Sambutan dingin Palito

1238 Kata
“Apa yag kau lakukan, Nak?” tanya Clark kembali dengan suara bergetar. Palito masih bergeming di tempatnya. Ia meremas pisau perak itu semakin kuat, lalu menatap Maya yang juga tak berani melanjutkan langkah. “Ikuti aku! Aku akan memebrikan obatyna,” ujarnya dingin. Maya memandang ragu pada Lugos. Lalu Lugos segera maju disusul Maya. Walau hubungannya dengan Sargon masih belum terlalu baik, tapi ia tak bisa membiarkan Sargon mati seperti itu. Mereka tetaplah satu tim. “Bertahanlah,” gumam Yoshi, ia melihat wajah Sargon yang semakin pucat karena banyak kehilangan darah. Clark ikut menyusul Maya setelahnya, sementara valrey dan Lucy menunggu di sini. Clark berlari sekuat tenaga mengejar ketertinggalannya yang cukupjauh. Untung saja jalur yang mereka lalui cukup lurus, hingga Cark masih bisa meliahat ketiganya berlari di depan sana. Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah rumah kecil yang tadi disebut pondok oleh gadis itu. Tak lama, Clark juga masuk ke dalam sana. “Mana Mona?” tanya Clark saat tak menemukan istrinya di dalam pondok itu. Gerakan Palito yang tadi sangat cekatan mengambil beberapa botol obat seketika berhenti. Lalu ia kembali melanjutkan mengambil perlengkapan lain seolah tak mendegar pertanyaan Clark. “Ayo, bergegas!” serunya dengan nada dingin yang masih sama. Di depan pintu ia memberikan sebuah keranjang yang berisikan obat-obatan pada Maya, sementara ia sendiri memgang sebuah tas kecil dan kembali berlari menuju bibit pantai. “Berikan botol coklat itu,” perintah Palito. Dengan cekatan Maya membuka tutupnya dna menyodorkan pada palito. Dengan cepat, Palito semua cairan berwarna kehijauan itu di atas luka Sargon. Tak ada reaksi dari Sargon, membuat Paito mendecih karena Sargon sudah tak sadarkan diri. “Botol kuning dan bubuk piutih itu. Keluarkan alah jahit di dalam tas itu.” Palito bergerak cepat secepat perintah yang keluar dari mulutnya. Tak ada yang berani mengeluarkan suara selama Palito mengobati luka sargon. Bahkan mereka semua sampai menahan napas. Maya di sebelah palito dengan sigap menyodorkan setiap obat dan peralatan yang dimita Palito. Menhadapi keadaan darurat saat serangan terjadi di kerajaan banjarian,membuat Maya terbiasa bergerak cepat untuk membantu nyawa yang ada di depannya. “Bisa kau bersihkan darahnya? Aku akan menjahit lukanya. Darah yang terus mengalir ini menghalangiku.” Palito sedikit menurunkan ketegangannya karena darah yang keuar dari luka Sargon seudah lumayan berkurang. Maya dengan sigap mengikuti setiap isntruksi palito tanpa kesalahan. Hingga Palito selesai menjahit luka diperut Sargon. Ia mencuci tagannya di tepi pantai dan membereskan semua obat dan perlengkpan yang ia bawa tadi. “Palito?” Clark mendekati Palito yang masih membereskan alat-alatnya ke dalam tas kecil yang terbuat dari kulit hewan. “Apa yang kau lakukan di sini?” nadanya kembali dingin. Dikejauhan petir berkali-kali menyambar di tengah lautan. “Maafkan aku.” “Ibu sudah meninggal sejak dua bulan lalu,” ucap Palito dengan suara bergetar. Clark mematung mendengar ucapan palito barusan. Matanya membulat tak percaya, tak lama pendiriannya goyah dan jatuh berlutut di belakang Palito yang masih memunggunginya. Palito sudah menangis dari tadi, dia menangis dalam diam. Ia menyeka air matanya dan kembali berdiri setelah membereskan peralatannya. Ia berbalik dan berdiri menatap Clark yang sedang melepaskan penyesalannya dengan memukul-mukul pasir. Palito menatap ayahnya beberapa saat. Mulutnya sempat terbuka, ada yang endak ia kataka,tapi kembali ia urungkan. Palito berbalik dan meninggalkan ayahnya seorang diri. “Aku tak menyangka jika dia bisa meracik obat-obatan sebanyak ini,” gumam Lugos di samping Maya. Mereka tengah berdiri berhadapan dengan sebuah lemari kayu setinggi tubuh Lugos yang dipenuhi dengan berbagai macam obat-obatan. Maya mengambil sala satunya, memeratikan botol itu jika ada keterangan obat apa yang ada di dalamnya. Maya mengerucutkan bibirnya karena botol itu polos tanpa tulisan apapun. ia membuka tutup botol itu dan mencium baunya. “Ini seperti campuran