bc

Purnama Ketiga

book_age16+
189
IKUTI
1K
BACA
time-travel
twisted
mystery
straight
genius
expert
male lead
multiverse
supernature earth
supernatural
like
intro-logo
Uraian

Samudra tanpa sadar membaca sebuah mantra yang membuat bulan menghilang dari langit dan Wulan seorang gadis yang terlibat cinta segitiga dengannya diculik tepat di depan matanya. Mantra apa yang telah dibacanya? Bagaimana caranya mengembalikan bulan dan Wulan? Dan apa kaitan Samudra dengan mantra tersebut?

Disisi lain Semesta yang juga menjadi saksi mata malam itu harus mengumpulkan keping-keping petunjuk untuk mengungkap teka-teki purnama ketiga dan mengembalikan dunia seperti semula. Perjalanan Semesta dan Samudra tidak hanya mencekam tapi juga diwarnai pengorbanan cinta dan nyawa.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Malam ini purnama muncul dengan percaya diri. Tak ada awan yang menutupi, tak ada bintang yang cukup berani berkedip menyaingi. Sinar purnama yang keemasan seperti menembus kulitku, langsung merasuki sukma membuatku bugar, berani, serta merta ikut merasa percaya diri. Aku Semesta dan saat ini aku sedang berkemah menikmati bulan purnama dengan empat kawanku, Samudra, Layung, Pijar dan Wulan di sebuah pulau kecil di utara Pulau Jawa. Pulau ini berpantaikan pasir putih, ombaknya tenang meski berhadapan langsung dengan samudra yang maha luas, hutan tropis dan sebuah makam tua yang dikeramatkan ada di tengahnya seperti menjadi jantung dari pulau yang sepi tak berpenghuni ini. Ada sebuah mercusuar tersembunyi di dalamnya hutan, di sebelah baratnya ada dermaga tua yang sudah tidak digunakan. Dermaga itu hanya berbentuk anjungan kayu yang akan habis ditapaki dalam puluhan langkah saja, tapi matahari terbenam dengan anggun di ujung dermaga itu, titik terbaik untuk menikmati senja pulau ini. Untuk kami yang datang demi merayakan purnama, pasir pantai yang hangat dan halus kami pilih menjadi ranjang kami. Melingkari api unggun, memandangi bulan raksasa bulat sempurna, malam ini adalah purnama kedua di bulan ini, sebuah gerhana bulan yang hanya terjadi beberapa puluh tahun sekali, suatu kejadian langka persembahan alam semesta. “Ta, bulan purnama biasanya hanya satu kali dalam sebulan, kan?” tanya Wulan “Iya, Lan. Malam ini kita diberikan kesempatan kedua oleh sang bulan, malam ini kita bisa melihatnya berevolusi menjadi penguasa malam, sang gerhana bulan.” jawabku. “Bulan malam ini jadi lebih besar dan lebih terang daripada malam-malam yang lain ya.” kata Wulan lagi. “Bukan bulannya yang jadi besar, Lan. Itu karena jaraknya yang semakin dekat dengan bumi, makanya tampak lebih besar dan lebih terang.” jelas Layung. “Lebih indah.” tangkas Samudra. “Dan lebih kuat.” tambah Pijar. Samudra memandang Pijar. “Aneh, ini sama persis seperti yang di buku.” Dia pergi dan kembali dengan membawa sebuah buku yang tampak lapuk dan menguning. Kami berempat membisu memperhatikan Samudra membolak-balik beberapa halaman dengan serius. “Nih, dengerin. Sang purnama naik bangkit kedua kali. Maha perkasa, maha digdaya. Hatta, grahana lahir mengecup bhumi. Maka takliflah aji kekuatan persembahan grahana.” Samudra membacakannya dengan khidmat. “Buku apa itu, Sam?” tanya Wulan. “Di buku ini ceritanya bulan purnama punya kekuatan suci yang diturunkan saat terjadi gerhana bulan. Grahana lahir mengecup bhumi, seperti kata Layung tadi, bulan mendekat ke bumi. Gerhana malam ini gerhana langka, kan? Yang menjadikan purnama muncul dua kali dalam satu bulan kalender. Bulan malam ini lebih indah, lebih kuat, maha perkasa maha digdaya.” Samudra bicara menggebu-gebu seperti kesetanan, mengacuhkan tatapan kami yang sedari tadi bingung bertanya-tanya. “Mulai lagi deh Si Sam. Siap-siap dengerin dongeng kawan-kawan.” celoteh Layung menyindir Samudra. “Sam, itu buku apa?” kataku mengulang kembali pertanyaan Wulan yang belum terjawab. “Awalnya kupikir ini sastra klasik, Ta. Setelah k****a berkali-kali rasanya gak seperti novel, tapi malah kayak kitab tentang kekuatan bulan gitu.” “Kekuatan bulan gimana? Kamu bicaranya jadi persis kaya mbahku di kampung lho, Sam.” sambung Pijar. “Wah, jangan-jangan aliran sesat itu, Sam.” kata Layung bercanda. “Heh, ngece ya koe! (ngeledek ya kamu!) Mbahku bukan aliran sesat, cuma suka ngilmu (mencari ilmu) aja.” Pijar membela diri sambil cengengesan. “Ssssttt, ada lanjutannya.” Samudra masih dengan wajah serius, bersungut-sungut mengumpulkan konsentrasi kami untuk mendengarkannya kembali. Hening sejenak, hanya terdengar suara ombak, suara kayu yang retak dimakan api, dan dersik merdu mengalun di kuping kami. Perhatian kami seutuhnya pada Samudra. Kali ini dia berdiri menghadap lautan, menatap kami yang duduk melingkari api unggun, satu per satu. Layung dan Pijar menatapnya geli, saling pandang dengan aku dan Wulan yang duduk di seberang mereka berdua. “Sebentar lagi theater dimulai.” bisik Layung kepada kami, mengindahkan Samudra yang dari tadi masih mematung berdiri ditengah kami. Dengan cahaya api unggun Samudra membaca kembali yang disebutnya kitab tentang kekuatan bulan itu. Ditariknya nafas yang panjang, lalu dengan suara lantang, Sam membacakan bait selanjutnya. “Maka badai turunlah badai, malam jadilah dingin, pekat dan cekam. Biarkan purnama lalu hilang dan takkan lagi muncul dalam abad-abad selanjutnya. Samudra penuh amuk, semesta purna, orang-orang gerilya, jadikan resah kekuatan untuk mencari purnama-purnama yang lahir dari rahim yang sudah mati dimantrai. Maka badai tandas setelah purnama ditemukan kembali ketiganya.". Hening kembali terjadi. Samudra lagi-lagi mematung, kali ini sambil mendongak ke atas, memandang bulan. “Udah, Sam?” tanya Layung memecah keheningan. Tepat setelah itu tiba-tiba angin kencang bertiup, gemuruh dan kilat muncul, ombak mengganas, petir mulai menyambar-nyambar. Aku, Wulan, Layung dan Pijar tertegun, kaget melihat keadaan sekitar kami yang tadinya tenang dan damai berubah mendadak badai. Tapi Samudra tidak beranjak sedikitpun, kepalanya masih mendongak, matanya menatap bulan. Saat itu untuk pertama kalinya dalam hidupku kulihat dengan mata kepalaku sendiri awan tebal menggulung-gulung, memutari rembulan. Bulan purnama yang tadinya bulat sempurna tiba-tiba mengabur, seperti dilahap oleh awan, sisinya memudar sedikit demi sedikit, cahayanya yang terang benderang menghilang sisi demi sisi lalu gelap gulita. Bulan yang bulat utuh itu lenyap. Masih terbelalak mataku memandang bulan yang menghilang, tiba-tiba dari atas api unggun muncul pusaran angin. Pusaran angin itu semakin meluas membentuk suatu inti pusat yang dari dalamnya muncul tangan menarik Wulan masuk ke pusarannya. Aku yang berdiri di samping Wulan hanya diam menganga tak melakukan apa-apa, bahkan pikiranku pun masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi saat ini. Aku hanya sempat melihat tangan yang menarik Wulan. Lalu Wush! dalam satu kedipan mata pusaran angin itu lenyap. Angin berhenti berhembus. Lautan kembali tenang. Awan yang tadi menggulung-gulung di atas sana mendadak hilang, menyisakan langit yang kosong dan hampa. Persis di sana, aku yakin sekali tadi bulan itu ada di sana, persis di atasku. Tapi singgasana itu sekarang kosong, langit benar-benar gelap gulita tanpa bulan dan bintang. Bukan, bukan mataku yang buta. Api unggun kami masih menyala, aku masih bisa melihat sekitar dengan jelas karena cahaya dari api unggun ini. Kini tampak olehku Wajah Samudra, Layung dan Pijar yang juga menunjukkan ekspresi bingung tak percaya. Seperti tersadar dari hipnotis, kami saling pandang, tak sanggup berkata-kata. “Ini apa? Apa ini, Sam?!” Layung berteriak membentak Samudra yang masih terpaku sepertiku dan Pijar. Aku jadi ikut tersulut, kuraih kerah jaket Samudra dengan penuh amarah. “Sam? Kamu juga lihat kan? Bulannya hilang! Wulan juga! Wulan hilang! ini bukan mimpi, Sam! Apa yang kamu baca tadi?!” Samudra menatapku, matanya terbelalak, tidak bergerak sedikitpun. Kulayangkan tinjuku sampai membuatnya jatuh terguling di atas pasir. Kuangkat lagi badannya, kupukuli dengan beringas. Tak habis-habis pukulan kulayangkan ke wajahnya, tapi Samudra hanya diam menerima pukulanku. Tanpa sadar kami berdua bergelut dalam air mata. Mulutku meracau menyalahkan Samudra atas hilangnya bulan dan Wulan. Tak kudengar apapun, tak kurasakan apapun, selain rasa takut dan amarah. Gadis yang kucintai, lenyap.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.1K
bc

Rise from the Darkness

read
8.7K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.8K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

Scandal Para Ipar

read
708.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook