Zenio meletakkan ponsel Reski dibatas lantai, kemudian dia mengusap wajahnya dengan kasar. "Hah! Kenapa, egois baget, sih. Aku juga ingin bahagia, kenapa semua diukur dari kualitas pendidikanlah, atau apalah. apa nanti mati juga mau diukur dari segi pahala banyaknya seberapa?" Zenio kecewa sama mamanya, tetapi tak berani untuk melawan. Reski dan Antoni pun hanya bisa melihat, tanpa berani menegurnya. Mereka tahu, jika semua tanpa keinginan diri sendiri lebih sulit untuk dijalani. "Heh, gimana? Aku takut mau negur si, bos," ujar Antoni. "Lah, apalagi aku." Reski hanya berjalan mendekat guna meraih ponselnya. "Bos, ponselnya saya ambil, ya. Bos baik-baik di sini." Reski dan Antoni meninggalkan Zenio yang bersedih dengan perkara yang sama setiap harinya. "Semoga dia cepat baikan, ya. Or