daun Serapathi dan akar Mahoni,” ucap Maya, hidungnya sedikit mengernyit saar mencium aroma dari daun serapathi yang sangat tajam. Kandungan asam di dalam daun itu sangat tinggi. “Kau benar. Kau juga bisa meracik obat?” tanya Palito yang sekarang sudah berdiri di belakang Maya. “Ah, maaf jika aku lancang.” Maya kembali meletakkan botol itu. Palito tesenyum kecil. Sekarang suasana hatinya benar-benar berbeda dengan pertemuan pertama mereka tadi. Tadi ia tampak seperti hendak membunuh kami dalam sekali serangan. Melihat pisau perak yang digenggam erat pada tangannya. “Mana Clark?” tanya Valrey padaPalito. Tak ada jawaban dari Palito, ia bersikap seperti tak mendengar pertanyaan Valrey. “ Mungkin pendegarannya bermasalah karena sering mendegar suara petir,” bisik Varey pada Lucy. “Apa aku harus membiarkan kalaian semua ditelan oleh Kracchent?” Suara dingin Palito membuat suasana di pondok itu menjadi kikuk dan dingin. Maya mengeacungkan kepalan tanag dari jauh, memarahi Valrey karena ucapannya yang tak sopan. “Aku bercanda. Clark sedang menangisi ibuku di luar,” ucap Palito, ia menatap Valrey dengan tatapan bersahabat. Sargon mengerang, ia sudah sadar. Dengan sigap Palito mendekati Sargon dan memeriksa lukanya. “Jangan biarkan ia minum air meski ia bersujud pada kalian di sini. Efek haus itu akan hiang dalam satu jam. Setelahnya ia baru boleh diberi minum.” Palito dengan tegas menanamkan pesan penting itu pada setiap pasang teliga di dalam ruangan itu. “Kau mau kemana?” tanya Valrey melihat Palito yang keluar. Lagi-lagi gadis itu tak acuh dan tetap berjalan kea rah pantai. “Aku yakin ada masalah dengan pendengarannya.” Valrey mengulangi ucapannya karena kesal tak diacukan oleh Palito. Lucy dan yang lainnya menggelng kecil dan tertawa melihat tingkah ketua mereka yang seperi anak kecil. Valrey sekarang seperti anak kecil yang merajuk karena dilarang ikut peri oleh ibunya ke pasar. Clark sekarag dudukdi sebuah batu besar, ia menghadap ke lautan yang dipenuhi ombak yang saling mengejar untuk mencapai tepian pantai. Ia merutuki dirinya, semua penyesalan memenuhi kepala dan dadanya hingga terasa sesak. Palito menatap Ayahnya yang memunggunginya. Ia juga merasa sangat marah pada awalnya saat melihat Clark muncul di pulau ini. “Selama berbuan-bulan kami mendaki bukit itu, berharap melihat sebuah kapal yang mengarah ke sini.” Gumamnya pelan. Palito membawa langkahnya mendekati Clark. Ia ikut naik dan duduk di sebelah ayahnya itu. Semua kemarahan dan kekecewaannya luluh melihat pria yang ia kenal selama ini sangat tangguh, sekarang tengah menghapus air mata yang jatuh dari kedua matanya. “Maafkan aku,” gumam Palito pelan. Clark menggeleng. “Akulah yang salah telah membuat pilihan ini,” balasnya. Ia merangkul tubuh putri angkarnya itu dan berkali-kali meminta maaf. Seandainya waktu bisa diputar, ia pasti akan kembali ke masa lalu dan mengubah keputusannya untuk memaksa Palito tinggal di pulau ini. “Ibu mengajarkanku untuk mengendalikan emosiku, Ayah.” “Aku bisa melihatnya,” jawab Clark lembut. Di satu sisi, penyesalannya justru berbuah manis karena Mona telah berhasil mengajari Palito pengendalian diri yang baik. Ia ingat tujuan utamanya hari itu menempuh pulau ini adalah untuk hidup dengan Mona yang sangat dicintainya. Ia hendak mengasingkan palito seorang diri di pulau tak berpenghuni ini karena putri angkatnya itu benar-benar tak bisa mengendalikan diri dengan baik, hingga tak sedikit orang-oran dari kelompoknya yang tewas karena sambaran petir Palito. “Mona sangat menyayangimu. Dia bahkan rela berpisah denganku, daripada meninggalkanmu sendiri di pulau ini. Ia tak ingin kau kembai sendiri seperti saat dia menemukanmu di bawah puing itu.” Suara Clark bergetar karena penyesalannya. “Ibu sudah memaafkanmu, Ayah. Ia ingin memberikanmu ini jika kalian masih bisa bertemu.” Palito mengulurkan sesuatu dari tangannya. Itu adalah sebuah botol kecil yang diisi pasir berwarna terang. Itu adalah pasir dari desa asal mereka yng sudah bertahun-tahun lalu mereka tinggalkan. “Dia sudah memaafkanmu,”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN