mulai mengeluarkan darah dari hidung dan telinganya. “Aku akan mengurusnya, pergilah!” Suara Maya sedikit bergetar dan Valrey tahu kenapa. Ia takkan bertanya banyak dan lekas bergabung dengan Lugos untuk melawan Gavrog. Lugos mulai kewalahanakrena serangan dan gerakkan Gavrog sangat lincah. Lugos sama sekali tak memiliki kesempatan untuk menyerang balik. Valrey yang melihat celah karena Gavrog terfokus pada Lugos segera menarik pedangnya yang otomatis dialiri api hitam dari tanganya. Ayunan pedang itu sangat tepat dan membuat Gavrog tersungkur. Ia berteriak kesal karena luka menganga yang dihadiahkan Valrey. “Kau!” hardik gavrog kesal. Raut wajahnya sekejap berubah. Tak ada lagi seringaian seprti tadi. Valrey dan Lugos mengangguk dan kembali menerjang Gavrog yang masih berusaha memulihkan diri. Tak diduga hantaman bola api dari sebelah kiri tepat mengenai Lugos. Perhatian Valrey kembali terpecah dan melihat lima iblis tingkat tiga yang ikut bergabung dengan mereka. Gavrog tersenyum karena mendapat bantuan tak terduga di saat yang tepat. “Lugos! Kau bik-baik saja?” Valrey mulai panik. Di sisi lain, Lucy, Sargon, dan Yoshi mulai kewalahan melawan pasukan iblis yang seperti tak ada habisnya. “Mereka ini seperti cacing! Membelah diri seenaknya saja!” keluh Yoshi yang masih sibuk mengayunkan pedangnya. Kemampuan bertarung Yoshi memang tak bisa dianggap remeh. Ia sama sekali tak pernah takut terjun langsung ke medan perang melawan iblis tingkat berapapun. Semua tebasan pedangnya selalau terarah dengan tepat, ia tak perlu membuang tenaga melakukan serangan yang bersifat melukai. Memisahkan kepala dari tubuh iblis, hanya itu tujuannya saat mengayunkan pedang. “Kau masih aman?” Yoshi melakukan lompatan besar dan mendarat tepat di saming Sargon. “Harus!” jawah Sargon tegas. Ia memeang tak bisa mengatakan keadaan sebenarnya dalam situasi sekarang. Sargon sama sekali tak berubah ke mode iblis, luka di perutnya benar-benar menyiksanya. Kemampuannya sekaran hanya setara dengan iblis tingkat lima. Hanya saja ia harus pintar mencari celah untuk menyerang dengan tepat. Selama di militer, salah satu hal yang ia pelajari adalah mencari celah dan waktu yan tepat untuk menyerang, daripada meyerang membabi buta dan mengeluarkan tenaga yang banyak. “Kau siap?” Sargon menatap Yoshi yang juga sudah selesai mengatur napas. Sahabatnya itu menyunggingkan seyum miring dan mengangguk. Serentak, mereka kembali menghambur membantu Lucy untuk membereskan iblis-iblis ini. Sungguh sambutan yang tak terduga. Jauh berbeda dari yang mereka bayangkan. “Sargon!” Mata Lucy membulat saat melihat tubuh Sargon teracung di udara, kuku –kuku tajam itu menusuk tubuh Sargon sangat dalam dan mengangkatnya ke udara seperti kapas. Yoshi yang melihat sahabatnya kembali terluka sekejap gelap mata dan membantai setiap iblis yang berada di hadapannya tanpa ampun. “Jika harus ada yang mati, itu hanya kalian!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN