Badanku gemetaran lagi. Dari balik bahu Gwazel aku bisa melihat altarnya. Altar itu berdiri sunyi, seperti memanggil dari kejauhan.
Aku juga bisa melihat ada dua buah tiang besi yang menjulang kokoh, dengan rantai-rantai logam yang tampak baru.
Mengkilap.
Menungguku.
Bulu kudukku meremang.
Setidaknya tidak ada karat yang menggores pergelangan tanganku lagi.
Tetapi fakta itu tidak menghiburku sama sekali. Entah mengapa, kilau dingin dari rantai baru itu membuat perutku mual.
Aku menelan ludah dengan susah payah, lalu memalingkan wajahku agar melihat apapun selain altar itu.
Ruangan yang kami masuki ini sangat besar. Langit-langitnya tinggi, berbentuk kubah kaca berwarna pucat, dipenuhi sarang laba-laba di sudut-sudutnya.
Cahaya matahari menembus kaca itu.
Tidak menyebar.
Ia jatuh lurus dan tajam, seperti sorotan dari langit yang tak memberi ampun. Menyorot altar batu berbentuk lingkaran yang berdiri di atas panggung tinggi.
Tujuh undakan tangga mengitari panggung itu, menuju altar seolah-olah mendaki tempat pengorbanan. Setiap undakan memantulkan cahaya berbeda. Merah pudar, emas kusam, abu-abu kebiruan. Warna-warna yang tidak seharusnya muncul dari batu.
Gwazel menyeretku ke ujung ruangan yang sedikit lebih gelap. Sisi dinding tempat cahaya tak bisa menjangkaunya. Di sana ada kursi-kursi batu tua berjejer, sebagian retak, sebagian ditumbuhi jamur pucat. Tapi yang ditujunya, yang untukku, masih utuh.
Seperti menungguku sejak lama.
Tanpa sepatah kata, Naga itu membalikkan badanya. Tatapan tajamnya langsung mengarah padaku, membuatku bergidik ngeri.
Aku mengerti, ia menyuruhku duduk dan segera saja kulakukan. Suara rantai menggema nyaring ketika ia memasang pengikat dari leherku ke besi lain yang telah terpaku kuat di dinding batu. Mengingatkanku bahwa tak ada celah sedikitpun untuk bebas.
Aku bisa merasakan tubuhku mulai membeku lagi. Ruangan ini bukan sekadar ruang. Ia adalah saksi. Dan aku...
Aku adalah sesuatu yang harus bertahan di dalamnya.
Entah sampai kapan.
Aku menutup mata sejenak, merasakan hembusan angin dingin yang menyusup dari celah jendela tinggi. Bau tanah lembap bercampur dengan aroma samar bunga musim semi, mengingatkanku pada sesuatu yang biasa, bukan ancaman.
Aku berusaha menenangkan diriku sendiri saat Gwazel melangkah pergi ke seberang ruangan, meninggalkanku. Dia tidak akan khawatir aku kabur.
Aku sudah bilang aku tahu rasanya mencoba kabur. Cobalah sendiri, mungkin akhirnya kau juga akan memilih untuk pasrah. Seperti ku yang sekarang memilih untuk duduk, menyamankan diri di kursi batu.
Aku menatap kakiku alih alih melihat altar.
Walaupun kaki telanjangku tidak bagus, penuh dengan tanah kering, kukunya juga panjang-panjang, setidaknya aku tidak harus memandang sumber ketakutanku. Aku tidak mau ketakutanku dimulai lebih awal dari seharusnya.
Bulu kudukku meremang saat kudengar suara langkah kaki Gwazel yang berat mendekat. Diam-diam aku melirik dari sudut mataku, di tangan kanannya dia membawa sebuah roti diatas piring logam kusam dan secawan air di tangan kirinya.
Ada roti. Ini artinya Gwazel sudah pergi ke pedesaan. Artinya sudah banyak persediaan memori. Bukan berita bagus. Tapi aku suka roti. Dari pada tikus panggang atau daging hewan apapun yang Gwazel panggangkan untukku, rasa roti yang cenderung tawar justru lebih enak untukku.
Bukan berarti rasa daging tidak enak. Hanya saja aku benci memakan makanan yang aku tidak tau dia itu apa dan dibunuh dengan cara bagaimana. Salah satu alasan kenapa aku tidak berniat kabur adalah itu. Salah satu hukuman paling mengerikan yang dia berikan padaku adalah, dia berkali-kali menangkap hewan yang berkeliaran di sekitar kastil.
Gwazel. Dengan tubuh manusianya. Menerkam hewan apapun yang melintas di hadapannya. Seekor rusa yang kebetulan lewat. Seekor rubah yang tersesat. Seekor kelinci yang sangat lucu. Semuanya tidak terkecuali.
Aku tidak pernah bisa melupakan caranya menerkam makhluk-makhluk malang itu. Setelah itu, dia akan memaksaku melihatnya, ketika cakarnya yang panjang dan tajam mengoyak leher binatang-binatang itu.
Darah menyembur deras, menyebar ke segala arah. Menyiprat liar kearahku dan membasahi tubuh Gwazel sendiri. Lelehan darah mengalir dari tangannya, sedangkan matanya tertuju kepadaku seolah sedang tersenyum puas, sepertinya dia sangat menikmati melihat kengerian yang terpatri jelas dari mataku.
Aku bahkan masih bisa mengingat baunya. Bau besi berkarat dan amis yang menempel di udara, bau isi perut yang dirobek paksa oleh cakar besarnya. Dan yang paling buruk, dia memaksaku memakan isi peru....
Aku menahan napas agar tidak muntah.
Aaah... kenapa aku harus mengingat itu?
Aku harus segera mengenyahkan pikiran itu dari otakku. Hanya mengingatnya saja sudah membuatku mual. Kalau sampai aku muntah nantinya malah akan semakin menyakitkan.
Aku harus tenang.
Gwazel duduk di kursi batu yang ada di depanku. Dia menaruh cawan perak berisi air dan piring di kursi batu lain di sebelahnya. Mata coklat hazelnya melayang ke arahku, membuat nafasku tercekat.
Panik, aku segera menunduk.
"Majulah," ucapnya dengan suara berat yang menggema di ruangan besar ini, membuat dadaku bergetar.
Tanpa sadar aku mencondongkan tubuhku ke arahnya. Hanya dari suaranya saja sudah bisa memaksa tubuhku untuk patuh.
Aku menutup mataku rapat saat tangan Gwazel terulur ke arahku. Jemarinya yang dingin dan keras menyentuh daguku, menahannya agar tidak menunduk. Perlahan, ia mengangkat wajahku, memaksaku menatap matanya. Sesaat, hanya sepersekian detik, irisnya melunak. Lalu tatapannya kembali dingin seperti biasa.
Apa aku mulai mebayangkan hal-hal aneh? Aku bisa merasakan panas tubuhnya, begitu dekat, membuatku ingin mundur, tapi rantai di leherku menahanku.
Baru setelah itu jemarinya merengkuh wajahku, bergerak ke belakang kepalaku. Dengan perlahan, hampir menyerupai kelembutan yang aneh, ia mengurai ikatan kain yang membungkam bibirku. Perasaan itu begitu kontras. Gerakan lembut yang terasa salah, bercampur dengan intimidasi yang menyesakkan.
Bibirku akhirnya bebas.
Bebas dari kain basah yang kini ia letakkan di sebelah cawan, meninggalkan rasa lembab dan pahit. Sensasi bebas itu membuatku ingin menarik napas dalam-dalam, tetapi aroma samar dari naga itu, bau kulit, logam, dan sesuatu yang asing, membuat paru-paruku justru terasa sesak dengan cara yang aneh.
Ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada rasa sakit atau rasa takut.
Kelembutannya.
Rasanya mengerikan.
Salah.Tapi lebih dari itu... membingungkan.
Kenapa dia melakukan itu? Apa maksudnya begitu, dia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Ada apa dengannya hari ini?
Jemari Gwazel bergeser ke bahuku, menuntunku menjauh darinya. Ia mengambil garpu berisi sepotong roti, lalu alih-alih langsung menyodorkannya. Ia menatapku lama, terlalu lama, seakan sedang memastikan sesuatu di wajahku. Lalu dengan gerakan pelan, ia mengangkat roti itu, mendekatkannya ke bibirku.
Ada sesuatu yang aneh dari caranya kali ini. Tidak kasar, tidak terburu-buru. Justru terlampau hati-hati, seolah ia sedang memberi makan seorang anak yang rapuh, bukan tahanannya. Sentuhan logam garpu di bibirku begitu ringan, nyaris lembut. Begitu kontras dengan dinginnya rantai yang masih melingkari tubuhku.
Aku terperangah. Nafasku tercekat di d**a. Kenapa rasanya... seolah ia sedang merawatku?
Padahal aku tahu, tidak mungkin itu yang sebenarnya. Setiap potongan roti yang ia suapkan terasa seperti paradoks, kelembutan yang tidak seharusnya, kebaikan yang salah tempat.
Tatapannya tetap menekanku, tapi ada kilatan samar di dalamnya, sesuatu yang gelap. Aku tidak bisa menafsirkannya. Yang jelas, setiap kali garpu itu menyentuh bibirku, aku merasakan sesuatu yang lebih mengerikan daripada rasa sakit.
Kemungkinan bahwa naga ini... menginginkan aku, hidup?
Haha... Lelucon macam apa lagi ini?
Sebelum aku sempat mencerna, baik situasi dan roti dalam mulutku. Tiba-tiba disuapan terakhir, Gwazel menarik rantai leherku dengan kasar, gerakannya begitu mendadak hingga aku tersentak ke depan. Ia melepaskan ujung rantai dari tembok dengan satu tarikan kuat, dan dengan kekuatan yang tak bisa kulawan, ia menyeretku menuju altar.
Kakiku gemetar hebat, nyaris tak mampu menahan berat tubuhku sendiri, dan ujung kakiku terseret di lantai kasar, meninggalkan goresan kecil di kulitku yang terbuka.
Setiap sentakan rantai membuatku tersandung, tubuhku miring ke samping, dan aku harus memaksa kakiku bergerak untuk mengimbangi langkah panjang Gwazel yang tak kenal ampun.
Harusnya bukan seperti ini urutannya, seharusnya aku diberi minum dulu.
Aku membenci saat segalanya berubah tanpa peringatan. Setidaknya jika siksaanku berjalan dengan pola yang sama, aku bisa menyiapkan hati. Tapi sekarang... aku bahkan tidak tahu apa yang akan dilakukan Gwazel.
Tidak ada yang lebih menakutkan daripada kebingungan.
Ini tidak benar!
Aku ingin berbicara. Tetapi resikonya terlalu besar. Tenggorokanku kering. Terlalu banyak hal aneh hari ini.
Gwazel seharusnya mengikat kain ke mulutku, seperti biasa, tapi kali ini tidak. Punggung bidang yang kutatap itu tak sedikitpun menunjukan tanda-tanda akan berhenti.
Aku haus. Tadi saat mandi aku tak sempat menyesap air saat tenggelam.
Oh tidak. Ini akan menyiksa!
Jantungku berdetak kencang hingga terasa seperti akan meledak. Udara di sekitar altar begitu berat, seolah setiap helanya membawa bisikan kutukan yang tidak terdengar, menunggu untuk melahapku. Suara napas Gwazel di depanku pelan namun dalam, menyerupai desis ular raksasa.
Aku berhenti tepat di hadapan altar. Rasanya altar itu hidup, berdenyut pelan, menatap balik padaku dengan mata tak terlihat. Tubuhku menegang. Kakiku enggan bergerak lebih jauh. Rantai di leherku terasa semakin berat, seperti tahu aku menolak langkah berikutnya.
Lalu, tanpa kata, Gwazel mendekat. Suara gesekan logam terdengar saat ia melepaskan kalung besi dari leherku. Udara bebas menyentuh kulit leherku. Aku ingin mundur, tapi sebelum sempat, tangan besar itu menggenggam pergelangan tanganku.
Tarikannya kuat, tak terbantahkan, tapi tidak menyakitkan. Bukan kekerasan membabi buta, melainkan kekuatan yang tak bisa kulawan, seperti ombak laut yang menghempas batu.
Ia membuka belenggu di tanganku, suara gemeretak logam saat kunci berputar terdengar jelas di telingaku, menegakkan bulu kudukku.
