Di suatu sore yang cerah, gue berlari-lari kecil menapaki tangga sambil berteriak memanggil suami gue. “Pibi! Pibi! Pibi! Kita dapat pahala!” Kakek Hugo yang sedang berbincang serius dengan Papi mengenai masalah bisnis, mengerutkan keningnya. Mereka saling berpandangan penuh arti. Kakek Hugo memberi kode dengan menyentuh perut buncitnya, lalu Papi menggangguk dengan sorot mata berbinar-binar. “Kakek! Papi! Dimana Pi .. eh, Askano?” tanya gue pada mereka berdua, sekaligus. “Sepertinya sedang tiduran di kamarnya, tadi ia mengeluh. Katanya kepalanya pusing dan ia merasa mual,” jawab Kakek Hugo, lalu kembali menatap Papi penuh arti. “Aduh, kasihannya suami gue. Padahal gue membawa kabar gembira buatnya!” “Bie, apa Papi boleh tahu, apa kabar bahagia yang kau bawa?” pancing Papi.

