Setelah memperhatikan butir-butir dandelion yang berterbangan tanpa arah, kami berbaring di rumput, menatap langit yang mulai memerah. Mama menunjuk ke sebuah awan yang berkumpul di sana, bentuknya aneh, bergulung, seperti sesuatu yang besar sedang tidur di atas dunia. "Lihat, itu seperti ikan raksasa," katanya ringan, suaranya hangat seperti selimut. Aku menyipit, melihat hanya gumpalan putih yang tak jelas. Tapi pemilik ingatan itu. Dia yang menikmati semuanya. Berteriak kecil penuh semangat tanpa bisa kutahan, "Bukan mama, itu naga... naga yang baik hati!" Suaranya melenting seperti lonceng mainan, penuh harap dan manis. Mama menoleh, matanya lembut. "Naga baik, ya? Mungkin suatu hari kau akan bertemu dengannya." Ia tertawa kecil, suaranya seperti gula yang meleleh. "Semoga naga it

