Hari-hari gue berjalan begitu saja. Atas kesepakatan kami berdua, gue dan Pibi pindah ke bungalow sebelah rumah induk. Walaupun masih dalam lingkup hunian Hugo family, tapi paling tidak kami tak jengah dalam pengawasan para pembantu, Kakek Hugo dan papi gue. Yah, pernikahan kami dari luar terlihat biasa, tapi di dalamnya hambar. Masalahnya, gue belum bisa melupakan apa yang dilakukan Pibi pada gue, meski gue bisa memaafkannya. Tiap kali Pibi ingin bermesraan, keringat dingin gue sontak keluar karena terbayang kejadian p*******n itu. Jadi, gue dan Pibi ibarat suami istri rasa teman. Aneh, ya. Yang ada biasanya, kan, teman rasa suami atau istri. Meski demikian, gue tetap menghargai Pibi dengan bersedia tidur sekamar dengannya. Walau gue memasang guling sebagai pembatas diantara k

