"Bernyanyi!" titah Gwazel membuat tenggorokanku semakin kering.
Kata itu memukul telingaku, menusuk masuk ke kepala.
Berputar-putar.
Seperti gema kutukan.
Bernyanyi? Mana mungkin aku bisa bernyanyi?
Suara saja tak pernah benar-benar keluar dariku. Aku dibungkam. Dan sekarang dia mengira aku bisa menyanyikan sesuatu? Menyanyi apa?
Aku bahkan tak pernah mendengar musik selain satu, lagu kematian yang samar dari potongan ingatan itu. Dan itupun hanya berasal dari gesekan alat musik tanpa nyanyian.
"Bernyanyi!" ulangnya, kali ini lebih tajam, lebih menekan, seperti pisau yang digoreskan perlahan ke kulit.
Iris hazelnya menyala di dalam kegelapan, menatapku seakan ingin mengupas paksa jiwaku keluar dari daging.
Aku tercekat.
Ruangan terasa lebih sempit, udara makin berat, seakan dinding batu ini ikut mendesak tubuhku.
Perintahnya membuatku gelisah, resah, panik. Otakku kosong.
Bagaimana aku bisa memulainya? Apa yang harus kuucapkan? Aku bahkan tidak tahu apakah suara parauku bisa membentuk nada.
"Jangan buat dia menunggu, siren!"
Aku membeku.
Apa tadi katanya?
Dia?
Dia siapa?
Siren?
Kata itu menggema di kepalaku, seperti ejekan yang tak kumengerti.
Apa maksudnya? Julukan hina, atau nama yang pernah menjadi milikku sebelum semua ini?
Siren...
Siren...
Kata itu menggema di kepalaku.
Seperti ejekan.
Atau nama yang pernah menjadi milikku, sebelum semuanya direnggut dariku.
Aku tak tahu harus marah, takut, atau bingung. Kenapa dia menyebutku begitu sekarang, setelah semua siksaan ini? Apa dia menertawakanku? Apa ini permainannya?
Tiba-tiba, tangan Gwazel melesat cepat, mencengkeram leherku. Cengkeramannya begitu kuat, sekeras belenggu besi yang biasa menahanku.
Aku terangkat sedikit.
Napasku terhenti.
Tenggorokanku ditekan.
Aku tersedak, mataku membelalak, suara-suara serak tercekik keluar tanpa arti. Aku bisa merasakan panas napasnya begitu dekat, pupil matanya menyempit jadi celah tipis, menatapku tanpa ampun.
"Apa kau berani menguji kesabaranku?" suaranya dingin, rendah, namun mengguncang lebih dari teriakan.
Aku panik. Tubuhku gemetar hebat. Aku ingin berteriak, ingin memohon, tapi suara tak keluar. Tenggorokan ini hanya mengeluarkan batuk parau dan kepanikan.
Apa yang harus kulakukan?
Kalau aku gagal... aku mati.
Atau lebih buruk.
Aku dipaksa hidup.
Aku jadi ingin mencoba menolak perintahnya.
Kebingungan bercampur dengan teror. Aku bahkan sempat mengumpat dalam hati, marah pada absurditas perintahnya.
Bernyanyi?
Sialan, naga gila!
Apa sebenarnya yang kau mau dariku?!
Tapi di balik semua amarah kecil itu, ketakutan jauh lebih besar. Ketakutan yang menusuk sumsum. Ketakutan karena aku benar-benar tidak tahu jawabannya, tidak tahu lagu, tidak tahu arti siren, tidak tahu apa yang dia sembunyikan di balik tatapan itu.
Dalam ketidaktahuanku, aku semakin tercekik oleh rasa takut yang kian menjerat, jauh lebih kuat daripada cengkeraman tangannya.
"A...a...aku... ti..dak... bisa..." kataku dengan susah payah, nyaris tak terdengar. Kata-kata terasa seperti serpihan kaca di tenggorokanku.
Tajam, tercerai, susah keluar.
Kupaksa menatap iris Gwazel, menahan agar mataku tidak luruh ke lantai. Ada sesuatu dalam diriku yang memberontak, yang menolak menyerah begitu saja meski setiap serat tubuh ini ingin tunduk.
