Menaklukkan Kracchent

1192 Kata
Sudah seminggu mereka berada di pulau ini. Sargon sudah berangsur pulih dan sudah bisa berdiri lagi. “Kau rindu padaku?” goda Sargon pada Yoshi yang sagat perhatian padanya. Sahabatnya itu dengan sigap akan membantu setiap pergerakkan Sargon. “Kau gila? Pasti kepalamu terbentur cukup keras. Aku akan memperbaikinya.” Yoshi berdiri dan mengambil sebilah kayu dari dekat perapian. Sargon tertawa karena berhasil menggoda sahabatnya itu. Lucy meninggalkan mereka dan menyusul yang lainnya. Valrey dan Clark sedang memperbaiki kapal yang sempat dibuat oleh Mona. Lugos juga membantu, sementara Maya sedang menemani Palito mencari beberapa tanaman obat yan akan mereka bawa. “Aku kagum padamu yang mengetahui begitu banyak jenis obat. Bahkan aku saja tidak mengetahui tanaman ini,” ucap Maya saat Palito sibuk memetik beberapa jamur dan dedaunan di sekitar mereka. “Jamur ini jangan dimakan,” ucap Palito sambil memberikan sebuah jamur biasa berwarna putih pada Maya. “Kenapa? Ini jamur biasa?” Palito menggeleng, lalu berdiri dan mencari-cari keberadaan jamur lain. Ia memetik satu dan kembali memberikan pada Maya. “Kau lihat perbedaan merekadengan teliti.” Palito meminta kedua jamur itu dan mengangkatnya tinggi hingga sinar matahari pagi menyinarinya. “Jamur itu, kenapa mendadak ada bercak yang timbul?” Maya heran. Jamur pertama yang berada di tangan kanan Palito mendadak memiliki becak hitam dan sedikit timbul. Palito lalu mendekatkan jamur itu ke wajah Maya. “Hiruplah,” ucapnya. Maya menuruti perkataan Palito. Ia mengambil napas besar saat menghirup jamur itu, tapi Palito segera mnajuahkannya sebelum Maya menghirup terlalu banyak. “Wow!” Maya terhuyung dan tertawa. Jamur itu memiliki efek memabukkan. “Sudah, minum ini dulu.” Palito menyodorkan botol air minum, dan lekas Maya meminum beberapa tegukkan. “Jamur apa itu?” Tanya Maya heran. Ia masi merasakan sedikit sensasi mabuk yan menenangkan dari jamur itu. “Ibu biasa merebusnya sekitar tiga jam. Bisa digunakan sebagai penghilan sakit jika kau meminumnya dengan jumlah yang tepat. Terlalu bayak justru akan membuatmu keracunan karena hati dan ginjal takkan sanggup menyaring zat racunnya dengan cepat,” jelas Palito. “Bagaimana cara kita melewati moster itu?” Valrey memganh keningnya. Berusaha berpikir keras mencari celah untuk melewati Kracchent dengan aman. “Sebaiknya kita tunggu lima hari lagi,” ucap Clark. “Kenapa harus lima hari?” Lugos berhenti dari pekerjaanya dan iku bergabung dengan Valrey dan Clark. “Dulu aku sempat mendegar cerita, jika Kracchent adalah seekor monster penjaga gerbang menuju kerajaan iblis. Raja iblis sengaja membuangnya ke laut ini untuk menhalangi pelarian manusia melalui jalur laut.” “Lalu apa hubungannya dengan lima hari lagi?” tanya Valrey tak sabar. “Lima hari lagi tepat pada puncak bulan purnama. Biasanya kondisi laut akan sangat tenang. Pada saat itu semua ikan takkan muncul kepermukaan karena cahaya terang bulan, begitu juga dengan Kracchent.” Valrey mencemooh cerita Clark. “Bagaimana kau bisa menyamakan Kraccent dengan ikan? Untuk mendapatkan ikan kau harus memancingnya dengan umpan dan menunggu. Sedangkan monster itu? Ia akan muncul dan dengan senang hati naik ke kapalmu untuk menhancurkannya.” Lugos menahan tawanya dengan membekap mulutnya dengan mulut. Ia benar-benar terhibur mendengar hasil pikiran san ketua yang menurutnya benar, tapi cara Vlarey menyampaikan beanr-benar lucu. Clark melirik kesal pada Lugos yang segera menyimpan senyumnya. “Itu adalah cerita turun temurun di desaku. Aku dan istriku berasala dari daerah tepi pantai.” “Baiklah jika begitu menurutmu. Aku besar di dalam hutan dan berteman dengan macan kumbang. Aku yakin kau lebih mengerti soal lautan dari pada aku.” Valrey mengalah karena memang ia sama sekali tak pernah menjejaki lautan sebelumnya. “Kita harus menyelesaikan kapal ini dalam empat hari ke depan,” tegas Clark dan mereka kembali ke aktivitasnya masing-masing. Tiba hari H keberangkatan mereka meninggalkan pulau ini. Palito yang sudah setahun hidup di sini sebenarnya merasa enggan meninggalkannya. Apalagi makam ibuya ada di sini. “Aku rasa kau sudah menemukan keluarga barumu, Pal.” Clark menatap sendu pada putrinya. “Aku masih belum bisa memutuskan menerima ajakan mereka atau tidak.” Clark tersenyum. Ia memegang kedua bahu Palito dan menatapnya dalam. “Kau tau kenapa kau diberikan nama itu oleh Mona?” Palito menggeleng. “Arti namamu adalah penerang. Mona berharap kau akan bisa menjadi penerang bagi orang dan keadaan sekelilingmu yan diterpa kegelapa. Arti yang sangat sederhana tapi memiliki makna yang dalam, bukan?” Clark tersenyum memandag putrinya itu. Palito yan tadi sangat ragu, sekarang membalas tatapan ayahnya. Ia tersenyum dan baru saja mengambil keputusannya. “Naiklah, aku akan mengantarmu pulang.” Clark menuntun Palito menaiki kapal. Sesuai perkiraan Clark, bulan purnama mala mini benar-benar bersinar terang. Bahkan taka da awan yang mengiasi langit malam ini. Yoshi dan Sargon tengah berdiri di sisi kapal dan saing mengobrol tentang masa lalu mereka. Maya dan Lugos berdiri menemani Valrey yang sibuk membersihkan pedangnya. Lucy seperti biasa mendapat tugas memberikan angin pada layar agar mereka bisa bergerak cepat. “Clark,” panggil sebuah suara yang sangat dikenalnya meski sudah berpisa setahun lamanya. Clark melepaskan kemudi kapal dan segera berlari ke ujung kapal. “Ayah?” Palito menahan kemudi agar tak berbelok kelaur jalur. “Mona?” Clark terpaku menatap sosok perempuan yang dicintainya sedang berdiri di ujung kapal. Sementara itu, Sargon dan Yoshi menyadari gerakan aneh di bawah kapal. Mereka segera memanggil yang lainnya untuk memastikan jika itu bukan Kracchent. Lucy semakin memperbesar dorogan anginnya agar merka bisa segera meninggalkan perairan Kracchent. “Jika itu benar, akan sangat merepotkan. Lukaku masih belum sembuh.” Sargon mengeluh dengan mata masih memantau pergerakkan di bwah sana. “Val!” teriakkan Palito membuat mereka semua kaget. Palito sedang menahan tubuh ayahnya yang sedang menahan Clark yang hendak turun ke laut. Valrey dan Lugos bergegas menyusul ke sana. “Tetap perhatikan itu,” ucapnya sebelum meninggalkan Yoshi dan Sargon. “Clark! Sadarlah!” Valrey memegang wajah Clark dengan sebelah tangannya. Lugos mengambil alih kemudi kapal. Hampir saja mereka melenceng jauh. “Sial! Itu dia!” teriak Yoshi dari bawah. Mereka segera dalam posisi waspada. Sargon yang belum pulih sepenuhnya tetap memaksakan diri untuk berubah ke mode iblis, diikuti Valrey dan Lugos. Lugos meminta Maya mengambil alih kemudi kapal. “Di sini!” sorak Valrey saat kepala Kacchent perlahan muncul kepermukaan. “Mona! Jangan serang dia! Itu Mona-ku!” Clark berdiri di depan mereka dengan wajah memohon. “Dia pasti mengalami halusinasi,” Palito memberitahu Varley. “Halusinasi apa?” Valrey segera memberikan serangan bola api bertubi-tubi pada Kracchent yang kembali menyelam ke dalam air. Tak lama kepala monster itu kembali muncul, menampakkan satu bola matanya yang menatap mereka dengan tenang. “Apa yang diinginkannya?” Valrey bingung melihat tak ada serangan seperti sebelumnya dari monster ini. “Lepaskan aku, Pal.” Clark melepaskan lembut tangan Palito yang dari tadi menahannya. Palito tak bergeming. Pegangannya melemah, lalu perlahan lepas dari Clark. “aku berjanji megantarkanmu pulang. Kau sudah menemukan kelaurgamu sekarang,” ucap Clark sambil perlahan mundur semakin mendekati ke ujung kapal. Di belakang sana, Kracchent masih diam dan sma sekali tak memberikan serangan. Monster itu seolah sabar menanti sesuatu dari mereka. Palito memberikan tatapan memohon pada Clark. Valrey menyadari jika mereka berdua menyembunyikan sesuatu yang tak diketahuinya. “Pengorbanan,” ucap Trichtran yang membuat semuanya jelas bagi Valrey.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN