Bab 7 - Langit Cerah

1774 Kata
Aku mendengar suara ombak, dan suara Wulan tertawa. Kakiku kubenamkan pada pasir pantai yang putih bersih. Ombak datang menyerbu kakiku. Airnya hangat, jernih sekali. Bau asin laut terbawa angin yang berhembus kencang. Mataku silau oleh pantulan cahaya di permukaan laut berwarna hijau zamrud seperti kristal. Wulan berlarian mengejar ombak, tertawa seperti anak kecil. Tiba-tiba dari tengah lautan bergulung ombak tinggi, mendekati pantai. Ombak besar tinggi sampai menutupi matahari. Wajah Wulan berubah panik. Lalu tiba-tiba semuanya gelap. Terdengar suara kayu retak dimakan api. Sebuah api unggun menyala dihadapanku. Wulan masih dengan gaun putih yang sama duduk menyender di bahuku. Kami bertatapan, tersenyum. Lalu sebuah tangan menarik Wulan bangun, Samudra. Wulan mengikuti Samudra membawanya ke arah laut. “Jangan” kataku lirih terduduk di pantai, tak kuasa berdiri menahan tangannya. Wulan berbalik melihatku, wajahnya takut. Samudra masih menarik tangannya, berjalan menuju laut. “Semesta! Ta! Semesta!” teriak Wulan padaku sambil menangis ketakutan. Matanya meminta tolong, tangannya berusaha merengkuhku. “Ta! Semesta!”. “Ta, bangun, Ta! Semesta!” aku membuka mataku. Samudra di sebelahku menatapku khawatir. ”Kamu ngimpi apaan sampai ngigau segala? Badanmu sampai basah kuyup keringetan makanya aku bangunin.” jadi rupanya aku bermimpi. Mimpi itu terasa amat nyata, sampai aku masih bisa merasakan emosinya setelah aku terbangun. ”Ta? Woy! Masih gak enak badan?” Samudra bertanya karena aku masih bengong, aku bingung berusaha mengingat-ingat mimpiku barusan. Apa karena aku tertidur setelah memikirkan Wulan dan Samudra makanya aku memimpikan mereka? Jadi suara Wulan yang tadi ku dengar adalah suara Samudra yang berusaha membangunkanku ya? ”Jam berapa sih?” akhirnya aku berusaha mengumpulkan kesadaranku dan mencoba duduk. ”Baru jam 5.” jawab Samudra masih memandangku dengan tatapan menyelidik. ”Tidur lagi aja kalau masih gak enak badan.” sarannya. Aku memang merasa lemas dan pusing. Tapi terus berbaring tidak membuatku merasa lebih baik juga. Pijar masuk kamar dengan membawa bungkusan plastik. Ada parasetamol, vitamin C, wedang jahe, dan gorengan. Layung menyusul masuk ke kamar dan langsung menyerbu gorengan. ”Orang sakit gak boleh makan gorengan. Ini gorengannya buat kita yang jagain.” kata Layung sambil menatapku. Sam ikut berebut gorengan dengan Layung. ”Nih wedang jahe buat anget-anget. Nanti malam mau makan apa?” tanya Pijar. ”Mie ayam enak, Jar.” jawab Layung. ”Dudu koe (bukan kamu). Semesta ini lho.” Pijar merebut gorengan di tangan Layung lalu melahapnya. Layung mengambil lagi gorengan yang masih hangat di dalam plastik. ”Futsal jadi gak?” tanyaku. ”Gak lah. Meh njaluk dijewer Wulan ning tengah lapangan po. (Mau minta dijewer Wulan di tengah lapangan?)” jawab Pijar sambil menggaruk kupingnya. Wulan memang akan murka bila salah satu dari kami sakit dan tidak ada yang merawat. ”Mie ayam bakso babe aja kalo gitu.” ajakku. ”Oke, nanti tak bungkuske.” kata Pijar. Dia gantian merebut gorengan dari tangan Samudra. ”Makan di sana aja. Tambah pusing aku kalau tiduran terus.” aku geli sendiri melihat mereka berebut gorengan. Tanganku menjulur ikut masuk ke plastik bungkus gorengan, belum sampai menyentuh mendoan tangan Layung menyampar punggung tanganku. ”Gak boleh, kesehatanmu lho! Gorengan gak sehat, jangan.” kata Layung sambil mengambil plastik gorengan menjauhkannya dariku. Sam yang melihatnya lalu menyuapiku dengan cuilan mendoan dari tangannya. ”Heee, tak kandake (aku adukan) Wulan!” ancam Layung sambil mengambil ponsel lalu memotret kami yang sedang mengunyah tempe mendoan. “Kandake opo? (Aduin apa?)” Wulan tiba-tiba masuk ke kamar langsung menjawab kalimat Layung. ”Lho, panjang umur koe (kamu), Lan! Samudra lho ngasih Semesta mendoan, padahal wis tak umpetno (udah aku sembunyiin) lho!” Layung langsung mengadu pada Wulan, batal mengiriminya pesan berisi foto kami mengunyah mendoan. ”Sammmm” Wulan mencubit lengan Sam sambil melotot begitu Layung selesai bicara. ”Aduduh, sakiiitt. Kasian ini lho Semesta ngiler liatin kita. Cuma secuil doang, Lan. Sumpah!” Sam mengkerut kesakitan sampai Wulan melepaskan cubitannya. Cubitan kaum hawa memang tak pandang bulu, pada yang kurus pada yang gemuk pada yang berotot maupun yang kerempeng tetap menyakitkan. ”Hehe” aku tertawa mengaku salah sekaligus senang melihat tingkah mereka. Wulan seperti ibu yang sedang mendidik anak-anaknya. ”Kamu kok tiba-tiba udah di sini, Lan? Gak kedengeran suara pager dibuka.” Wulan mengalihkan pandangannya ke Pijar yang bertanya. ”Emang gak ditutup kok.” jawab Wulan cepat. ”Woo, Layung ki! Wes tak kandani melbu keri nutup gerbang! (Dasar Layung! Aku sudah bilang kalau masuk terakhir harus tutup gerbang!)” Pijar selalu marah-marah kalau pagar tidak ditutup. Sebagai anak hukum, dia sangat percaya kalau kejahatan tidak terjadi hanya karena ada niat pelaku tapi juga karena ada kesempatan, makanya dia paling kesal melihat gerbang tidak ditutup atau barang-barang berharga tergeletak sembarangan. Baginya memberi kesempatan orang untuk melakukan kejahatan adalah kesalahan mutlak si korban. ”Wes tak tutup yo! Lan, ngarang ae neg ngomong. (Udah aku tutup kok! Lan, ngarang aja kamu kalau ngomong.)” Layung gelagapan membela diri. “Ngarangmu kui! Emang rak mbok tutup kok! (Ngarang darimana. Memang tidak kamu tutup kok!)” mereka mulai berdebat dengan bahasa daerah, aku dan Samudra seru menonton tanpa mengerti seutuhnya apa yang mereka ributkan. ”Mosok?? Tak tutup yo mau. Koyoe ding. Lali. (Masa?? Sudah kututup kok tadi. Kayanya sih. Lupa.)” Layung mengatakannya dari yang awalnya ngegas berubah jadi ragu-ragu lalu ditutup dengan hehe yang canggung. ”Wooooo!” sorakan dan hantaman kecil menyerbu Layung dari segala penjuru. Dia tertawa sambil membungkuk menutupi kepalanya. Aku selalu merasa geli setiap melihat mereka meributkan hal-hal kecil seperti ini. Sungguh jenaka bak menonton pertunjukan ketoprak secara live. Tubuhku yang tadinya terasa lemas jadi lebih bertenaga karena terhibur. ”Udah enakan belum, Ta?” tanya Wulan setelah puas memukul Layung. ”Udah, berkat secuil mendoan dari Sam.” jawabku melawak. ”Wedang jaheku gak dianggep.” Pijar ngambek. ”Berkat wedang jahe dari Pijar juga.” jawabku kemudian. ”Ngambekan kaya cewek.” sindir Sam. Pijar melengos dengan satu tangan dilipat di d**a, satunya lagi pura-pura menyelipkan rambut di belakang telinga mengikuti gaya b*****g di sinetron. “Emang.” alisnya diangkat, mulutnya ditarik kebawah sambil mengatakannya dengan suara dibuat-buat. Kami tertawa berjamaah. “Ayo mie ayam babe.” ajakku pada Wulan. ”Makan sana?” tanya Wulan ”Iyalah, mie ayam dibungkus gak enak.” jawabku. ”Yaudah mandi dulu, bau keringet.” ejek Wulan. ”Eh tadi dia ngigau lho. Badannya keringetan semua, terus tangannya gini nih sambil bilang, ngann-jangann.. Ngimpi apa sih?” Sam tiba-tiba teringat kembali pada kejadian tadi. Dia memperagakan tanganku seperti mencoba meraih sesuatu di udara sambil berbicara dengan lirih. Layung, Pijar dan Wulan tertawa melihat peragaan Sam. ”Masa gitu? Mimpi apa? Lupa. Udah ah, mandi dulu.” Aku tak menyangka gerakan tanganku di mimpi yang berusaha menahan tangan Wulan sampai terbawa saat tidur. Aku tak mungkin melupakan mimpi itu, perasaan tak berdaya, sedih dan takut masih terasa kapan pun aku mengingatnya. Dan kurasa itu bukan sesuatu yang bisa aku sampaikan pada orang lain. Aku merasa segar bugar setelah mandi. Mungkin wedang jahe yang kuminum tadi membuat angin-angin penyakit di badanku minggat. Tapi untuk berjaga-jaga aku tetap membawa parasetamol di saku saat kami berangkat makan. Kami berangkat selepas magrib, waktu makan malam bagi sebagian besar orang. Warung mie ayam babe jadi penuh sesak dengan pelanggan yang lapar. Kami memutuskan untuk pindah makan ke tempat yang lebih lengang saja. ”Bakmi jawa mas Arjun memang terbaik.” Layung menyantap bakmi rebus yang masih berasap sambil megap-megap. ”Langitnya cerah banget, padahal tadi gluduk-gluduk.” kata Wulan sambil mengamati langit dari meja tempat kami makan. Warung bakmi mas arjun tempatnya di pinggir jalan khas pedagang kaki lima. Ada tenda terpal yang muat tiga meja panjang, lalu di sampingnya masih ada dua meja panjang yang tidak tertutup terpal. Kami memilih meja yang langsung beratapkan langit malam. ”Ya bagus dong, jadi bisa liat bintang-bintang. Daripada liatin Layung mangap-mangap.” ujar Sam sambil menyruput es teh manis menunggu pesanannya matang. ”Yung, minta kuah, Yung.” Pijar mendekatkan piringnya ke Layung. ”Jar, hih! Nasi goreng kok pake kuah sih!” Layung selalu risih tiap Pijar menyiram kuah bakmi ke nasi goreng pesanannya. Hanya tiap kami makan di warung mas Arjun, Pijar selalu memesan nasi goreng dan memaksa siapapun yang lain untuk memesan bakmi rebus. Itu supaya dia bisa menyiramkan kuah bakmi ke nasi goreng pesanannya. ”Ini kenikmatan hakiki, Yung. Kuah mie godog mas Arjun tuh mantab banget, tapi nasi gorengnya juga ngangeni. Masa iya aku pesen dua porsi.” jelas Pijar. “Ya tapi gak dikuahi juga dong. Itu menyalahi konsep awal nasi goreng, Jar.” Layung mulai berteori. ”Gak perlu konsep-konsepan untuk urusan lidah, Yung. Ini namanya selera.” Pijar tegas menjawab. ”Iya bener itu, Jar. Selera orang kan beda-beda.” tambah Samudra. Layung mangut-mangut sambil menggigit sate kulit yang dibakar. “Nih, tambah kuah bakmiku aja, Jar. Layung gak kenyang nanti kamu gangguin.” kusodorkan bakmi rebusku yang baru saja datang. ”Coba, Ta. Aku juga mau nyobain nasi goreng pake kuah bakmi.” Wulan mencelupkan sendok berisi nasi gorengnya ke kuah bakmiku, lalu melahabnya. Ekspresinya langsung berubah. Seperti baru saja mendapat wahyu, matanya berbinar, alisnya terangkat, mulutnya menguyah sambil tersenyum. ”Enakkk..” Wulan mengatakannya sambil menggoyang-goyangkan kepala seperti menari india. ”Hahhh… nambah lagi aliran sesat.” Layung menghela nafas melihat Wulan mulai menyendokkan kuah beserta bakmi ke dalam piring nasi gorengnya. ”Ya to?? Kandani rak ngandel (dikasih tau gak percaya).” Pijar mengeluarkan wajah congkaknya. ”Makanmu banyak amat, Lan? Semesta belum makan itu..” Sam mengamatiku yang daritadi seru melihat mereka makan sampai aku sendiri lupa belum mengambil sendok. ”Ya ampun, sini aa.” Wulan membawa sendoknya ke arahku, menyuapiku dengan nasi goreng yang sudah disiram kuah bakmi. Aku ragu sesaat. ”Jangan ikut sekte mereka, Ta!” Layung pura-pura melarangku dengan mengangkat tangannya menghalangi Wulan. ”Mangap gak! Siram ke muka lho nih!” serta merta aku membuka mulut menerima suapan Wulan setelah mendengar ancaman bernada serius. Pijar dan Sam menahan tawa, melihat tingkah kami bertiga. Aku sempat ragu sesaat, bukan karena nasi goreng yang disiram kuah bakmi tapi karena orang yang menyuapkannya. Seingatku baru tadi siang aku memutuskan untuk membunuh perasaanku pada Wulan. Malam ini aku melihat matanya bersinar menyilaukan langit malam. Menggetarkan hatiku yang tadi damai, yang tadi sudah mantap mempekerjakan waktu dan jarak sebagai pembunuh bayaran, yang tadi yakin benar melupakan dan merelakan semudah menutup mata dan membukanya kembali sedetik kemudian. Aku mempertanyakan kembali, bisakah aku memandang bintang-bintang dan bulan purnama tanpa membayangkan dirinya? Bisakah aku tidur nyenyak dengan memimpikan tawanya? Bisakah hidup berjalan normal tanpa aku merindukannya? Dan mulutku masih saja mengunyah nasi goreng yang telah basah disiram kuah bakmi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN