Aku duduk di kursi kayu tua di sebuah dapur yang hangat, aroma roti panggang dan sup sayuran menguar di udara, membawa memori yang seharusnya menenangkan. Di seberangku, ada dua sosok yang kucintai lebih dari apa pun.
Istriku tersayang, wanita dewasa dengan senyum lembut yang sedang memasak, rambutnya terikat longgar sementara ia mengaduk panci dengan penuh kasih. Dan anakku, gadis kecil berusia tujuh tahun dengan tawa yang seperti lonceng kecil, matanya berbinar saat ia membantu ibunya mengupas wortel dengan tangan mungilnya.
Mereka bersenda gurau, candaan ringan mereka memenuhi ruangan dengan kehangatan yang seharusnya membalut jiwaku. Aku tersenyum, tapi rasanya sungguh aneh karena di tengah kebahagiaan ini, ada sesuatu yang salah.
Terlalu salah. Bagaimana aku bisa merasa sebahagia ini, seolah dunia sempurna, padahal tubuhku terasa seperti dihancurkan jengkal demi jengkal oleh kapak yang tumpul?
Setiap serat ototku berteriak kesakitan, seperti ditusuk, dipotong, dan dibakar sekaligus. Rasa sakit yang begitu parah hingga tulang-tulangku seolah retak di bawah tekanan yang tak terlihat. Setiap serat tubuhku terasa sakit yang luar biasa parah.
Tetapi sekarang. Aku hanya ingin tersenyum melihat keluarga kecil nan bahagiaku ini.
Tidak! Aku ingin lebih dari ini! Aku ingin meraih mereka! Berteriak pada mereka agar mereka mengenyahkan rasa sakit ini pada tubuhku!
Aku mencoba menggapai mereka. Tapi saat jari-jariku hampir menyentuh mereka, kabut tebal itu kembali menyelimuti pandanganku, lebih pekat dari sebelumnya, seperti asap yang hidup, menelan cahaya dapur yang hangat.
Aku masih duduk ditempat yang sama seperti sebelumnya. Istri dan anakku tidak nampak dimanapun. Mereka pasti sedang pergi, mungkin ke pasar atau ke rumah tetanggaku yang baik hati. Tidak tahu bahwa aku pulang lebih awal dari pekerjaanku. Rasanya tubuhku sakit sekali.
Mungkin karena ini aku ijin pulang lebih awal?
Tapi aneh sekali, seharusnya dengan badan sesakit ini, aku bahkan tak bisa bangun dari tempat tidur, bukan?
Tapi entah bagaimana, aku bisa bergerak, meski setiap hembusan napas terasa seperti api yang membakar d**a.
Ditengah semua rasa sakit ini, aku mendengar pintu rumahku dibuka. Bunyi engsel yang berderit pelan, diikuti hembusan angin segar yang membawa aroma tanah basah setelah hujan. Wah, sepertinya itu istriku tersayang.
Aku bangkit. Rasanya sangat sakit bangkit seperti itu, seperti tulang punggungku patah menjadi serpihan-serpihan kecil. Sakitnya luar biasa, seperti ada ribuan jarum yang menusuk secara bersamaan, tapi anehnya, tetapi aku tidak mengalami kesulitan apapun untuk melangkah ke pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang tengah. Kaki-kakiku bergerak dengan sendirinya, seolah ada kekuatan tak terlihat yang mendorongku maju. Tetapi langkahku langsung terhenti ketika aku mendengarnya.
"Liotta sayang, aku sudah tidak bisa menahannya!" suara berat itu, kasar dan penuh nafsu, memanggil nama istriku dengan nada menggoda yang nakal, seperti bisikan setan yang merayu jiwa tak berdosa.
Aku mendengar suara benda terjatuh pelan di lantai, mungkin tas atau sepatu, diiringi lenguhan istriku yang lembut, yang dulu selalu membuatku merasa dicintai, tapi kini seperti pisau yang menusuk hati. Aku mendengar istriku mendesah keras dan meracau, kata-kata tak jelas yang bercampur dengan erangan penuh gairah.
Amarah mulai menyerang pikiranku seperti badai petir yang tiba-tiba, membakar setiap kenangan indah yang pernah kami bagi. Bagaimana bisa?
Liotta, wanita yang kucinta sejak remaja, ibu dari anakku, yang selalu tersenyum manis saat aku pulang lelah dari kerja.
Tubuhku yang sudah sakit kini terasa mendidih, darahku seolah berubah menjadi lava yang mengalir di pembuluh darah, membuat jantungku berdegup kencang hingga terasa mau meledak. Rasa sakit fisik bercampur dengan luka hati yang dalam, membuat amarahku memuncak di ubun-ubun, seperti gunung berapi yang siap meletus setelah bertahun-tahun tertahan.
"Ssssh... sayang... apa kau suka milikku?"
Suara menjijikan disertai desahan dan erangan yang membutakanku dengan amarah buta. Aku bisa membayangkan mereka, tubuh yang saling menempel, keringat yang mengalir, napas yang tersengal, dan itu membuatku mual, ingin muntahkan semua isi perutku. Pengkhianatan ini... rasanya seperti dunia runtuh di atas kepalaku.
Aku berbalik ke arah lemari dapur dan membukanya pelan, tanganku gemetar tapi masih cukup tenang untuk tidak membuat suara. Aku masih sangat waras. Atau begitulah yang kubilang pada diriku sendiri, untuk tidak memberi tahu keberadaanku pada dua makhluk menjijikkan sekaligus paling hina itu, yang kini tak henti-hentinya mendesah penuh nafsu biadab.
Oh, aku masih sangat waras saat menggambil sebuah kapak yang biasanya aku gunakan untuk membelah kayu besar menjadi potongan kecil. Kapak itu dingin di tanganku, beratnya terasa sempurna. Bahkan rasa sakit ditubuhku terasa sempurna. Sempurna membakar amarahku. Mengubahnya menjadi bahan bakar yang tak terpadamkan. Setiap denyut nyeri mengingatkanku pada tahun-tahun pernikahan kami, pada janji setia yang kini hancur berkeping-keping seperti kaca yang dipecahkan.
Aku melangkah hati-hati menuju asal suara memuakkan itu dibuat, kaki-kakiku menyusuri lantai kayu yang dingin, setiap langkah terasa seperti menapak di atas bara api.
Aku tak perlu melangkah terlalu hati-hati, karena keributan hina mereka, desahan, erangan, bisikan kotor itu sudah menyamarkan suara langkah kakiku sepenuhnya. Hati yang tadinya penuh cinta kini dipenuhi kebencian yang membara, seperti api neraka yang melahap segalanya.
Akhirnya, aku melihat mereka. Di ruang tengah yang remang, di atas kursi usang yang kami beli bersama saat baru menikah, dua mahkluk kotor, barbar, dan paling hina yang pernah aku kenal, sedang b******u dengan panasnya. Tubuhku memang sudah terasa sangat sakit, sekarang hatiku juga dipenuhi oleh rasa sakit.
Aku mengenal pria telanjang yang sedang menggauli istriku itu. Dia si tetangga baik, sahabat baikku sejak kecil, yang pernah menyelamatkan hidupku di masa lalu, yang selalu kutraktir makan malam, yang kusebut saudara.
Kini, dia akan jadi sahabat baik bagi kapakku. Pengkhianatan ganda ini... rasanya seperti pisau yang ditikamkan dua kali, sekali di punggung, sekali di hati. Air mata panas mengalir di pipiku, bercampur dengan keringat dingin ketakutan dan amarah.
TIDAAAK!!!
Teriakan dipikiranku tidak bisa mencegah ayunan kapakku menghantam punggung menjijikkan tetanggaku. Menancap sempurna seperti sebuah kayu. Semua orang berteriak termasuk aku. Sayangnya teriakanku bukan teriakan ngeri seperti dua makhluk laknat yang masih menyatu itu, yang sekarang tengah menatapku horor. Mata mereka melebar penuh ketakutan dan penyesalan terlambat.
TIDAAAK!!! JANGAAAN!!!
Persetan dengan jeritan dikepalaku, rasa sakit di tubuhku, dan rasa sakit dihatiku.
Aku mengayunkan kapakku kearah mereka lagi.
Satu, dua, tiga, setiap ayunan terasa seperti pelepasan, darah memercik ke dinding, daging tercabik, jeritan mereka bercampur menjadi simfoni mengerikan. Mereka semakin menyatu sekarang. Darah dan daging. Tidak hanya alat kelamin mereka saja. Semuanya sudah menyatu dalam kekacauan merah yang mengerikan.
Harusnya mereka senang. Tentu saja aku senang. Aku sangat senang, sampai air mata kebahagiaan dan keputusasaan bercampur dengan darah di wajahku. Tapi itu belum cukup. Amarah masih membara, sampai aku mengayunkan kapakku kuat-kuat. Kepalaku terbelah. Kapak itu melesak sampai diantara kedua mataku.
Rasa sakit terakhir yang menyengat seperti kilat, sebelum kegelapan menyelimuti segalanya.