Air mata pun tak kuasa dibendung oleh Zenio saat ini. Dia menyerahkan ponsel yang ia gunakan ke Reski. “Makasih, ya,” ujar Zenio dengan suara bergetar. Dia dengan cepat mengusap air matanya sebelum Antoni dan Reski mendapati dirinya menangis. “Kenapa, Bro? Bukannya harus senang saat sudah mendengar suara sang pujaan hati. Kenapa malah wajahmu terlihat begitu masam?” tanya Antoni yang sebenarnya dia menyadari hal yang dirasakan Zenio saat ini. “Kukira dia bakal bahagia saat aku mencoba menghubunginya, tetapi ternyata aku salah. Ketakutan dia aku melanggar larangan mamaku lebih besar, dari apa yang aku perjuangkan. Boddohnya aku juga, malah mencurigai dia dekat dengan pria lain. Tak tahulah, harusnya kita saling bertukar cerita, malah kita yang posisi jauh justru bertengkar. Memang aku bo