Tubuhku bergerak tanpa sadar, meronta dalam ikatan rantai yang menggigit pergelanganku. Aku menarik kepalaku ke belakang, mencoba menjauh dari cengkeramannya, kakiku menggesek lantai batu dengan putus asa, mencari pijakan untuk melawan.
Tapi perlawananku hanya membuat matanya menyipit, pupilnya memanjang seperti pisau yang siap mengiris. Gwazel mencondongkan tubuhnya lebih dekat, begitu dekat hingga napasnya yang panas dan bau logamnya menyapu wajahku, getaran aneh mengalir, terkadang ketakutan, terkadang sesuatu yang lebih gelap dan lebih berbahaya.
Ia berhenti sebentar, menahan jarak yang tipis di antara wajah kami, menunggu.
"Kau... berani melawan?" desisnya, suaranya rendah, hampir seperti belaian namun penuh racun yang membuat jantungku serasa terhenti.
Tiba-tiba, tangannya mencengkeram leherku kuat. Napasku tersangkut di tenggorokan, dunia menyempit. Ia menatapku seperti dewa kecil yang berhak menentukan kapan aku boleh bernapas.
Dunia di sekitarku memudar menjadi bayang-bayang kelam. Titik-titik hitam menari di tepi pandanganku.
Kepanikan melonjak, lebih liar dari sebelumnya dan tubuhku gemetar sampai gigi beradu. Ada suara kecil di kepalaku yang mengulang.
Lebih baik mati saja.
Menghilang...
Lebih baik musnah daripada merasakan ini terus menerus.
Pikiran itu datang seperti bisikan yang menyesakkan, menggiurkan dalam kebodohan.
Tetapi sebelum bisikan itu sempat menguat, muncul pikiran lain yang membuatku menciut. Kalau aku terus melawan, kemungkinan hidupku menipis kan?
Tapi mengingat bagaimana dia selama ini... Sudah pasti aku hanya dibiarkan untuk hidup.
Hidup untuk terus merasa sakit, hidup untuk melihat hari yang berulang...
Kedua kemungkinan itu sama mengerikannya. Ketakutan akan terus hidup setelah perlawanan membuatku pasrah. Rasa putus asa dan kebingungan bertabrakan sampai aku tak tahu lagi apa yang kuinginkan.
Jantungku berdetak seperti gendang perang.
Aku ingin menjerit, ingin menantang, ingin melempar tubuh ini ke arah kebebasan, tapi rasa takut mengikat lebih kuat daripada keberanian.
"Aku akan membuatmu bernyanyi kalau begitu" bisiknya.
Sayangnya sepelan apapun naga itu berbicara, di ruangan besar yang sepi ini, kata-katanya terdengar sangat jelas ditelingaku. Dengan gerakan yang kasar dan tak terduga, ia melepas cengkeramannya di leherku, meninggalkan bekas merah membara di kulitku, dan aku tersedak, menarik napas dalam-dalam yang menyakitkan.
Paru-paruku terasa terbakar oleh udara yang tiba-tiba menyerbu masuk.
Dia mundur selangkah, gerakannya lambat dan penuh kendali, seolah menikmati kepanikanku yang semakin membesar. Tangannya merogoh ke dalam kantong baju hitamnya yang lusuh. Aku bisa melihatnya.
Oh tidak! Jangan itu!
Jari-jarinya mengeluarkan sebuah botol kecil yang terbuat dari kaca kristal bening, permukaannya diukir dengan simbol-simbol kuno yang bercahaya samar dalam cahaya obor, seperti rune sihir yang hidup. Bagian bawahnya mengerucut tajam seperti tetesan air.
Botol itu berisi cairan bening berwarna biru terang yang memancarkan kilau eteris, seolah hidup dan berdenyut pelan. Sayangnya warna terang itu tidak menggambarkan isinya yang segelap malam.
Salah satu mimpi terburuk dari yang terburuk.
Tubuhku bergerak sendiri, berusaha menjauh saat Gwazel mendekatkan dirinya padaku. Meronta dalam ikatan rantai yang menggigit pergelanganku, tetapi jelas aku tidak bisa pergi kemana-mana. Melihat hal itu, dia mencengkeram daguku dan memaksa wajahku mendekat ke arahnya.
Daguku terkunci kuat di tangannya, membuat kepalaku tidak bisa bergerak sedikitpun. Nafasku tercekat saat matanya menatapku lama sekali, begitu lama hingga waktu terasa berhenti.
Tatapan itu tak bisa kuterjemahkan, campuran amarah, kesenangan, dan sesuatu yang lebih gelap.
Jemarinya yang kasar menekan kulitku, tapi anehnya, satu jarinya justru menyusuri pipiku pelan, seolah ingin menguji seberapa jauh aku bisa menahan diri. Sentuhan itu membuatku merinding, bukan karena lembut, tapi karena aku tahu itu hanya permainan.
Gwazel menahan daguku dengan telapak tangannya yang keras. Cengkeramannya dingin, tak memberi ruang sedikitpun. Jari bersarung kulit hitam itu bergerak lambat, sengaja menyapu bibirku yang tertutup rapat. Sengaja mengukur seberapa rapuh pertahanan terakhirku.
Tekanan pertama datang.
Bukan dorongan.
Tapi pemaksaan yang tenang.
Satu ujung jari telunjukknya menyelinap ke sela gigiku.
Aku tersentak, tubuhku gemetar hebat. Aku merasakan sarung tangan itu menggosok deretan gigiku, sebelum akhirnya tanpa ampun ia mendorong jarinya masuk.
Aku berusaha mengatupkan lebih keras. Mencegahnya mendobrak masuk.
Tapi aku hanyalah seorang manusia, dan dia naga.
Kehendakku patah seketika, jari itu menyelinap masuk, sarung tangannya menggesek gigiku dengan suara yang mengerikan. Decitannya membuat nafasku tercekat.
Panik.
Aku menggigitnya.
Sekuat tenaga.
Rasa logam memenuhi mulutku.
Ia tidak mundur.
Tidak menarik diri.
Irisnya yang kini berwarna kuning justru menyala dan menyipit penuh kegembiraan. Dan itu lebih menakutkan dari apa pun.
Rasa asing meledak. Pahit samar dari sarung tangan yang terkoyak, rasa asin darah, dan bau anyir.
Dia malah mendorong lebih keras, menekan sampai sarung tangan itu terjepit di antara gigi dan gusi. Tidak sampai situ saja, dia menambahkan satu jari lagi.
Jari tengahnya ikut masuk, memaksa rahangku terbuka lebih lebar. Dua jari itu sekarang bergerak berlawanan arah. Satu menekan lidahku kebawa sampai aku hampir muntah, satu lagi mengorek langit-langit mulutku dengan gerakan melingkar yang lambat.
Aku menjerit, suara itu jadi tercekik, seperti diperas antara gigi dan kain. Aku mengumpat sejadi-jadinya, suara serak meletup dari d**a.
"Mwenja..uh! Kau sia..lan!"
Gwazel tidak bereaksi marah. Ia terlihat senang. Aku tidak tau apakah dibalik penutup wajahnya itu terukir sebuah senyuman, tapi bisa ku pastikan kalau tatapannya padaku itu berkilat geli. Matanya menyala puas ketika aku meraung dan menggeliat.
Ia mengaduk-aduk lidahku, memainkannya, menariknya. Lalu dengan ibu jarinya, ia menarik daguku kuat. Menciptakan sensasi nyeri.
"Gigit lagi kalau berani... Aku menantikannya.."
Gwazel menatapku tanpa berkedip. Mata hazelnya berkilau, seolah apa yang ia lakukan bukanlah kekerasan melainkan penegasan kekuasaan.
Waktu melambat lebih dari yang seharusnya, hanya suara detak jantungku yang bergema di telinga. Di luar sana, mungkin angin masih bertiup, membawa hembusan segar yang tak pernah kurasakan.
Kenikmatan dingin yang berkilau di tatapannya, seperti pemangsa yang menikmati tarian panik mangsanya. Ia menikmati responku, setiap helaan napasku, setiap perlawananku, setiap gigitan lemahku. Seolah semua itu adalah hiburan di malam sunyinya.
Tubuhku bergetar hebat. Suhu diruangan ini semakin panas membuat bajuku yang masih basah lembab, bercampur keringat dingin yang keluar dari kulitku. Membuatku merasa seperti terperangkap dalam neraka yang lembap dan panas.
Kemudian, dengan gerakan lambat. Sengaja dilambatkan.
Dia mengangkat botol yang ada di tangannya yang lain. Cairan biru di dalamnya bergetar pelan, berkilau seperti jantung yang berdetak.
Tidak! Kumohon apapun, asal bukan itu!
Ujung kaca menempel di bibirku.
Dingin.
Aku tersentak, tubuhku menegang. Keringat dingin mengucur deras dari dahiku. Aku ingin sekali melarikan diri dari siksaan ini. Lututku lemas, rasanya seluruh tubuhku tidak lagi memiliki tenaga untuk melawan.
Tapi dia tidak langsung menuangkan.
Belum.
Ia menahannya di sana, membiarkan ujung kaca licin itu menempel lama pada kulit bibirku, menekan pelan seolah menguji. Nafasku tercekat, bercampur ketakutan dan kemarahan.
Dia memperlambat semua gerakannya. Tangannya menahan rahangku dengan kasar, jari berdarahnya tetap berada di dalam mulutku, dan ujung botol itu hanya diam, menempel, menunggu. Seakan ia ingin menikmati setiap detik kepanikanku, setiap percikan perlawanan sia-sia yang muncul dari tubuhku yang bergetar hebat.
Aku tidak mau meminumnya.
Itu artinya aku harus bernyanyi. Tapi bagaimana?
Aku tidak tau harus bagaimana. Aku hanya bisa mencoba meronta lebih keras dan menghindar ketika Gwazel masih menggesek ujung botol itu pada bibirku sementara jarinya menjepit lidahku dan memaksa rahangku untuk terbuka.
Matanya menatapku lama, terlalu lama. Iris hazel itu tiba-tiba bergetar, lalu pecah menjadi celah tipis berwarna kuning keemasan.
Mata naga.
Tatapan itu menghantam ku seperti kobaran api. Seolah seluruh tubuhku ditelanjangi, dipaksa membuka semua rahasia yang bahkan tak kumengerti sendiri. Nafasku memburu, tenggorokanku terasa semakin kering. Aku mencoba menunduk, tapi genggamannya memaksa kepalaku tetap mendongak.
Tak ada pilihan selain menatap langsung ke dalam mata itu, jurang yang membuat kewarasanku terpecah sedikit demi sedikit.
Tatapan naga itu makin menyala, pupilnya menyempit setipis silet. Seolah ia hanya menunggu momen kecil untuk meremukkan diriku sepenuhnya. Mental dan tubuhku terhimpit bersamaan. Dan saat cairan itu akhirnya dituang, aku tak lagi mampu melawan.
Rasa pahit, bercampur getir dari darah Gwazel.
Aku menelan.
Bukan karena mau.
Tapi karena tercekik oleh tatapannya.
Setelah semua cairan itu tertuang habis, Gwazel menarik tangannya dari mulutku.
Pandanganku mulai memudar. Wajah Gwazel menjadi bentuk samar yang tidak lagi bisa ku jelaskan, seperti monster mengerikan dari neraka.
Badanku mendingin.
Seperti disentuh salju.
Lalu panas.
Seperti dibakar dari dalam.
Lalu sakit.
Lidahku perlahan mati rasa. Aku menggigit bibir saat ribuan jarum panas terasa menusuk kulitku dari ujung kaki, merambat perlahan keatas. Setiap bagian tubuhku perlahan lahan terasa perih, dingin, panas, sakit.
Tulang tulangku pun mulai terasa ngilu disetiap sendinya.
Lagi..
Lagi...
Dan lagi...
Kepalaku terasa sangat sakit, bukan sekadar sakit, seperti ada ratusan palu batu yang memukul-mukulnya berkali-kali tanpa ampun, setiap hantaman mengirimkan gelombang rasa sakit yang membuat otakku seolah meledak.
Aku berteriak-teriak tidak karuan. Berharap kepalaku tidak akan berdarah dipukuli begitu. Perlahan diantara rasa sakit yang membabi buta itu, seseorang memerciki tubuhku dengan air garam.