Ketika tanganku yang kiri ditarik menuju rantai di Altar, tubuhku bereaksi spontan. Aku meronta, menarik pergelangan sekuat tenaga, seolah instingku masih percaya ada jalan untuk kabur. Jantungku membuncah oleh ketakutan.
Aku menunggu teriakannya, amarahnya, atau mungkin hantaman.
Tapi tidak.
Gwazel hanya diam, menatapku. Tatapan itu dingin, berat, tapi tanpa letupan murka yang biasa. Hanya ada kesunyian yang lebih menakutkan daripada amarah. Dengan sekali tarikan, ia menundukkan perlawanan kecilku. Pergelangan tanganku terpasang di rantai kiri. Nafasku tercekat. Aku tidak berani melihat wajahnya.
Kemudian tanganku yang kanan digenggamnya. Aku gemetar, separuh pasrah, separuh masih ingin melawan. Tapi genggamannya mengunci dengan ketenangan mengerikan, lalu menuntun pergelangan itu ke sisi lain altar.
Klik.
Suara besi terdengar lagi. Kini kedua tanganku terentang ke kanan dan kiri, terpasang kaku pada rantai-rantai altar, tubuhku terbuka, tak berdaya, persis seperti boneka tali yang menunggu dimainkan.
Aku menunduk, d**a naik turun cepat, udara terasa menipis.
Di antara detak jantung yang gaduh, aku bisa merasakan tatapannya menyapu seluruh tubuhku. Tidak kasar, tapi juga tidak lembut. Tatapan yang menyembunyikan sesuatu yang tak bisa kuterjemahkan.
Ia menatapku.
Lama.
Ruangan itu seperti ikut menahan napas.
Lalu suara Gwazel memecah keheningan.
"Bicara!"
Aku terhenyak. Seperti ada palu yang menghantam kepalaku.
Apa?
Bicara?
Katanya bicara?
Otakku kosong seketika, lalu langsung penuh oleh ribuan kemungkinan.
Apa aku salah dengar?
Tidak mungkin!
Tidak mungkin dia menyuruhku berbicara, kan?
Bukankah selama ini suaraku dibungkam, dihukum, dipaksa diam? Kalau aku bicara, bukankah itu sama saja dengan menjerumuskan diriku sendiri?
Aku menatap Gwazel, bingung, matanya menyala lebih terang, pupilnya menyempit menjadi garis tipis yang terasa seperti bilah yang siap merobekku. Dadaku terasa berat, keringat dingin merembes di punggungku, tanganku yang terikat gemetar hebat.
Aku tidak tahu apa yang dia inginkan dariku.
Suara?
Kata-kata?
Jeritan?
Atau sekadar alasan baru untuk membuatku menderita?
"Bicaralah!" Suara keduanya datang, lebih berat. Datar, tapi ada ancaman yang berdenyut di balik nada itu.
Aku bisa merasakan tubuhku mulai panik, napas tersengal, seolah udara menolak masuk.
Kenapa dia menyuruhku bicara?
Untuk apa?
Kalau aku bicara salah, aku mati. Kalau aku diam, aku juga mati.
Apa bedanya?
Pikiranku berputar cepat, menabrak dinding kecemasan. Bayangan hukuman melintas satu per satu. Rantai, lapar, sakit, jeritan yang dipaksa diam. Aku tak tahu harus memilih yang mana. Keterkejutan bercampur dengan kebingungan, kepalaku penuh dengan ketakutan yang menekan, membuatku ingin lenyap di tempat.
"Bicaralah!"
Ketiga kalinya. Suara itu jatuh seperti vonis.
Aku tahu artinya.
Ruangan terdiam sejenak, hanya suara napasku yang tersengal memenuhi udara. Cahaya dari kubah kaca di atas memantul pelan di lantai, menciptakan pola-pola samar yang bergerak seperti ombak tenang.
Jika aku tetap diam, yang datang setelah ini hanyalah siksaan. Bibirku kelu, lidahku kaku seperti batu. Aku mencoba membuka mulut, tapi suara yang keluar rapuh, bergetar, seperti rantai yang bergesekan dengan batu.
"B... ba... ik..."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku mendengar suaraku sendiri. Dan aku berharap aku tidak pernah mendengarnya lagi.