Chapter 7 - Corruption

2131 Kata
“Aa... aaahh!” Jeritanku pecah di udara, terpotong oleh rasa sakit yang menusuk kepala. Gema itu seperti suara manusia yang mencoba melarikan diri dari tubuhnya sendiri. Jeritan melengking milikku menggema diseluruh aula altar yang dingin. Aku dengan panik mencoba menggapai kepalaku yang terbelah, hanya untuk mendapati tanganku tak dapat beranjak dari tempatnya terikat. Barulah sedetik kemudian aku sadar bahwa kepalaku baik-baik saja, tidak terbelah, bahkan tidak berdarah sedikitpun. Kepala yang terbelah itu bukan milikku. Tetapi kesadaran itu tak bisa membuatku berhenti berteriak panik. Aku sudah terbiasa masuk ke dalam memori orang lain. Sudah biasa merasakan hidup yang bukan milikku. Tapi kali ini… ini berbeda. Cairan itu merobek tubuhku, sementara memori yang dipaksakan ini merobek jiwaku. Aku dipaksa hidup sebagai orang lain yang dikhianati, dipaksa merasakan amarahnya, lalu dipaksa membunuh dengan tangannya. Aku bahkan dipaksa merasakan mati… padahal tubuhku masih hidup. Aku benar-benar takut bukan hanya kehilangan tubuhku, tapi kehilangan diriku sendiri. "Ber...hen..ti!!" dengan susah payah aku mengatakannya. Aku menatap Gwazel putus asa. Memohon agar dia menghentikan siksaan ini. Berharap dia memiliki obat penawar yang bisa mengenyahkan semua rasa sakit yang kualami dan perasaan ngeri yang baru saja terjadi. Aku harus menangis.. biasanya Gwazel akan membebaskanku setelah satu air mataku terjatuh. Atau aku hanya harus bernyanyi saja.. Ayolah aku harus mengingat nyanyian apapun... apapun.... Tapi ketika aku menatapnya, satu-satunya yang bisa kulihat hanyalah sepasang mata hazelnya dari balik kain hitam yang menutupi wajahnya. Tidak ada ekspresi apapun. Tidak mendekat. Tidak memalingkan wajah. Hanya tatapan kosong yang terlalu tenang. Cahaya matahari terjatuh di lengannya, memanjangkan bayangannya di lantai. Aku menunggu. Tapi ia tidak bergerak sedikitpun. Itu yang membuatku ngeri. Dia tidak tampak menunggu tangisanku, tidak peduli apakah aku bernyanyi atau tidak. Seolah dia sudah tahu aku akan gagal, dan dia hanya menunggu waktu untuk menjatuhkan pisau terakhirnya. Kepalanya miring sedikit ke kiri, gerakan kecil yang tampak santai tapi membuatku merasa seperti binatang percobaan yang diamati dengan penuh rasa ingin tahu. Tangannya bergerak pelan, seperti seekor kucing yang mempermainkan mangsanya, mencengkeram daguku dengan tenang. Ibu jarinya menekan pipiku pelan, lalu menahan di sana lebih lama dari seharusnya tekanan kecil yang dingin, cukup untuk membuatku mendongak paksa. Bukan gerakan tergesa orang yang marah, tapi gerakan seseorang yang sangat yakin akan kekuasaannya. Dan di situlah aku sadar, air mataku tidak akan berarti apa-apa baginya kali ini. "Hgh... aaah!!!" gelombang rasa sakit lain tiba-tiba menghantamku. Membuatku menutup rapat mataku, berusaha menahannya. Ditengah teriakanku itu, aku merasakan sebuah tangan mencekik tenggorokanku. Aku tercekat. Teriakanku tertahan di kerongkonganku, membuatnya terasa menyakitkan. Aku ingin mengeluarkan jeritanku, lebih tepatnya adalah Aku... MEMBUTUHKANNYA!! Tubuhku berontak, bahuku bergoyang liar membuat tanganku yang terikat terasa seperti akan copot dari engselnya, kakiku berusaha menendang Naga di depanku. Tapi dengan mudahnya Gwazel menghindar dan cekikannya semakin kuat. Tanpa peringatan, sesuatu yang panas mengalir masuk ke mulutku menuju tenggorokanku. Aku melihatnya sekarang. Itu adalah cairan kental, berwarna gelap seperti darah yang mendidih. Terasa seperti magma yang membakar kerongkonganku. Kepalaku bergoyang liar ke kiri dan kanan, mencoba memuntahkan cairan itu, tapi tangan Gwazel kini memegang daguku dengan kuat, memaksa mulutku tetap terbuka. "Minum!" Aku melawan, gigiku mengatup meski sakit. Tapi cairan itu terus mengalir, memaksa masuk lebih dalam, membuatku tersedak dan batuk, tapi setiap batuk hanya membuatnya semakin dalam. Terlalu banyak siksaan. Terlalu banyak rasa sakit. Pikiranku lelah akan rasa sakit yang tak henti-hentinya ini, seperti gelombang ombak yang terus menerjang tanpa jeda, membuatku ingin menyerah. Sayangnya tubuhku tak mau berhenti menderita. Setiap hembusan napas terasa seperti siksaan baru, dan akhirnya, pandanganku gelap, kegelapan menyelimuti seperti selimut hitam yang menyesakkan, menarikku ke dalam mimpi buruk lain yang lebih dalam. Aku tidak tahu kapan rasa sakit itu berhenti. Atau apakah ia benar-benar berhenti. *** Aku berjalan di kegelapan malam. Hari ini adalah hari yang cukup menyenangkan, aku mendapatkan sepotong roti besar dari seorang nenek yang baik hati di pasar desa, roti yang masih hangat dan beraroma manis. Aku tak sabar memberikan roti didalam dekapanku ini pada anak anakku dirumah. Mereka pasti akan bersorak sorai dengan mata kecil mereka yang berbinar-binar, melihat kali ini aku pulang membawa roti sebesar ini, bukannya jamur liar pahit seperti yang biasa kami santap setiap harinya. Senyum mereka, tawa polos mereka, itu adalah satu-satunya cahaya dalam hidupku yang gelap. Rasanya sangat aneh ditengah kebahagiaanku ini, aku merasa seperti baru saja dihianati, seperti ada lubang menganga di d**a yang tak bisa kututup. Selain itu badanku terasa sangat menyakitkan. Setiap langkah seperti menapak di atas bara api. Aneh juga tubuhku rasanya panas sekali, seperti ada yang sedang membakar hutan. Tapi aku tak mempedulikannya. Hanya perlu menyusuri hutan sebentar, kemudian aku akan bertemu dengan anak anakku. Sedikit menyedihkan memang mereka tak bisa bermain keluar seperti anak anak lainnya. Jika orang orang melihat kaki kambing mereka dan ekor mereka. Atau dalam kasus Pilopy, gadis keciku itu memiliki tanduk kecil di kepalanya. Tanduk itu menyembul lucu diantara rambutnya yang ikal. Mereka semua mirip sekali dengan ayah mereka. Aku merindukan Xantaur. Aku sangat bersyukur bertemu dengannya, bahkan melahirkan anak anak kami. Tetapi sekarang aku sedikit menyesal. Hidup tanpa seorang suami dengan lima orang anak Satir sedikit berat untukku. Apa lagi aku harus menyingkirkan anakku dari para warga. Kalau sampai mereka melihat anak anakku, mereka tak akan segan membunuhnya. Makhluk iblis kata mereka. Rasanya menyakitkan mengingat bagaimana warga desa melempari batu dan lumpur kearahku. Bahkan beberapa pria tua diantara mereka meludah padaku. Pada waktu itu aku hanyalah seorang wanita lemah yang baru saja melahirkan lima anak kembar, aku ditendang keluar dari rumah tabib setelah mereka menyadari bahwa yang kulahirkan adalah anak satir. Mereka tidak tahu bahwa makhluk yang telah aku lahirkan adalah salah satu makhluk mitos yang sangat indah. Tapi para warga itu, mereka tak berpikiran sama denganku. Mereka hanya memandang anak anakku berbeda, dan mereka langsung menghakimi mereka dengan sebutan iblis. Aah... Mengapa pula aku harus mengingat itu? Sekarang sudah tujuh tahun sejak aku membawa 5 bayiku pergi ke dalam hutan. Kini mereka telah tumbuh menjadi anak anak yang ceria. Tidak terlalu baik memang. Bisa dibilang anak anakku termasuk kurus, tetapi mereka sehat dan tumbuh. Bagiku itu cukup. Perasaanku bisa dibilang sedikit aneh saat ini. Aku merasa senang, sekaligus sangat sedih. Apa kesedihan ini berasal dari kehilangan Xantaur? Atau mungkin dari tidak diterimanya anak anakku di lingkungannya? Entahlah aku tidak bisa mencerna itu. Mengabaikan rasa sedih dan sakit di tubuhku, aku masuk ke hutan lebih dalam lagi. Aku menelusup diantara semak semak dan pepohonan berusaha tidak merusak rerumputan yang ku pijak agar tidak menimbulkan bekas baru saja dilewati. Sebuah tidakan pencegahan agar rumah mungilku itu tak mudah ditemukan oleh orang orang yang mengatakan bahwa mereka adalah pembasmi iblis. Sungguh aku tak habis pikir dengan sikap para warga desa. Mereka terlalu berlebihan. Mereka terlalu takut pada makhluk lain. Terutama Warlock, yang memang dulunya pernah menghancurkan desa dengan mengadakan ritual pemanggilan iblis. Setelah mereka berhasil membunuh si warlock, mereka menganggap bahwa semua makhluk kecuali manusia dan binatang adalah iblis. Bahkan mereka terkadang takut pada pepohonan. Roh pepohonan. Belum pernah ada orang yang berhasil melihat mereka. Para Nymph kurasa tahu untuk tidak menampakkan dirinya. Terlebih di depan orang-orang gila itu. Mereka pasti akah hidup di tempat yang jauh dari desa ini. Sayup sayup aku mendengar suara musik. Aku mencoba menajamkan telingku yang berdenging menyakitkan. Mengganggu sekali rasa sakitnya, tapi aku yakin bahwa suara genderang musik itu berasal dari rumahku. Kakiku kupaksakan untuk melangkah lebih cepat. Aku menerobos semak tanpa terlalu memperhatikan lagi apa yang aku pijak. Suara tabuhan musik semakin keras dan keras ketika aku mendekati rumahku. Alunan iramanya entah kenapa terasa tidak asing bagiku. Aku pernah mendengarnya 8 tahun yang lalu. Ya benar. Irama ini... Kawanan Xantaur... Aku semakin mendekat kearah rumah. Aku akhirnya dapat melihat sedikit kearah rumahku melalui celah pepohonan. Disana ada beberapa satir yang menari nari dan menabuh genderang. Aku bisa melihat beberapa satir kecil yang pastinya adalah anak anakku. Langkah kakiku terasa ringan. Tunggu, ini bukan kakiku. Tapi apa yang bisa kulakukan? Tubuh ini tetap bergerak tanpa bisa kucegah. Badanku mulai ikut meliak liuk sesuai dengan irama musik. Nada-nada itu menari di dalam darahku, menggerakkan sendiku seperti benang menggoyang boneka tali. Anehnya badanku terasa panas dan terbakar. Seluruh badanku sakit sekali, tetapi aku tetap bisa menari tanpa kesulitan. Pikiranku mulai berkabut. Aku merasa senang dapat bergabung dalam gerombolan itu. Menari bersama anak-anakku dan satir lain. Aku bahkan tidak terlalu peduli untuk mencari Xantaur diantara manusia kambing yang lainnya itu. Aku hanya ingin menari, menari dan menari. Roti yang selama ini masih kudekap, kujatuhkan begitu saja. Aku tak kuasa menahan dorongan untuk menggerakkan tanganku dan menggoyangkan kakiku kesana kemari. Selelebat aku melihat roti itu terinjak oleh kaki kami yang sedang menari. Aku tak lagi peduli. Menari dan menari. Irama musik mulai berubah menjadi lebih menghentak. Membuat gerakan kakiku semakin liar. Badanku yang sudah sakit terasa jadi lebih sakit. Kakiku terus menerus bergerak walaupun aku sudah mulai merasa lelah. Tiba tiba sebuah ingatan memasukiku. Ingatan pertama kali aku bertemu Xantaur. Dulu aku pernah juga terpancing musik dari gerombolan satir seperti ini. Aku menari dan terus menari sampai aku tak lagi bisa merasakan kesadaranku. Waktu itu aku masih sangat muda. Setelah sadar yang aku ingat adalah ada seorang pria satir yang tengah mendekapku erat. Dia mengenalkan diri sebagai Xantaur. Dia adalah pria yang cukup tampan menurutku. Dia bilang bahwa nantinya aku akan mengandung. Sebuah berita yang aku terima dengan baik. Ingatan yang menyenangkan. Sampai rasanya membuatku mual. Kali ini akupun akhirnya kembali menari dalam irama yang sama seperti dulu. Sekarang bersama dengan anak anak yang Xantaur bilang akan aku kandung. Mungkin... akhirnya aku bisa kembali ke rumah. Menjadi ibu. Menjadi istri. Lagi-lagi pandanganku menggelap. Aku terbangun dengan rasa sakit yang sangat ketika sebuah pisau memotong pergelangan tanganku sampai putus. Aku mencoba berteriak tetapi mulutku tersumpal oleh sesuatu yang rasanya seperti apel. "Aaah... Tidak seharusnya kau bangun dan menggigit apel itu" ucap seorang pria satir gemuk dengan rambut pirang lebatnya. Dia memegangi potongan tanganku dan memasukannya kedalam sebuah kuali. Aku mencoba bergerak, tetapi seluruh tubuhku tak bisaku gerakan. Hanya bibirku saja yang bisa bergerak, aku mencoba keras menyingkirkan apel dari mulutku dengan mendorongnya menggunakan lidah. Sayangnya apel itu benar benar memenuhi mulutku, dan tersangkut di gigi ketika aku mencoba teriak tadi. "Hei jangan mendorong dorong apel itu keluar!" kata satir itu geram melihat apa yang aku lakukan. Dia mendorong apel dimulutku dengan jari jarinya yang gemuk dan berbulu. Apel itu melesak masuk lebih dalam ke mulutku. Rasanya sangat sakit. Aku mulai menangis. "Hei! Makanan tidak boleh menangis! Kau tau tidak bahwa kualitas daging akan menurun ketika daging itu dibunuh saat sedang bersedih?" Satir itu mendecih sebal, kemudian mengangkat pisaunya tinggi. Dia kembali memotong lenganku. Aku menjerit kemudian tersedak cairan yang keluar dari apel di mulutku. Sungguh aku tak dapat menahan semua ini. Kenapa aku berakhir disini? Kenapa ini terjadi padaku? Pandanganku terhalang air mata saat ada seorang satir lainnya mendekat kearahku. "Quiviu saudaraku, kenapa makanan kita bangun seperti itu?" tanya satir lain yang lebih gagah dan tinggi pada si satir gendut. "Aku juga tidak tau Xantaur, dia bangun ketika aku memotong tangannya" jawab satir bernama Quiviu. Aku mencoba mengarahkan pandanganku. Kalau aku tak salah dengar, satir yang gagah itu adalah Xantaur. Suamiku. Dia harusnya mengenaliku. Dia harusnya akan menolongku. Dengan panik aku mengeluarkan suara untuk memanggilnya. Suara yang ku keluarkan memang aneh. Tetapi aku hanya ingin perhatian Xantaur beralih padaku. Siapa tau dia ingat bahwa aku istrinya. Dan benar saja, ia menoleh. Sesaat, matanya menatapku. Ada sedikit kerutan di alisnya, seperti kebingungan. Jantungku melompat. Itu pasti dia. Itu pasti Xantaurku... Bahkan ia mengangkat tangannya, dan untuk sesaat jemarinya seolah ingin menyentuh wajahku… sama seperti dulu ketika ia menghapus keringat di dahiku setelah aku terbangun. Tapi senyum tipis yang muncul setelahnya… dingin. Menjijikkan. Bukan milik seorang suami. Itu senyum seorang algojo pada hewan buruan. "Lebih baik kau langsung menggorok lehernya Quiviu, jangan membuat makanan kita menjadi tak enak. Apa gunanya kita sudah membuatnya menari bahagia seperti tadi?" Katanya ketus, Xantaur kemudian menambahkan, "Kalau saja wanita ini masih perawan, pasti bagus untuk kawanan kita menambah jumlah. Sayangnya wanita ini pernah bertemu kawanan kita dulu" Kata kata Xantaur menamparku dengan keras. Satir pria dihadapanku ini bukan suamiku. Tak pernah menjadi suamiku. Samar samar sebuah ingatan tentang sekawanan satir meniduriku satu persatu hinggap dalam pikiranku. Ingatan samar itu selalu ku anggap sebagai mimpi aneh. Sekarang mimpi itu justru adalah kenyataan yang berusaha aku tolak. Tidak. Itu tidak mungkin. Dia mencintaiku, bukan? Dia... dia memelukku waktu itu. Atau... hanya aku yang mengingatnya begitu? Dia suamiku bukan? Aku ingin percaya... Aku harus percaya... Tapi kenyataan selalu lebih kejam. Menghantamku tanpa ampun. Suamiku, yang ku kira begitu tidak pernah ada. Dia hanya kebetulan menjadi yang terakhir bersamaku. Dia melepasku dengan senyuman karna aku akan mengandung anak anak kawanan itu. Hatiku hancur. Tubuhku hancur. Aku menunggu sesuatu di dalam diriku runtuh sepenuhnya. Ia datang. Aku tak lagi peduli ketika sebuah pisau besar memisahkan kepalaku dari tubuhku. Dan semuanya menjadi gelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN