"HENTIKAAAN!!!" Sebuah teriakan parau terdengar dari bibirku sesaat setelah kesadaranku kembali. Tubuhku sendiri telah dibasahi oleh keringat. Kepalaku masih di leherku tapi rasanya seperti dijahit kembali dengan besi panas. "Kumohon... berhenti..." bisikku serak, suaraku gemetar di antara napas yang patah-patah. Tenggorokanku terasa seperti dilapisi kawat berduri, setiap kata seolah memaksa luka terbuka lebih lebar. Air mataku akhirnya mengalir. Harusnya ini membuat segalanya lebih mudah, seperti dulu. Harusnya ia datang, seperti dulu. Harusnya tangan itu akan terulur, mengumpulkan setiap tetes dengan hati-hati, seolah setiap air mata adalah mutiara suci yang menebus dosanya. Tapi tidak. Tidak ada yang bergerak. Apa ini? “Ke..kenapa?” aku memaksa, suaraku melonjak lebih keras dari

